
Ini,sungguh pemandangan yang indah. Dere,yang sedang emosi tak tertahankan,meninju Mille.
Bukan hanya aku yang menikmati adegan ini,tapi yang lain juga. Mungkin hanya Derey yang tidak menikmati adegan ini,dia hanya menutup mata dan menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.
Ada satu yang disayangkan dari hal ini. Mille,yang ditinju habis-habisan,hanya bisa terdiam dan pasrah ditinju. Dia benar-benar menerima konsekuensinya. Topeng putih polos yang ia kenakan pun hancur oleh Dere.
Kini,aku bisa melihat wajahnya yang menjijikan. Dere sepertinya tak peduli dengan wajah Mille. Dia mengejek wajah Mille sambil memukul wajahnya.
Dere meninju dengan satu tangan,dia meninju secara cepat,entah dia lelah atau tidak,tapi sepertinya rasa lelah dikalahkan oleh rasa marahnya,selalu begitu.
"Dasar…,jelek!,apakah kau iri!?,kau ingin orang lain bernasib sama dengan mu!?,jika iya setidaknya jangan aku bangs*t"
Wajah Mille sudah jelek,ditambah dengan tinjuan Dere,kejelekannya bertambah. Jika aku jadi Dere,tentu aku akan marah besar. Dere bukanlah seorang kidal,tangan kirinya sangat kaku,dia sangat bergantung pada tangan kanan.
Paling sering menggunakan tangan kiri ya saat cebok.
Aku tidak tahu sampai kapan hal ini berlangsung. Pemandangan ini sudah tidak menyenangkan untuk dilihat. Aku akan menghentikannya,bukan berarti aku kasihan pada Mille,tapi aku ingin pergi dari sini secepatnya.
"Sudahlah Dere,sampai kapan kau akan memukulnya,setidaknya dia yang memotong lenganmu,itu hal yang baik untukmu."
"Benar,jika Mille tidak memotongnya,kau akan menghabisi kami." Kali ini Derey yang bicara,baguslah,dia tidak diam seperti patung.
"Tapi-"
"Kau ingin keluar dari sini atau tidak?"
Karena perkataan ku,dia terdiam dan akhirnya berhenti memukul Mille,kebencian belum pudar dari matanya.
'Dasar pendendam." Aku berdiri dan menghampiri Mille,mengulurkan tangan untuk membantunya bangun.
"Bisa berdiri?"
Tidak ada tanggapan,tapi dia menerima uluran tanganku.
"Terima kasih." Gumamnya,tapi masih bisa terdengar olehku.
Topeng putih yang sudah hancur tergeletak dilantai,Terbagi menjadi 4 bagian. Dia mengambil 4 bagian itu dan menyimpannya disaku jaketnya.
Kali ini,wajahnya yang mempunyai luka bakar,terlihat jelas.
Tapi aku harus menahannya,demi menjaga image ku.
"Nah,sekarang,mari berjalan lagi." Aku mengajak semua anggota untuk berjalan,menemukan bosnya,atau portal core untuk dibinasakan.
Harapanku adalah ini akan berjalan dengan cepat,tapi tidak,ini membutuhkan waktu yang lama.
Tempat ini seperti labirin,melihat tempat ini membuatku memiliki ide,yaitu…
"Teman-teman,untuk berjaga-jaga,aku akan memakai skill friends mark. Portal yang kita masuki adalah tempat seperti labirin,takutnya kita akan tersesat," Usulku.
"Akan gawat jika ada orang yang mengaktifkan jebakan yang bisa memisahkan kita semua."
Semua mengangguk setuju,termasuk Mille.
Aku mengukir sebuah tanda di telapak tangan masing-masing anggota,Yang terakhir adalah Mille.
Aku benar-benar tak bisa melihat wajahnya yang mempunyai luka bakar dan mata merah,semerah epic rank health potion.
Semakin murni health potion,semakin merah warnanya,semakin kuat efeknya. Epic rank health potion adalah health potion yang memiliki efek paling kuat saat ini. Memiliki warna yang sangat merah.
Sudah selesai mengukir tanda,aku bersama anggota kelompokku untuk lanjut berjalan.
Setelah beberapa waktu,sama sekali tidak ada monster. Hal itu membuat kami sangat bingung.
Dere yang bosan akhirnya mengeluh,
"Menurutku,menempelkan friends mark itu sia-sia,lihat!,tidak ada apapun!,jebakan pun tidak a-"
Ucapan Dere terhenti,itu membuatku menoleh sebentar.
Kaki kanan Dere menginjak…,jebakan?
Saat aku menyadarinya,saat aku mengedipkan kedua mataku satu kali dengan cepat.
Teman-temanku,menghilang,hanya menyisakan Derey.