The Slayers

The Slayers
Chapter 96 (Season 3)



Berjalan diantara kerumunan orang yang berbahaya itu bukan hal yang mudah. Johan terus menahan aura tidak enak yang datang dari orang-orang sekitarnya.


Meski sudah tidak ditatap oleh orang-orang, Johan tahu kalau masih ada yang mengawasinya secara diam-diam. Dia secara mendadak juga merasakan kalau ada yang mengincarnya.


Johan mencari tahu dimana orang yang mengincarnya, tapi segera dia melihat kebawah, ada pencuri bertubuh kecil yang tertutup kerudung mencoba mencuri belati Johan.


Saat pencuri itu hampir meraih belati Johan, Johan memegang pergelangan tangan pencuri itu. Tangannya berwarna hijau, menandakan kalau pencuri itu bukan manusia.


"Goblin?"


Goblin pencuri berteriak dengan kuat. Tak lama, hobgoblin dan banyak goblin lainnya muncul.


Johan melepas pergelangan tangan goblin pencuri dan mundur tiga langkah. Goblin pencuri pun mundur dan berkumpul bersama kawanannya.


'Hobgoblin itu sepertinya pemimpin mereka.'


Hobgoblin itu menggeram dan menggenggam pentungan besar miliknya dengan kuat. Goblin-goblin yang lain juga bersiap untuk bertarung. Ada yang menggunakan crossbow, belati, dan pentungan.


Johan juga bersiap untuk menarik pedangnya. Melihat siapa yang akan maju terlebih dahulu.


Setelah beberapa detik bertatapan, hobgoblin itu maju terlebih dahulu dengan amarah yang kuat.


Johan dengan cepat menarik pedangnya dan menangkis pentungan besar milik hobgoblin, pentungan hobgoblin langsung menyerang kearah lain. Johan langsung memukul hobgoblin dengan ujung bawah pedang. Johan langsung lanjut menyerang goblin lain. Johan memukul goblin yang berniat menyerangnya. Salah satu goblin yang membawa crossbow ketakutan dan langsung menembak Johan. Johan dengan cepat menangkis panah yang ditembakkan dan melesat kearah goblin yang memegang crossbow. Johan pun memukul goblin tersebut hingga pingsan.


Semua diselesaikan dengan mudah oleh Johan Tapi masih ada dua goblin yang belum pingsan dan mereka mencoba menyerang lagi. Johan menyadari itu dan dengan cepat meninju mereka sekali lagi hingga kedua goblin itu pingsan.


Orang-orang yang melihat cukup kagum, tapi mereka segera sibuk masing-masing. Bahkan kesatria yang biasanya mengatur ketertiban malah ikut menonton, saat selesai mereka langsung berbincang-bincang tanpa menangkap goblin-goblin yang berniat mencuri.


Johan lanjut berjalan, tapi dia tidak tahu akan kemana lagi. Johan juga berniat untuk masuk ke bar. Siapa tahu dia dapat informasi. Tapi saat dia masuk, dia melihat banyak meja yang hancur, lantai kayu tak terawat, bahkan darah.


Disitu ada banyak orang yang mempunyai penampilan ganas dan tidak bersahabat, jadi Johan tidak yakin mereka akan memberikan informasi dan pergi. Saat dia menutup pintu bar, sebuah pisau tajam dilempar oleh salah satu orang di bar. Sehingga saat Johan menutup pintunya hingga penuh, pisau yang dilempar menembus pintu bar.


Johan tentu terkejut dengan hal itu. Dia menjauh dari bar dan bersiap untuk menarik pedangnya.


Beberapa detik kemudian, seorang pria gagah dengan full armor keluar dari bar. Wajahnya penuh luka, rambutnya panjang dan keriting, gigi tajam, telinga panjang, kulit coklat, mata merah yang menatap tajam, rahang yang kuat, dan berbeda dengan orang-orang yang dia lihat armor yang dikenakan berwarna perak bersih, tidak ada kerusakan di armornya, pedangnya tersarung, tapi Johan bisa menebak kalau pedangnya juga terawat.


Orang didepannya mengeluarkan aura yang mengintimidasi, tatapannya sangat tajam sehingga rasanya ingin menunduk untuk tak melihat matanya.


Orang itu maju selangkah dan selangkah lagi. Hingga tepat didepan Johan. Tinggi orang itu adalah 193 cm, hingga Johan harus melihat kearah atas untuk menatap matanya.


"Hmmm, kau berani untuk menatap mataku ya? Jarang-jarang ada orang sepertimu."


Orang itu mengulurkan tangannya dan berkata "Salam kenal, namaku Grid Kronoes. Aku seorang bangsawan yang melindungi daerah ini, kau bangsawan daerah mana?"


Johan bingung, apakah dia terlihat seperti bangsawan?


"Aku bukan bangsawan, aku hanya seorang pengembara."


"Pengembara?" Orang itu melihat Johan dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. "Dilihat dari manapun, kau tak seperti pengembara. Perlengkapan yang kau pakai itu terlalu mewah untuk seorang pengembara. Jadi bicaralah jujur, siapa kau dan darimana asalmu?"


Nada bicara orang itu mulai meninggi dan marah. Johan menjadi agak takut, tapi dia punya ide.


"Errr, bagaimana kalau kita berbicara ditempat yang lebih tertutup."


Grid setuju dan akhirnya membawanya ke mansion nya. Untung saja mansion milik Grid tidak terlalu jauh dari bar. Saat mereka sampai, Johan ternganga melihat mansion milik Grid.


Benar-benar mewah dan megah. Terdapat taman yang mengelilingi mansion dan air mancur didekat taman.


'Luar biasa.' Kagum Johan dalam hati. Tapi Johan masih punya pertanyaan yang tak terjawab. 'Hei Seraphim, kenapa tak ada manusia disini?'


[Hmmm, aku tidak tahu, tapi ada beberapa planet dimana manusia sudah punah dari peradaban, kemungkinan dunia ini salah satunya.]


[Yap, sama seperti dunia mu yang ras elf, dwarf, gnome, goblin, orc, dan ras lainnya punah. Didunia ini, kemungkinan ras manusia sudah punah.]


'Terus, kenapa mereka tidak terkejut melihatku?'


[Karena saat kau berbicara dengan kedua dwarf penjaga tadi, aku mengubah penampilanmu menjadi elf dan memberimu pengetahuan bahasa elf, dwarf, lycanthrope, dan bahasa ras lainnya.]


'Jadi, sekarang aku dimata orang-orang adalah elf?'


[Yap, dimata mereka, kau memiliki telinga runcing, sama seperti bangsawan didepan mu.]


'Woah, itu keren!'


Setelah beberapa lama berjalan di koridor mewah penuh vas, lukisan, dan patung, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan. Grid membuka pintu dan didalamnya terdapat dua sofa berhadapan, meja, dan beberapa hiasan yang memanjakan mata.


"Mari duduk."


"Ah, ya."


Mereka duduk berseberangan dan saling berhadapan. Grid yang pertama memulai pembicaraan.


"Jadi, siapa kau? Kau bangsawan daerah mana?"


Johan tidak tahu mau menjawab apa, jadi dia hanya ngasal "Aku Johannes, aku bangsawan dari negara yang jauh bernama Indonesia."


'Semoga percaya.' Johan hanya bisa berharap kalau Grid percaya dengannya.


"Indonesia? Aku belum pernah mendengarnya?"


"Tentu saja, jaraknya sangat jauh dari sini."


"Bagaimana caranya kau bisa sampai kesini?"


"Aku punya alat khusus."


Grid mengernyitkan dahinya dan bertanya dengan nada penasaran. "Boleh aku tahu apa nama benda itu?"


"Tidak, itu adalah benda rahasia, hanya para petinggi kerajaan dan orang-orang tertentu yang tahu."


Grid terlihat kecewa dan dia sekarang menganggap kalau posisi Johan lebih besar dari yang dia duga. Tapi Grid segera menyadari sesuatu.


"Kau bangsawan, kan?"


"Iya."


"Apa nama keluargamu?"


Johan terkejut dan langsung berpikir untuk memakai nama keluarga samaran atau asli. Dia bingung setengah mati dan akhirnya memutuskan untuk memakai nama pedangnya.


"Nama belakangku adalah Helios."


"He.. lios?"


"Ya, Helios."


Grid langsung gemetaran, matanya membulat sempurna, dan dia segera berdiri, kemudian menjabat tangan Johan.


"Jadi kau penyelamat yang diutus ya!? Senang bertemu denganmu!" Dia menjabat dan mencengangkan tangan Johan sambil tertawa.


'Hah? Apaan?' Johan tidak mengerti apa yang terjadi sekarang, tapi tanpa sadar, dia menyebut salah satu keluarga besar didunia ini.