The Slayers

The Slayers
Chapter 146 (Season 4)



Saat aku membuka pintu kelas. Yang kulihat pertama adalah, Via, selalu.


Mendengar suara pintu yang terbuka, Via yang sedari tadi membaca buku langsung mengarahkan pandangannya padaku. Dengan senyum yang manis dan ceria seperti biasa, Via melambaikan tangan padaku.


"Pagi, Nusa!"


"Pagi." Balasku padanya. Tidak sopan jika aku tidak membalas.


Dia selalu baik, bahkan saat kami putus, dia tidak menghindari diriku. Via tetap menyapaku setiap pagi dan menganggap ku teman baik. Aku berjalan kearah meja disebelah nya. Itu memang tempat dudukku.


"Mukamu masih lesu, Nusa?"


"Yaaaa, aku memang kurang tidur. Atau lebih tepatnya, aku males masuk."


"Semangat dong!"


"Iya iya..."


Aku selalu mengiyakan ucapannya. Via kemudian lanjut membaca novel tebalnya. Dia sangat cantik saat membaca. Aku suka saat-saat ini, dimana hanya ada aku dan Via. Serasa ruang kelas ini hanya untuk kami berdua.


Tentu saja, momen ini tidak berlangsung lama. Pintu kelas mulai terbuka dan murid-murid yang mengganggu mulai berdatangan.


'Pagi-pagi sudah berisik, dasar rendahan.'


Aku tidak bisa menahan kekesalanku pada murid-murid lain yang selalu berbicara dengan volume keras. Mereka sangat-sangat mengganggu dan kurang kerjaan. Tidak elegan sama sekali, kenapa banyak rakyat jelata di akademi ini sih? Akademi elite apanya!


"Yo, pagi Nusa!"


"Pagi, Zoel."


Kali ini juga ada pengganggu, tapi setidaknya dia setara denganku, Zoel. Sebelum ditransfer kesini, dia dari dulu memang pengacau handal. Berbuat semaunya sana-sini dan tidak kena hukum. Semua karena reputasi ayah dan ibunya.


"Lu sudah hafalin materi kemarin?"


"Sedikit."


"Jiah!"


Percakapan berakhir dengan singkat. Zoel kemudian duduk ditempatnya. Selanjutnya, ada orang yang paling ku benci dikelas ini. Itu adalah Johannes Satriaputra.


Dia menyapa semua orang, termasuk aku, Via, dan bahkan Zoel yang pernah bentrok dengannya. Sikap ramah itu membuatku jijik. Aku ingin menghancurkannya, tapi dia kuat tidak main. Aku hanya bisa menyainginya di bagian nilai akademik.


Johan juga selalu bersama dengan twinstar, kakak beradik yang dikabarkan masuk dengan orang dalam. Bagaimana tidak? 15 tahun dan 12 tahun. Seharusnya umur mereka tidak mencukupi untuk masuk kesini. Untung saja mereka berbakat, baik akademik maupun praktek. Jika tidak, mereka tidak akan diterima disini.


Kemudian, ketika semuanya sudah masuk dan bel sudah berbunyi. Semua anak ketempat duduk mereka masing-masing. Masing-masing punya ekspresi malas, bodo amat, antusias, bahkan ada yang tertidur.


Seperti biasa, pak Arton tidak langsung masuk. Entah memang sengaja atau tidak, pak Arton selalu terlambat beberapa menit;setidaknya tidak pernah lebih dari lima menit.


"Hmm, pak Arton belum datang?" Via yang masih membaca novelnya cukup terkejut dengan keterlambatan pak Arton kali ini yang sudah melebihi lima menit.


"Apakah hari ini pak Arton tidak masuk!?" salah satu murid bernama Evan menaruh harapan yang besar. Murid yang lain juga. Jujur, aku juga berharap kalau pak Arton tidak masuk.


Sayangnya, harapan kami langsung hancur dengan terbukanya pintu kelas dan pak Arton berjalan masuk ke kelas.


"Maaf merusak harapan kalian yang busuk itu, anak-anak. Anak murid tidak berguna seperti kalian tidak boleh berharap terlalu banyak."


Seperti biasa, pak Arton selalu muncul dengan sapaan yang tajam. Itu sudah menjadi ciri khas miliknya.


BRAK!


Pak Arton secara mengejutkan mendobrak meja dengan keras. Mukanya tidak menunjukkan kemarahan atau apapun, hanya muka lesu tanpa semangat.


"Aku tidak akan bertele-tele, anak-anak. Kali ini akan ada murid baru."


Kata 'murid baru' seperti bom yang dijatuhkan ditengah-tengah kelas. Seisi kelas langsung rusuh dan timbul pertanyaan pada kepala setiap siswa, tidak terkecuali denganku.


Bukankah ini terlalu mendadak sekarang? Tidak ada pemberitahuan dan BOOM, bapaknya dengan santai bilang ada murid baru. Ini sangat tidak masuk akal.


"Murid barunya tidak hanya satu, tapi empat sekaligus. Slot kosong di kelas ini langsung terpenuhi."


Sudah dikejutkan dengan kabar tentang murid baru, dan kejutan ditambahkan lagi dengan kalimat bahwa muridnya empat sekaligus? Apa yang bisa lebih mengejutkan dari ini? Apakah salah satu muridnya itu dulu satu sekolah denganku? Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena teman-teman sekelasku yang bersekolah disana tidak pernah bilang ada siswa yang bangkit menjadi Special. Jikapun ada, kemungkinan kecil mereka bisa masuk sini.


Dilihat dari masuknya yang mendadak, mungkin mereka adalah siswa luar negri yang kena dropout atau mungkin orang dalam?


"Kalian mungkin sudah penasaran, tapi aku yakin kalian akan kecewa."


Pak Arton kemudian menarik nafas dalam-dalam dan kemudian berkata dengan kencang.


"HEI YANG DILUAR, MASUKLAH DENGAN GAYA!"


Seisi kelas langsung kaget, tentu saja. Nada bicara Pak Arton selalu saja lesu, meski begitu, masih bisa terdengar jelas sampai ke kursi belakang. Baru kali ini kami mendengar suara Pak Arton yang super keras.


Setelah berteriak, beberapa detik, pintu kelas terbuka dan murid baru mulai masuk.


'Hmmm, bukan dari luar negeri.'


Bisa dilihat dari ciri-ciri mereka. Mereka bukan luar negri, meski ada yang berambut perak sih.


Setelah semuanya masuk, mereka langsung berdiri dengan berjejer. Murid pertama sangat tinggi, mungkin dia paling tinggi di kelas ini. Selain itu, tidak ada yang men- eh, apakah itu anak anjing yang ada dibahunya? Apakah boleh bawa binatang kedalam kelas? Atau mungkin itu berhubungan dengan job nya?


Kemudian disebelahnya ada gadis yang imut, tapi Via lebih imut dan cantik. Gadis itu kelihatan pemalu. Rambutnya hitam bergelombang dan diikat ponytail.


Disebelahnya lagi, ada laki-laki dengan muka yang muram dan sepertinya sedang menatap tajam murid-murid disini. Dia lumayan unik karena dia sedikit lebih tinggi dari gadis sebelahnya, mempunyai rambut jabrik yang diikat ponytail, dan rambutnya berwarna perak.


Kemudian, murid yang terakhir ... dia memancarkan aura yang familier, tapi juga berbeda. Bisa dibilang, orang itu paling unik. Dia kelihatan tinggi, memakai jaket yang berkelas, kulitnya pucat seperti tidak pernah berjemur dibawah sinar matahari. Rambutnya hitam dan pupil matanya berwarna merah darah. Ditambah lagi, berbeda dengan murid-murid lain yang kelihatan gugup atau muram, hanya dia yang kelihatan sangat percaya diri dan punya senyum percaya diri serta aneh diwajahnya.


'Kenapa dia mirip seseorang?'


Tidak mungkin dia kan? Penampilannya berbeda jauh, bagai langit dan bumi. Dibandingkan dengan orang itu yang culun, anak baru ini, harus kuakui dia tampan. Dia dengan mudah menjadi pusat perhatian para perempuan, bahkan Via. Tentu saja, aku jauh lebih tampan darinya. Satu hal lagi, entah kenapa dia terlihat seperti menatap ku dan Via.


"Baiklah, kau yang disebelahku, cepat perkenalkan dirimu. Sebutkan nama, umur, job, dan level!" perintah Pak Arton.


Meski kelihatan gugup, tapi orang itu mendadak mulai percaya diri saat perkenalan.


"N-namaku Alex Dwisatya, umurku 17 tahun, jobku adalah Beast Rider, level 244."


Beast Rider? Pantas saja dia bisa membawa anak anjing kecil dipundaknya.


"Kemudian, perkenalkan, serigala peliharaanku, namanya Lyfa! Meski terlihat imut, tapi sebenarnya dia galak, loh!"


Menyodorkan serigala peliharaannya seperti dalam adegan film. Keimutan serigala itu memang tidak bisa ditolak, seisi ruangan langsung meleleh melihatnya, kecuali Pak Arton.


"Baiklah, serigala yang imut. Kuharap tidak terinjak dan mati. Selanjutnya!"


"Ah, eh, namaku Cindy Miria, umurku 17 tahun juga, seorang mage, level 277, senang berkenalan dengan kalian semua."


Suaranya sangat lembut, kebanyakan para cowok disini langsung terpesona. Seketika, Alex melototi para cowok-cowok yang terpesona dengan Cindy dan punya niat untuk mendekatinya.


'Kekanak-kanakan.'


"Hmmm, biasa sekali seperti penampilan mu. Selanjutnya!"


"Namaku Norga Garrison, umurku 15 tahun, jobku Blacksmith, level 232, salam kenal."


"Garrison? Kau siapanya Nolisia Garrison?" tanya Pak Arton.


"Saya adik sepupunya, Pak."


Yang ini tidak terduga sama sekali. Sepupu dari Slayer yang terkenal di Surabaya ada disini? Kalau dipikir, Nolisia Garrison adalah alumni sini, 'kan? Apakah dia masuk dengan bantuan kakak sepupunya?


"Baiklah, cukup mengejutkan kau adalah adik sepupu Nolisia. Cukup mengecewakan juga kau memiliki job Blacksmith. Sebaiknya kau persiapkan ****** mu supaya kau tahan disini."


"Selanjutnya!"


Murid yang terakhir, aku punya perasaan buruk tentangnya. Dia sepertinya adalah kompetitor yang bisa melebihi ku, tapi aku tidak akan membiarkannya!


"Baiklah, selamat pagi semuanya ...."


"Namaku adalah Alan Lexius, umur 18 tahun, seorang Poison Alchemist, level 302."


DEG!


***


Seluruh kelas dipenuhi dengan keheningan ketika aku selesai memperkenalkan diri. Aku tidak mengharapkan reaksi seperti ini. Tapi aku juga tidak mau reaksi yang heboh sih.


Yang paling kuharapkan adalah reaksi dari Nusa, Zoel, dan Via.


BRAK!


Zoel yang bereaksi pertama. Dia berdiri dengan cepat dan kursi dibelakangnya jatuh sambil menggebrak meja.


"Kau bilang, namamu siapa!?"


"Namaku ALAN LEXIUS, sudah jelas?"


"T-tidak mungkin!!!"


Seluruh kelas bingung dengan apa yang terjadi. Wajar saja, ini adalah urusan pribadi kami. Tidak ada yang mengerti kenapa Zoel sekesal ini kecuali aku, Zoel, Via dan tentu saja Nusa.


Nusa juga perlahan bangkit dari kursinya. Dia menatapku dengan amat tajam. Mungkin dulu aku akan ketakutan hingga rasanya ingin mengompol. Tapi sekarang, aku hanya menganggap itu sebagai tatapan konyol.


"Kau, siapa kau? Bukankah Alan Lexius sudah mati?"


Pfft, aku benar-benar ingin tertawa. Mereka percaya aku sudah mati? Memang aku pernah sempat menghilang, tapi disinilah aku, berdiri dipanggung kelas dan memperkenalkan diriku yang baru.


"Hei...."


Saatnya melancarkan serangan yang kupersiapkan.


"Zoel, Nusa, tega sekali kalian lupa dengan 'sahabat baik' kalian sendiri? Bahkan kalian menuduhku sudah meninggal? Oh, kejam sekali kalian berdua."


"A-apa!?"


Aku tidak bisa menghilangkan senyumku. Lihat wajah mereka, konyol sekali. Wajah mereka kelihatan seperti orang ingin berak atau orang yang tidak bisa menerima kenyataan.


"Aku tak tahu ada apa dengan kalian, tapi sudahi saja perkenalan ini. Silahkan duduk dibangku kosong, terserah mau dimana."


Yah, keseruannya diganggu oleh pak guru, sialan. Tapi tidak apa-apa, cepat atau lambat, mereka akan menyerangku. Aku yakin sekali itu.


Kami segera berjalan kearah kursi kosong yang ada. Aku memilih tempat paling pojok dekat jendela, alias, tempat duduk sang protagonis.


"Aku beri kalian waktu luang selama 5 menit. Akrab-akrablah dengan murid baru, kalau bisa, gelud sana."


'Hmmm, pak gurunya sinting juga, aku suka itu.'


Setelah pak guru keluar, kami langsung diserbu oleh gerombolan murid yang bertanya macam-macam pada kami. Kami seperti selebriti sekarang.


"Hei, Alan!"


Suara ini, suara yang telah lama kurindukan.


"Halo, Via!"


Via Lestari, cinta pertamaku, menghampiriku dengan wajah yang terkejut. Setelah aku memanggil namanya, Via langsung menunjukkan senyum manisnya. Sial, aku rindu dengan senyumnya. Bagaimanapun, aku tidak boleh terlalu melekat dengannya.


"Ternyata itu beneran kau! Kukira kau ...."


"Aku masih hidup, Via. Aku masih sehat walafiat."


"Iya, kau berubah sangat banyak!"


"Begitulah, banyak yang ku alami sebelum masuk kesini."


Via kelihatan lega, dia memang sangat baik seperti bidadari. Bicara soal bidadari, aku melihat malaikat kecil yang imut dibelakang Via.


"Oh, halo Risse!"


Risse maju memunggungi Via dan menyapaku, "halo Kak, aku tidak menduga ini."


Awww~, imut banget mahluk kecil satu ini.


"Hehehe, aku juga tidak menduga kau menjadi murid disini."


Itu bohong sih sebenarnya. Selain Johannes Satriaputra, Via, Zoel, dan Nusa. Nama Risse Randell menarik perhatian ku saat aku melihat daftar nama murid kelas 10-D. Anak-anak yang sering main disekitar kompleks memang menyebutkan kalau Risse menimba ilmu di Akademi Slayer Indonesia, tapi tidak kusangka akan satu kelas denganku.


Selain Risse, aku juga melihat seorang gadis yang terlihat mirip dengan Risse. Hanya saja rambutnya acak-acakan, pendek sebahu, dan terlihat lebih tomboi. Dia pasti adalah...


"Kau... Grace Randell?"


Kaget kalau aku mengetahui namanya, dia berkata, "apakah kita pernah bertemu?"


Anak ini, dia tidak tau kalau dia cukup terkenal kah?


"Tidak, tapi aku tahu tentangmu. Kalian berdua cukup terkenal."


Grace menjadi malu-malu dan menggaruk pipinya yang seharusnya tidak gatal. Aku melihat yang lain sedang berkenalan dengan anak-anak disini. Kelas ini cukup ramah juga. Tapi ... Norga naksir kah ama Grace? Dilihatin terus dari tadi.


Tidak, itu bukan tatapan naksir. Tatapan tajam itu seperti Norga punya dendam. Aku melihat Grace, dan melihat kalau dia menghindari tatapan Norga, membuat rasa penasaranku terpicu. Ada hubungan apa ini?


"Hei, namamu tadi Alan kan?"


Kali ini, seorang pemuda yang tidak diragukan lagi tampan, dengan mata emas yang indah, dan rambut hitam. Kenapa dia lebih terlihat seperti protagonis?


"Ah, ya, benar."


"Perkenalkan, namaku Johannes Satriaputra, biasa dipanggil Johan."


Johannes Satriaputra? Dia si rangking satu yang pernah disebutkan? Udah perawakannya gini, rangking satu lagi, protagonis banget. Orang ini juga kelihatan ramah.


Johan menyodorkan tangannya, dia ingin berjabat tangan denganku. Tentu aku harus membalasnya.


"Baiklah, salam kenal ya."


Aku membalas jabat tangannya dengan cepat. Saat kulit kami saling bersentuhan, aku merasakan suatu sengatan.


Zzzt!


BOOM!


Aku tidak tahu apa yang terjadi, itu terjadi begitu saja. Tubuh kami terlempar kearah yang berlawanan secara tiba-tiba karena gelombang kejut saat kami bersalaman.


Tubuhku yang terpental langsung ditangkap oleh Alex dan Alan.


"Kak Alan?"


"Kakak baik-baik saja?"


Aku mengangkat tanganku, menandakan kalau aku baik-baik saja. Mereka kemudian melepaskan tangan mereka dariku.


Tubuhku diselimuti oleh keringat secara tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh darinya. Saat aku melihat Johan diseberang, dia juga merasakan dampaknya.


Samar-samar, entah aku yang halusinasi atau apapun itu. Aku melihat sosok samar yang melayang di belakang Johan. Aku mungkin salah, tapi sosok itu berwarna putih dan memiliki sayap, seperti malaikat.


[....akhirnya]


Eh, suara itu, Jaldabaoth? Kenapa dia?


DEG!


Mendadak tubuhku seperti dikendalikan. Tubuhku bergerak sendiri, tersenyum sendiri, dan melotot sendiri. Mulutku juga perlahan bergerak sendiri.


Johan juga perlahan memelototi ku dengan mata emasnya yang berkilau. Mulut kami sama-sama bergerak mengatakan....


""Ketemu kau!""