
Nera Karima, perempuan ini dikenal sebagai rubah. Dia mengencani banyak cowok dan cowok yang dikencaninya berakhir sakit hati. Alan pernah hampir jatuh hati padanya, tapi tidak jadi karena Alan sudah terlalu cinta pada Via. Ditambah, Alan juga menerima perlakuan buruk dari Nera saat masih sekolah.
Sekarang, sang rubah menghampirinya dan mengajak berpacaran. Alan masih bersikap tenang, malahan dia terkesan masa bodo. Dia masih memakan nasi gorengnya dengan santai. Sayangnya, Alex dan Norga tidak bisa tidak terkejut.
"Woi! Mana bisa gitu!" Alex yang pertama kali berteriak. Kemudian Norga mengikuti.
"Kak Alan udah ada yang punya woi!"
Nera sedikit mengernyitkan dahinya. Nama Alan mengingatkannya pada Alan disekolah lama. Tapi bedanya, Alan yang dulu itu cupu, berbeda dengan orang yang juga bernama Alan didepannya, sangat tampan, pikirnya.
Mendengar kalau Alan sudah 'punya' membuatnya sedikit kecewa. Tapi, niatnya tidak padam. Malah niatnya semakin membesar.
"Wahhh, sayang sekali kalau begitu. Padahal kau ini tipeku~" Nera kemudian memegang kedua sisi pipi Alan. Suasana di kantin menjadi sangat tegang. Para murid, terutama para laki-laki merasa marah karena Alan didekati oleh salah satu gadis tercantik di angkatan ini. Tapi, para murid laki-laki juga merasa kasihan pada Alan karena sudah ditargetkan oleh si rubah.
"Woi-" Norga langsung marah dan hendak berteriak lagi.
Sebelum itu, Alan tiba-tiba mengangkat tangannya. Norga langsung terdiam. Kali ini, Alan beranjak berdiri. Ketika berdiri, perbedaan tinggi mereka sangat terlihat. Tatapan Alan terlihat sangat tajam.
"Kebiasaanmu tak pernah berubah, Nera. Bahkan kau masih mencari mangsa setelah masuk di Akademi? Kapan kau tobat?"
Kalimat yang dilontarkan Alan membuat Nera terkejut dengan dahsyat. Siapa laki-laki didepannya ini? Mengapa dia tahu? Pertanyaan semacam itu memenuhi kepalanya.
"Siapa kau!?"
"Masa kau tidak tau?"
Nera berpikir dengan keras. Beberapa detik, akhirnya dia menyadari siapa orang didepannya. Tapi, sulit dipercaya jika itu benar-benar 'dia'.
"Kau ... bukan Alan Lexius, kan?"
Nera sedikit menjeda omongannya. Berharap kalau orang didepannya bukan 'orang itu'. Sayangnya, orang didepannya tersenyum. Orang didepannya memang Alan Lexius.
"Tebakanmu, tepat!"
"...apa!?"
Hal yang menurutnya mustahil malah terjadi. Alan Lexius, salah satu pecundang di sma nya yang dulu. Pernah dikabarkan telah meninggal. Tapi, sekarang malah muncul disini. Ditambah lagi, ketampanannya mampu memikatnya.
"Kenapa, kau terkejut? Yah, Nusa, Zoel, dan Via juga terkejut sih. Mana Lara dan Rio? Aku kangen mereka juga nih!"
Panjang umur, Lara dan Rio tiba di kantin dengan wajah yang bingung. Karena biasanya, kantin selalu ramai. Sekarang kantin agak sepi. Perhatian orang-orang tertuju pada Alan dan Nera. Begitu sampai didekat Nera, Lara langsung terpanah oleh ketampanan orang didepannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alan. Rio yang juga baru sampai tiba-tiba mengernyit dan menatap tajam. Orang didepannya ini terlihat tampan, bahkan Rio merasa terancam.
"Siapa kau?" tanya Rio to the point.
"Ini temanmu yang dulu, Alan. Gak inget?"
Rio semakin menatap tajam Alan. Rio pun juga ikut berpikir kalau orang didepannya bukan Alan. Tapi, dilihat dari gerak-geriknya, orang didepannya ini sangat mengenalnya.
"Jawab yang benar, siapa kau?" Suara Rio semakin dingin. Itu tidak membuat Alan terintimidasi sedikit pun. Senyum diwajahnya tidak terhapus walau hanya sedikit.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang penting, aku memang Alan Lexius."
Alan kemudian kembali duduk dan memasukkan satu suap nasi goreng ke mulutnya sebelum berbicara lagi.
"Pergilah, jangan ganggu aku makan."
Meski Alan sudah mengusir mereka. Tapi, tidak ada dari mereka yang bergerak. Malahan, Nera mengangkat tangannya keatas. Alan yang melihat itu membuat ekspresi malas.
BUK!
Nera kemudian mengayunkan tangannya kebawah. Hampir saja tangan Nera mengenai meja Alan dan kawan-kawan. Alex dengan keras menepis tangan Nera. Akibat tepisan itu, gelombang kejut yang lumayan tercipta.
'Hmmm, Alex sudah bagus saat menangkis. Tapi...' Pikir Alan saat melihat adegan itu dan kemudian menoleh kearah punggung tangan Alex. Bekas berwarna merah terlihat sangat kentara. Mungkin memang tugas Alex untuk melindungi ku memang berat. Kekuatannya masih kalah dengan Nera.
"Nera!"
Suara yang tidak dikenal oleh Alan dan kawan-kawan mendadak terdengar. Alan menoleh kebelakang dan melihat seorang laki-laki dengan tinggi rata-rata;kira-kira setara dengan Norga. Laki-laki itu memiliki rambut berwarna biru dengan poni yang menutupi matanya.
'Orang itu tidak terlihat berbahaya.' Pikir Alan.
Tapi Alan segera menepis pikiran itu. Yang biasanya paling berbahaya adalah orang yang paling biasa.
"Tch!"
Nera segera menggerutu dan pergi dari tempat itu, ditemani dengan Lara dan Rio. Tak lupa, mereka menoleh kearah belakang dengan tajam. Tatapan tajam mereka dibalas dengan senyum ramah dan lambaian tangan yang pelan.
Setelah itu, tak ada lagi yang terjadi. Semuanya jadi normal. Orang dengan poni yang menutupi rambut juga sudah pergi. Alan tidak tahu siapa dia. Dia akan mencari tau tentang orang itu malam nanti.
Yang pasti, dia hanya ingin menikmati nasi gorengnya....