
"Anak ini, darimana keberaniannya berasal? Apakah dia merasa dengan hanya kekuatan itu sudah cukup untuk melawan para Imp?" Satu siluet berbicara dengan nada yang agak terkejut. Bagian tubuhnya tidak terlihat karena diselimuti oleh bayangan, hanya matanya saja yang bercahaya. Meski tertutup oleh bayang-bayang, namun bisa terlihat kalau siluet tersebut memiliki tanduk dan seperti kambing.
"Kenapa kau menggubris hal seperti itu? Anak itu tau cara membuat ini jadi seru!" Kali ini, siluet hitam dengan mata yang membara berbicara dengan semangat.
"Keberanian yang dia tunjukan membuat dia terlihat lebih tampan~~" Sekarang, siluet bayangan wanita yang berbicara dengan nada yang menggoda.
"Ini.... Mengejutkan.... Baguslah..." Terakhir, siluet hitam naga berkepala tiga berbicara. Kepala paling tengah kemudian sedikit melirik kearah sebelahnya. Satu-satunya yang tidak berbicara satu katapun, dan hanya memperhatikan dengan tatapan kosong. 'Dia berkerudung' dan misterius, tidak pernah ada yang tau tentang isi pikirannya dan tidak ada yang berani menentangnya.
***
Alan yang sekarang berada ditengah-tengah para Imp sedang menyesal karena sok-sokan melompat ke kerumunan Imp. Mungkin dia terlalu bersemangat tadi. Tapi, Alan tetap merasa keseruan saat melawan para Imp. Bermodalkan belati berkualitas menengah, Alan merobek daging lunak Imp tanpa banyak berusaha. Tetap saja, jumlahnya terlalu banyak untuk ditangani oleh Alan.
Alan menebas setiap tenggorokan dari Imp yang ada pada pandangannya. Alan berputar-putar layaknya badai, dia tidak berhenti untuk berputar karena jika dia berhenti, dia bisa terluka. Alan perlu mencari cela untuk pergi ketempat yang aman. Setidaknya dia harus istirahat walaupun cuma beberapa detik.
"Disana!"
Alan melihat jalan yang agak lebar. Dari sana, ia tidak membuang banyak waktu dan berguling kesana, kemudian dia berlari sekencang mungkin kearah batu-batuan besar.
Alan bernafas lega, meski hanya sebentar. Dia mencoba mengintip dari balik batu. Para Imp sedang mencarinya tanpa arah. Mereka berpencar menjadi beberapa kelompok dan pergi kearah yang berlawanan satu sama lain.
Alan tersenyum puas, karena dia bisa melakukan taktik culik dan bunuh. Cara yang pengecut, tapi efektif.
Setelah berpikir beberapa detik, Alan mulai bergerak, tapi dengan kehati-hatian yang luar biasa. Satu-satunya hal yang dia syukuri adalah dia masih atletis, walau tidak seperti saat dia punya skill [Martial Arts Houman Style]. Badannya yang atletis sekarang sudah lebih dari cukup, dan dia bisa parkour. Dia melompati bebatuan dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Alan akhirnya mendekati mangsa-mangsanya yang sedang berkumpul layaknya serigala yang hendak menyerang para domba.
Para Imp yang sedang mencari-cari, salah satunya tiba-tiba berteriak. Imp yang lain menoleh kearah suara tersebut. Namun, mereka tidak menemukan apapun. Para Imp kemudian kebingungan dan berusaha mencari lagi, namun, satu persatu hilang tanpa diketahui. Hingga akhirnya, hanya satu Imp yang tersisa....
Krek!
Imp yang terakhir sama sekali tidak tau apa-apa, tetapi, hidupnya tiba-tiba berakhir begitu saja. Tentu saja, penyebabnya karena Alan tiba-tiba muncul dari belakang dan mematahkan leher Imp itu.
"Satu rombongan sudah habis, sekarang sisa enam rombongan lagi." Alan begitu bersemangat, "ternyata menirukan gaya bertarung seorang Assassin yang ada di game dan di video dokumenter keren juga."
Alan menjadi begitu percaya diri, dia percaya dia bisa menang dengan cara seperti ini.
Dia tidak tahu, kalau ditempat lain terjadi keributan.
"...ternyata dia seorang pengecut." Ucap siluet berkepala kambing.
"Bocah biad*b ini mengecewakan!" Ucap siluet dengan mata berapi-api yang setuju.
"Setuju... Dia pintar.... Terlihat menjanjikan..." Siluet naga berkepala tiga setuju dengan sang wanita. Kemudian, lagi-lagi naga curi pandang kearah siluet berkerudung. Ekspresinya masih sama, datar, tidak menunjukkan ketertarikan apapun pada Alan.
Beralih kembali ke Alan yang sedang mengendap-endap. Dia menghabisi rombongan kedua yang jumlahnya lebih banyak. Kali ini dia lumayan kesulitan, karena dia ketahuan, tapi dia dengan cepat menghabisi semuanya sebelum para Imp bisa memberi sinyal pada rombongan lainnya yang mempunyai jumlah lebih banyak lagi.
Dia lanjut pergi ke rombongan Imp terdekat. Kali ini jumlahnya ratusan lebih. Jumlah tidak membuat semangat Alan berkurang, malah dia semakin bersemangat. Tetap saja, dia mencoba untuk melawan Imp dengan secara perlahan-lahan tanpa perasaan buru-buru.
Jadi dia mengambil batu yang pas digenggamnya dan melemparkannya ke tempat yang kosong. Para Imp langsung menoleh kearah tersebut, beberapa Imp langsung menghampiri tempat tersebut untuk melihat. Dengan begitu, masih ada enam puluhan Imp yang belum terpisah.
Alan lagi-lagi melemparkan batu seukuran genggamannya. Kali ini sasarannya adalah muka burik salah satu Imp. Tujuannya adalah membuat beberapa Imp pingsan.
Alan melempar sekuat tenaga dan untung saja Alan tidak rip aim. Batu tersebut mengenai muka salah satu Imp. Sudah jelek, karena batu tersebut, tambah jelek lagi. Tak berhenti sampai disitu, dia melempar, melempar, dan melemparkan batu pada beberapa Imp. Hampir semuanya headshot, dan yang meleset bisa dihitung dengan jari. Merasa sudah cukup melempari para Imp. Dia dengan barbar melompat kearah Imp yang dengan bodohnya terbang rendah dan merobek daging mereka semua dengan mudah. Imp yang tadi pingsan juga ditusuk hingga mati.
Tak lupa, Alan menghabisi para Imp yang tadi terpisah. Sekarang, sisa lima rombongan Imp.
Alan segera menuju kerombongan terdekat. Kali ini, medannya sama sekali tidak mendukung Alan untuk melakukan aksi culik dan bunuh. Hanya ada lapangan luas untuk tawuran.
Tapi Alan tidak masalah akan hal itu. Dia sudah siap untuk menghadapi hal beginian.
Akhirnya, Alan yang sudah siap untuk terluka, bersiul nyaring. Memancing para Imp yang mendengar suara melengking tersebut. Para Imp dengan ganas terbang rendah kearah Alan dengan mulut berlendir yang menjijikan. Disisi lain, ada Alan dengan kedua tangannya yang direntangkan, menandakan bahwa dia siap menerima serangan apapun.
Saat perbedaan jarak mencapai seratus meter. Alan mulai berlari kencang dengan teriakan liarnya. Alan dan Imp kemudian bentrok dengan dahsyat dan bertarung sejadi-jadinya.
Alan yang hanya mempunyai belati ditangannya, menusuk-nusukkan belatinya pada anggota tubuh para Imp dengan presisi yang tepat. Tangan satunya tidak dibiarkan menganggur. Tangan kirinya yang tida memegang apapun digunakannya untuk menggapai ekor salah satu Imp dan dengan itu, dia berputar-putar seperti tornado dengan Imp ditangannya. Para Imp terpukul mundur karena serangan itu, dan yang tak beruntung harus terpental karena Alan yang melempar Imp ditangan kirinya dengan keras dan kuat. Alan terus melakukan hal yang sama. Tak lupa memakai anggota tubuh lainnya untuk melukai musuhnya. Jumlah Imp terus berkurang, namun disaat yang bersamaan terus bertambah.
Rombongan Imp yang lain datang karena kerusuhan yang terjadi. Membuat Alan dikeroyok masa, badannya sudah dicakar habis-habisan oleh para Imp. Luka ditubuhnya tidak membuat semangat juangnya hilang.
Sekitar 25 menit pertarungan berlangsung. Imp terakhir yang masih hidup kepalanya ditusuk oleh belati yang tidak lain adalah belati milik Alan.
Alan terduduk di antara mayat Imp. Semuanya mempunyai bekas sobekan pada tubuh mereka dan tebasan yang dalam. Alan sudah ngos-ngosan, kakinya bergetar karena sudah tidak kuat lagi. Namun dia tau kalau masih ada tantangan lain yang menunggunya.
Perlahan, disekitar menjadi abu yang terbawa angin. Mayat-mayat Imp yang berserakan di tanah pun ikut menghilang. Bahkan, luka ditubuh Alan juga hilang.
Ini membuat Alan bingung dan dia juga dikejutkan lagi karena tanpa dia sadari, sekarang dia sudah ada ditempat yang berbeda. Lingkungannya hampir sama dengan yang tadi, tapi kali ini suhunya lebih tinggi dan ada lautan lava.
Melihat sekeliling, Alan hanya bisa menghela nafas dan berjalan tanpa arah, berharap dia bisa segera keluar dari sini...