The Slayers

The Slayers
Chapter 77 (Season 2)



Alex, pemuda berusia 17 tahun yang tingginya 187 sentimeter, tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kejadian di warung soto Pak Budi. Disaat dia berteriak ketakutan karena melihat mata yang muncul di anggota tubuh Cindy, orang yang dia sukai.


Dia merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk mendekati Cindy. Kisah cintanya sudah pupus bahkan sebelum dimulai. Dia susah tidak bisa kembali ke warung Soto Pak Budi karena kejadian itu.


Dan dia juga masih penasaran, siapa kakak itu dan mengapa kakak itu tau tentang 'dia'. Apakah orang itu juga pernah ditatap balik? Atau mungkin kakak itu pernah berinteraksi langsung dengan 'dia'.


Rasa penasaran menyelimuti dirinya. Akhirnya dia tidak jadi tidur, padahal waktu sudah jam 12 malam.


Pada akhirnya, Alex memutuskan untuk bermain game sebentar. Seperti biasa, orang jika keseruan bermain game, orang itu pasti akan kebablasan dan malah main hingga matahari sudah menyapa dunia. Yah, itu terjadi pada Alex.


"Eh? Lah? Sudah pagi?"


"Alex, bangun nak!"


Ibunya datang dan membuka pintu, seketika, ibunya melihat Alex yang memegang handphone nya secara horizontal dan melihat wajahnya yang sangat jelek karena kecapekan dan kurang tidur, matanya pun sangat merah dan mata pandanya besar.


Tentu saja reaksinya sudah pasti, kemarahan. Lagi-lagi Alex bangun dengan wajah bonyok. Menuruni tangga dan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Dan seperti biasa, ayah Alex yang sedang menyeruput kopi di meja makan bersama dengan adiknya, menyapa Alex dengan sedikit sarkas.


"Hmmm, tumben sekali wajahmu menjadi tampan Alex? Kau seperti aktor film."


Alex benar-benar kesal. Dia sudah mengalami hal buruk secara beruntun di pagi hari. Tidak bisa tidur, main game hingga matanya sakit, dihajar ibunya, kena sarkas ayahnya, dan entah apa yang akan terjadi padanya nanti.


Alex langsung masuk ke kamar mandi, kemudian mandi dengan cepat dan memakai seragam sekolah. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi, menjemur handuk dan bergabung di meja makan.


Alex yang sedang mengantuk berharap kalau adiknya tidak melakukan hal yang menyebalkan.


Tentu saja.... hal itu tidak terkabul.


"Ayah! Ibu! Katanya, disekolahku bakal kedatangan Slayers veteran loh!"


"Hah? Benarkah?"


"Kau bercanda, Anna?"


Kedua orang tua mereka terkejut mendengar kalau sekolah Anna akan kedatangan Slayers veteran.


"Aku tidak bercanda! Yang datang kesekolahku adalah dari Guild Black Dagger!"


"Woah! Memang tidak salah aku menyekolahkan mu disana!" Ucap Ayahnya dengan riang.


"Betul! Sangat jarang untuk sebuah Guild mendatangi sekolah, tapi sekolahmu ini memang sekolah elit sih."


Alex dan Anna memang disekolahkan ditempat yang berbeda, Alex selalu disekolahkan di sekolah menengah, sedangkan sekolah Anna selalu sekolah elit.


"Bagaimana kak? Kau pasti iri kan?" Tanya adiknya dengan senyum yang menyebalkan.


Dalam hati Alex, dia memang iri, tapi dia tidak ingin mengakuinya.


"Biasa saja, aku pernah bertemu dengan orang yang lebih hebat."


Akhirnya, dia malah membuat alasan.


"Huh? Siapa memangnya?"


"Kau tidak akan tahu siapa dia, Anna. Dia adalah Slayers tersembunyi yang tidak suka mencolok."


"Tidak, dia itu nyata."


"Bagaimana penampilannya? Dari Guild mana? Apa job nya? Dia laki-laki atau perempuan? Dan jika dia laki-laki, apakah dia tampan?"


Anna menghujani Alex dengan pertanyaan, anehnya, Ayah dan Ibu mereka malah ikut penasaran.


"Eh, errr penampilannya...."


Alex bingung bagaimana mendeskripsikan orangnya. Dia berpikir 'Mungkin aku harus bilang hanya bercanda, tapi...' Melihat kalau Ayah dan Ibunya juga penasaran, ini mengakibatkan Alex berbohong lebih banyak lagi. Dia terpikir dengan suatu sosok yang ia temui.


"Dia memiliki pupil berwarna merah, warna kulitnya putih pucat, dia serba tertutup, memakai pakaian serba hitam. Kalau Guild, aku tidak tau dia dari Guild mana. Jobnya juga tidak tahu, dia laki-laki. Dan mukanya memang tampan, tapi agak menyeramkan."


"Woah, ciri-ciri nya seperti tipeku!"


Anna sudah membayangkan bagaimana orangnya, dan sepertinya itu sama dengan tipe laki-lakinya yang misterius dan badass.


"Ehhh, mungkin kau akan menarik kata-katamu jika kau langsung bertemu dengannya."


"Eh,? Aku bisa bertemu dengannya?"


"Yahhhh, tentu tidak bisa. Dia orang yang sibuk dan... gila."


"Dih, padahal aku penasaran dengan mukanya."


"Sudah, aku mau berangkat."


Dan begitulah, Alex berhasil membuat kebohongan yang sangat besar dan pergi kesekolah. Meski dia sama sekali tidak tahu kalau yang dia omongkan itu sebagian benar, terutama tentang deskripsi Slayer yang dia bilang.


***


"Haaaah....."


Alex menghembuskan nafas panjang saat bersepeda dengan Norga.


"Kau kenapa kak?"


"Hari ini, aku sungguh sial."


"Kenapa."


Dengan perasaan tidak menyenangkan karena mengingat kejadian tadi pagi, Alex menceritakan semuanya.


"Sepertinya keberuntungan kakak menipis."


"Ya, aku juga berpikir begitu."


"Yah, mungkin ini tanda jika kakak akan menjadi Special."


"Maksudmu?"


"Kakak akan diberi kesialan dulu, kemudian kakak akan mendapatkan keberuntungan diakhir."


"Betul juga anda, semoga beneran."


Kemudian, mereka masuk ke gerbang sekolah masing-masing.