
"Kita tidak punya cara lain...."
Alan menatap dinding didepannya dengan seksama. Jika dia mengubah strukturnya, orang ditempat lain kemungkinan jalan orang-orang didepan lain akan buntu. Kalau hal itu terjadi, orang-orang disisi lain juga harus merubah strukturnya yang membuat mereka menemui jalan buntu.
Satu-satunya cara yang bisa Alan pikirkan adalah bersatu dengan kelompok lain. Alan berencana menggunakan [Spirit Walker], tapi luas labirin yang tidak dia ketahui ini membuatnya ragu. [Eyes of Sage] saja tak bisa melihat ujung dari labirin, apalagi jika mereka mau mencari jalan keluar. Hanya ada akhir yang buruk bagi mereka semua.
"Semuanya, pegang bahu ku dengan erat. Kita akan mencoba untuk bergabung dengan kelompok yang lain."
Alex, Norga dan Arnima mengangguk. Mereka mengerti keputusan Alan. Terus mengubah struktur labirin akan menghabiskan waktu bagi kedua belah pihak, jadi lebih baik kembali bersatu.
Semua sudah berpegangan pada bahu Alan. Beberapa detik setelah itu, Alan menggunakan [Spirit Walker].
Jiwa mereka keluar dari tubuh fisik. Mengikuti Alan yang bergerak cepat secara acak dengan cepat. Dalam lima detik, Alan dalam tubuh roh mencari keberadaan kelompok lain. Tetap saja, dengan kecepatan yang luar biasa, dia tidak dapat menemukannya.
Batas waktu skill sudah habis, membuat tubuh mereka berteleportasi ditempat tubuh roh mereka berada. Mengulangi untuk kedua kalinya, Alan masih mencari dimana keberadaan kelompok lain yang tidak diketahui lokasinya. Matanya bergerak secara acak dan cepat.
Pergerakan kedua tetap gagal, dilanjutkan dengan pergerakan tiga, dan keempat. Semuanya gagal, tanpa menemukan petunjuk dari kelompok satunya.
"Haah... Haahhh...." Semuanya bernafas tersengal-sengal. Wajar saja, Alan pun juga begitu, hanya saja tidak terlalu parah. Penggunaan [Spirit Walker] sangat membebani tubuh, apalagi jika belum terbiasa.
"Kalian, apa kalian bisa melakukan ini untuk kelima kalinya?"
"B-bisa!" Alex menjawab dengan wajah yang kelelahan. Norga mengangguk juga dengan wajah yang tak kalah lelah. Arnima tidak memberikan respon apapun, dan malah bertanya, "tubuhmu, emangnya bisa menahan bebannya?"
Alan terkekeh, kemudian menggeleng dengan senyum yang menunjukan kalau dia pasrah. "Lima kali adalah batasku, lebih dari itu maka aku akan terkena penalti."
"Aku akan kena debuff yang membuatku tidak bisa bergerak selama lima belas detik dan skill ku akan terkunci selama tiga puluh menit."
Alex dan Norga tercengang mendengarnya. Arnima menggeleng dengan raut wajah yang sedih. Kali ini kesempatan terakhir mereka. Jika tidak ketemu, maka yang bisa diandalkan hanya keberuntungan. Itu pun jika keberuntungan mereka bagus.
"Baiklah, ayo cepat, siapa tau kita akan bertemu dengan mereka."
Mereka bertiga kembali memegangi bahu Alan. Menghembuskan nafas yang dalam, Alan melakukan pergerakan kelima.
Tubuh jiwa mereka bergerak dengan sangat cepat, seperti kilatan petir. Kecepatan seperti itu diimbangi dengan pengelihatan Alan yang juga cepat dan teliti.
'Ah! Itu!'
Alan segera berbelok dan menuju kearah setitik kecil cahaya yang melayang-layang dilangit-langit labirin. Dibawah cahaya tersebut, ada sekumpulan orang yang tiga diantaranya adalah teman sekelasnya.
Durasi dari [Spirit Walker] telah berakhir. Alan tidak melakukan pendaratan dan malah terus maju, membuatnya beserta Alex, Norga, dan Arnima langsung mendarat dengan konyol.
Disisi lain, Johan yang sedang fokus akan jalan didepannya, dikagetkan dengan penampakan yang tiba-tiba dari teman-teman yang berpisah darinya.
Mereka seperti terpental oleh sesuatu yang tidak terlihat, atau seperti berteleportasi.
"Alan? Kalian, kok?"
Alan, yang jatuh terlungkup tepat didepan kaki Johan, hanya mengangkat tangannya dan berkata, "yo!"