The Slayers

The Slayers
Chapter 114 (Season 3)



'Ada yang salah tentang ini.'


Alan berpikir, kenapa rasanya ini berjalan terlalu mulus. Terlalu mulus sampai rasanya dia seperti sedang berhalusinasi. Atau, mungkin memang semudah ini? Tidak ada yang tahu, dan ini membuat Alan cemas.


Dia berkata akan melatih Norga menjadi sebuah Blacksmith sekaligus petarung. Dalam bertarung, Norga masih memiliki kemampuannya. Berarti, memang kami tidak terikat pada aturan, pikir Alan. Umumnya, job produksi akan kehilangan kemampuan bertarung mereka, dan itu sudah terbukti.


Melihat kalau Norga belum kehilangan kemampuan bertarungnya, berarti orang-orang yang menjadi Special dengan cara yang tidak biasa tidak terikat aturan. Itu menjadi keuntungan bagi Alan. Tapi, sekarang adalah tentang Blacksmith.


Alan sendiri tidak terlalu mengenal tentang dunia Blacksmith. Dia hanya mencari dan bertanya melalui forum di internet. Dia mendapatkan beberapa informasi yang bagus, tapi beberapa informasi juga tidak berguna.


Dia akhirnya mengajarkan tentang Blacksmith dengan informasi seadanya dan memberitahu Norga tentang apa yang harus dia lakukan. Alan sama sekali tidak tahu kepastian teorinya dan merasa kalau dirinya itu scammer.


Itu isi pikirannya, tadi. Karena sekarang, dia merasa bingung karena semuanya berjalan mulus. Padahal dia itu hanya asal-asalan memberi petunjuk. Anehnya, Norga mempraktekkannya dengan baik dan benar.


Saat ini, dia sedang memalu besi panas, membentuknya menjadi bilah yang tajam. Untuk permulaan, Alan menyuruh Norga membuat sebuah pisau. Walaupun tidak membuat sesuatu yang luar biasa, tapi Norga tetap niat membuat pisau ini. Dalam pikiran Alan, Alan berpikir 'Sepertinya tidak salah kalau job Blacksmith muncul pada job list Norga.'


Dengan ketekunan dan niat seperti itu, bukan tidak mungkin kalau Norga akan menjadi Blacksmith yang hebat dimasa depan. Dia saat ini hanya butuh guru yang tepat saja, Pikir Alan dengan dalam.


Satu hal lagi, jika dipikirkan, Alan punya bakat untuk menjadi seorang guru. Hal itu membuat dirinya terpikir untuk menjadi guru dan bergumam secara tidak sadar.


"Apa kapan-kapan aku coba jadi guru, ya?"


Gumaman itu terdengar oleh Norga entah bagaimana, dan Norga langsung menjawab "Kak Alan ingin jadi guru? Bagus tuh! Kakak kan pandai mengajar."


"Hah? Ehhhhh.... J-jangan kehilangan fokus mu! Lupakan yang tadi, tadi aku hanya ngelantur!"


"Baik, kak!" Dan Norga kembali memalu besi panas didepannya dengan semangat.


Alan keluar dari ruangan yang dia sediakan untuk Norga. Saat ini, dengan kekuatan Special, membangun sesuatu itu lumayan mudah dan cepat. Alan memesan jasa pembangunan dan meminta untuk membuat ruangan khusus untuk Norga yang letaknya berada dibawah tanah.


Saat dia naik ke atas, kali ini dia melihat masalah sebenarnya.


"OOF!"


"Oh... Astaga..."


Masalah sebenarnya adalah yang lain dan tidak bukan adalah Alex dan Lyfa. Alan jadi bertanya-tanya, bagaimana cara mereka bisa menjalin kontrak. Rasanya aneh jika melihat mereka sekarang, karena mereka kelihatan tidak dekat.


Melihat interaksi mereka, Alan seketika langsung frustrasi. Tapi, ada yang namanya proses. Yang bisa Alan harapkan hanyalah semoga hubungan mereka bisa berkembang kearah yang baik.


Alan menghampiri mereka dan bertanya kepada Alex, mungkin dengan menceritakan kesulitan Dialami, Alan bisa memberi saran.


"Hei, bagaimana kabar kalian?"


"Kami... Tidak baik-baik saja."


Mendengar jawaban tersebut, Alan hanya bisa tersenyum masam.


"Kau belum bisa menunggangi Lyfa? Apa yang membuatmu kesusahan?"


"Errr, entahlah, aku seperti mau jatuh saat menunggangi Lyfa." Ucap Alex sambil menggaruk kepalanya. Daritadi dia berusaha untuk menjaga keseimbangan, tetapi selalu jatuh. Akibatnya, tubuhnya dipenuhi dengan luka ringan.


Alan sedikit berpikir dan akhirnya memberi saran sebisanya.


"Mungkin sebelum kau benar-benar belajar menungganginya, kalian harus mengembangkan hubungan terlebih dahulu, seperti berjalan-jalan mungkin?" Saran Alan.


Setelah dipikir-pikir, Alex dan Lyfa belum lama berkenalan dan memang mereka belum mengembangkan hubungan yang dekat. Jadi, saran Alan terdengar masuk akal.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan jalan-jalan dengan Lyfa dulu." Kata Alex.


"Silahkan." Jawab Alan. Dia senang kalau bisa memberikan solusi bagi dua orang yang dia anggap adik ini. Karena sejak orang tua Alan meninggal, dia jadi sangat tertutup. Tapi dengan adanya Alex dan Norga, dia merasakan kembali rasa ketika dia masih punya keluarga, sangat bahagia.


"Mari Lyfa, ayo kita jalan-jalan!"


Alex mencoba yang terbaik untuk mengajak Lyfa berkeliling. Tapi apa daya Alex, yang diajak adalah seorang Direwolf raksasa. Mendorong tubuhnya tidak akan bisa.


Pada akhirnya, Alan menggunakan [Territory] untuk memindahkan Lyfa ke luar rumah.


"Apa itu kak!?"


"Bukan apa-apa, silahkan jalan-jalan. Aku ingin sedikit bersantai."


"Baik kak, terima kasih!"


Akhirnya, Alex bisa mengajak Lyfa jalan-jalan.


****


"Hey, lihat itu, bagus kan?" Kata Alex sambil menunjuk salah satu bangunan. Tapi Lyfa tidak menghiraukannya dan tetap fokus melihat kedepan.


'Astaga....'


Entah cara apalagi yang harus dipakai Alex untuk membuat Lyfa dekat dengannya. Jalan-jalan dikota pun sulit karena tidak ada yang menarik perhatian Lyfa.


"Hmmmm, kalau begi-eh."


Alex tak dapat melakukan pendekatan dengan Lyfa, tapi takdir memberinya kesempatan untuk berdekatan dengan orang lain.


"Wahhhh, lucu sekali!"


Cindy yang entah kenapa bisa berpapasan Alex dan Norga melihat Lyfa dan matanya langsung berbinar-binar.


"C--C-Cindy?"


Alex tak pernah menduga kalau dia akan menemukan pujaan hatinya saat berjalan. Tapi dia saat ini sedang diabaikan.


"Eh, kamu? Namamu Alex bukan?"


"Yap."


Alex dalam hati senang karena namanya diinget oleh orang yang disukai, hatinya sekarang cenat-cenut karena itu.


"Serigala ini peliharaan mu?"


"Errrr, begitulah."


Alex langsung merasakan tatapan tajam dari Lyfa dan Lyfa menunjukkan taringnya. Alex merinding hebat karena itu.


"Lucunya! Ku elus ya?" Tanya Cindy sebelum menyentuh kepala Lyfa.


"S-silahkan."


Begitu diizinkan, tangan yang sudah bersiap untuk mengelus kepala Lyfa langsung menyerbu secepat kilat. Tak hanya kepala, tapi bahkan mukanya juga ikut dielus.


Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda penolakan Lyfa terhadap Cindy. Ini membuat Alex merasa kalau dia dibenci oleh Lyfa.


Lyfa tidak menolak, malah dia merasa nyaman-nyaman saja. Setidaknya sebelum dia melihat sesuatu yang memicu insting bertahan hidupnya.


Mulut Lyfa terbuka lebar, menunjukan taringnya dan ingin melahap muka Cindy.


Cindy tak sempat bereaksi dan membeku ditempat.


Dan.....


Darah muncrat kemana-mana dan suara daging robek terdengar dengan jelas.