The Slayers

The Slayers
Chapter 105 (Season 3)



Volund sudah menunggu lumayan lama, sekitar 45 menit. Tapi dia tiba-tiba dikejutkan dengan Johan yang datang dan menggendongnya.


"Ap-ap-apa? Apa yang terjadi?"


"Ayo kembali, tuan Volund!"


"Kau berhasil?" Volund melihat pedang Gram yang digantung dipinggang kiri Johan. Pedang itu masih memancarkan aura agung meski sudah patah.


"Ya, aku berhasil mendapatkan bagian pedang Gram."


"...syukurlah, kalau begitu, mari pergi."


Setelah itu, Johan melesat kearah Workshop Volund.


Tapi Johan tidak berani untuk terbang terlalu tinggi. Para naga mungkin menyadari kalau pedang Gram telah dicuri, jadi dia terbang rendah.


Tapi, perbuatan itu sia-sia. Para naga yang sedang berburu gila-gilaan melihat Johan yang sedang terbang rendah, dan salah satu naga melihat pedang Gram yang digantung dipinggang kiri Johan. Mata para naga pada dasarnya memang tajam.


"Disana!" Salah satu naga menemukan Johan dan segera berteriak pada naga yang lain. Setelah itu, para naga terbang rendah dan menyemburkan nafas api mereka pada Johan.


Johan tentu terbang dengan sangat gesit dan menghindari nafas api yang datang dari berbagai arah.


Volund berpegangan sangat erat pada Johan. Volund mencengkeram kedua pundak Johan dengan sangat kuat. Johan merasakan sakit dikedua pundaknya, tapi dia sendiri harus fokus untuk menghindari nafas api.


Semakin lama kejar-kejaran berlangsung, semakin banyak hutan terbakar dan hangus. Johan tidak membiarkan kejar-kejaran ini berlangsung. Johan menaikkan kecepatannya, ditambah lagi, dia memakai skill.


"Tuan Volund! Pegangan yang kuat!"


Mendengar itu, cengkeraman Volund makin kuat, membuat kedua pundak Johan mati rasa. Tapi Johan langsung mengaktifkan skillnya.


"[Star acceleration]."


Tubuh Johan bersinar dan ada percikan bintang yang muncul. Sayap milik Johan membesar dan semakin bercahaya.


Kemudian dia melesat dengan sangat cepat. Naga yang berkedip sekali langsung kehilangan Johan.


"Dimana dia!?"


"Kita kehilangannya!"


"Cari lebih teliti!"


Sementara itu, Johan sudah sampai didepan workshop Volund.


"Tunggulah disini tuan Johan, aku akan memperbaiki pedang Gram." Volund dengan cepat mengambil pedang Gram dan membuka pintu Workshopnya.


"Butuh berapa lama untuk memperbaikinya?"


"3 minggu dengan segenap kekuatanku."


Johan langsung menganga dan matanya membulat sempurna. Dia tidak punya waktu selama itu. Tapi mau bagaimana lagi, memperbaiki pedang legendaris tak mudah.


"Tenang saja, aku dapat mengatur waktunya sehingga kau hanya perlu menunggu 3 jam."


Johan menjadi lega dengan itu. Setidaknya dia tidak perlu bolos dari Akademi. Jika dia harus menunggu tiga minggu, kehadirannya akan ditanyakan, akan ada gosip tentang dirinya, citranya akan menjadi buruk dan ayah angkatnya akan kecewa padanya.


Volund memasuki workshopnya dan sekilas ada cahaya didalamnya.


Sekarang, Johan hanya perlu duduk dan menunggu. Dia mungkin akan bosan dan hanya bisa berbicara dengan Seraphim.


Tapi, sepertinya akan ada naga-naga yang menemaninya.


"Oh astaga..." Johan dengan malas berdiri dan bersiap untuk bertarung melawan para naga yang menemukannya.


***Sementara itu ditempat lain.


"Hyaaaah!"


"Tidak perlu teriak-teriak, itu tidak menambah damage. Kecuali kau, Norga, barbarian atau berseker biasanya teriak-teriak tidak jelas."


"Groaaaaa!"


"Bukan teriak seperti hewan buas juga. Jangan ikut-ikutan kayak aku."


"Kak Alan job nya apa sih!?" Tanya Alex yang dengan frustasi menyerang Alan.


Serangan Alex dihentikan oleh kaki Alan dan Alan menggunakan itu sebagai pinjakan dan salto kebelakang. Norga yang menyerang dengan palu dari belakang jadi meleset.


Begitu mendarat dengan mulus, Alan berkata dengan malas "Berapa kali aku harus membuktikan kalau aku ini Alchemist? Aku sendiri sudah mempraktekkan sihir Alchemist dengan serangan dari lingkaran sihir, menciptakan homunculus, membuat versatile gear, dan kalian juga pernah masuk ke tempat kerjaku kan? Jadi, kenapa kalian masih ragu?"


"Hanya saja, kemampuan kakak itu tidak seperti Alchemist!" Teriak Norga yang mencoba untuk menyerang lagi.


Tapi Alan dengan dengan cepat mensleding Norga hingga ia terjatuh. Alan lanjut dengan menjepit leher Alex dengan kedua kakinya dan membantingnya ketanah.


"Aku sudah bilang itu hanya skill pasif."


Alan yang seorang Alchemist bisa merobohkan Alex dan Norga dalam tiga detik saja. Tapi memang Alex dan Norga hanya level satu.


"Sepertinya cukup latihan kita untuk hari ini, besok bersiaplah untuk pergi keportal. Kalian berdua pergi sendiri saja. Pergi ke kantor Slayers dan pesan lah sebuah portal tingkat ular pakai uangku. Jangan ada orang lain, hanya kalian berdua, oke?"


"Tunggu, tingkat ular?" Tanya Alex dengan terkejut sambil mendongak keatas.


"Yes, tingkat ular, ada masalah?"


"Itu terlalu tinggi untuk kami! Bukannya butuh level 50-100 keatas untuk keportal tingkat ular?"


"Memang, tapi aku yakin kalian bisa. Kalian sudah meningkatkan stats kalian kan? Seharusnya itu sudah cukup."


"Tapi.."


"Tidak usah tapi-tapi, lebih cepat lebih baik. Lagipula kalau terdengar gosip tentang duo slayers level satu yang dapat menyelesaikan portal tingkat ular, itu akan luar biasa. Kalian akan dianggap super rookie."


Alex dan Norga langsung membayangkannya. Mereka akan jadi incaran banyak orang, dipuji banyak orang, dan mereka akan terkenal! Untuk Alex, mungkin prestasinya akan diketahui oleh Cindy dan dia punya kesempatan untuk mendekatinya. Untuk Norga, dia mungkin bisa membalas dendam pada orang yang pernah menolaknya dulu, tapi mengingat cewek itu ada di Akademi Slayers, Norga merasa mustahil baginya untuk tahu.


Tapi tetap saja, pengalaman mereka yang kurang membuat Alex dan Norga tidak percaya diri.


"Apa tidak ada cara yang lebih cepat, kak?" Tanya Norga penasaran.


"Tentu ada, malah ini lebih efisien."


Wajah Alex dan Norga langsung cerah seketika. Tapi Alex menyadari kalau cara yang lebih cepat ini tidak baik, karena Alan sendiri tidak menyebutkannya lebih awal.


"Bagaimana kak?" Tanya Norga antusias.


"PK."


Hanya dua huruf saja dan itu langsung mengejutkan Alex dan Norga. Wajah mereka berdua langsung suram.


"Cara ini yang paling efisien, tapi paling beresiko. Dulu aku langsung naik level 57 dengan cepat karena PK. Tapi aku tidak ingin kalian jadi sepertiku. Apalagi, jika Nolisia merasakan hawa pembunuhan dari kalian, khususnya kau," Sambil menunjuk Norga, "Aku akan dihajar habis-habisan."


"Jika kalian melakukan PK, kalian juga akan menjadi terkenal dalam artian buruk. Karena itu, jangan lakukan PK. Dimasa depan, kalian mungkin akan melakukan PK, tapi, untuk sekarang jadilah Slayers yang baik dan budiman, kalian mengerti?"


Alex dan Norga mengangguk dengan yakin. Mereka segera berdiri dan bersiap-siap.


"Oh ya, sebelum pergi ke kantor Slayers. Aku ingin kalian membeli senjata dulu. Kalian ingin pesan online atau pesan langsung?"


""Pesan langsung."" Jawab mereka serentak.


"Baiklah." Alan berjalan mendekati Alex dan Norga, dia kemudian memegang kedua bahu mereka.


"Huft, moga dia gak ngamuk." Mereka kemudian berteleportasi.


**Ditempat Ling Hua.


Ling Hua saat ini sedang santai dan ingin menikmati kopi panasnya. Saat dia hendak meminum kopinya, pundaknya secara tiba-tiba dipegang oleh seseorang.


"Ha-"


"KYAAAAAAA!!!"


Ling Hua dengan kaget menyiram muka Alan yang baru datang. Dia ingin mengagetkan dengan Ling Hua. Itu berhasil, tapi sebagai gantinya...


"ARRRGGGGGHHHH!!!" Mukanya disiram kopi yang super panas dan matanya jadi buta.