
*Markas Guild Chaos.
Dalam ruangan pribadi sang Guildmaster. Suasana benar-benar menengangkan dan dingin. Hal itu disebabkan oleh Ling Hua dan satu lagi wanita yang duduk diseberang nya.
Wanita itu mempunyai senyum yang cemerlang, duduk sambil meminum teh yang disediakan dengan sangat elegan. Kulitnya berwarna coklat, bibir merah muda, matanya berwarna emas yang menatap dengan tatapan yang bisa menggoda semua orang, rambutnya yang panjang hingga mencapai punggung dikepang, dan dia memakai baju rapi dengan lambang Guild terpampang jelas dipunggungnya.
Berbeda dengan wanita itu yang masih tersenyum gembira. Ling Hua mempunyai wajah marah dan matanya serasa bisa menundukkan siapa saja yang menatapnya.
"Jangan lihat aku dengan galak begitu dong! Kau harusnya sambut sahabatmu ini dengan ramah!" Ucap wanita itu masih dengan senyumannya meski tidak nyaman dengan tatapan Ling Hua.
Ling Hua tidak mendengarkan perkataannya. Dia hanya ingin menghabisi wanita didepannya ini. Melenyapkannya dari muka bumi ini.
"Maaf jika mengganggu bisnismu, tapi kau masih meneruskan bisnis ilegal ini? Kau tak takut melaporkannya pada para petinggi Asosiasi?"
"Coba saja!"
Keheningan mulai lagi, membuat suasana menjadi sesak. Tapi itu dipatahkan lagi oleh kata-kata yang dingin dari Ling Hua.
"Aku akan membunuhmu," Ucap Ling Hua, tatapannya memang mengatakan dia akan membunuh wanita itu.
"Santai lah, perasaan saat dulu aku mengganggu bisnis ilegal mu ini kau tidak marah sebesar ini? Apakah yang memesan itu
"...teman."
"Teman apa? teman-"
"Hanya teman bermain game, tak lebih dari itu."
Wanita itu kecewa dengan jawaban Ling Hua yang serius. Menunjukan kalau dia tak berbohong.
[Hanya teman... hatiku sakit sekarang.]
Suara misterius tiba-tiba muncul entah darimana. Ling Hua mengenal suara itu dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Yang Ling Hua ambil ada sebuah cermin seukuran telapak tangan.
[Hey Ling Hua, kau ada disana kan.]
"Ya." Ling Hua menjawab dengan suara datar dan dingin.
Di alam lain, Alan yang mendengar langsung merinding. Dia tak pernah mendengar Ling Hua bicara seperti ini. Dingin dan datar, seperti ingin sedang menghancurkan sesuatu.
[Apa yang terjadi? Kenapa ada orang-orang dari Guild Mahabharata?]
Ling Hua tak menjawab langsung, dia diam sejenak dan berkata "Aku kedatangan tamu, seorang wakil guildmaster Mahabharata datang ketempat ku."
[...kau bercanda.]
"Tidak."
Ling Hua langsung membantah dengan nada dingin.
[Baiklah-baiklah, hanya saja itu sulit dipercaya.]
Wanita itu penasaran dengan siapa Ling Hua berbicara. Dia pun berdiri dan dengan santai bilang...
"Hei, itu orang yang memesan portal mu kan? Biar aku bicara dengannya."
Wanita itu bicara dengan lantang dan santai. Alan pun mendengar suara wanita itu.
[Hei, biarkan aku bicara padanya.]
"...kau yakin?"
[Tentu saja, ini kesempatan emas untuk bicara langsung pada wakil guildmaster nomor satu di India.]
Dengan enggan Ling Hua menyerahkan cermin komunikasi. Wanita itu menerima dengan cepat dan berbicara dengan suara ceria.
"Halo! Namaku Amira, wakil guildmaster Guild Mahabharata! Siapa namamu?"
[Namaku Alan. Jadi mengapa kau mengirim orang-orang mu ke portal yang ku pesan?]
"Untuk membantu sahabatku menghilangkan bisnis buruk nya ini. Kau tahu kan kalau ini Ilegal?"
[Aku tidak peduli, kalau kau menggangguku saat aku sendiri sih aku tidak masalah. Tapi kali ini aku membawa dua teman ku yang sedang ingin menaikkan level.]
"Aku tidak peduli, itukan urusan mu."
[Tarik kembali anggota Guild mu!]
"Tidak mau, kalau kau mau anggota guild ku pergi hentikan saja sendiri."
[... challenge accepted.]
Alan langsung menonaktifkan cermin komunikasi dan bersiap-siap.
Amira cukup terkejut karena Alan sangatlah berani untuk melawan anggota Guild Mahabharata yang rata-rata mempunyai level 300.
"Bocah ini berani juga ya? Dia ini sok kuat atau memang kuat?"
"Dia memang kuat."
Amira terkejut lagi karena Ling Hua dengan yakin berkata kalau Alan kuat.
"Dia punya hubungan apa dengan mu? Kau jarang sekali memuji orang, apalagi memuji laki-laki."
"Dia teman dan dia banyak membantu Guild ku."
Melihat kalau Ling Hua benar-benar mengganggap Alan penting. Amira kembali duduk dan menyesap teh nya.
***Di dalam portal.
"Jawab aku, siapa kalian?"
Sekarang, situasi benar-benar gawat bagi Alex dan Norga. Mereka kedatangan tamu tak diundang dan tak dikenal. Dan wanita yang berbicara dengan mereka dapat menghabisi para monster dalam sekejap. Jika mereka terlihat mencurigakan, mereka yakin nyawa mereka akan tamat dalam sekejap.
"...errr, kami Slayers pemula, rank D!" Alex menjawab terlebih dahulu.
"Itu benar, kami sedang menaikkan level kami." Tambah Norga.
Wanita itu menatap dengan lebih tajam. Membuat Alex dan Norga berkeringat dingin.
"Kalian berbohong. Aku tak merasakan mana dari kalian sama sekali."
"Eh, tentu saja, kami ini petarung jarak dekat yang tak menggunakan magic," ucap Norga asal.
Bukannya meyakinkan, malah tombak wanita itu dihunuskan di dekat leher Norga. Hanya seinci saja jarak tombak itu dengan leher Norga. Alex langsung ngeri dan memegang lehernya dan Norga membeku dengan ekspresi bodoh.
"Apakah kalian tahu? Walaupun bukan magician atau petarung yang mengandalkan mana tapi setiap Slayers punya secuil mana didalam diri mereka, dan biasanya orang yang punya job yang sensitif dengan mana biasanya bisa mendeteksi mana sekecil apapun itu. Sedangkan kalian, kalian bilang kalian Slayers rank D, tapi tidak punya mana?"
Keringat mereka berdua langsung bercucuran. Mereka ketakutan setengah mati dan yakin kalau mereka akan mati konyol. Tapi keajaiban datang saat dibutuhkan.
Dari jauh terdengar suara jeritan. Para anggota Guild Mahabharata melihat kearah jeritan itu dan ternyata jeritan itu adalah dari burung tengkorak yang melaju kencang. Burung tengkorak menerjang wanita itu, tapi wanita itu dengan gesit menghindar dan melemparkan tombaknya. Tombak yang dilempar mengenai burung tengkorak dengan tepat. Burung tengkorak itu hancur berkeping-keping dan terjatuh tergeletak ditanah.
Masalah sudah diselesaikan, tapi ketika wanita itu melihat kearah Alex dan Norga. Mereka sudah menghilang secara misterius.
Jauh dari tempat para anggota Guild Mahabharata. Alex dan Norga berpindah cepat dalam satu kedipan mata. Mereka kaget dan melihat sekeliling. Mereka berdua melihat kejutan yang tak terduga, yaitu Alan.
""Kak Alan!"" Teriak mereka berdua dengan kencang.
Alan langsung menempelkan jari telunjuk nya ke mulutnya sendiri sebagai isyarat untuk diam.
"Aslinya, aku tak ingin bertemu dengan kalian sampai masing-masing dari kalian sudah membunuh 5 monster. Tapi rencana berubah, ada pihak kuat yang terlibat."
"Maksudnya?" Tanya Alex bingung.
"Kakak tau siapa wanita gila dengan tombak itu!?" Giliran Norga yang bertanya.
"Mereka adalah anggota dari Guild Mahabharata."
""Mahabharata!?"" Teriak mereka panik.
"Yep, Mahabharata. Guild nomor satu di India."
"Astaga, apa yang kakak lakukan sampai orang-orang dari Guild nomor di India datang ke sini," ucap Norga panik sampai-sampai ia menarik jaket Alan dan menggoyangkan tubuh Alan. Untungnya Alan kemudian dapat menjelaskan dengan tenang.
"Tenanglah!"
Alan menenangkan Norga, melepaskan tangan Norga dari jaketnya dengan pelan.
"Jadi, sebenarnya ini bukan portal dari Asosiasi Slayers. Tapi aku membeli portal ini dari Guild Chaos, yang mana penjual belian Portal yang bukan dari Asosiasi langsung adalah bisnis ilegal."
"Kenapa kak Alan tidak membeli dari Asosiasi?"
"Karena aku tidak mau, bisa dibilang aku punya masalah dengan Asosiasi Slayers."
"Masalah apa?"
"Jika sudah selesai, aku akan memberitahu kalian. Yang penting sekarang adalah kalian harus membunuh masing-masing 3 monster secepatnya."
Alex dan Norga agak kesal dengan perkataan Alan yang menganggap kalau membunuh monster itu mudah padahal mereka manusia biasa. Tapi mereka salah, Alan yang paling tahu bagaimana susahnya membunuh monster saat menjadi manusia biasa.
Karena itu, Alan mengeluarkan 2 vial dari jaketnya. Satu berwarna biru dan satu berwarna merah.
"Ini adalah vial yang berisi ramuan yang dapat memberikan skill bagi manusia biasa maupun Special. Yang berwarna biru adalah skill [Duplicate strength], serangan pengguna akan meningkat selama 2 menit. Yang warna merah adalah fire ball biasa. Ramuan ini bertahan hanya tiga jam, jadi kalian usahakan bisa membunuh 6 monster tersisa dalam 3 jam."
"Eh, tapi-" Alex ingin menolak meskipun efek vial itu menggiurkan. Norga ingin mengambil tanpa basa-basi, tapi mendengar Alex menolak membuatnya sangat terkejut.
"Terima saja, jika tidak, kalian membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh 6 monster."
"Tapi, ini tidak adil!"
"...apa maksudmu?"
"Kak Alan selalu membantu kami berdua, memberi kami senjata bagus, mengalihkan perhatian monster supaya kami dapat kesempatan, dan sekarang kak Alan memberi kami ramuan yang dapat memberikan skill. Rasanya tidak adil dibanding dengan kak Alan yang berjuang sendirian, tanpa bantuan siapa-siapa dan terus menghadapi pertarungan yang menentukan hidup dan mati."
"Kami tidak ingin terlalu merepotkan kakak dan sekaligus kami ingin mendapatkan pengalaman yang bagus. Jadi, kaka simpan saja ramuan itu."
Alan terdiam seribu kata mendengar kata-kata Alex. Dan Norga menjadi enggan untuk mengambil ramuan itu. Dia merasa perkataan Alex itu benar.
"...kau yakin Alex? Kau yakin dengan keputusan mu?"
"Yakin seratus persen!"
"Baiklah, bagaimana denganmu Norga?"
"...aku juga ingin berusaha, aku jadi tidak enak merepotkan kakak terus."
Melihat kedua orang ini, Alan entah kenapa menjadi terharu dan merasa kalau dia terlalu meremehkan mereka.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian. ...aku tidak keberatan membantu kalian kok, lagipula aku yang membawa kalian ke portal."
Alan berhenti sejenak, dan dengan senyum lebar dia berkata "Bersiaplah kalian untuk melawan monster."
""Baik!""