The Slayers

The Slayers
Chapter 117 (Season 3)



Penyihir yang duduk di takhta tertinggi para raksasa belulang, ibu dari segala Colossus, penyihir legendaris yang menjadi ancaman bagi dunia, sumber dari kebusukan dan kanibalisme, dan banyak lagi gelar yang diberikan padanya.


Arnima, seorang penyihir yang berhasil menciptakan raksasa menjijikan dari tulang belulang, kulit busuk, mata yang penuh kejahatan, gigi tajam nan runcing, dan lidah lentur yang sangat tajam.


Karena itu, dia dianggap sebagai penyihir yang akan membahayakan dunia karena ciptaannya. Sebab itu dia diburu oleh para manusia.


Tetapi, Arnima terlalu kuat, dengan pasukan Collosus nya, dan sihirnya yang sudah berada dipuncak membuatnya hampir tidak tertandingi. Tetapi, suatu hari, sang pahlawan yang dipilih berhasil mengalahkan sang penyihir.


Orang-orang bersuka cita, merayakan pesta besar-besaran, sebab sang musuh dunia sudah dibasmi. Tapi ada yang tidak mereka ketahui, sebuah rahasia besar yang bisa membuat dunia gentar.


Sang penyihir belum mati, memang tubuhnya sudah dihanguskan oleh sang Pahlawan, tetapi jiwanya masih ada.


Jiwanya hanya tersisa serpihan kecil dan masih berkeliaran didunianya. Tetapi, suatu hari, secara tidak sengaja, Arnima yang sedang berkelana tanpa tubuh yang fana mengaktifkan lingkaran sihir yang membawanya kedunia yang bisa disebut sebagai bumi.


"Tunggu, kau berasal dari mana?"


Semua cerita yang didengar oleh Alan masih diproses dikepalanya, rasanya aneh dan agak tidak masuk akal baginya.


"Aku berasal dari dunia yang disebut Colomia."


"Dan kau kesini karena tidak sengaja mengaktifkan sebuah lingkaran sihir dan bukan melalui portal?"


Arnima mengangguk, Alan juga mengecek pikirannya, tidak ada kebohongan. Alan langsung memijat kening. Tak disangka ternyata yang dia lawan adalah seorang penyihir yang membawa bencana pada dunia asalnya, ditambah, Arnima sendiri berasal dari dunia lain.


"Lalu, kenapa kau masuk kedalam tubuh Cindy?"


"Itu hanya sebuah kebetulan, dan sebuah keberuntungan bagiku." Jawab Arnima. Alan terkekeh mendengar jawabannya, "mungkin itu adalah keberuntungan bagimu, tapi mungkin hal itu menjadi kesialan bagi Cindy."


"Apakah Cindy tau tentang keberadaan dirimu." Lanjut Alan, mengulik informasi lebih banyak lagi.


"Tentu saja dia tahu keberadaan diriku. Malahan, dia mengizinkan diriku untuk tinggal di tubuhnya. Dia adalah gadis yang sangat baik, tapi juga naif."


"Benar! Dia itu sangat baik, cantik, dan idaman sekali!"


Alex mendadak memotong pembicaraan mereka dengan memuji Cindy. Semua perhatian akhirnya tertuju padanya, sehingga membuatnya sangat malu. Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apakah dia tau apa yang kau lakukan?"


"...tidak."


"Tidak?"


"Ya, aku merahasiakan semuanya dari Cindy. Dia mungkin akan mengusirku dari tubuhnya jika tau apa yang kuperbuat. Tapi, dia tidak bisa mengusirku."


"Tidak bisa!? Mengapa tidak bisa!?" Alex menyela lagi, dia terkejut mendengar pernyataan Arnima.


"Karena, dia menjadi seorang Special karena diriku."


Semuanya terkejut, mereka tidak mengerti maksud dari Arnima dan menjadi penasaran.


"Apa maksudmu? Jelaskan dengan detail."


Arnima menghembuskan nafas dalam-dalam, sebelum menceritakan semuanya.


Cindy sendiri awalnya merupakan gadis dengan kehidupan normal, keseharian yang biasa dan membosankan. Disekolahnya, dia adalah primadona yang diincar karena parasnya yang cantik jelita dan sikapnya yang baik hati, tenang, cinta damai, tetapi sangat naif.


Tetapi, semuanya berubah ketika Cindy secara tidak sengaja bertemu dengan jiwa Arnima dan berkomunikasi dengannya.


Entah ini takdir atau bukan, tetapi, saat Cindy melihat penampakan dari jiwa Arnima, Cindy layaknya melihat dirinya disebuah cermin atau mungkin dia berhalusinasi bertemu kembarannya? Cindy pun sangat bingung dan terkejut.


Arnima pun awalnya sangat terkejut karena ada manusia yang sangat mirip dengan dirinya. Arnima juga melihat bahwa Cindy sebenarnya adalah wadah yang pas untuk dirinya. Jadi, Arnima memutuskan untuk memanfaatkan Cindy. Arnima membuat kontrak dengan Cindy, imbalan yang ditawarkan adalah Cindy bisa mendapatkan kekuatan.


Awalnya memang tujuannya begitu, tetapi, entah kenapa tujuan Arnima berubah, bukan untuk memanfaatkan tetapi untuk melindungi.


"Melindungi?"


Arnima mengangguk pelan.


"Saat aku mendiami tubuhnya, aku mengamati dirinya dari dalam. Aku merasa, dia sangat mirip dengan adikku..."


"Terus, apa maksudmu dia menjadi Special karena mu?"


Awalnya, Arnima memang menawarkan kekuatan, tapi secara tak sengaja, saat Cindy menyetujui kontrak dengan Arnima, saat itu juga Cindy tiba-tiba menjadi Special.


"Uhhh.... Semua ini membuat kepalaku pusing." Kata Norga yang sedang memijat keningnya.


Alan hanya tersenyum melihat mereka berdua, informasi yang ada memang bisa membuat orang-orang bingung. Tetapi, bagi Alan yang mengalami hal diluar nalar, Alan mudah memahami informasi yang ada.


"Jadi, sekarang, apa tujuanmu? Dan sepertinya, kau ada hubungannya dengan kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini."


"Ya, itu memang aku," ucap Arnima dengan nada yang agak bersalah. "Aku hanya mencoba untuk memulihkan kekuatanku, tetapi sepertinya aku terlalu tamak dan terburu-buru."


"Awalnya aku hanya ingin memakan orang-orang jahat untuk memulihkan kekuatanku, tetapi aku terlalu rakus hingga menyakiti orang-orang awam juga."


Tumbuh sebuah kemarahan kecil yang ada dalam diri Alan. Di berita, korbannya juga termasuk anak sd.


"Kau.... ada anak sd yang jadi korbannya. Itu perbuatanmu atau bukan?"


Nada bicara Alan memang tenang, tetapi terlalu tenang. Arnima tidak melihat wajah Alan, tapi yang pasti, ekspresinya sekarang bisa membuat orang-orang merasakan ketakutan.


"Y-ya, itu juga perbuatanku!"


Bohong pun percuma, Arnima tak bisa berbohong dari Alan. Tapi jika menjawab jujur, nyawanya pun terancam. Memang, bertemu Alan saat masih dalam kondisi pemulihan adalah suatu kesialan yang bisa membawanya ke kematian.


Arnima sudah siap menanggung semuanya, tetapi tidak disangka akan secepat ini. Ya, Arnima sudah sangat siap untuk mati.


....Arnima sudah siap untuk mati, tetapi tidak terjadi apa-apa, sangat sunyi sekali. Tetapi, kesunyian yang aneh itu akhirnya dipecahkan oleh Alan sendiri.


"Kau, kalau aku membunuhmu, apakah Cindy juga ikut terbunuh?"


Arnima agak terkejut dengan pertanyaan itu dan kepalanya agak terangkat. Arnima lebih terkejut lagi, sebab moncong revolver sudah berada didahinya.


"Y-ya! Secara teknis, tubuh Cindy dan jiwa ku sudah bersatu. Jadi, jika kau menembak tubuh ini, aku dan Cindy akan mati."


Mendengar jawaban yang mengecewakan, Alan menghela nafas dan berdiri, berjalan menjauh dari Arnima.


'Dia, apa yang akan dia rencanakan?'


Alan akhirnya berhenti, dan dia seperti berpikir keras.


"Hei, penyihir."


"Y-ya?"


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Aku.... tidak tau. Aku ingin memulihkan diriku, supaya aku menjadi sangat kuat seperti sedia kala. Tetapi, aku saat ini juga dikejar oleh Necro."


"Necro? Kenapa Necro mengejarmu?"


"Aku pernah memakan salah satu anggota Necro, dan akhirnya aku dikejar oleh mereka."


"Dikejar? Baperan juga mereka." Norga merasa Necro ini baperan, padahal image mereka seperti penjahat berdarah dingin.


"Tidak, mereka bukannya ingin membalas, tetapi ingin menangkap dan entah apa yang akan mereka lakukan padaku, tetapi yang pasti itu adalah hal yang buruk."


Alan mulai bingung, apa yang akan dia lakukan untuk penyihir didepannya. Disatu sisi dia kesal, disatu sisi dia kasihan.


"Kak Alan!"


Alex berteriak pada Alan. Mata mereka saling bertatapan, Mata Alex memancarkan sebuah keyakinan dan permintaan yang mendalam.


Mengerti dengan maksud Alex, Alan menghela nafas panjang dan mendekat lagi kearah Arnima.


"Hei penyihir, aku punya tawaran untukmu."


"A-apa itu?"


"Apakah kau mau bergabung dalam partyku? Kalau kau bergabung dengan partyku, aku akan memberikanmu perlindungan dan sumber daya yang mampu meningkatkan kekuatanmu. Kalau kau tidak, ya, silahkan jalani hidupmu sendiri."


Tawaran yang diberikan Alan sangat membuat Arnima bingung. Dia tidak tau apa dia bisa mempercayai Alan, Alex, dan Norga. Tapi, lebih baik punya teman dari pada mati mengenaskan.


"B-baiklah, aku setuju dengan tawaranmu."


Alan mengangguk puas, "good choice."


Alan menjentikkan jarinya dan perlahan, dunia itu runtuh. Mereka akhirnya kembali kedunia nyata.