
Kembali ke hari dimana Johan pergi kedunia yang dipenuhi berbagai ras fantasi terkecuali manusia.
Ditambah lagi, dia secara tidak sengaja masuk kedalam kota yang kondisinya parah dan wilayah ini dibawah pimpinan seorang bangsawan brengs*k.
Dan sekarang...
"Aku pencipta pedang Gram."
Dengan status LUCK miliknya yang tinggi, dia berhasil menemukan pembuat aslinya.
"Kau pencipta pedang Gram!? Berarti, kau tahu dimana pedang Gram berada?"
Volund menggeleng, "Pedang Gram sudah musnah sejak lama anak muda. Tidak usah mencari pedang itu." Ujarnya.
"Tapi, aku masih bisa merasakan serpihan pedang Gram dari mu. Seharusnya masih ada kan?"
"Tidak... pedang itu tidak ada..."
Meski Volund berkata kalau pedang Gram tidak ada, tapi Johan berpikir sebaliknya dan tetap berpikir kalau pedang Gram masih ada. Pertama aura pedang Gram ada pada Volund, kedua masih samar-samar, tapi Seraphim sendiri merasakan Aura lain yang belum pasti lokasinya ada dimana.
"Aku yakin pedangnya masih ada, tuan Volund. Aku mencari pedang itu untuk suatu misi yang melibatkan masa depan banyak dunia."
Volund terdiam, dia belum bisa mempercayai Johan.
"Apakah... kau bisa dipercaya? Apakah kau sama dengan para bangsawan yang manja dan penakut?"
"Jangan samakan aku dengan mereka! Orang-orang seperti mereka sama sekali tak pantas untuk hidup!" Johan berkata dengan bersungguh-sungguh. Volund bisa merasakan kejujuran dalam diri Johan, karena itu, dia berniat membuka mulutnya. Tapi...
Suara logam yang berbenturan dengan tanah terdengar. Johan menoleh kearah itu dan melihat kalau Grid yang turun.
"Jadi kau ada disini? Bagaimana kau bisa menemukan pak tua itu, hah!?" Grid sekarang sangat-sangat marah. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Johan yang melihat itu membisikan 2 kata. Kemudian secara ajaib ada koin yang muncul ditangannya. Koin itu mempunyai gambar kepala dan pedang.
"Lemparan pertama untuk masa lalu." Dia melempar koin dan kemudian jatuh ditangannya. Tanda pedang ada diatas.
"Lemparan kedua untuk masa sekarang." Dia melempar koin lagi. Tanda pedang ada diatas.
Saat melempar koin, dia juga perlahan berjalan mendekati Grid.
"Lemparan terakhir untuk masa depan." Dia melempar koin lagi dan lagi-lagi tanda pedang ada diatas.
"Apa yang kau lakukan!? Apa kau sedang bercanda denganku!?" Grid entah kenapa merasa sangat terancam. Dia segera menyerang Johan.
Tapi, Johan sudah selesai melempar koin. Dia langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memenggal kepala Grid.
Gerakan itu sangat cepat sampai tak dapat dilihat oleh siapapun. Tiga detik kemudian, kepala Grid terpisah dari tubuhnya dan jatuh menggelinding ketanah. Johan menyarungkan pedangnya kembali.
Johan dengan perlahan menghembuskan nafasnya dan melihat kepala Grid ditanah dengan tatapan merendahkan.
"Teknik pedang milikmu sangat hebat anak muda."
Volund berjalan mendekati Johan dan melihat mayat Grid. "Terima kasih."
Johan memiringkan kepalanya dan bertanya "Untuk apa?"
"Karena membunuh orang ini. Dia sangat kasar dan angkuh. Dia terus mengurungku dan menyiksaku, memaksaku untuk mengatakan dimana pedang Gram berada."
"Eh, mereka mencari pedang Gram juga?"
Volund mengangguk, dia berhenti beberapa saat dan berkata lagi "Mereka juga sepertimu, percaya bahwa pedang Gram masih ada. Juga, mereka terus melakukan pencarian terhadap pedang itu."
"Untung saja, mereka tidak pernah menemukannya."
"Jadi, apa pedang itu masih ada?" Tanya Johan penasaran. Volund menanggapi dengan mengangguk.
Ekspresi Johan langsung berubah menjadi cerah.
"Tapi, pedang itu sudah patah."
Ekspresi Johan langsung berubah kembali, menjadi terkejut.
"Patah!?"
"Ya."
"Jangan patah semangat, aku bisa membuatnya kembali."
"Ya, tapi..."
"Tapi?"
"...tidak apa-apa."
"...pecahan pedang Gram ada pada diriku dan satu lagi dijaga oleh para naga. Untuk itu, kau harus pergi kesarang naga dan membobol kuil naga untuk mengambil pedang Gram."
"Naga?"
"Ya, naga."
Johan memikirkan nasibnya saat dia melawan naga, dia mungkin tidak punya kesempatan. Naga dalam game atau cerita fantasi biasanya digambarkan sebagai puncak dari rantai makanan. Legendaris, mendominasi, dan penampakan naga sekilas saja bisa membuat seluruh ras didunia ketar-ketir.
Dan sekarang, untuk mengambil sebuah serpihan pedang, dia harus mengambilnya di sarang naga itu sendiri. Dia tidak yakin bisa selamat.
"Pertama, kau harus mengantarkan ku ke workshop milikku."
"Ah, baik."
Johan menggendong Volund dibahunya dan terbang secepat yang dia bisa. Dalam satu menit, dia keluar dari penjara dan melihat kondisi kota yang sedikit kacau karena dia yang membebaskan para tahanan.
Dia tidak bisa menghentikan kerusuhan. Bagaimanapun, tujuannya didunia ini adalah untuk mencari pedang Gram.
Dia kemudian terbang dengan arahan dari Volund. Dia dalam 30 menit berhasil sampai ke workshop tersembunyi milik Volund.
"Inilah workshopku."
Workshop nya adalah sebuah gua yang dilindungi oleh sebuah gerbang raksasa berwarna emas yang sangat mewah.
"Tunggu sebentar."
Volund masuk kedalam workshop nya dan terdengar suara dentingan dan benda jatuh. Kemudian dia keluar dengan sebuah sabuk dengan belati yang tergantung.
"Ini untukmu, belati ini berguna untuk melawan para Naga. Gunakan jika kau kesusahan, dan kau tak perlu repot-repot menggunakan ini untuk melawan Dragonborn kan?"
"Ah, aku akan menggunakannya dengan baik."
"Bagus, sekarang mari kita pergi kesarang naga."
Johan menggendong Volund dipunggungnya dan terbang pergi ke sarang naga, tentu Volund mengarahkan Johan.
Setelah beberapa menit, para naga mulai terlihat berterbangan dilangit. Ini menandakan kalau mereka sudah dekat dengan sarang para naga.
Johan yang melihat itu langsung terbang lebih rendah.
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk jalan kaki supaya tidak mencolok. Para naga sendiri punya pengelihatan yang tajam.
Mereka berjalan diantara pepohonan dan semak-semak. Sesekali, mereka melihat sekelompok Dragonborn yang sedang patroli atau berburu.
"Mahluk macam apa Dragonborn itu?"
"Dragonborn itu semacam naga dengan tubuh yang lebih manusiawi. Dulu itu terjadi karena perkawinan naga dengan manusia. Tapi manusia sendiri sudah punah sekarang. Jadi elf banyak diincar."
"...manusia punah?"
"Ya, manusia punah ratusan tahun yang lalu. Mereka bangsa yang paling berani dan paling menentang dominasi naga. Karena Sigurd yang membunuh Fafnir, para naga jadi sangat membenci kehadiran manusia dan akan membunuh manusia yang terlihat."
Mendengar kenyataan bahwa manusia sudah punah membuat bulu kuduknya berdiri. Apakah nasib manusia dibumi asalnya akan sama?
"Hampir sampai."
Volund menyadarkan Johan dari pikirannya. Dari jauh, terlihat sebuah pintu, ...hanya pintu
Pintu itu berukuran raksasa dan dibelakang hanya hamparan rumput kosong. Jadi itu adalah pintu.
Pintu itu dijaga oleh dua Dragonborn dengan perlengkapan lengkap. Volund memegang dadanya, serpihan Gram dalam tubuhnya bereaksi.
"Itu dia, pedang Gram ada didalam situ!"
'...didalam?' Johan tak mengerti, itu hanya pintu raksasa biasa yang terbuat dari batu dan penuh ukiran. Dibelakang pintu pun hanya ada lapangan luas.
Jadi, "Didalam? Dimana?'" Johan bertanya dengan polosnya.