The Slayers

The Slayers
Chapter 124 (Season 3)



Waktu sore, sekitar jam 5, Alex, Norga, Cindy, beserta Lyfa keluar dari portal tingkat ular.


"Ahhh, capeknya..." Kata Norga sambil meregangkan otot-otot nya yang terasa pegal.


"Ternyata kita semua ini cocok sebagai team ya." Kata Alex yang juga melakukan peregangan.


"Iya, mungkin kapan-kapan kita harus menunjukkan kekompakan kita pada Kak Alan." Balas Norga.


"Hahaha, itu benar! Siapa tau kita bisa mengalahkannya." Kata Alex dengan semangat yang besar walaupun habis melakukan pembersihan.


Cindy hanya bisa tertawa saja. Dia tidak tahu kenapa Alex dan Norga selalu berbicara ingin mengalahkan Alan, bahkan saat dalam portal, mereka terus mengoceh tentang banyaknya kekurangan mereka. Dan, mungkin satunya memiliki rasa penasaran yang tidak tertahankan.


"Hei, kalian berdua."


Suara wanita yang entah berada darimana terdengar. Cuman ada 4 orang disana, selain itu, siapa? Pikir Alex. Alex sempat menoleh kearah Lyfa yang hanya rebahan saja. Suaranya terdengar berat, berbeda dengan suara Cindy yang lembut.


"Ehm, teman-teman..."


Mendengar suara lembut Cindy, ditambah suaranya agak bergetar. Alex secara insting langsung menoleh kearah Cindy secepat kilat.


Norga juga menoleh setelah Alex.


Pemandangan yang mereka lihat benar-benar mengejutkan. Cukup mengejutkan sampai mereka mengeluarkan teriakan jantan. Hal yang membuat mereka berteriak seperti itu adalah karena ditelapak tangan Cindy, ada mulut dengan gigi-gigi tajam. Lyfa yang hanya rebahan dari tadi pun menjadi waspada.


"Tenanglah kalian semua, aku disini hanya untuk berbicara."


Alex dan Norga saling memandang. Mereka berdua ragu tentang hal itu. Dan akhirnya mereka balik memandang telapak tangan Cindy.


"A-aku bisa menjamin kalau dia baik, jadi kalian tenang saja." Cindy dengan cepat menjamin kalau mulut ditangannya tidak akan aneh-aneh.


Setidaknya, dengan jaminan dari Cindy, Alex dan Norga menjadi lebih tenang.


"Terima kasih, Cindy." Ucap mulut ditangan Cindy, menyampaikan rasa terima kasihnya yang tulus.


"Sama-sama."


"Kalau begitu, pertama-tama aku disini ingin bertanya pada kalian. Masih kah kalian mengingatku?"


"Kau, penyihir yang hampir membunuhku?" Alex menebak-nebak tanpa ragu.


"Tepat. Aku minta maaf atas perbuatanku waktu itu. Mungkin waktu itu aku berlebihan."


"Tidak apa-apa, yang berlalu biarkan berlalu." Norga dengan seenaknya berbicara, yang membuat Alex kesal dalam hati. Waktu itu, jika Alan terlambat sedetik saja, nyawanya sudah asti hilang. Tapi, dia juga memutuskan untuk melupakan hal tersebut.


"Terima kasih." Nada dari Arnima sangat tulus, berbeda dengan waktu itu.


"Sekarang, aku akan langsung pada intinya. Sebenarnya, orang yang waktu itu, siapa dia sebenarnya?"


"Siapa? Kak Alan? Kak Alan cuma seorang Slayer liar biasa." Balas Alex dengan polos.


"Bukankah itu sudah jelas?" Tambah Norga.


"Maksudku adalah, dia itu abnormal. Bukan gimana-gimana, tapi cara dia bertarung agak aneh. Dan seharusnya cara bertarung itu tidak dimiliki oleh manusia sepertinya."


"Ya memang sih. Kak Alan memang agak lain. Jika kau bertanya padaku darimana kekuatan Kak Alan berasal, aku tidak tahu." Jelas Alex.


"Kak Alan pernah bercerita pada kami. Bahkan cara dia menjadi Special agak lain." Tambah Norga dengan gelagat yang heboh.


"Maksudmu?" Beberapa spekulasi mulai muncul dibenak Arnima. Tapi yang paling masuk akal menurutnya adalah Alan adalah orang yang beruntung karena terpilih oleh suatu entitas yang tidak ia ketahui. Karena kekuatan milik Alan sama seperti milik suatu dewa asing.


"Jadi, Kak Alan secara tidak sengaja terjebak dalam portal dan harus bertahan hidup disana. Akhirnya Kak Alan keluar dari portal sebagai seorang Spesial. Singkatnya begitu."


Penjelasan yang singkat dari Norga membuat Arnima kebingungan, apalagi Cindy yang tidak tahu apapun. Meski berusaha untuk bergabung dalam topik, dia sama sekali tidak bisa mencerna topik yang dibahas.


"Hanya itu?"


"Ya, hanya itu." Balas Norga dengan polos. Alex pun hanya mengangguk.


Arnima akhirnya menerima penjelasan singkat itu. Lagipula dia dari awal tidak terlalu berharap jika kedua anak didepannya bisa menjawab pertanyaannya dengan jawaban memuaskan.


"Terimakasih sudah menjawab pertanyaanku." Ucap Arnima.


Alex dan Norga hanya mengangguk dengan senyum diwajah mereka. Mereka pun pulang dengan wajah yang gembira.


***


"Kak Alan!"


Alex dan Norga berteriak memanggil Alan. Alan tidak memberikan mereka berdua kunci rumah. Sekarang, mereka hanya bisa berteriak dengan harapan Alan akan keluar dan membuka pintunya.


"Kenapa ditutup rapat semua?" Tanya Cindy. Dia ikut kesini karena ingin coba mampir.


"Tidak tau, Kak Alan mungkin lagi pergi."


"Tapi, Kak Alan tidak mungkin pergi sedangkan dia tidak memberikan kita kunci rumah." Alex membantah asumsi Norga dan menurut Norga itu masuk akal.


Malas menunggu, Lyfa melompat melewati pagar. Alex, Norga dan Cindy menjadi terkejut dan berpikir kenapa mereka tidak melakukan itu dari tadi?


Mereka semua kemudian melompati pagar itu dengan sangat mudah. Alex kemudian melihat Lyfa yang hendak membobol masuk dengan cara mencakar pintu rumah. Melihat itu, Alex langsung panik dan menghentikan Lyfa.


"Jangan lakukan itu! Jika kau melakukan itu, kita akan terkena masalah!"


Lyfa yang sudah menyiapkan cakar tajamnya akhirnya menurut dengan wajah datarnya. Alex akhirnya menghembuskan nafas lega.


"Sekarang, bagaimana kita bisa masuk?" Tanya Norga yang di kepalanya sekarang menyiapkan berbagai rencana untuk membobol rumah.


"Yang penting jangan coba-coba untuk membobol rumah!" Sebagai sahabat Norga yang sangat dekat, Alex tau apa yang ada dalam pikiran Norga sekarang. "Kenapa kita tidak coba ketuk saja?"


"Haha, kita teriak saja Kak Alan gak jawab, apalagi ketuk!"


"Apa salahnya mencoba?"


Meski ragu, tapi Alex dan Norga mengetuk pintu dengan keras secara bersamaan. Tetap saja, Alan tidak memberikan respon apapun.


"Tuh kan..."


"Terus kita harus bagaimana?" Alex menjadi khawatir. "Masa kita harus membobol rumah ini? Kalau Kak Alan marah bagaimana?"


"Kak Alan kan bukan orang yang baperan."


Norga dengan santainya berkata begitu.


"Matamu!"


Alex dan Norga mulai beradu argumen. Sedangkan Cindy mencoba untuk mencari cara masuk. Cindy kemudian melihat Lyfa sedang fokus pada satu tempat dan Lyfa mendekat kearah tempat itu. Cindy kemudian mendekat kearah Lyfa dan ikut mencari hingga dia menemukan sebuah kunci.


"Ketemu!"


""Hah? Ketemu?""


Ternyata ada kunci cadangan yang tersimpan dalam pot yang terletak disebelah pintu rumah. Berkat penciuman Lyfa, kunci itu bisa ditemukan.


"Terima kasih." Cindy memeluk dan mengelus Lyfa karena senang. Lyfa kelihatannya menikmati hal itu. Cindy kemudian membuka pintu rumah dengan kunci ditangannya.


Saat membuka pintu rumah, seperti saat Alex dan Norga pertama kali datang, rumah tersebut sangat suram dan gelap. Alex memencet saklar dan membuat lampu di ruang tamu menyala. Disana, mereka terkejut, karena Alan yang dipanggil beberapa kali bahkan sampai berteriak, ternyata tertidur disofa.


"Kak Alan ngapain sampai tidurnya pulas banget?" Ucap Norga heran.


"Mana kutahu, mau coba bangunin?"


"Kau saja kak."


Alex kemudian mendekati Alan dan mencoba membangunkannya, tetapi tidak bangun. Kemudian Norga ikut membantu, tetap tidak bangun. Mereka mencoba berbagai cara untuk membangunkan Alan, tetapi Alan layaknya orang tanpa nyawa, sama sekali tidak bangun. Alex tidak tau cara apa lagi yang bisa dia gunakan untuk membangunkan Alan. Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada sesuatu yang ada ditangan Alan. Sebuah cincin emas yang terlihat mahal.


"Sejak kapan Kak Alan memakai cincin?" Heran Alex.


"Cincin?" Penasaran maksud Alex, Norga dan Cindy mendekat dan melihat cincin emas yang dipakai oleh Alan dijari tengahnya.


"Aku tidak pernah melihat cincin itu." Kata Norga.


"Aku juga tidak pernah melihat kak Alan memakainya."


Tanpa ada sedikitpun petunjuk, mereka kebingungan setengah mati disana dan berharap Alan tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan menjelaskan semuanya.


***


"Haah.... Haah...." Disisi lain, Alan kali ini sedang bernafas dengan susah payah. Ditengah-tengah mayat anjing neraka yang berserakan, Alan berdiri dengan berbagai luka ditubuhnya. Belati ditangannya sudah dilumuri dengan warna merah dari darah.


Kali ini, dia sedang berada di tantangan ke-tiga. Tantangan ketiga melawan anjing neraka yang ganas dan buas, ditambah lagi jumlah mereka banyak.


Tapi, Alan masih bisa bertahan. Siluet-siluet hitam yang memperhatikan takjub dengan Alan, kecuali siluet hitam yang berkerudung, Dia masih dalam ekspresi datarnya.


Tempat mulai berganti lagi, kali ini, tempatnya berkabut dengan tanah yang tandus dan langit berwarna ungu. Alan penasaran musuh apalagi yang ia lawan. Dan, dari jauh terlihat sosok bersayap, tak hanya satu, tapi puluhan. Sosok-sosok bersayap itu tidak terlalu kelihatan jelas, sampai akhirnya, saat Alan mampu melihat dengan jelas mahluk apa itu, matanya membelalak dan rahangnya jatuh terbanting. Musuh yang tidak ingin temui dan lawan sudah muncul.