The Slayers

The Slayers
Chapter 125 (Season 3)



Alan Lexius, seorang pemuda pemberani yang pikirannya agak miring. Dia selalu menerima tantangan apapun. Tentu, dia punya sebuah ketakutan dalam hidupnya. Bukan, lebih seperti perasaan jijik dengan 'sesuatu' dan ingin menghindarinya sebisa mungkin. Tentu saja, bisa dipastikan kalau suatu hari dia akan bertemu dengan hal itu. Dan sekaranglah saatnya Alan bertemu dengan hal yang selalu dia hindari.


"Huft... Kenapa harus sekarang." Alan menghembuskan nafas dengan malas. Melihat musuh yang datang menatap dirinya dengan penuh nafsu. Alan mengernyitkan dahi dan wajah jijik langsung terlukis diwajahnya. Bau merekapun semakin pekat, membuat Alan menutup hidung dengan segera.


Iblis yang mampu memuaskan keinginan seseorang, terutama lelaki. Banyak juga korban yang berjatuhan karena ulah mereka. Mereka adalah Succubus, iblis wanita dengan nafsu tak terhingga. Mungkin mereka menawan, tapi Alan tidak suka dengan mereka. Alan adalah seseorang yang tidak mudah jatuh dalam hawa nafsu.


Semakin dekat, dan semakin dekat. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Alan melompat kearah para Succubus. Tentunya para Succubus terkejut dan mengira Alan sedang 'semangat', padahal tidak sama sekali.


Saat jarak para Succubus dan Alan sudah cukup untuk melakukan kontak fisik, para Succubus langsung mencoba untuk membelai bagian tubuh Alan. Tetapi, Alan 'membelai' mereka duluan. Belaiannya sangat keras dan kuat. Dua Succubus langsung pingsan dan terlempar saking kuatnya belaian dari Alan.


Alan tak berhenti sampai disitu, kakinya juga ikut beraksi, menggasak para Succubus dengan gerakan lembut dan keren. Alan memperlakukan para Succubus berbeda-beda, ada yang dengan lembut, ada yang dengan cara kasar, ada yang dengan tempo lambat, ada yang dengan tempo cepat. Dia melayani semuanya, bahkan dia juga menusukkan 'benda'nya pada Succubus terakhir. Berakhir kesenangan Alan pada saat itu.


Tempat itu menjadi lautan darah. Para Succubus yang menawan tergeletak di tanah. Sedangkan Alan, dia tersenyum puas. Sangat puas hingga dia ingin tertawa seperti orang gila.


Disisi lain, ada yang tidak senang dengan pemandangan itu.


"Kenapa!? Kenapa dia terlihat sangat membenci anak-anakku yang manis!?" Siluet wanita mempertanyakan sikap Alan yang sadis terhadap 'anak-anak'nya. Biasanya para laki-laki akan jatuh hati pada anak-anaknya dengan sangat mudah tanpa melakukan perlawanan.


"Penantang kali ini tau mana yang wanita yang buruk dan yang baik, baguslah."


"Kalian para Succubus adalah ras iblis paling menyebalkan! Kalian masih tidak menyadari hal itu!?"


Ini adalah momen tidak biasa yang dimana siluet berapi dan kepala kambing memiliki pendapat yang sama. Mendengar pernyataan mereka berdua, siluet wanita tidak terima dan murka.


"Beraninya kalian!!!" Disekitar siluet wanita, aura ungu segera terkumpul disekelilingnya. Matanya yang hanya memancarkan sinar redup berwarna ungu, sinar tersebut menjadi lebih terang.


"Tenanglah.... Sampai kapan kalian akan bertengkar.... Kalian kekanak-kanakan...."


Cahaya ungu disekitar siluet wanita menjadi redup dan perlahan-lahan menghilang. Siluet wanita menggembungkan pipinya karena kesal, tapi dia harus menahan diri. Siluet wanita kemudian berpikir, jika si penantang tidak suka dengan perempuan. Mungkin bisa jika itu laki-laki.


Alan tiba-tiba merasa merinding. Dia menduga kalau ada yang sedang menggosip tentang dirinya. Tapi dia tidak memikirkan hal itu benar-benar. Tujuannya adalah menyelesaikan tantangan menara secepatnya. Dia khawatir tentang keadaan didunia nyata. Bagaimana jika Alex dan Norga sudah pulang? Untungnya dia sudah menyiapkan kunci cadangan. Dia menaruhnya didalam pot tanaman disebelah kanan pintu rumahnya. Dia pikir Lyfa bisa menemukan kunci tersebut dengan penciumannya yang tajam. Alan berpikir terus dan dia baru sadar kalau dia sudah dipindahkan ketempat yang baru.


Tempat kali ini dipenuhi oleh kabut, matanya tak bisa melihat apa-apa. Hidungnya juga tidak tercium bau apapun. Tempat itu sangat sunyi, tidak ada bunyi kepakan sayap atau bunyi langkah kaki.


'Sepertinya tantangan kali ini tidak menggunakan panca indera.' Pikir Alan. Semua panca inderanya terhalangi oleh sesuatu. Alan hanya bisa mengandalkan instingnya sekarang. Baginya, itu tidak terlalu susah, karena dia selalu bertarung dengan insting.


Tiba-tiba, dia merasa ada sesuatu yang salah. Dari perut hingga kaki, seperti ada yang sedang mengalir. Dia menundukkan kepalanya untuk melihat tubuh bagian bawah. Benar saja, memang ada yang mengalir. Perutnya yang secara tiba-tiba memiliki bekas cakaran dan darah deras mengalir seperti air terjun. Namun, kapan ini terjadi? Alan merasa kalau dia tidak melihat apapun dari tadi. Tidak sampai disitu, ternyata tidak hanya perut bagian kiri. Bagian punggung, pundak kanan, dan kaki kirinya juga sudah terluka secara misterius.


Alan tiba-tiba sadar akan suatu hal. Dia melakukan suatu kesalahan, yaitu dia terlalu banyak berpikir hingga instingnya menjadi tumpul secara tiba-tiba. 'Mungkin saat itu ada monster super cepat yang menyerangku saat aku sedang berpikir,' tebak Alan.


Tebakan Alan memang tepat. Dari kabut yang tebal layaknya awan dilangit, terdapat seekor binatang buas seukuran harimau dewasa. Binatang buas itu tidak memiliki mata, hidung, atau telinga. Binatang buas itu hanya punya mulut dengan gigi tajam dan lidah panjang seperti ular.


Binatang buas itu bergerak dengan sangat cepat dan kali ini berusaha menyerang Alan dari belakang. Sayang bagi sang binatang buas, Alan sudah memantapkan insting nya dan siap menerima serangan dari berbagai arah.


Saat si binatang hendak menerkam Alan, Alan berbalik dan menunduk sambil menerjang maju. Saat berada tepat dibawah badan si binatang, Alan dengan cepat menusukkan belatinya diperut si binatang dan menggoresnya.


Nasib naas bagi sang binatang buas, sebab, dia telah meremehkan Alan.


Meski sudah terlihat badass, tapi Alan sudah tidak kuat lagi dan berlutut ditanah. Cakaran hewan buas itu lebih dalam dari yang ia duga. Beruntung, Alan segera dipindahkan ketempat yang baru dan luka-lukanya dipulihkan.


Kali ini tempatnya cukup berbeda dari biasanya. Tantangan satu sampai lima, Alan berada dilokasi yang terbuka. Sekarang, dia berada di tengah-tengah anak tangga. Dia melihat ke-atas dan ke-bawah. Tapi yang dia lihat adalah anak tangga yang tertutup oleh kabut.


"Lagi-lagi kabut, apakah ini sama dengan yang tadi?" Ucap Alan. Namun, dugaannya salah.


Dari kabut tebal, muncul dua orang yang berpakaian seperti kesatria. Yang satu muncul di atas, mengenakan zirah emas mewah dan di pinggangnya terdapat pedang yang masih tersarung. Disisi lain, dibagian bawah, ada kesatria yang mengenakan zirah berwarna perak yang tidak kalah mewah. Namun, kesatria berzirah perak ini memegang senjata panjang ditangan kanannya. Alan melihat senjata itu baik-baik dan mengenali senjata itu. Itu adalah sebuah Halberd atau bisa disebut dengan tombak kapak.


Ini tidak adil bagi Alan, karena Alan hanya punya belati kualitas rendah. Musuhnya sendiri punya perlengkapan yang sempurna dan senjata dengan kualitas baik. Namun, Alan hanya tersenyum. Dalam pikirannya, dia berpikir satu hal, 'jika ingin pertarungan yang seimbang, aku tinggal mengambil senjatanya, 'kan?'