
Pagi yang cerah, sinar matahari menyinari bumi. Membangunkan Alex dari tidur nyenyaknya, tapi tentu saja, karena dia masih ngantuk, dia tidur lagi dengan tenang.
Tepat saat dia kembali tidur, suara alarm mengganggu tidurnya lagi. belum cukup dengan itu, ibunya masuk ke kamar Alex dan membangunkannya. Kali ini dia tidak mungkin tidak bangun.
"Hei, Alex! Bagaimana bisa kau berharap untuk menjadi Special dan mendaftar kerja menjadi Slayers jika kau sendiri sangat malas?"
"...baiklah, aku akan bangun. Lagipula berharap itu hakku sejak dalam kandungan."
"Hoo, pintar juga bicaramu ya? Sekarang cepat bangun!"
"Lima menit lagi, bu."
Urat bermunculan diwajah sang Ibu, kemarahannya sudah tak tertahan lagi. Alhasil, Alex berjalan ke kamar mandi dengan pipi yang memiliki bekas tinjuan dari sang Ibu.
Meski sudah dipukul, rasa ngantuknya belum hilang sepenuhnya.
Dia berjalan dari kamarnya yang berada di lantai dua. Dia menuruni tangga dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Dia hampir terpeleset, untung saja dia tidak jadi jatuh.
Setelah menuruni tangga, dia mengambil handuk dan menuju kekamar mandi. Tapi sebelum dia membuka pintu kamar mandi, Ayahnya memanggil Alex dengan sarkastik.
"Selamat pagi, Alex. Kau kelihatan bersemangat seperti biasanya," katanya sambil menyeruput kopi hitam.
Alex tidak menanggapi, tapi dia menoleh dan menatap ayahnya dengan malas. Ayahnya masih menyeruput kopinya. Dimeja makan, hanya ada ayahnya dan adik perempuannya yang memakan roti isi dengan gembira.
Alex kemudian masuk ke kamar mandi dan mandi secepatnya. Setelah itu dia keluar dengan pakaian sekolahnya. Dia menjemur handuk basahnya dan langsung duduk dimeja makan, tepat disebelah adiknya. Dia mengambil roti isinya dan memakan roti isinya.
Ibunya juga ikut bergabung dimeja makan. Meja tersebut sangat hening, sangat canggung, sangat sepi. Keheningan akhirnya dipecahkan oleh Anna, adik perempuan Alex.
"Hey kakak, 3 atau 4 hari lagi pemilihan Special kan?"
"Pemilihan Special 4 hari lagi."
"Nah, semoga beruntung."
Entah Anna benar-benar mendoakannya apa hanya mengejeknya. Alex sangat kesal dengan adiknya yang menurutnya menjengkelkan ini.
'Mentang-mentang kau satu-satunya Special dikeluarga ini, kau mengejekku?'
Alex terdiam, dia kesal dalam hatinya.
"Hei, Alex, adikmu sudah mendoakanmu, tapi kau tak berterima kasih? Kakak macam apa kau?"
"Ah ya, terima kasih Anna."
Anna hanya tertawa dan berkata "Sama-sama."
Tapi Alex tahu bahwa Anna hanya cari perhatian didepan orang tua mereka. Anna yang seorang Special dan bisa menjadi murid akademi Slayers mendapat banyak pujian, baik dari tetangga, teman sekolah, bahkan guru dan kepala sekolah. Bagaimana tidak? Seperti namanya, manusia yang bangkit menjadi Special itu sangat berharga. Jadi jika anda ikut dalam gosip ibu-ibu yang mengadu pekerjaan anak mereka, jika anakmu seorang Special ataupun Slayers. Anda tinggal bicara saja dan mereka langsung takjub dan merasa iri atau minder.
Ibu Alex pun selalu membawa nama Anna sejak dia menjadi Special tahun lalu. Sejak itu juga, sikap Anna yang menyebalkan menjadi semakin menyebalkan. Alex pun merasa minder. Kasih sayang yang biasanya terbagi rata, sekarang hanya tertuju pada Anna saja. Ayah mereka pun lebih keras lagi kepada Alex sekarang.
Alex makan roti isinya dengan cepat dan pergi dari meja makan menuju garasi. Dia mengambil sepeda untuk pergi kesekolah. Sedangkan Anna diantar oleh ayahnya dengan mobil.
Alex tidak langsung pergi kesekolahnya. Dia berhenti disebelah rumahnya. Dia memanggil teman sekaligus adik kelasnya, Norga.
"Hei, Norga!"
"Ah, Sebentar kak!."
Norga, anak dengan rambut hitam seperti duri, sedikit panjang hingga diikat.
"Hei, Norga, hati-hati dijalan dan jangan aneh-aneh!"
"Aku tau!"
Norga adalah anak berumur 15 tahun, sedangkan Alex berusia 17 tahun.
Dia hanya tinggal bersama paman dan kakak sepupunya, yang merupakan Slayers yang cukup dikenal dikota Surabaya.
Mereka berdua adalah sahabat. Mereka selalu pergi ke sekolah bareng, melakukan hal yang membuat onar bareng, membuat masalah bareng, dan dihukum bareng juga.
Mereka juga punya cita-cita yang sama, menjadi Slayers yang terkenal dan disukai banyak orang, serta bergabung ke salah satu guild besar di Indonesia.
Pergi kesekolah dengan sepeda sudah menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Sekolah mereka pun memiliki arah yang sama, tepatnya sekolah mereka saling berhadapan.
Setelah bersepeda dijalan selama 15 menit, mereka akhirnya sampai kesekolah mereka masing-masing.
Jam istirahat pertama, Alex membaca web novel, tentang anak yang tak bisa berkultivasi dan dianggap sebagai sampah dari keluarganya sendiri. Tapi dia mempunyai keberuntungan yang menentang surga, dia akhirnya menjadi kuat dan menghabisi orang-orang yang sudah meremehkan dirinya.
Cerita itu populer entah bagaimana dan menjadi rangking satu dalam kategori aksi. Banyak pembaca yang suka dengan ceritanya, termasuk Alex.
Berbeda dengan Alex yang membaca novel tentang kultivasi. Norga saat istirahat pertama, dia membaca novel fantasi dari barat, tentang kesatria kerajaan yang akan dieksekusi, tapi dia berhasil kabur. Akhirnya kesatria itu mengumpulkan orang-orang berbahaya, mendirikan grup tentara bayaran dan menerima misi yang sangat berbahaya. Novel tersebut juga punya banyak penggemar, hanya saja itu menempati rangking nomer dua. Tapi tentu saja rangking novel aksi bisa berganti-ganti, novel kultivasi atau fantasi timur dengan novel fantasi barat itu sering berganti posisi dari rangking 1 dan 2.
Meski novel kesukaan mereka berbeda, tapi ada satu hal sama yang mereka alami. Mereka kedatangan sekelompok pengganggu.
Memang mereka ini tidak bisa mendapat waktu damai. Mereka selalu terkena masalah, tapi mereka sudah siap untuk situasi seperti itu.
"Hey, Alex, sebentar lagi kan ada pem-"
"Langsung saja ke intinya, Narta."
Orang yang sering mengganggu Alex, hanya dia satu-satunya yang berani dengan Alex yang tingginya 187cm.
"Baiklah, aku ingin taruhan denganmu."
"Taruhan apa?"
"Dari kita, siapa yang akan menjadi Special."
Mata Alex yang tadinya agak tertutup karena malas, sekarang terbuka lebar.
"Kau serius?"
"Tentu saja, aku serius nih," kata Narta dengan senyum. "Jika aku menjadi Special, maka kau harus menjadi pesuruhku."
"Kau! Bang-"
"Dan juga sebaliknya, jika kau yang menjadi Special, maka kau akan menjadi tuan ku."
"Dan jika kita berdua menjadi Special?"
"Maka taruhan ini tidak berlaku."
"Hmmm...." Alex bingung dengan taruhan dari Narta. Dia bukanlah orang yang beruntung seperti protagonis di novel yang dia baca. Dan resiko untuk taruhannya sangat besar, menjadi babu orang? Emang siapa yang mau hah!?
"Bagaimana? Kau terima?"
'Sial, bagaimana ini? Aku tidak mau jadi babu anak menyebalkan ini, tapi harga diriku..."
"Hei Alex, kau takut?" Kata Narta, masih dengan senyum sombongnya.
"Kau..."
Setelah berpikir keras, Alex menjawab dengan yakin.
"Baiklah, kuterima tantangan mu."
'Lagipula, kesempatannya 50:50 jadi, akan kupertaruhkan harga diriku.'
"Bagus."
Dengan itu, taruhan telah terbentuk dengan harga diri mereka masing-masing yang jadi taruhannya.
*Sementara itu, disekolah Norga berada.
"Hey, Norga, ayo taruhan, siapa yang akan jadi Special."
"Apa taruhannya?"
"Yang kalah, harus menembak kak Cindy, bagaimana?"
"Kak Cindy? Kak Cindy anaknya pak Budi si penjual soto?"
"Betul. Kau terima atau tidak?"
"Tentu saja aku terima."
Tanpa keraguan sama sekali tentang masa depannya, Norga menerima taruhannya.