
"Fiuh... akhirnya selesai."
Alan membawa Alex dan Norga ketempat yang agak jauh dari portal. Tepatnya, mereka sekarang ada di depan toko jual baju. Tidak ada yang sadar mereka tiba-tiba muncul.
"Kalian, carilah tempat aman terlebih dahulu. Aku akan pergi dulu, tidak terlalu lama kok."
Alan langsung menghilang dari tempatnya. Semakin lama mereka bersama Alan, Mereka semakin ngeri. Kekuatan yang Alan tunjukkan benar-benar luar biasa.
Mereka pun masih tak percaya dengan kekuatan Alan sampai sekarang. Mereka akhirnya sadar dan mencari tempat aman.
Tapi suatu kebetulan yang sangat luar biasa terjadi. Alex dan Norga langsung terdiam, tubuh mereka seketika membeku. Bukan karena mereka terkena sihir beku. Tapi mereka secara tiba-tiba bertemu dengan Keluarga mereka sendiri.
"...Alex!!!"
***
"Hmmm, bocah itu lumayan juga." Amira menerima telepon dari bawahannya, mereka mengatakan kalau tiga orang yang mereka kejar kabur dengan cepat tanpa terdeteksi.
"Berapa usia nya?" Tanya Amira
"Untuk apa kau tahu?" Tanya Ling Hua balik. "Kau ingin merekrutnya?"
"Kau memang paling tahu isi pikiran ku ya, selain Guildmaster tentu."
Selama beberapa jam, mereka hanya meminum teh sambil menunggu kabar yang datang. Mereka lagi-lagi meminum teh, tapi Ling Hua tiba-tiba tersedak.
"Kau kenapa?"
"...jadi kau wakil guildmaster Mahabharata?"
Alasan mengapa Ling Hua tersedak adalah karena kedatangan Alan yang secara tiba-tiba entah dari mana. Mukanya tak seperti biasanya yang santai, ada sedikit kemarahan terlukis diwajahnya.
Amira pun ikut kaget, dia langsung berdiri dan menghadap kebelakang.
"Kau, ...aku tak bisa mendeteksi kedatangan mu?"
Alan tak mengatakan apa-apa, hanya menatap tajam. Amira pun tersenyum lebar dan melihat perlengkapan milik Alan. Semuanya berkualitas bagus.
"Wah wah wah, ada bakat yang sangat bagus dinegara ini. Mau-"
"Tidak."
Ruangan langsung hening. Bahkan Amira belum bicara sampai selesai dan sudah ditolak mentah-mentah. Ling Hua berusaha menahan tawanya, dia juga merasa deja vu.
"H-hei, aku bahkan be-"
"Kau akan mengajakku menjadi anggota Guild Mahabharata, kan? Aku menolak."
"K-k-kau bercanda!? Guild-"
"Ahahahahahahahaha!" Ling Hua tertawa terbahak-bahak. Dia yang hanya diam dan menahan tawa sudah tak sanggup untuk menahan. Amira merasa ter ejek.
"Hei Ling Hua, dia anggota Guild mu ya!?"
"Bukan, aku bukan anggota Guild manapun."
Biasanya, para Slayers akan berusaha mati-matian untuk bergabung dalam Guild, apalagi jika Guild itu sangat berpengaruh. Orang yang memasuki akan mendapat dukungan, ketenaran, relasi, dan tentu uang tambahan.
Ada beberapa orang penyendiri yang tidak ingin punya alasan sendiri untuk tidak bergabung dalam Guild.
"Boleh aku tahu alasanmu menolak tawaranku?"
"Sederhana saja, aku tak ingin dikekang oleh orang lain. Aku ingin membuat Guild ku sendiri."
"Tapi, dalam Guild Mahabharata, kami bisa memberimu uang!"
"Aku sendiri sudah kaya berkat dia," sambil menunjuk Ling Hua. "Aku bekerja sama dengannya untuk menghasilkan uang, dan aku tidak terikat kontrak Guild. Jadi aku lebih suka bekerja dengan dia."
"Tapi-"
Amira baru akan memberinya tawaran lagi, tapi segera, jari telunjuk Alan menempel dibibir. Muka mereka juga begitu dekat, mata mereka saling menatap. Amira terkejut dengan apa yang dilakukan Alan, dia langsung menjauhkan dirinya.
"Kau mengusikku saat di portal dan kau memaksaku untuk masuk Guild mu itu? Aku tak akan mau."
Seketika, Amira mendapatkan perasaan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Kecantikan miliknya dapat memikat siapa saja, para lelaki selalu mengincarnya, tapi gagal. Alan berbeda, tatapannya tadi tak menunjukkan rasa ketertarikan apapun, dia hanya menatap dingin dan sedikit kemarahan. Amira merasa tertantang dan lebih ingin tahu tentang Alan.
"Dengar," Ucap Alan dengan suara dingin."Aku tak peduli dengan Guildmu, aku hanya ingin kau tak mengusikku saja."
Alan menjauhkan tangannya sesudah mengatakan itu. Dia mendekat kearah Ling Hua dan menepuk kepalanya, "Aku pergi dulu."
Reaksi Ling Hua tenang, seperti biasa. Sempat membuat Alan bingung, tapi setelah melihat pikirannya Alan menyeringai dan Ingin menggunakan [Spirit walker.]
"Hei!"
Alan menghadap kearah suara yang memanggilnya. Amira dengan cepat langsung menghampirinya dan mendekatinya sambil berbisik "Kita akan bertemu lagi kapan-kapan."
Amira kemudian mendekatkan jari telunjuknya pada pipi Alan. Alan awalnya tidak beraksi apa-apa. Tapi saat Alan melihat telunjuk Amira, ada cairan berwarna pink. Alan yang mengetahui fungsi cairan itu langsung menggunakan [Spirit walker.] Membuat jiwanya terpisah dari tubuhnya, waktunya pun seakan-akan melambat. Jiwa Alan langsung pergi menembus dinding-dinding bangunan layaknya hantu dan sampai ke jalan raya. Alan mengakhiri skill [Spirit walker] dan tubuh tanpa jiwa nya berteleportasi ketempat jiwanya berada.
Telunjuk Amira yang hampir menyentuh pipi Alan sekarang hanya menyentuh udara. Amira tak sempat menempelkan cairan Love tracker kearah pipi Alan. Dia kaget dan marah. Sedangkan Ling Hua, dia masih terdiam dengan pikiran yang kacau karena kepalanya ditepuk oleh Alan, apalagi didepan rivalnya sendiri.
Dia melompat antar gedung ke gedung. Mencari keberadaan Alex dan Norga. Dalam beberapa detik, dia melihat mereka. Tidak dalam situasi baik, tapi dalam situasi mendesak.
"...oh astaga."
Alan segera menemui mereka dengan cepat. Situasi sungguh gawat karena sekarang keluarga Alex beserta paman dan sepupu Norga sedang bentrok. Yang lebih gawatnya lagi Alex ditinju oleh ayahnya sendiri didepan kerumunan.
Orang-orang yang melihat itu sambil berbisik mempunya bermacam-macam spekulasi. Tapi mereka menganggap kalau kedua anak itu adalah anak yang kabur dari rumah.
Saat ayah Alex hendak meninju lagi, Alan segera mendorong Alex kebelakang dan Alan terkena tinjuan ayah Alex.
"...siapa kau? Minggir, aku punya urusan dengan anak ku!"
"Sabarlah, bapak, sabar. Biarkan aku perkenalkan diriku terlebih dahulu."
Alan berusaha menenangkan ayah Alex, tapi malah ditinju lagi.
"Woi Ayah, berhenti! Kak Alan tidak salah!"
"Diam kau!"
Alex hanya khawatir tentang satu hal. Alan yang ditinju akan emosi dan mematahkan tangan ayahnya atau mungkin hal yang lebih buruk lagi. Tapi, Alan adalah orang yang berbeda dengan yang mereka kira.
"Sttt, jangan marah nanti cepat tua."
"Siapa kau!? Ada urusan apa kau dengan anakku!?"
"Namaku Alan lexius, aku yang membuat mereka tak pulang kerumah."
"Kau... kau penculik!!"
"Hei, hei, hei, aku bukan penculik. Aku hanya membantu mereka."
"Membantu!?"
"Ya, aku melatih mereka untuk menjadi Slayers yang baik dan benar. Aku menawari mereka dan mereka terima dengan syarat mereka harus tinggal dirumahku."
"Aku minta maaf karena tidak mengabari kalian, tapi percayalah. Pelatihan ku ini sangat ampuh."
"... bagaimana aku bisa mempercayai mu? Kau terlihat seperti orang aneh."
"Anda bisa lihat di pinggang putra anda. Aku memberinya pedang itu." Kemudian Alan menunjuk kearah Norga dengan jempolnya.
"Dan untuk pamannya Norga, lihatlah keponakan anda, aku memberinya palu dan pistol kualitas baik."
Paman Norga melihat keponakannya sendiri. Di tangannya ada palu, itu terlihat berat. Dipinggang Norga ada pistol dan magazine nya.
"Hei, bukannya membawa pistol itu ilegal?" Tanya paman Norga dengan polos.
"Memang, kalau kau manusia biasa. Tapi, keponakan anda ini adalah special. Dia bebas untuk membawa apapun asalkan dia tidak asal-asalan memakainya."
"Tunggu!"
"Hmm?"
Kini, giliran sepupu Norga yang bertanya. Alan tahu siapa dia karena dia sendiri lumayan dikenal oleh orang-orang dikota ini. Nolisia Garrison.
"Hmmm, ada yang ingin kau tanyakan, Nolisia?"
Nolisia tidak kaget kalau Alan tau namanya, karena dia memang cukup terkenal dikalangan para Slayers kota ini.
"Kau, aku belum pernah dengar tentang mu."
"Tentu, aku ini sangat tidak terkenal. Tapi kemampuanku sendiri terjamin."
"Kau... bukan Slayers terdaftar kan?"
"Ada masalah dengan itu?"
Nolisia dengan cepat menerjang dan merapatkan jari-jarinya. Dia menyalurkan mana dalam tangannya sehingga sekarang tangannya bisa memotong layaknya pedang.
Alan hanya berdiri diam tanpa bergerak satu inci pun. Dia tahu bahwa Nolisia hanya menggertak nya. Kenyataannya pun, sekarang jari-jari Nolisia berhenti di leher Alan.
"Dasar orang liar! Aku tak sudi menyerahkan adik sepupuku padamu!"
Norga langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia ingin berbicara, tapi tak bisa karena tekanan yang luar biasa dari kakak sepupunya.
Nolisia merupakan Slayers yang memiliki elemen es. Bahkan rambutnya saja berwarna putih seperti salju.
Alan masih berdiri diam dan sambil tersenyum dia berkata "Meski aku ini Slayers liar, tapi aku ini baik dan terpercaya, jadi percayakan adik sepupumu padaku."
"Jangan berharap! Jika kau ingin mengajarkan adik sepupuku, tunjukkan seberapa pantas dirimu!"
Yang dikatakan oleh Nolisia adalah tantangan. Ini membuat Alan bersemangat. Dia tersenyum aneh dan matanya melotot dengan lebar. Mukanya seperti orang aneh dan gila sekarang.
"Kau... menantang ku ya?"