
Kedua mata bertatapan dengan sangat intens. Ini bukan tentang cinta, ini perselisihan. Via tak segan-segan untuk mengarahkan pedangnya kearah leherku. Ini merupakan hal yang tak pernah kupikirkan.
Anehnya, aku malah terpacu untuk menantangnya. Aku ingin terus memancingnya, melihat bagaimana jadinya jika amarahnya meledak. Tapi, melihat kondisi saat ini, tidak bagus kalau membuatnya marah. Via adalah ketua tim, dia bertanggung jawab atas kami semua. Kalau dia marah, maka ada kemungkinan untuk muncul keretakan.
Aku menyentuh dan menurunkan ujung pedang Via secara perlahan. Via sedikit menahan pedangnya, namun, aku memaksakan tenagaku sedikit. Membuatnya turun. Senyumku tak lagi memancarkan aura yang bermusuhan. Aku mulai mengatur ekspresi, menjadi ekspresi yang ramah dan friendly.
"Becanda, becanda, jangan marah gitu dong!"
Wajah Via mulai kembali menjadi normal, tidak, lebih seperti kebingungan. Aku menjentikkan jari dan es yang membekukan Zoel pecah berkeping-keping. Zoel pun jatuh dengan posisi tubuh yang terlihat konyol. Tentu saja aku tertawa terbahak-bahak.
"Anj*ng lu, Alan!" Zoel teriak dengan rasa frustasi dan amarah yang meledak-ledak. Tak kapok, ia mengayunkan pedangnya sekali lagi.
Ctang!
Ayunan pedang itu dengan mudah ditangkis oleh Via. 'Via memang bisa diandalkan!' pikirku.
"Via, minggir!"
"Diam! Kau teruskan lagi dan aku tak mau jadi ketua tim ini lagi!" Ancam Via.
Zoel meneguk ludahnya. Ancaman Via membuatnya tak punya pilihan lain selain menancapkan pedangnya ke tanah. Menarik, jarang-jarang aku melihat Zoel menyerah begini.
Via akhirnya menghembuskan nafas lega. Dia sepertinya mengalami banyak tekanan sebagai ketua. Bagaimanapun, anggota timnya bandel semua, tak terkecuali aku.
"Baiklah, sekarang, aku akan menjelaskan formasinya."
"Pertama, formasi depan akan ditempati olehku dan Zoel. Kita memiliki defense tertinggi dalam tim."
"Defense nya ditaruh dibagian depan semua? Serius?"
Aku secara natural bertanya-tanya tentang formasi dari Via. Pandangan semua orang pun langsung melihatku.
"Err, ya, ada apa Alan?"
"Siapa yang melindungi bagian belakang?"
"....Danu?"
"Dia tidak melakukan bagian pengintaian?"
"Niji yang akan melakukannya."
'Niji...' Aku langsung menatap Niji dengan cermat. Wajahnya yang menunjukan kalau dia gugup dan tidak percaya diri itu selalu membuatku tidak yakin kalau dia bisa selamat.
'[Aduh, aku akan jadi pengintai, itu memang keahlianku selain mencuri, tapi ....]' Tuh kan, bahkan pikirannya membuatku tambah tidak yakin. Namun, dia adalah Thief, selain mencuri, dia bisa dijadikan sebagai pengintai karena AGI nya yang tinggi kedua setelah Danu.
"...lanjutkan." Aku memutuskan untuk mendengar rencana Via lebih lanjut.
"N-nah, dibelakangku dan Zoel, ada El yang akan menjadi penyerang terpenting. Kemudian Alan dan Niji akan berada dibelakang El. Terakhir, Danu akan berada digaris belakang untuk melindungi Niji dan Alan, jaga-jaga jika ada serangan dari belakang."
"Tunggu sebentar...."
"Apa kau bisa diam anj*ng!? Banyak bac*t kau set-"
Sebelum dia mengeluarkan lebih banyak umpatan lagi, aku memelototinya mau tidak mau, supaya dia bisa diam. Tak lupa aku mengeluarkan sedikit aura membunuh yang ku kumpulkan selama ini.
Aura membunuh yang ada tak hanya membuat Zoel terintimidasi, yang lain pun juga ikut terganggu, kecuali El yang tak menunjukan emosi atau reaksi tubuh apapun. Benar-benar misterius.
Selama beberapa detik tak ada yang berbicara, aku lanjut berpikir tentang formasinya. Aku pun mendapat ide yang bagus.
"Begini, aku ada usul, kalian mau dengar tidak?"
Semuanya mengangguk kecuali Zoel, aku gak terlalu menghiraukan pendapat dia juga sih. Selama yang lain setuju, aku pun bisa melakukan hal yang kuinginkan.
"Jadi, usulanku adalah Via berada digaris depan. Dibelakangnya adalah El, dan kemudian, untuk Danu dan Niji, kalian akan mengintai secara berotasi. Jika portal yang kita masuki itu area hutan, maka 70% persen tugas pengintaian akan dilakukan oleh Danu. Aku akan berada dibagian tengah. Terakhir Zoel, kau akan berada dibagian belakang, untuk melindungiku serta Niji dan Danu."
Zoel memicingkan matanya, menunjukan rasa tidak setuju dengan ideku.
"Kau menaruhku dibagian belakang? Gak sudi!!!"
'Sudah kuduga....' Orang ini benar-benar sulit untuk diatur. Udah ku intimidasi, masih saja ngelunjak.
"Kau harus berada dibelakang untuk melindungi ku. Jangan khawatir, Ada Danu atau Niji yang bisa membantumu melawan monster. Lagipula, posisi paling belakang sangat cocok untukmu."
Zoel langsung membelalakkan matanya sebelum berjalan kearahku dengan langkah kaki yang berat dan meraih kerah bajuku dengan kasar.
"Sok penting kau bangs*t! Kau itu cuma Alchemist yang tidak punya kegunaan selain membuatkan obat untuk kami! Tanpa ada kau pun, tim kami sudah solid, sial*n!"
"Solid?" tanyaku, dengan perasaan kesal dan senyuman yang mengejek. "Emangnya simpanse dengan kesabaran setipis tissue seperti mu bisa bekerja dengan kami?"
"Bangs-" Tangannya sudah dikepal dengan sangat erat dan siap untuk dilontarkan. Aku pun siap untuk menghadapinya. Namun, lagi-lagi, konflik antara aku dan Zoel dihentikan oleh Via yang secara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Zoel.
Via tak mengatakan apa-apa. Namun, dari wajahnya, aku bisa mengetahui kalau dia kesulitan menahan tangan Zoel. Dia sudah sangat kesal sepertinya.
Aku secara kasar menyingkirkan tangannya yang memegang kerahku. Aku tak tahan lagi untuk berada disini, jadi aku mengucapkan kata-kata terakhir sebelum akhirnya pergi.
"Ingat Zoel, kau harus melindungi ku. Jika tidak, aku harap saat itu kau tak menangis dan bersujud untuk minta diselamatkan."
Aku langsung berbalik dan menjauh dari mereka. Namun, langkahku berhenti segera setelah mendengar ejekan Zoel.
"Aku tidak akan berlutut padamu, sebaliknya, kau lah yang akan menjadi kendaraanku, seperti dulu, HAHAHAHAHAH!!!"
Sebuah flashback langsung terputar dikepalaku. Memori yang tidak mengenakan terputar secara natural dan menghilang beberapa detik setelahnya.
Aku pun tersenyum, bukan tersenyum bahagia, namun tersenyum dengan perasaan yang tak terlukiskan.
"Mari kita lihat Zoel, siapa yang akan merangkak di tanah selanjutnya, HAHAHAHAHA-"
Aku meninggalkan tempat itu, tapi tidak dengan tawaku yang masih bergema ditempat itu.