The Slayers

The Slayers
Chapter 65 (Season 2)



"Haaahhhhh~~~"


"Akuuuu, haruuus, bertahan!!"


"Air...., air...."


Hampir dari kami semua mengeluh, ingin minum air, ingin istirahat, bahkan ingin pulang kerumah.


Aku juga ingin minum, istirahat, dan pulang kerumah jika latihannya seperti mereka, tapi...


"Jika kalian ingin menyerah, menyerahlah."


ya, ucapannya memang begitu, tapi tidak mungkin kata itu keluar sembarangan.


"Benarkah!?" Yap, satu orang sudah terpancing.


"Tentu saja, aku tidak berbohong."


Siswa yang bertanya tadi lega dan langsung jongkok, menurunkan batu besar itu ketanah.


"Tapi kau tidak akan mendapat nilai dan dikeluarkan."


Siswa yang tadinya lega jadi terkejut dan tidak jadi menurunkan batunya. Dia berdiri dengan susah payah dan lanjut berlari dengan kami.


Aku melihat sekeliling, melihat teman-teman sekelasku yang sedang kecapekan.


Aku melihat Rise dan Grace, mereka terlihat sangat kelelahan.


Latihan ini sangat tidak cocok untuk mereka. Mereka bukan Special yang mengkhususkan diri pada kekuatan fisik.


Sebenarnya ini cukup tidak adil, bagi assassin yang mengkhususkan diri pada kecepatan dan kekuatan, pertahanan tubuhnya sangat tertinggal.


Atau misalnya priest atau mage, yang mengkhususkan diri dalam sihir penyembuhan atau sihir serangan, mereka biasanya lemah pada bagian fisik dan pertahanan.


Untung saja Grace dan Rise tidak mendapat batu 'spesial' yang memiliki mana berlebih.


Tapi tetap saja ini menyiksa, apalagi ini masih jauh dari garis akhir.


Via, dia adalah yang paling depan diantara kami. Dia adalah seorang paladin yang memiliki fisik yang kuat.


'Aku tak boleh kalah!'


Aku langsung meningkatkan kecepatan berlariku.


Aku langsung menyusul Via yang berada paling depan, bahkan menyelip nya.


"Kak Johan..."


Grace yang melihatku bersemangat secara mendadak, langsung ikut bersemangat dan berlari lebih kencang.


Akhirnya satu persatu murid mulai bersemangat.


Mereka mulai saling salip menyalip, menciptakan persaingan ketat.


Pak Arton yang melihat itu hanya bisa tersenyum.


Meski kami semua kecapekan, tapi itu cukup menyenangkan...


**Di alam lain, dimana Alan sedang bertarung.


*BOOOOMMMM!!


"Ouch!!"


Aku terpental kedinding, nasib lawan pun sama denganku.


Kali ini dalam tower of item, saat ini aku sudah mencapai lantai 20 dan dihadapkan dengan 1 bos.


Musuh lantai 11-20 adalah monster jenis goblin. Tapi bukan goblin abal-abal yang biasa ditemui di portal random.


Dan bos dilantai 20 yang kutemui pun juga goblin, tapi ini merupakan [Goblin Champion]


Bentuknya sama sekali berbeda seperti goblin, jika bukan karena namanya, aku tidak akan pernah mengira kalau itu goblin.


Bentuk wajahnya seperti manusia yang tampan dan berani dengan zirah tanpa helm.


ditambah dengan tombak besar itu, membuatnya tampak tangguh.


Dengan yakin, aku mengaktifkan skill yang kupelajari.


[Book of 7 warlords,first technique:Bone king swordsmanship.]


Greatsword yang kupegang mengeluarkan cahaya hijau dan dibilah pedang terdapat tulang tajam yang muncul.


"Bersiaplah!"


Aku langsung melompat kearahnya, diapun sama denganku.


*cting!


Pedangku berhadapan dengan tombaknya, aku terus menebas tetapi berhasil ditangkisnya dengan tepat.


Tapi aku berhasil menebas perutnya yang membuatnya kesakitan dan karena efek [Bone king swordsmanship], tulang tajam tumbuh dilukanya.


"Graaahhh!!!"


Teriakan [Goblin Champion] cukup membuat telingaku sakit, tapi itu tidak mengganggu.


'Ini dia!'


Celah tercipta karena dia kesakitan, aku berniat menebas kepalanya.


Tapi sebelum aku sempat menebas lehernya, sebuah tombak menyerang bahuku dengan cepat.


Nah ini dia, mekanisme pertahanan otomatis yang membuatku sangat jengkel.


Entah datang darimana tombak itu, tapi itu sangat menjengkelkan.


Selanjutnya, tombak sang [Goblin Champion] mengambang diudara. Salah satu skill yang ada ditombak itu.


Tombak itu dikelilingi oleh aura berwarna ungu yang tidak kuketahui efeknya.


Seperti tadi, dia memakai skill ini dengan aura tombak berwarna merah yang berarti api, kemudian biru yang berarti air.


'Sekarang apa?'


Tombak itu mulai meluncur kearahku dan mencoba menusukku.


Kali ini aku berduel dengan tombaknya, bukan dengan tuannya langsung.


Tombak itu sangat gesit dan akhirnya itu tak sengaja menggoresku.


Begitu menggores ku, tombak itupun kembali pada tuannya.


"Apa-apaan?"


Dilihat dari warnanya, itu bisa saja elemen kegelapan atau racun. Karena itu aku mengaktifkan skill ku.


"[Poison Blood.]"


Dengan ini, seluruh darah dalam tubuhku menjadi racun. Melihatku yang baik-baik saja, monster itu kesal, mungkin itu memang racun


Aku menggores pergelangan lenganku dan darah yang menetes mengenai pedangku.


"Sini!"


Aku memotong lantai dan udara kosong, tapi dari lantai muncul tulang-tulang tajam yang mengarah pada [Goblin Champion].


[Goblin Champion] terus terganggu dengan tulang yang tak ada habisnya. Ini lah kesempatanku.


Aku berlari dan menggores perutnya. Meski tidak dalam, tapi itu sudah cukup.


"Graaaahhhh-"


Teriakan marah itu terhenti sebab racun mematikan ada ditubuhnya dan sudah menyebar.


"Selamat tinggal, pecundang!"


Dengan itu, kepala sang [Goblin Champion] terpotong.


[Selamat, anda telah mengalahkan bos lantai 20!]