The Slayers

The Slayers
Chapter 83 (Season 2)



Disaat yang sama, Johan beserta timnya datang ke lokasi portal yang dijaga oleh banyak orang, mereka adalah petugas akademi.


"...kok aku doang yang pakai pelindung? Punya kalian mana?"


Johan heran dan agak malu, diantara semua anggota, hanya dia yang memakai full armor layaknya kesatria. Sedangkan yang lain hanya memakai baju biasa.


"Aku ini gunner, jadi aku tak perlu armor, lagipula memakai armor membuatku tidak leluasa," kata Grace, dia sedang membersihkan revolver miliknya. Rise juga setuju dengan kakaknya, dia mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku juga setuju, lagipula aku ini thief."


"Walaupun aku paladin, tapi sebenarnya aku kurang suka memakai armor, lagipula kesulitan portal nya tidak terlalu tinggi dan aku yakin kita bisa menyelesaikan portalnya dengan mudah."


Niji dan Via juga memberikan alasan yang masuk akal, dan El, dia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Sebenarnya, El adalah murid paling misterius di kelas, dia mempunyai rambut pirang keriting yang poninya menutupi mata, senyum aneh dan tidak banyak bicara. Jobnya juga aneh, yaitu warlock, penyihir yang mendapat kekuatan dari kontrak dengan entitas misterius. Entah itu entitas baik hati, entitas jahat yang menyuruh kontraktor nya melakukan hal-hal jahat, atau entitas misterius yang niatnya sama sekali tak dapat dipahami.


Dia juga tidak memakai armor, karena emang dia itu penyihir. Tapi pakaiannya adalah jubah penyihir. Apakah ada efeknya? Atau dia hanya mendalami job nya? Tidak ada yang tahu.


"Baiklah, siapa yang jadi pemimpinnya?"


Tidak ada yang menjawab, tapi semuanya melihat Johan, yang berarti semua orang ingin Johan menjadi pemimpin. Johan langsung paham maksud mereka.


"...kalian serius? Aku sangat buruk dalam memimpin. Mending Via saja, kau kelihatan seperti pemimpin."


"Tidak, aku tidak cocok sebagai pemimpin. Kau kelihatan seperti orang yang pintar, kuat, dan kompeten. Kau juga rangking 1 kan? Jadi kau saja yang jadi pemimpin."


Semua orang mengangguk, Johan langsung terdiam sejenak dan akhirnya dia setuju untuk menjadi pemimpin.


"Baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk menjaga kalian!"


Tubuh Johan entah kenapa mengeluarkan sinar terang, padahal dia tidak menggunakan skill. Semua orang langsung terpesona.


"Baiklah, ayo!"


Mereka berenam berjalan dengan langkah percaya diri dan masuk kedalam portal dengan yakin.


****


"Dimana kita?"


"Kita... didalam portal? ...kita didalam portal!!"


Alex berteriak kencang karena dia panik, sangat panik. Norga pun awalnya tak memahami perkataan Alex dan berusaha mencernanya, ketika sadar, dia ikut berteriak.


Alex lalu sadar kalau dia berteriak, dia akan memancing mahluk buas. Maka dia segera menutup mulut Norga dan menyeretnya kedalam semak-semak.


"Sttt, nanti ada yang mendengar!"


"Ahh, benar juga."


Mereka bersembunyi sejenak dan memantau area sekitar, untung saja tidak ada monster.


"Tidak ada."


"Disini juga tidak."


Mereka berdua langsung lega, tetapi masih bersembunyi dan waspada.


"Huft, untung saja."


"Apanya yang untung, dimana kak Alan?"


"Aku tidak tahu, dia menghilang begitu saja!"


"Lalu sekarang bagaimana? Bagaimana kita bisa bertahan disini!? Kita saja tidak tau lokasi portal dan lokasi kita saat ini!"


"Tenanglah, Norga, kita harus berpikir dengan cermat cara keluar dari sini."


"Kakak punya ide?"


"..tentu saja tidak punya."


"...bagus, tamatlah riwayat kita."


"Eh, peralatan?"


Alex sadar kalau tadi dia diberikan pedang dan Norga diberi pistol. Tapi, pedang yang tadi ia gantung di pinggangnya hilang. Wajahnya langsung pucat dan panik.


"Hey Norga, pistol mu masih ada kan?"


"Eh, tunggu sebentar."


Norga melihat pinggangnya yang ada magazine pistol. Tetapi tidak ada pistolnya.


Dia lanjut mencari di jaketnya. Setelah mencari selama 30 detik, dia menemukan pistolnya.


"Nah, untung saja,"kata Alex lega, tapi wajah Norga tidak lega.


"Pistolnya sih ada, tapi pelurunya peluru karet!"


Seketika Alex kehilangan harapan satu-satunya. Kakinya lemas dan dia jatuh ketanah, mukanya pucat dan matanya tanpa semangat. Semangatnya juang nya sudah terangkat dan menghilang.


"...bagus, tamatlah riwayat kita."


"...kenapa jadi kakak yang pasrah? Kemana rasa optimis kakak yang tadi."


"Bodo amat dengan rasa optimis, kita tidak bisa optimis sekarang kecuali jika ada keajaiban turun dari langit."


Orang-orang selalu bilang kalau kata-kata adalah doa. Alex pernah mencobanya dan tidak terjadi apa-apa. Sekarang dia mencobanya lagi meski dia tahu kalau tidak akan ada keajaiban yang datang.


Tapi, keajaiban selalu datang pada waktu. Alex yang lemas dan tak berdaya, langsung terkejut dan membeku. Sebuah pedang jatuh dan menancap tepat didepan matanya. Tak lama, Alex langsung bangun dan melihat sekitar. Norga juga terkejut dan ingin berteriak kencang, tapi dia berhasil menahannya dan menjadi waspada.


Setelah beberapa menit, Alex menyadari sesuatu. Setelah melihat pedang yang muncul entah dari mana, dia menyadari kalau pedang itu adalah pedang yang sama dengan pedang yang diberi oleh Alan. Semangat muncul dimata nya dan dia berterima kasih pada Tuhan karena telah menurunkan keajaiban.


Tak lama, sebuah sabuk juga jatuh dari langit. Di sisi sabuk ada magazine pistol yang digantung. Magazine itu berisi peluru pistol asli, bukan peluru karet.


"Apa-apaan!? Jatuh darimana?"


"Sudahlah, bersyukurlah karena kita masih diberi senjata."


"Tapi kita tidak bisa bertarung!"


"Ah, benar juga. Eh, tapi kita bisa memanfaatkan ilmu yang kita dapat dari kak Alan kan? Kak Alan sudah mempersiapkan kita untuk ini."


"Tapi kita cuma berlatih beberapa jam! Dan kita pun dihajar habis-habisan."


"Sudahlah, ingat saja apa kata kak Alan. Memang ngomong lebih mudah daripada praktek, tapi kak Alan saja bisa bertahan sendiri."


"Iya sih, tapi tetap saja..."


"Optimis lah, Norga!"


Meski tak terlalu berpengaruh, tapi Norga mulai kembali semangat. Tapi hilang dalam sekejap, karena dia kejatuhan air.


"Hah? Kenapa ada air!?"


Norga mengambil sedikit cairan di rambutnya dan mencium baunya. Seketika dia merasa ingin muntah dan langsung menyingkirkan cairan itu dari rambut.


Alex mencoba melihat keatas, tapi yang ada hanya pohon dan daun hitam kering,. Oh, ada dua cahaya kuning juga dan sesuatu seperti gigi yang tajam dan berair.


"Eh, a-a-ada hewan!"


Alex menarik norga dengan cepat dan lari sekencang-kencangnya. Norga awalnya terkejut, tapi setelah dia melihat kebelakang. Ada macam berwarna hitam tanpa bulu, tanpa ekor, hanya ada gigi-gigi tajam seperti bilah pedang. Ukurannya 2 kali lebih besar dari orang dewasa. Norga langsung ikut berlari sekencang-kencangnya


Meski mereka tak handal dalam berlari, tapi berhubung nyawa mereka terancam, mereka langsung lari lebih cepat dari yang mereka bisa.


Pemandangan itu sangatlah konyol. Untung saja hanya ada satu orang yang melihatnya.


"...astaga, mereka sama sekali tidak beruntung."


Alan berdiri di atas mayat gagak raksasa yang mati karena tertancap ujung pohon yang tajam. Dia mengamati dari jauh, tapi tak berniat menyelamatkan.


"...semoga mereka memberikan tontonan yang bagus."