
"Ahhh~, nyaman sekali."
Alan langsung melompat ke sofa empuk di kantor Ling Hua. Peristiwa labirin sangat membuatnya kelelahan, apalagi melalui penggunaan [Spirit Walker], kekuatannya sangat terkuras habis.
"Bisa-bisanya ada seorang Slayer kuat dari Necron, tidak beruntung sekali kamu hari ini."
"Ya, mau gimana lagi? Nasibku."
"Hahaha, kasihan." Ling Hua menertawakan kemalangan Alan. Jarang-jarang Alan merasa tidak semangat seperti sekarang. Ling Hua memakai kesempatan ini untuk menggodanya sedikit.
"Kau mau makan?"
"Mau sih, cuman, tadi siang aku makan banyak."
"Ya ampun," Ling Hua memijat pelipisnya. "Padahal aku baru memasak hari ini loh."
Mendengar itu, Alan hening sejenak. Helaan nafas terdengar sejenak. "Kalau mau bohong, yang bagus dikitlah. Aku lebih percaya kalau bumi itu datar daripada kau memasak."
Mendengar itu, Ling Hua merasa sangat marah. Kemarahannya memuncak hingga Ling Hua ingin memukulnya. Tapi, Riria segera menyelamatkan Alan dari pukulan Ling Hua.
"Ibu beneran masak kok, Ayah."
"Eh?" Alan kaget dengan jawaban Riria yang tiba-tiba.
Kemudian diikuti dengan anggukan Ella. Nissa pun ikut dengan memuji masakan Ling Hua.
"Woah, apa yang memotivasimu untuk memasak?"
"Aku ini bisa masak tau! Cuman, aku malas saja."
Alan tersenyum. Dia hampir terkekeh, tapi tidak jadi.
"Kalau begitu, aku ingin coba masakanmu. Aku ingin tau, apakah kau cocok jadi istriku atau-"
BUGH!
"Aduh!"
Ling Hua langsung memukul kepala Alan dengan wajah semerah tomat.
"Jangan mengada-ada kau ya!"
"Hehehe, maaf, maaf," kata Alan yang masih memegang kepalanya. "Jadi, mana masakannya?"
"Sebentar, aku ambilkan dulu." Ling Hua langsung berbalik kearah pintu, tapi berhenti untuk bertanya pada tiga kembar.
"Kalian masih mau makan?"
"""Mau, Bu!""" ketiganya serentak menjawab.
"Baiklah, Ibu ambilkan juga ya untuk kalian." Setelah itu, Ling Hua langsung keluar dari ruangan.
Seketika, ruangan menjadi agak hening. Namun, Alan langsung memecahkan keheningan tersebut.
"Buset, nada Ibu kalian saat bicara denganku berbeda sekali dengan saat berbicara pada kalian." Protes Alan.
"Maksudnya Ayah?" Ella tidak mengerti dengan perkataan Alan.
"Nada Ibu kalian saat berbicara pada kalian itu sangat lembut~"
"Kalau sama Ayah bagaimana?" Ella lanjut bertanya.
"Kalau sama aku sih, gak ada lembut-lembutnya."
"Hmm?" Ella masih tidak mengerti.
"Kalian akan menyadarinya saat kalian sudah tumbuh."
Ella berakhir dengan kebingungan. Tapi, sebagai anak-anak, dia tidak terlalu memikirkan hal itu.
Akhirnya, sambil menunggu Ling Hua yang tidak kunjung kembali, Alan bermain dengan tiga kembar. Mereka bermain menyusun balok yang memiliki bermacam-macam bentuk. Balok-balok itu dapat disatukan dengan magnet. Mereka dengan cepat membangun sebuah istana.
Beberapa menit kemudian, Ling Hua datang dengan trolley makanan. Makanan yang Ling Hua bawa adalah sebuah sup berisi ayam. Tampilannya terlihat biasa, tapi baunya bukan main harumnya.
"Maaf kalau lama, ya. Aku tadi panasin makanannya sebentar."
"Woah, harum banget. Bakal enak nih!"
"Coba lah, siapa tau sesuai sama lidahmu."
Ling Hua menaruh sepanci sup ayam dan sepanci nasi diatas meja. Tak lupa, Ling Hua juga membagikan piring, sendok dan garpu yang cukup untuk tiga kembar, dirinya, dan Alan.
Alan langsung mengambil nasi sesuai kebutuhannya dan mengambil kuah serta daging ayam.
"Selamat makan!" Sesuap nasi langsung dimasukan kemulut. Alan langsung membuka matanya lebar-lebar karena rasa yang luar biasa.
"Buset, aku gak tau kamu pintar masak."
"Sudah kubilang, aku bisa, cuman malas aja. Karena tiga kembar ini, aku jadi ingin kembali memasak."
"Kalau gini sih, tiap hari aku mampir kerumahmu buat makan."
Ling Hua langsung melotot pada Alan. "Bukannya kau bisa masak sendiri?"
"Masakanku biasa saja tau."
Tawa langsung terdengar di kantor Ling Hua. Semuanya makan dengan suasana yang layaknya keluarga.
Setelah itu, beberapa jam berlalu. Tiga kembar sudah mulai tertidur. Ling Hua mengelus-elus dahi ketiganya sambil bersenandung pelan. Semuanya akhirnya tertidur.
"Ahhhh, senangnya hari ini."
"Senang? Kau bicara seperti itu, padahal tadi siang kau hampir saja mati."
"Ya begitulah, tapi aku menikmati hari ini apa adanya."
"...kau memang aneh."
"Hahahaha-" Alan tertawa terbahak-bahak. Namun, dia jadi teringat sesuatu yang penting. Yang menjadi alasannya untuk bertemu dengan Ling Hua.
"Ling Hua, ngomong-ngomong soal aneh..."
"Apa?" Ling Hua masih belum mengerti maksud Alan.
"Kau, sudah mendapatkan cairan 'aneh' itu?"
Alan tersenyum, dengan senyum manisnya yang biasa.