The Slayers

The Slayers
Chapter 139 (Season 3)



Bersamaan dengan Alan dan Norga beserta si kembar tiga yang berada di rumah. Alex mengantarkan Cindy menuju rumahnya dengan mengendarai Lyfa.


Dengan kecepatan sedang, mereka melewati rumah-rumah warga yang sedang beristirahat dengan tenang. Untungnya sudah malam, mereka tidak akan mendapatkan banyak perhatian. Hewan buas yang berkeliaran dijalan selalu menakuti orang-orang, membuat Alex enggan untuk mengajak Lyfa berpergian.


"Udaranya dingin ya." Ucap Cindy, agak merinding.


"Kau benar, tapi aku suka ini." Balas Alex.


"Aku juga suka sih, tapi kalau terlalu dingin jadinya tidak nyaman."


"Haha, kau benar. Sayang sekali aku tidak membawa jaket."


"Tidak apa-apa, berpegangan padamu membuatku sedikit hangat."


"Hahaha ...."


Memang diluar Alex hanya tertawa pelan. Namun didalam, Alex sedang berteriak kencang karena salting.


"Omong-omong, bagaimana kau menjinakkan Lyfa?" tanya Cindy penasaran.


"Ah kalau itu, aku saat itu sedang berada diportal untuk pertama kalinya(secara resmi), aku saat itu bertemu dengan seekor anak serigala yang super menggemaskan. Lyfa adalah ibu dari anak serigala itu."


"Oh iya kah? Dimana anak serigala itu sekarang?" Tanya Cindy.


Cindy tidak tau kalau pertanyaan itu membuat suasana menjadi suram. Senyum Alex yang tadinya ceria menjadi senyum masam dalam sedetik. Kecepatan Lyfa juga ikut terpengaruh, Lyfa melambat sedikit.


"Anak serigala itu, sudah meninggal. Anak serigala itu tidak sengaja terinjak hingga hancur saat melawan bos monster. Saat itu, aku dan Norga bekerja sama dengan Lyfa dan mengalahkan bos monster. Saat itulah, Lyfa membiarkanku mengendarainya sebelum membunuh bos monster."


"Dengan begitu, aku dan Lyfa menjadi terikat satu sama lain dan menjadi Beast Rider."


Cindy terdiam sejenak mendengar cerita itu. Dia merasa bersalah karena bertanya hal seperti itu.


"Maaf ya, aku tidak tau ...." Ucap Cindy lirih


"Tidak apa-apa, kau tidak salah."


"Tetap saja, sepertinya topik tadi sensitif. Turut berduka cita juga, semoga anak serigala itu tenang di atas."


"Iya, semoga dia bisa bahagia."


Setelah beberapa lama, mereka tiba didepan rumah Cindy. Cindy turun dengan hati-hati, Alex pun membantunya turun.


"Terima kasih ya, Alex. Mengendarai Lyfa lebih menyenangkan daripada mengendarai motor."


"Sama-sama, Cindy."


"Terima kasih juga, Lyfa. Tetap kuat ya, maaf buat yang tadi." Ucap Cindy sambil mengelus bulu Lyfa dan mengusap air mata Lyfa yang muncul meski sedikit. Lyfa membalas dengan menjilat pipi Cindy.


"Aku masuk dulu ya!"


"Ya! Good night, Cindy!"


"Good night juga, Alex!"


Dengan begitu, mereka berpisah. Alex kemudian menatap Lyfa yang juga menatapnya dengan tatapan datar. Alex tersenyum dan mengelus bulu Lyfa dengan lembut, membuat Lyfa nyaman dan akhirnya mereka pergi dari sana.


Disisi lain, Cindy yang barusan masuk kerumah dikagetkan dengan sosok paruh baya yang berumur empat puluhan. Sosok itu adalah ayah Cindy sendiri, yang sedang membaca koran.


"Aku pulang, Ayah."


"Bagaimana jalan-jalannya? Menyenangkan?" Ayah Cindy bertanya dengan nada yang biasa saja. Tidak marah, tapi tidak ramah juga.


"Menyenangkan, aku banyak bermain dan makan."


"Banyak makan? Jangan kebanyakan makan, kau nanti gendut!" Ucap Ayahnya tegas.


"Makanannya bukan yang berat-berat kok, ayah."


"Tetap saja, kau harus menjaga penampilanmu. Kau harus tetap cantik!"


Cindy hanya bisa menunduk dan berkata, "baik ayah."


Ayahnya, atau bisa disebut sebagai Pak Budi, menatap tajam kearah Cindy.


"Untung saja mereka membuatmu senang. Jika tidak, maka aku akan meninjunya, siapa namanya, Alek?"


"Alex, Ayah, namanya Alex!"


"Oh iya, si Alek. Dia berusaha mendekatimu, dia pacarmu kah?"


"Bukan, dia hanya teman."


Alex yang mendengar pasti hatinya terasa sakit dan langsung kejang-kejang. Faktanya, Cindy memang cuma menganggap Alex teman.


"Baguslah, anak seperti itu belum cukup untuk menjadi pacarmu."


Pak Budi dikenal sebagai orang yang tegas dan keras. Disaat yang bersamaan, dia menyayangi dan membanggakan putri tunggalnya. Pak Budi tak akan membiarkan laki-laki yang lemah mendekati putri kesayangannya.


"Baiklah, sekarang mandilah dan istirahat. Besok apakah kau akan pergi-pergi?" Tanya Pak Budi, dia berharap kalau putrinya tidak pergi-pergi untuk besok. Dia berharap bisa jalan-jalan dengan putrinya.


"Entahlah, mungkin tidak ada."


"Baiklah, cepat mandi dan beristirahatlah."


"Baik, Ayah."


Setelah itu, Pak Budi kembali membaca koran. Meski sekarang koran sudah sangat langka, tapi Pak Budi masih mengoleksinya dan memburu koran.


***


Sayang sekali untuk Pak Budi, karena dia tidak bisa jalan-jalan dengan putrinya. Dipagi hari yang seharusnya indah, Pak Budi yang sedang membaca koran sambil menunggu Cindy selesai memasak makanan sarapan tiba-tiba mendengar suara teriakkan yang familier. Teriakkan itu memanggil putri nya.


Cindy pun juga teralihkan dengan suara itu. Pak Budi kemudian membuka pintu dan melihat sosok mana yang berani menginjakkan kaki didepan pagar rumahnya. Setelah tau siapa sosok itu. Sosok yang sangat berani itu adalah Alex Dwisatya.


Alex yang melihat Pak Budi keluar dari rumahnya langsung tercengang dan berhenti berteriak. Pak Budi berjalan dengan gagah sambil menunjukan aura dominasi yang kuat. Alex yang tingginya melebihi Pak Budi pun merasa kecil dan terintimidasi.


"Kau, Alek?" Pak Budi lagi-lagi salah menyebut nama Alex.


"Ya, itu!"


Suaranya tegas dan beringas, Alex jadi sedikit bergetar karena takut. Tapi, dia harus menunjukkan kejantanannya pada calon mertua(pikir Alex).


Alex akhirnya berhenti bergetar, menegakkan punggungnya, dan membalas tatapan mata yang sangat tajam dari Pak Budi.


'Hmmm, lumayan.' Pikir Pak Budi saat melihat postur tegap dan tatapan mata Alex.


"Apa tujuanmu kesini?"


"Ehm, pertama-tama, saya ada sesuatu untuk anda."


Alex berjalan kearah Lyfa yang sedang dalam posisi berbaring dijalan. Dipunggungnya ada plastik yang didalamnya ada kotak.


'Ada serigala? Anak ini pelihara serigala sebesar itu!?'


Alex kemudian berjalan mendekati Pak Budi lagi dan memberikan kresek dengan kotak didalamnya.


"Apa ini?"


"Martabak, Om!"


"Martabak? Pagi-pagi buta ada yang jual martabak?"


"Aku belinya kemarin, Om!" Alex menjawab dengan polos.


"Kemarin? Kamu memberikanku makanan yang kualitasnya sudah menurun!?"


"Errr, aku sudah memanaskannya, Om!"


"Memangnya cukup!?"


"Orang yang memanaskan punya cara yang berbeda, Om! Jadi kualitasnya bisa sama dengan yang kemarin."


"Kau mencoba menipuku, huh!?"


"Tidak, Om! Om bisa coba sendiri untuk membuktikan."


Tidak percaya dengan kata-kata Alex, Pak Budi langsung mengeluarkan kotak martabak dari kreseknya dan membuka kotak martabak. Pak Budi kemudian takjub dengan penampakan martabak yang masih mempunyai hawa panas dan menggoda, bahkan kulitnya terlihat masih renyah.


Pak Budi kemudian mengambil satu dan memakannya. Suara *Kres!* langsung terdengar, membuktikan kalau martabak itu renyah. Pak Budi juga takjub dengan rasanya dan menikmati setiap gigitannya.


"Kau yakin ini kau beli tadi malam?"


"Aku tidak berbohong, Om!"


"Baiklah, akan kumaafkan kau karena datang dengan membawa makanan yang lezat."


"Terima kasih!"


Bagaimana bisa begitu? Itu semua berkat Alan yang menggunakan vial apinya untuk memanaskan dan dengan sedikit sihir, Alan membuatnya menjadi seperti itu.


"Jadi, saya akan mengatakan tujuan saya kesini!"


"Baiklah, cepat katakan."


Sebelum bisa mengatakan apapun, Alex dikagetkan dengan Cindy yang mengintip dari balik pintu.


"Ayah, kenapa lama sekali?"


"Bocah ini mau bilang sesuatu, tunggu sebentar."


"Ah, karena Cindy disini, aku akan sekalian menyampaikan ini."


Pak Budi langsung mengernyit, dia yakin mengajak Cindy berkencan didepannya! Tapi ternyata dugaan Pak Budi salah.


"Ada apa, Alex?"


"Jadi, kak Alan mau mengajak kita ke suatu Guild yang terkenal. Dia mau membelikan kita beberapa peralatan dan kak Alan ada beberapa urusan disana."


"Oh, kalau begitu, Ayah?


"Terserah, yang penting, jangan membahayakannya!"


"Tenang saja, Om! Saya akan menjaga putri anda dengan segenap jiwa dan raga!" Ucap Alex dengan tegas dan yakin


"Bagus!" Pak Budi suka dengan sikap Alex. Sedangkan Cindy hanya bisa tertawa, wajahnya juga memerah sedikit.


"K-kalau begitu, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu."


Alex beruntung karena Cindy tidak perlu waktu yang lama untuk bersiap-siap. Dengan pakaian seadanya, tapi modis dan tanpa makeup yang nyentrik, Cindy sudah sangat cantik. Alex dan Pak Budi langsung mengagumi kecantikannya.


"Baiklah, ayo berangkat!"


"Iya, aku pergi dulu, Ayah. Sarapannya sudah ada dimeja."


"Hati-hati!"


Alex dan Cindy langsung naik ke punggung Lyfa dan mereka pergi dengan kecepatan tinggi. Orang-orang yang lewat disekitar sana langsung terkejut.


"Bukannya pakai motor gede, malah pakai serigala gede. Yasudah lah, yang penting berkelas." Gumam Pak Budi sebelum masuk kerumah.


***


Alan menunggu tepat didepan gerbang Guild Chaos bersama dengan Norga dan tiga kembar. Tak lama, Alex dan Cindy juga datang dengan Lyfa.


"Akhirnya datang juga, mulus tidak?" Tanya Norga penasaran.


"Mulus kok. Terima kasih atas bantuannya, Kak!"


Alan mengacungkan jempolnya dengan senyum. Alan yang menyarankan membawa martabak, dan dia jugalah yang menjaga kualitas martabak itu. Alan pernah bertemu dengan pak Budi beberapa kali. Seperti kata pepatah, kalau anaknya cantik, bapaknya pasti menyeramkan. Karena itu, Alan menyarankan Alex untuk membawa martabak supaya meredakan amarah pak Budi. Lagipula Alex datang pagi-pagi kerumah orang sambil berteriak, pasti itu akan sangat menggangu.


"Baiklah, karena semua sudah disini. Ayo kita masuk!"


Dan mereka semua pun melangkahkan kaki ke area Guild Chaos. Ling Hua harus bersiap-siap karena tidurnya akan terganggu....