The Slayers

The Slayers
Chapter 175 (Season 4)



"Hei, nak, kau yakin ini jalannya?" tanya seorang pria paruh baya pada Norga.


"Tentu saja, aku yakin," balas Norga dengan keyakinan penuh. Itu luarnya saja. Jika ada orang yang bisa membaca pikiran seseorang, yang akan dilihatnya dari pikiran Norga adalah pemikiran yang kacau dan penuh ragu.


Norga sedari tadi berjalan tanpa arah, tanpa tujuan. Seiring dia berjalan, bertemulah dia dengan beberapa warga biasa yang butuh perlindungan. Melihat Norga yang dilengkapi dengan palu ganda berat, orang-orang tanpa ragu mengikuti dan menaruh harapan penuh pada Norga.


Norga tidak ingin, tapi dia tidak bisa meninggalkan orang biasa. Apalagi, dia bertemu dengan sepasang ibu dan anak. Mau tak mau, Norga harus memikul beban berat ini.


Saat ini, hanya insting dan beberapa percikan keberuntungan yang bisa menyelamatkannya dan rombongan dibelakangnya. Keberuntungan terbesar yang Norga harapkan adalah bertemu dengan Alan, atau setidaknya Alex.


"Perempatan lainnya!?" teriak seorang pemuda berkacamata. Pemuda ini selalu saja mengeluh jika bertemu dengan jalan bercabang.


"Bagaimana ini? Hei, ganteng! Tolongin d-" Seorang perempuan, yang kira-kira sebaya dengan Norga dan kerjaannya selalu menggoda Norga bertanya. Tak hanya itu saja. Tangan Norga dipeluk dengan erat.


Sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Norga memotong, "lewat sini."


Norga menunjuk kearah kiri tanpa ragu. Jika ditanya, mengapa memilih jalan itu? Norga secara langsung akan menjawab insting. Entah mengapa, Norga merasa dia akan bertemu dengan seseorang yang familier baginya jika dia berbelok kearah itu.


'Plis, ketemu orang ... Plis ketemu orang ... Plis ketemu ....' Dengan harapan yang diujung tanduk, Norga berbelok kekiri. Dalam sekejap, matanya melebar. Rasa senang yang meluap-luap memenuhi diri Norga.


Meski dari kejauhan, dia bisa melihat ada siluet, sekitar tiga sampai lima orang. Namun, Norga menyadari kalau sesuatu terjadi diantara orang-orang itu. Tampaknya satu orang diantara mereka sedang diserang.


Norga, tanpa aba-aba, berlari kencang menuju rombongan orang tersebut. Semakin dekat, semakin jelas wajah-wajah itu. Ada dua wajah yang dia ingat, pertama adalah wajah seorang pria paruh baya yang seharusnya terlihat ramah dan bersahabat. Namun, yang dia lihat sekarang adalah wajah mesum nan menjijikan. Satu lagi, adalah wajah dari perempuan yang tiap kali ia lihat, pasti ada percikan dendam yang timbul dalam dadanya.


Itu adalah, teman masa kecil yang terindah sekaligus yang terburuk, serta menjadi teman sekelasnya saat ini, Grace Randell.


***


Beberapa saat sebelumnya.


Grace Randell, bersama dengan Derus, mengelilingi labirin dengan bingung dan tanpa arah. Hal tersebut berlanjut hingga salah satu diantara mereka tumbang karena kelelahan.


"Bagaimana ini, orang-orang sudah pada kelelahan. Sedangkan petunjuk tentang jalan keluar pun belum ada!" Seorang Slayer wanita mengeluh. Namanya Ina, seorang mage.


"Sabar, Nona, kita pasti bisa!" Derus yang optimis menyemangati Ina. Walaupun begitu, tak ada yang berubah. Semuanya kelelahan dan jalan keluar sama sekali tidak terlihat. Rasanya jalan keluar seperti fatamorgana belaka.


Tebakan itu tak muncul sampai sekarang. Tapi, Grace pantang menyerah. Dia harus pulang, adiknya harus pulang, dan Johan harus pulang. Itulah yang penting baginya.


"Grace ... Apakah kau mendengarkan ku?"


"Ah?" Grace yang terlalu fokus, tersentak karena tepukan dibahu oleh Derus. "Maaf, aku sepertinya terlalu fokus."


"Tidak, tidak apa-apa. Kau sudah banyak berusaha."


Grace menghembuskan nafas yang mendalam. Dalam dirinya, dia merasakan ketakutan. Ketakutan jika dia tidak bisa menemukan adiknya atau kakaknya. Ketakutan jika dia tidak bisa menemukan keluarganya.


Memikirkan itu membuat hatinya sakit. Memikirkan hal itu juga, membuat Grace semakin termotivasi untuk berusaha mencari jalan keluar.


"Ayo semuanya, ayo berusaha sedikit lagi! Mungkin saja, kita bisa menemukan jalan keluar, atau, paling tidak kita bisa bertemu lebih banyak orang!"


Percuma. Itu adalah kalimat yang sia-sia. Mereka, entah mendengarkan atau tidak, sama sekali tidak tergerak. Paling-paling, dibalas dengan kata-kata, "diam!"


Hal itu membuat Grace sakit kepala. Sakit kepala itu ditepisnya secara paksa. Itu bukan waktunya untuk merasakan sakit kepala. Tujuannya adalah untuk pulang.


"Tidak apa-apa, Grace, kau sudah berusaha. Palingan nanti mereka bakal berinisiatif untuk jalan." Derus si optimis masih menyemangati.


"Ya," Grace membalas singkat. Kemudian pergi menjauh. "Aku akan mencoba untuk menemukan petunjuk."


Mendengar itu, Derus menunjukan rasa kagum yang besar, "woah, rajin banget! Jadi tambah sayang, deh!"


Kalimat yang terdengar aneh ditelinga Grace. Tapi, dia menghiraukan hal itu dengan cepat. Setidaknya, sampai Derus mendekatinya dari belakang dan berbisik.


"Karena ada kemungkinan bagi kita untuk tidak bisa keluar dari sini, maka ... Biarkan aku mencicipi mu sedikit, oke?"


Deg!


Sekujur tubuh Grace menjadi merinding dan secara spontan ingin menjauh. Tapi, itu sudah terlambat, karena pergelangan tangannya sudah dicengkram oleh Derus.