The Slayers

The Slayers
Chapter 81 (Season 3)



Di pagi hari, udara menjadi sangat dingin. Saat ini hujan deras sedang turun, membuat sinar matahari terhalang. Hawa dingin yang ada membuat orang yang biasanya mandi pagi-pagi jadi tertunda, mereka tak ingin mandi dengan air sedingin es.


Tapi, tentu saja ada yang menikmati air sedingin es itu, contohnya adalah Johan. Dia pagi-pagi sekali bangun dan berolahraga, mengayunkan pedangnya dan mandi.


"Ahhhh, nikmatnya mandi pagi!"


Johan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


[Kau tidak kedinginan?] Seraphim bertanya dengan heran.


"Tidak, setelah berolahraga badanku jadi sangat berkeringat. Dengan mandi di pagi hari, terutama jika hujan, maka air nya akan membuatku segar kembali!"


[Benar juga.]


Johan berjalan ke arah lemari pakaian, dia mengambil seragam sekolah dan memakainya.


Saat ini adalah pukul 05:30 WIB. Jadi Johan berencana untuk berlatih lagi dengan pedang asli. Dia tidak bisa berlatih menggunakan pedang asli di kamar nya sendiri, atau dia akan merusak salah satu perabotan, dan harus membayar denda.


Meski para siswa di akademi tinggal di asrama dan bebas menggunakan semua perabotan atau fasilitas yang disediakan. Para siswa tetap dikenakan denda jika merusak perabotan atau fasilitas. Jadi setiap Johan mengayunkan pedang di kamarnya, dia hanya menggunakan pedang kayu.


Johan mengambil pedangnya yang tersarung. Dia membuka pintu kamar dan berjalan dilorong panjang asrama. Tentu saja, itu adalah asrama laki-laki.


Johan membuka pintu dan keluar dari asrama. Dia berjalan di jalan setapak yang lumayan panjang. Di sana, dia dapat melihat asrama perempuan. Dan dia melihat seorang perempuan yang dia kenal;perempuan itu adalah teman sekelasnya.


Mereka bertemu di pertigaan berbentuk Y terbalik. Johan menyapa perempuan itu duluan.


"Pagi, Via!"


Mendengar sapaan yang ceria dari Johan. Via langsung menoleh dan menyapa balik dengan senyum manis.


"Pagi juga, Johan. Kau sudah bangun sepagi ini?"


"Tentu saja, aku ingin berlatih di fasilitas pelatihan."


"Aku juga ingin kesana."


"Kalau begitu, ayo kita kesana sama-sama."


"Ayo!"


Mereka berjalan beriringan di jalan yang panjang dengan banyak pemandangan yang masih enak dilihat meski sudah dipandang setiap hari.


Akhirnya mereka sampai ke fasilitas pelatihan. Untuk masuk, kau harus menempelkan telapak tangan mu di tengah pintu, pintu itu akan mengenali siswa dan pintunya terbuka secara otomatis.


Johan sangat bersemangat untuk berlatih, tapi di dalam fasilitas pelatihan, pemandangan yang dilihatnya merubah semangat menjadi amarah.


Pemandangan yang ada juga sedikit mengejutkan Via.


Pemandangan yang dilihat mereka adalah Zoel yang sedang memegang pedang besar dan menghajar seorang anak yang berpenampilan suram, namanya Niji.


Tidak hanya Zoel yang menyerang, ada 3 orang lain yang ikut menyerang Niji secara bergantian dengan Zoel.


Tak tahan melihat Niji yang terpojok dan tak berdaya. Johan menghilang dari tempatnya dan muncul memunggungi Niji dan mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Pedang itu panjang dan berwarna putih bersih. Gagangnya berwarna emas mewah dan berkilau, meski begitu, pedang itu lebih ringan dari yang diduga.


Johan berdiri dengan sangat tegap seperti pahlawan, dia menghentikan serangan Zoel dengan mudah.


Zoel langsung kaget, padahal serangan yang dia lancarkan termasuk kuat, tapi berhasil dihentikan oleh Johan hanya dengan ujung pedangnya.


Pedang Johan beradu dengan pedang besar Zoel. Tetapi, sudah dapat dilihat siapa yang menang.


Johan mendorong zoel hingga ia terpental jauh, tapi ia mampu mendarat dengan bagus.


"Kau... apa yang kau lakukan!?" Zoel berteriak kesal kepada Johan.


"Kalau kau sendiri? Kenapa kau menghajar Niji?"


"Menghajar? Aku sedang membantunya berlatih sialan!"


Suaranya begitu keras dan mengandung amarah yang besar. Suaranya sampai menggema diseluruh ruangan.


Johan yang tadi bermuka bermuka dingin, sekarang berubah, bukan karena terkejut atau takut, tapi ekspresinya menjadi cerah.


"Oh, kau membantunya berlatih toh?"


"Tentu saja, dan kau malah mengganggu latihan kami, bangs*t!"


Johan yang tersenyum malu dan merasa bersalah berbalik dan melihat wajah Niji. Wajahnya benar-benar suram dan penuh Luka.


Wajah Johan berubah lagi, kembali menjadi dingin. Dan bertanya lagi kepada Zoel dengan nada yang benar-benar dingin.


"Kau bilang itu latihan, tapi kenapa sampai seperti ini?"


Zoel menjadi sangat kesal dengan Johan, dia meneriakinya lagi, kali ini lebih keras dan lebih kasar.


"Memangnya kenapa, hah!? Itu supaya dia lebih cepat berkembang!"


"Tapi kau menyerang Niji dengan teman-temanmu dengan agresif, kau sebut itu pelatihan?"


"Dia yang minta sendiri baj*ngan, jangan sok tau kau, sialan!"


Johan berbalik kearah Niji lagi dan bertanya.


"Apakah betul kalau kau memintanya untuk melatihmu?"


Johan bertanya dengan sangat serius, matanya dengan tajam menatap mata Niji yang terhalang oleh poni rambutnya. Niji menjadi ketakutan, dia takut kalau dia menjawab tidak maka dia akan dihabisi oleh Zoel entah kapan. Tapi, Niji memilih untuk jujur. Dia merasa kalau Johan bisa menolongnya.


Tapi, Niji melihat Zoel dan teman-temannya menyerang Johan. Johan sudah menyadari itu, dia menggenggam pedangnya dengan erat dan bersiap untuk menangkis serangan mereka.


Tapi...


"[Counter Butterfly]"


Kupu-kupu berwarna emas yang bercahaya muncul dihadapan Zoel dan teman-temannya, mereka tak bisa menghentikan serangan mereka dan mereka menghancurkan kupu-kupu emas yang ada didepan mereka.


Ketika kupu-kupu itu hancur dan mengeluarkan ledakan cahaya terang. Zoel dan kawan-kawannya terlempar jauh, teman-teman Zoel tidak mendarat dengan bagus, bahkan ada yang menabrak dinding ruangan. Sedangkan Zoel berhasil mendarat dengan menancapkan greatsword nya ke lantai.


"Via, kau baj-"


"Cukup, Zoel!!"


Kemarahan Via membuat ucapan kasar Zoel berhenti.


"Sifat-sifat buruk mu masih ada bahkan sampai sekarang, kau tak pernah berubah!"


"Apa urusanmu, hah!?"


"Urusanku? Kau menghajar Niji dengan alasan berlatih, aku tahu kau berbohong atau tidak Zoel."


"Kau... selalu merusak kesenangan ku!"


"Kau mau bersenang-senang? Kalau begitu, sini hadapi lawan yang sepantaran dengan mu."


"Kau..."


Via benar-benar serius, dia menghunuskan pedangnya dan menatap dengan sangat tajam dan mengancam. Meski Via bilang sepantaran, tapi sebenarnya Via lebih kuat dan lebih ahli daripada Zoel.


Akhirnya, Zoel menyerah dan meninggalkan Fasilitas pelatihan bersama dengan teman-temannya.


"Huft, akhirnya dia menyerah."


Via menghembuskan nafas lega dan menyarungkan kembali pedangnya.


"Woah, skill yang kau pakai tadi menakjubkan sekali!" Kata Johan


"Biasa saja kok, kau juga hebat, bisa menghentikan serangan Zoel dengan sangat mudah."


Johan menjadi malu saat dipuji Via. Dia menggaruk-garuk kepala belakangnya.


"Ehm, kalian berdua, t-terima kasih ya," ucap Niji sambil menunduk.


"Tidak papa kok, memang seharusnya teman saling membantu," kata Johan sambil menggaruk kepalanya lagi.


"Kenapa kau dihajar oleh Zoel?" Tanya Via.


"Ehm, j-jadi kemarin aku tak sengaja menumpahkan minumanku kepundaknya. Dia marah karena itu, dan dia menghajarku bersama teman-temannya, dan dia bilang untuk datang ke fasilitas pelatihan besok pagi-pagi, kalau tidak, aku akan dihajar lebih parah."


"Dan begitulah, aku jadi samsak tinju mereka."


"Zoel, dia tak pernah berubah,"kata Via sambil menepuk dahi.


"Maksudmu?" Tanya Johan penasaran.


"Bagaimana ya bilangnya? Anak-anak dari sekolahku yang datang kesini terbilang sangat nakal. Mereka suka memperlakukan anak non-special seperti pesuruh. Bahkan ada yang dijadikan samsak tinju. Banyak anak keluar dari sekolah karena mereka, bahkan..."


"...kenapa?"


"Sampai ada anak yang meninggal."


""Hah!?"" Niji dan Johan sampai terkejut, mereka pikir kalau itu sudah sangat keterlaluan.


"Yah begitulah, ada dua anak yang depresi hingga bunuh diri."


"Parah sekali!"


"Iya, salah satu anak ada yang dibully hingga depresi dan akhirnya bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 disekolah. Hal itu mengejutkan seisi sekolah, kepalanya sampai penyok karena waktu itu dia jatuh di batu taman yang keras. Dan yang kedua, dia depresi hingga putus sekolah, dan dia dikabarkan hilang, kemungkinan dia bunuh diri dan jasadnya tak dapat ditemukan."


Johan dan Niji terdiam seribu bahasa. Mulut mereka benar-benar rapat seperti dijahit.


Tapi akhirnya Johan buka suara,"kenapa mereka masih ada disini? Mereka harusnya dipenjara!"


"Orang tua kami bukan orang biasa, orang tua kami sangatlah berpengaruh. Contohnya Zoel, ibunya adalah Zuora."


""Z-z-zuora!? Zuora si wanita barbarian?" Kata Niji sambil tergagap-gagap, nama yang disebutkan oleh Via bukanlah nama sembarangan


"Yap, Zuora si wanita barbarian, Slayers wanita dengan peringkat 301 didunia."


"Gila!"


"Begitulah, pengaruh orang tua kami dapat menutupi perilaku buruk kami."


"Kau juga berperilaku buruk?" Tanya Johan.


"Tentu saja tidak,"kata Via sambil menggelengkan kepala,"aku hanya berteman dengan mereka karena orang tuaku, orang tuaku dan orang tua mereka sangat akrab. Jadi aku disuruh berteman akrab dengan mereka. Kalau tidak disuruh mah aku ogah dengan mereka."


"Oooh."


Selesai dengan penjelasan Via. Johan meminta suatu hal pada Via.


"Hei, Via, mau latih tanding denganku?"


"Boleh saja."


Johan dan Via akhirnya berlatih tanding, sedangkan Niji melihat latih tanding mereka yang luar biasa.


Jam pelajaran pertama.


Pak Arton masuk dengan ekspresi biasanya, ekspresi datar. Pak Arton mengenakan seragam guru akademi dengan pedang dipinggang, memakai kacamata bundar dan memegang buku absensi.


Dia mengabsen semua anak dikelas, semuanya hadir, tidak ada yang bolos atau sakit. Tapi tentu saja mereka belum tentu dalam kondisi prima. Kebanyakan siswa tidak bersemangat dan lesu.


"Baiklah, semuanya hadir. Untung saja tidak ada yang absen karena hari ini merupakan hari yang penting."


Siswa-siswi menjadi serius, yang tadi malas menjadi tegap, yang matanya ingin tertutup menjadi terbuka lebar, yang sudah serius dalam pelajaran menjadi lebih serius lagi. Semua itu karena ada kata 'penting'.


"Dengarkan semua, pasang telinga kalian dengan baik."


Pak Arton berhenti sebentar untuk menyiapkan kata-kata.


"...jadi, kalian hari ini akan diberi tugas kelompok pertama. Nilai dari tugas ini sangat penting untuk kalian. Jadi, dalam waktu 10 menit, bentuklah kelompok berisi masing-masing 5 orang."


"Oh iya, karena jumlah kalian dikelas ini adalah tiga puluh, maka satu orang yang tersisa akan bebas memilih grup mana yang ingin dimasuki."


Setelah Pak Arton tak mengeluarkan kata-kata apapun. Semua murid langsung bergerak secepat kilat untuk mendapatkan tim. Yah semua kecuali satu murid, yaitu Johan.


Sementara yang lain bergerak cepat, Johan masih duduk dikursinya sambil mengeluarkan ekspresi aneh.


Tapi dia dihampiri oleh orang yang dia kenal.


"Kak Johan, ayo satu tim!" Tentu saja, itu Grace dan Rise.


Johan lega dengan adanya mereka berdua, tak hanya itu, satu orang lagi menghampirinya.


"Hey Johan, boleh aku masuk kedalam kelompokmu?"


Johan agak kaget dan menoleh kearah suara tersebut.


"Via? Kau yakin?"


"Tentu."


Dengan ini, tersisa satu orang. Johan melihat-lihat orang yang belum dapat kelompok, tapi dia melihat Niji belum mendapat kelompok dan akhirnya dia bangkit dari kursinya dan pergi kearah Niji.


"Niji!"


"E-eh, iya?"


"Sudah dapat kelompok?"


"Aku... belum dapat."


"Kalau begitu, mau masuk kedalam kelompok ku?"


"Boleh?"


"Boleh dong! Kelompok kami tinggal satu orang."


"Ah, baiklah."


Dan sudah lengkap 5 orang!


Sudah 10 menit berjalan, semua orang sudah mendapatkan kelompok, kecuali satu orang. Pada akhirnya, kelompok itu memilih tim Johan. Namanya El, hanya El.


"Baiklah, kalian semua sudah membentuk kelompok, sekarang bapak akan kasih tau tugasnya."


"Tugasnya adalah pembersihan portal."


Semua murid langsung terkejut, ini adalah pertama kalinya mereka diberikan tugas yang menurut mereka tidak membosankan.


"Biasanya, kalian pulang jam 3 sore, tapi hari ini, kalian akan pulang jam 11 pagi. Kalian pulang seawal ini karena pada jam 12 siang, kalian akan melaksanakan pembersihan portal, jadi selama satu jam itu, diskusi lah dengan kelompok kalian."


Dan begitulah, penjelasan Pak Arton berakhir dan 'siksaan' pun dimulai.


***


"Hei, bangun kalian."


Saat ini sudah jam 9 pagi, Alan berniat membangunkan mereka, tapi itu tak mudah bagi Alan.


Karena itu, Alan mencoba cara yang agak aneh. Dia menepuk tangannya sekali dengan sangat cepat. Akibatnya, suara yang dihasilkan oleh tepukan Alan seperti ledakan. Alex dan Norga yang tertidur pulas langsung lompat dafi kasur dan jatuh kelantai, bahkan tetangga Alan langsung bangun dari tidurnya, mereka mengira kalau ada serangan.


"Apa yang terjadi!? Apakah ada serangan!?"


Norga dengan panik bangun dan melihat sekitar. Dia juga merasa ada serangan. Sementara Alex, dia masih mengumpulkan nyawa.


"Haaa~, kalian ini sangat susah dibangunkan, jadi aku memakai cara yang aneh."


"Maksudnya?"


Alan menepuk tangannya sekali lagi, dan suara seperti ledakan memenuhi ruangan.


Norga langsung melompat karena terkejut, dan Alex yang masih mengumpulkan nyawa langsung melek.


"Sudah jelas kan? Nah sekarang bangun dan mandi."


Alex dan Norga yang sudah dikejutkan dua kali susah tidak ngantuk lagi. Mereka secara bergantian mandi dan memakai baju yang dipinjam dari Alan.


Alex dan Norga kemudian pergi kemeja makan dan duduk disana.


Alan kemudian datang membawa dua piring nasi goreng dan dua piring itu diletakkan didepan mereka.


"Nih, makanlah."


Alex merasa enggan untuk makan, berbeda dengan Norga yang langsung makan.


"Mari makan!"


Dia mencoba sesuap nasi goreng bikinan Alan.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Alan penasaran.


"Biasa saja,"kata Norga dengan wajah datar.


Alex langsung terkejut dan menoleh pada Norga.


'Setidaknya bilang enak lah!' Begitulah pikirnya.


Alex melihat ekspresi Alan, anehnya Alan tidak marah, dia terlihat tenang.


"Kau jujur juga ya? Yah lagipula kemampuan memasakku memang biasa-biasa saja."


Alex lega melihat Alan tidak marah. Dia mencoba sesuap nasi goreng dan memang rasanya biasa saja seperti kata Norga. Menurutnya nasi goreng ibunya masih lebih enak. Tentu saja, masakan ibu selalu nomor satu!


Mereka selesai makan dan menaruh piringnya. Tapi Alan tidak terlihat.


"Dimana kak Alan?" Tanya Norga bingung.


"Mana kutahu, kak Alan makan dengan sangat cepat dan menghilang begitu saja."


"Mungkin per-"


"Kalian mencariku?"


Alex dan Norga menoleh kearah suara dan melihat Alan yang muncul dari pintu terlarang.


Tapi, Alan tampil dengan penampilan yang sangat berbeda. Jaket hitam panjang dan berhoodie, ada banyak ramuan yang digantung di dada, pinggang, kaki dan masih banyak lagi;revolver dan pistol juga tergantung dipinggangnya. Dan juga, Alan memakai sarung tangan tanpa jari ditangan kanannya, dipunggung tangan, ada lambang tengkorak emas.


""Woah!!""


Penampilannya sangatlah keren dan gagah. Siapapun yang melihatnya akan takjub.


"Nah, sekarang, kalian yang harus bersiap."


"Kami?"


"Ya, kalian."


Mereka bingung dengan apa yang dimaksud Alan. Disebelah Alan, muncul sebuah portal kecil dan dari portal itu muncul pistol dan pedang.


"Siapa yang mau pedang? Siapa yang mau pistol?"


"Aku mau pistol!" Jawab Norga dengan cepat.


"Nah kalau begitu, Alex memakai pedang."


Alex mengambil pedang dan Norga mengambil pistol dengan senang hati.


"Kenapa kau memberiku ini kak?"


"Nah, sekarang ke halaman belakang."


Alex tambah bingung, dia tak bisa menebak apa tujuan Alan. Sedangkan Norga sudah senang dengan pistol yang diberikan, jadi dia hanya diam.


Mereka sudah berdiri ditengah-tengah halaman. Angin sejuk menerpa tubuh mereka. Mereka merasa sangat tenang.


"Oke, sekarang kalian serang aku."


""Hah!?""


"Serang saja."


Alex bingung dan merasa tak beres, tapi Norga langsung menembak.


Peluru melesat dengan cepat menuju kearah random, tapi berhasil ditangkap dengan cepat oleh Alan.


"Serang saja, tidak apa-apa."


Pada akhirnya Alex dan Norga menyerang bersamaan, tapi mereka juga kalah bersamaan.


Mereka terus bertarung tanpa tau apa tujuannya hingga jam 11:30.


"Hmm, sudah waktunya ya?"


"Kita ngapain sih kak?"


Alan melihat mereka berdua yang kelelahan dan berkata.


"Mari ikuti aku keluar."


Alex benar-benar tidak mengerti, dia mulai menganggap kalau Alan adalah penipu.


"Ayolah, kalian tidak akan menyesal."


Alex dengan enggan berdiri dan Norga mengikuti.


Mereka keluar dan akan memulai petualangan yang seru dan mematikan, tidak termasuk Alan.