The Slayers

The Slayers
Chapter 171 (Season 4)



"Kita dari tadi berputar-putar? Kok kelihatannya kita berputar-putar terus?"


"Benar juga ya? Kalau iya, gawat sudah! Bagaimana ini, Kak?"


Norga dan Alex yang menyadari keanehan. Sementara Alan, dia masih mengamati sekitar dengan seksama. Mereka sudah menjelajah sekitar dua puluh menit dan mereka tetap berada dalam area yang sama.


"Penyihir yang membuat labirin ini, pasti penyihir tingkat tinggi." Cindy, yang dalam wujud Arnima, memuji orang yang menjebak mereka saat ini. Perubahan yang tidak disadari oleh Alex dan Norga, membuat mereka terkejut dengan hebat.


"Tunggu, dimana Cindy!?"


"Tentu saja ada dalam tubuh ini, kami hanya bertukar saja untuk saat ini. Perempuan lemah lembut sepertinya tak cocok untuk situasi saat ini."


Alex masih menatap tajam Arnima, yang membuat Arnima menghela nafas, lumayan panjang.


"Cindy sudah setuju juga, kok. Malah dia yang memintaku duluan. Jadi, bisa dibilang, Cindy secara suka rela membiarkan aku merasuki tubuhnya."


"Tapi ...-"


"Sudahlah, Alex," Alan menepuk punggung Alex. "Memang, mereka bertukar sekarang adalah keputusan yang tepat. Jadi, biarkan saja untuk saat ini, ya kan, Arnima?"


Alan menatap Arnima dengan biasa, tetapi, Arnima merasa seperti ditusuk hanya dengan tatapan itu. Arnima hanya bisa mengangguk.


"Kalau begitu, ayo lanjutkan lagi."


"Eh, tapi, bagaimana Kak? Kita sedari tadi hanya berputar-putar saja." Norga hampir kehilangan semangatnya untuk saat ini. Tetapi, Alan tersenyum.


"Tenang saja, Norga, aku sudah menemukan solusinya. Jadi, jangan putus semangat, oke?"


"Benarkah?"


"Tentu saja, percaya saja pada kakakmu ini."


"Baiklah!"


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mereka, tetapi, segara terhenti karena Alan yang tiba-tiba berhenti berjalan dan menghadap dinding kirinya.


Alan menatap dinding itu, dan merenung sejenak. Alex dan Norga yang melihat itu kebingungan, tapi tak berani mengganggu karena Alan terlihat serius. Sedangkan Arnima, dia juga ikut melihat dinding yang sama. Dia meneliti dinding tersebut dan tersentak setelahnya.


"Jangan-jangan...."


"Jangan-jangan?" Norga penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka teliti tentang dinding didepan mereka. Tepat saat itu, Alan menyentuh dinding, sambil mengucap, "Open sasame!"


Dalam sekejap, dinding-dinding itu bergerak tak karuan. Struktur yang ada berubah-ubah seperti puzzle yang disusun olang dengan acak.


Dalam beberapa detik, labirin itu berhenti bergerak. Areanya benar-benar berubah dengan yang tadi.


"Hahaha, akhirnya, menyusahkan sekali kau, pembuat labirin!"


"A-apa itu tadi Kak?" Alex dan Norga masih tak mengerti tentang apa yang terjadi.


"Itu sangat sederhana, kalian tak mengerti?" tanya Arnima.


Alex dan Norga menggeleng. Melihat reaksi itu, Arnima hanya bisa menghela nafas.


"Aku saja, akan kujelaskan sambil jalan."


***


Ditempat lain, sekelompok orang yang jumlahnya lebih banyak, sedang menghadapi kebuntuan. Johan yang juga merupakan bagian dari rombongan, sedang kebingungan.


Masalah ini lebih rumit dari pada yang mereka kira. Johan, yang sedang berdiri didepan tembok labirin. Disatu sisi, Grace dan Risse sedang berdiri didepan tembok labirin yang lain.


"Bagaimana ini, apakah kau menemukan sesuatu, Johan?" tanya Derus yang berdiri tak jauh darinya.


Johan tak menjawab dan masih memperhatikan tembok itu. Dalam pikirannya, Johan sedang berkonsultasi tentang tembok itu.


'Susunannya sangat rumit.'


"[Tidak juga, ini lebih sederhana dari yang kau bayangkan, seperti bermain rubik!]"


'Masalahnya, aku gak bisa main rubik....'


Masalah mereka saat ini adalah, jalan mereka ditutupi oleh tembok. Empat jalan yang bisa membawa mereka ada tempat lain, telah tertutup. Hal tersebut disebabkan oleh guncangan misterius yang mengakibatkan tembok labirin bergerak secara acak dan kacau. Hingga hasilnya adalah saat ini, dimana mereka terjebak.


'Aduh, ini membuatku pusing.'


"[Haruskah aku membantu?]"


'Tolong bantu aku, Sera. Aku tidak ingin kita semua terjebak disini.'


"[Hahhhhh... Baiklah.]"


"[Sentuh dinding itu!]"


'Oke.'


Johan menyentuh tembok itu, kemudian memejamkan mata, diikuti dengan menundukkan kepalanya sedikit.


Beberapa detik kemudian, muncul gempa yang membuat penduduk panik. Tembok-tembok labirin mulai bergerak secara acak. Setelah beberapa detik, tembok-tembok itu berhenti dan menciptakan jalan bagi mereka.


"Bagus, semuanya, ayo lanjutkan perjalanan!"


***


*Ditempat lain.


"Sialan, mereka merubah strukturnya."


Alan kali ini menghadap pada tembok yang menghalangi jalan mereka. Sekarang, merekalah yang terperangkap.


Alan menatap keatas, menajamkan pengelihatannya. Dilangit-langit, memang tidak ada apa-apa, tapi Alan tau ada yang mengawasi mereka.


"Hahhhh... Bagaimana ini?"