
Alex dan Norga tidak tau lagi apa yang harus mereka lakukan. Alan belum bangun, padahal sudah jam 9 malam.
"Kak Alan masih bernafas, tapi kenapa gak bangun?" Norga sudah mengecek nafas dan nadi Alan. Alan masih bernafas dengan stabil dan nadinya masih berdenyut. Tapi, satu hal yang berbeda adalah suhu tubuh Alan yang sangat rendah.
"Mungkin semua ini terjadi karena cincin dijari tengah Kak Alan." Alex menduga-duga dan mencurigai cincin emas yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba melepasnya?" Usul Norga.
"Ide bagus, aku akan mulai duluan."
Alex meraih tangan kanan Alan dan sedikit terkejut dengan tangannya yang dingin. Alex kemudian mencoba melepaskan cincin emas dijari tengahnya.
"Hmm? Kenapa tidak mau lepas?"
"Hah?"
Alex tidak pernah mengira kalau melepaskan cincin dari jari akan sesusah ini. Cincin itu terlihat sangat pas dijari Alan;tidak kekecilan ataupun kebesaran.
"Minggir kak, biarkan aku mencobanya."
Kali ini, Norga yang mencoba untuk melepaskan cincin emas itu. Hasilnya, sama seperti Alex, mengecewakan. Mereka akhirnya memutuskan untuk menariknya bersama-sama dan hasilnya sama saja. Cincin itu seperti sudah bersatu dengan jari tengah Alan.
"Apa-apaan!? Kenapa susah banget?"
"Mari kita coba cara lain, Norga. Aku punya cara lain yang agak berbahaya, tapi patut dicoba."
Norga segera senang mendengar kata kalimat dari Alex. Dia merasa kalau kakaknya yang satu ini memang bisa diandalkan.
"Cara apa itu, kak?" Tanya Norga penasaran.
"Ambil pisau!"
Norga terkejut bukan main mendengar kata pisau. Rahangnya langsung jatuh seperti meteor.
"Itu bukan 'agak berbahaya' lagi, tapi itu sangat berbahaya!"
"Hanya itu cara yang aku tahu!"
"Kenapa kita tidak coba pakai minyak?"
"...benar juga ya."
Alex segera mencari minyak. Beberapa detik kemudian, Alex kembali dengan botol minyak ditangannya. Dengan segera, Alex mengoleskan minyak dijari tengah Alan dan mengoleskannya. Setelah itu, Alex mencoba untuk melepaskan cincin itu.
Sayang sekali, cara itu tidak bisa. Cincin itu malah menjadi licin dan Alex kesusahan menariknya. Cincin itu tidak lepas sama sekali. Kesabaran keduanya sudah mencapai batasnya. Norga pun setuju dengan menggunakan pisau.
Metode ini agak berbahaya, tapi kedua pemuda ini tidak punya pilihan lain untuk menggunakan metode ini. Dengan pisau dapur yang ada ditangan Alex, dia mencoba untuk memasukan bilah pisau itu disela-sela antara cincin dengan jari Alan. Alex berpikir kalau cincin itu terlalu melekat pada kulit Alan, jadi dia mencoba untuk menciptakan sebuah cela. Namun ....
Ctang!
Bilah pisau ditangan Alex patah dan mental. Bilah pisau itu secara cepat terbang dan menancap kedinding. Alex merasa, bahwa saat itu dia sangat beruntung. Karena jarak antar bilah pisau yang mental dan pipinya hanya 5 centimeter saja.
Dengan momen ngeri tersebut, kedua pemuda itu akhirnya menyerah untuk membangunkan Alan dan berharap bahwa keajaiban akan datang.
"Mungkin Kak Alan akan bangun besok pagi." Ucap Alex dengan lemas.
"Doakan saja." Balas Norga yang tidak kalah lemas.
Dan mereka akhirnya memutuskan untuk tidur. Berharap kalau besok Alan akan menyambut mereka dengan senyum cerah dan masakan nasi goreng biasanya.
***
Tidak hanya Alex dan Norga yang berjuang, Alan dimenara juga berjuang menghadapi kedua musuh yang memakai zirah lengkap berwarna emas dan perak.
Alan pun tidak kalah tryhard dengan Alex dan Norga. Malahan, Alan lebih kesusahan dibanding mereka berdua. Jika dia terlambat bereaksi sedetik saja, badannya bisa termutilasi dengan segera.
Whoosh!
Halberd milik kesatria perak diayunkan dengan halus dan mantap, tetapi, ayunan tersebut memunculkan bilah angin yang mematikan.
Alan bisa menghindari bilah angin tersebut dengan mudah. Tapi, Alan segera diserang oleh kesatria emas. Kesatria emas yang memakai pedang, menarik pedang dari sarungnya dengan bersih dan secepat angin.
Beruntung, Alan bisa menyeimbangkan dirinya dan menangkis serangan itu hanya dengan belatinya. Alan kemudian bertujuan untuk menyerang balik. Namun, Kesatria perak segera menghunuskan ujung lancip Halberdnya. Beruntung, Alan berhasil menangkis serangan tersebut. Karena kekuatan dari sang kesatria perak terlalu kuat, Alan pun terhempas sejauh tujuh anak tangga. Alan yang handal untungnya bisa mendapatkan keseimbangannya kembali.
Walau begitu, Alan tidak bisa bersantai. Dua kesatria yang Alan lawan sangat handal dalam memakai senjata masing-masing. Meski setiap stats Alan sudah bertambah hingga 1000, tetapi serangan dari kedua kesatria itu terasa berat bagi Alan. Ditambah lagi, chemistry antara kesatria emas dengan perak sangat baik. Mereka bisa melakukan serangan beruntun yang merepotkan.
'Aku seperti sedang bermain game S*kiro, sialan!' Protes Alan dalam hati.
'Bukan saatnya untuk menyalahkan senjata. Mari berpikir, jika ini seperti game S*kiro dan saudara-saudaranya. Sepertinya aku harus lebih agresif.' Waktu terasa seperti berhenti saat Alan berpikir dengan keras. Saat sudah selesai berpikir, waktu terasa kembali berjalan dengan normal.
Saat itulah, Alan segera melesat dengan cepat kearah dua kesatria berzirah. Dia menyerang kesatria emas terlebih dahulu. Tentu saja, kesatria emas bisa menahan serangan Alan dengan pedangnya tanpa menggunakan banyak tenaga.
Kesatria emas mengambil kesempatan ini untuk berputar kebelakang Alan dan mengayunkan Halberdnya secara horizontal. Alan sudah menduga akan hal itu dan menunduk secara cepat.
Semua serangan itu sudah ditebak oleh Alan. Jika yang satu sedang bertahan, yang satu lagi pasti akan mencoba untuk menyerang, dari situ, kombinasi mematikan dari kedua kesatria itu mulai. Cara untuk mengatasi kombinasi mematikan itu adalah dengan tidak membiarkan mereka menyerang. Bagaimana caranya? Alan sudah memikirkan caranya.
Kesatria emas bersiap untuk menarik pedangnya dan melakukan tebasan vertikal. Tetapi, Alan berputar dan men-sleding keduanya. Kedua kesatria itu kehilangan keseimbangan dan hendak jatuh. Tidak berhenti sampai disitu, Alan menendang kesatria perak hingga mental jauh.
Sedangkan kesatria emas ditarik kakinya dan dibanting dilantai tangga sebelum kemudian Alan melempar tubuh kesatria emas kearah kesatria perak terpental.
Kesatria perak yang baru saja bangun, dikejutkan dengan kesatria emas yang terlempar mengenainya. Kesatria perak dengan sigap menangkap tubuh kesatria emas. Namun, belum cukup sampai disitu, Alan muncul dari balik kabut dan menerjang kearah kedua kesatria dengan muka full senyum.
Alan dengan semangat, memusatkan tenaga pada kaki kanan dan kemudian menendang kepala kesatria perak yang memakai helm dengan sangat kuat seperti menendang bola sepak.
Alan kemudian mendarat di salah satu anak tangga dan meloncat lagi, melesat kearah kesatria perak yang sedang kehilangan keseimbangan dan menendang punggung nya dengan kuat. kesatria perak dan kesatria emas terpental kearah atas dan jatuh tengkurap. Alan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menyerang kesatria perak. Dia menusukan belatinya pada celah diantara helm dan baju zirah. Alan merasakan rasa menusuk daging lunak dan itu membuat Alan lega. Dia khawatir kalau kedua kesatria ini merupakan zirah tanpa tubuh fisik yang hanya dikendalikan oleh roh. Untung saja kesatria itu sams seperti dia, punya daging, darah, dan tulang.
Sekarang, Alan juga menggorok leher kesatria emas. Kini, kedua kesatria itu tidak bernyawa. Alan tidak menyia-nyiakan waktu, dia langsung mengambil halberd dan pedang itu. Dia takut jika dia segera dipindahkan sebelum bisa mengambil kedua perlengkapan itu. Dia juga mengambil sabuk perlengkapan dari kesatria emas yang berisi pisau lempar. Kini dia merasa lebih puas karena dia punya senjata memadai.
Tiba-tiba, dunia disekitar Alan berubah menjadi debu, dan berganti lagi. Kini, dia berdiri ditengah-tengah sebuah arena berbentuk lingkaran yang cukup luas. Arena tersebut berada di puncak gunung dengan kabut tebal yang mengelilingi tempat itu. Alan langsung penasaran dengan lawan kali ini. Dia juga mengecek layar statusnya, melihat ada perkembangan atau sama saja.
[Nama:Alan Lexius
Umur:18
Level:295
Job:-
Title:-
Statistik:
MP:7.900
ATK:3990
AGI:2007
VIT:2888
INT:3950
DEX:2445
LUCK:240
Point:0
Active Skill:Locked
Passive skill:Locked
Equipment:
-Halberd
-sword
-Dagger
Inventory:
-Throwing knive]
Alan seketika terkejut setengah mati, status saat ini merupakan status miliknya saat ini.
Bukannya senang, dia malah mengernyitkan dahinya. Dia punya perasaan tidak enak.
'Lawan seperti apa yang akan aku hadapi sampai statusku pun kembali seperti semula?'
Langkah kaki tiba-tiba terdengar saat Alan sedang merenung. Alan seketika melihat kearah depan dan betapa terkejutnya dia melihat sosok didepannya. Namun, dia segera menjadi tenang dan tau alasan mengapa statusnya kembali.
Lawannya kali ini adalah, Alan Lexius.