
Johan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Atau mungkin, dia memilih untuk tidak percaya.
Pemandangan yang dia lihat disampingnya terasa seperti di slow motion. Johan pun tak dapat bereaksi. Tubuhnya membeku melihat Alan yang dengan lambat dan perlahan mulai jatuh kebelakang.
Darah muncrat dan mengalir dari dahinya. Sebuah jarum tajam yang entah darimana, menusuk tepat di dahinya.
Tubuh Alan akan segera menabrak tanah. Tapi, tubuhnya berhenti bergerak. Bukan karena waktunya berhenti. Itu karena tubuhnya memang berhenti jatuh.
Tangan Alan kemudian secara perlahan meraih jarum yang menempel di dahinya, menariknya keluar, dan mencengkeram jarum itu hingga hancur. Tubuhnya perlahan bangun, kulitnya yang berlobang perlahan tertutup.
Master Labirin bertepuk tangan dengan meriah, seolah dia barusan melihat pertunjukan yang luar biasa. Sedangkan Johan, dia tidak bisa tidak menganga.
Banyak pertanyaan masuk di kepalanya. Yang paling utama adalah, bagaimana cara Alan melakukan itu?
"Seperti kata Necromancer, kau punya kemampuan yang merepotkan." Kata Master Labirin sambil terkekeh.
"Kalian berdua bajing*n. Jadi kau disini untuk mengincarku, huh?"
Master labirin menggeleng, " kau salah, Alan. Bukan kamu, tapi dia." Master labirin menunjuk Johan.
"Hmmm?" Alan segera melihat kearah Johan yang juga kebingungan.
"Apa maksudmu?" Johan bertanya dengan kebingungan yang tidak dapat dijelaskan. Dalam pikirannya, dia merasa dia tidak memiliki sesuatu yang spesial, kecuali Seraphim.
"Tidak mungkin aku memberitahu mu sekarang kan? Itu bukan surprise namanya!"
DOR!
Suara tembakan nyaring dan menggema diseluruh ruangan. Suara itu disebabkan oleh Alan yang menembakkan peluru revolver. Sayangnya, peluru itu tidak mengenai target. Master labirin berhasil memiringkan kepalanya dengan cepat.
"Serangan sembunyi-sembunyi itu tidak baik, loh!"
"Bacot!"
Alan langsung menyerang dengan ganas. Bukan dari depan, tapi dari belakang.
"Kata Necromancer, kau punya kemampuan yang aneh, salah satunya adalah teleportasi."
Alan berniat untuk meninju kepala Master labirin hingga hancur, tapi malah berakhir meninju udara kosong.
"Sangat tertebak, Alan."
"Oh ya?"
Master labirin bertanya-tanya darimana kepercayaan diri Alan berasal. Tiba-tiba, instingnya memberitau kalau dibelakangnya berbahaya.
Kini giliran Johan yang menyerang. Lagi-lagi, serangan Johan juga mengenai udara kosong.
"Tch!" Karena kesal, Alan menyerang secara membabi buta. Alan mulai mengeluarkan kemampuan Houman. Mulai dari tubuh karet, tubuh besi, dan sebagainya.
"Unik, sangat unik!" Semua telah dikerahkan. Tapi, master labirin tidak terkena satupun serangan dari mereka berdua. Malahan, dia makin bersemangat.
Disisi lain, Alan ingin mengerahkan kemampuannya yang sebenarnya. Tapi, dia tidak bisa karena keberadaan Johan. Dia tidak bisa menanggung semua pertanyaannya.
"Sudah dengan main-mainnya? Giliranku belum nih." Ucap Master labirin.
"Silahkan saja, brengs*k!" Alan berkata dengan kesal.
Tiba-tiba, Alan menyesal karena mengatakan hal itu. Dinding-dinding labirin mulai bergerak sejadi-jadinya. Dinding-dinding labirin berputar-putar selayaknya tornado, mengelilingi Master labirin.
"Sialan!" Pengelihatan Alan seketika terganggu. Menggunakan [Eyes of Sage], Alan tidak menemukan Master labirin. Alan tiba-tiba merinding, dan mengayunkan tangannya kebelakang. Sayang, ayunan tangannya mengenai dinding yang melayang disebelah wajah Master labirin.
Disitulah, Alan menyadari kalau dia sudah tamat. Tangannya dikunci oleh batu-batuan yang beratnya tidak dapat Alan tanggung.
Mendadak, Alan jatuh ketanah. Gelombang tercipta karena berat yang terlalu.
Sedangkan Johan bisa bergerak bebas dilangit-langit berkat teknik [Guardian of South, Suzaku:Fiery Feathers]. Johan dapat memijak apapun, bahkan udara kosong sekalipun, dan area yang dipijaknya akan meledak.
Johan dengan gesit dan cepat menghindar. Kemudian Johan melesat dengan kecepatan tinggi menuju kearah Master labirin. Tapi, itulah yang Master labirin inginkan.
Meski cepat, Johan diserang dari berbagai arah. Tubuhnya diselimuti oleh batu-batuan yang berat, lebih berat daripada Alan.
Akhirnya, Johan pun terjatuh.
"Haha, gimana rasanya bro?" Tanya Alan yang hanya bisa berbaring pasrah secara tengkurap.
Johan pun tidak bisa apa-apa. Dengan sia-sia, dia mencoba melepaskan diri.
"Akhirnya lalat-lalat ini diam juga. Agak mengecewakan karena hanya sebatas ini yang bisa kalian lakukan."
Master labirin berjalan kearah mereka berdua. Ditangan kanannya, terbentuk sebuah jarum raksasa yang diarahkan pada kepala Alan. Sedangkan tangan kirinya, terbentuk ratusan jarum yang kecil, diarahkan pada kepala Johan.
"Ada kata-kata terakhir?"
"Sial*n." Alan berkata dengan lirih. Dalam pikirannya, dia berpikir ingin memanggil salah satu dari lima iblis agung. Johan juga sama, ingin mengeluarkan kartu 'truf' miliknya.
Tapi, keduanya terhenti karena tiba-tiba ada suara retakan. Termasuk Master labirin, ketiganya melihat kearah langit-langit. Sedikit demi sedikit, tercipta retakan. Akhirnya semakin membesar dan membesar.
PRANG!
Langit-langit labirin pecah, menampakkan langit-langit cerah dari luar. Ketiganya tercengang melihat pemandangan itu. Ditambah lagi, terlihat seorang manusia;seorang wanita dewasa yang berdiri dengan angkuhnya.
Alan menatap wanita dewasa itu dengan tidak percaya, "Li-Ling Hua!?"