
"Woah, akhirnya..."
Benar-benar, Akademi ini sangat-sangat luas. Layaknya istana pada zaman kerajaan, Akademi ini dibangun dengan struktur yang rumit, kokoh, luas, berliku-liku, dan berfasilitas lengkap.
Berapa ya kira-kira, harga yang dibutuhkan untuk membangun Akademi tingkat tinggi ini?
Aku benar-benar penasaran. Bahkan, fasilitas pelatihannya tidak hanya satu. Satu fasilitas saja mempunyai ukuran yang cukup besar.
Melihat sekeliling Akademi, aku benar-benar tidak bisa tidak takjub. Apalagi setelah melihat fasilitas pelatihannya yang super besar.
Nah, saatnya untuk melihat dan mempelajari keterampilan mereka semua. Latihan sekarang adalah latihan yang menyenangkan untuk dilihat. Latihan kali ini adalah lomba lari. Bukan lomba lari biasa, tapi kita diberi sebuah games. Games pertama adalah melompati platform yang melayang dan jangan sampai jatuh ke air. Games kedua adalah Melewati jembatan sambil ditembaki oleh peluru karet yang cepat. Ketiga ada melewati berbagai jebakan mematikan dari berbagai arah. Kemudian, ke-empat, adalah tantangan matematika, penantang tidak akan bisa lewat tanpa menjawab pertanyaan yang sulit itu.
Terakhir, tantangan ke-lima, adalah melawan tiga manekin yang mempunyai teknik bertarung tingkat tinggi. Benar-benar seru. Aku jadi ingin ikut. Tapi, aku akan memperhatikan mereka dulu.
Pertama-tama, ada Zoel. Zoel adalah seorang Blood Hound, atau seseorang yang haus darah, singkatnya begitu. Dia sudah berada di job kedua, tapi itu bukan ancaman bagiku. Dia adalah orang yang mudah marah, suka bertarung, bodoh, dan sangat mudah untuk diprovokasi. Dikenal kejam dan sering memukul orang tanpa alasan jelas, dia memang terlihat seperti preman-preman yang ada pada cerita-cerita dimana protagonis awalnya dibully. Yang membedakannya (atau kesamaannya?) adalah mereka itu kaya. Ibunya Zoel itu orang penting.
Tapi, siapa takut? Aku punya Ling Hua sebagai Backup. Jadi, aku bisa berbuat sesuai rencanaku.
Kemudian ada Via. Sama seperti Zoel, dia sudah mendapatkan job kedua. Job kedua Via adalah Shield Maiden. Meski nama Jobnya seperti itu, tapi kemampuan berpedangnya sangat baik. Teknik berpedang yang elegan, dan job yang fokus pada skill defensif yang menyebalkan. Jika musuh tau akan hal itu, mereka akan kesal. Tapi aku punya penangkalnya. [Absolute Punch] adalah skill yang berguna melawannya. Tapi tentu aku tak akan menggunakan itu padanya, selama Via tidak menghalangi tujuanku, tentu.
Tapi, mengingat Via adalah tanker yang potensial, mungkin bisa menjadi keuntungan sendiri bagiku. Aku akan memperhatikan Via kedepannya. Jika berguna, maka aku bisa membawanya ke sisiku. Jika tidak, maka aku akan membiarkannya. Jika Via menghalangiku, aku akan menekannya sampai dimana aku tidak punya cara lain selain menyingkirkannya.
Sama seperti Zoel, Via juga adalah anak dari konglomerat dan bisa dikatakan kalau ayah Nusa dan ayah Via itu sahabat karib. Begitulah dari yang ku tahu. Bagaimana aku tau? Karena aku sudah mencari-cari tentang mereka. Tidak mungkin aku tidak mencari tahu kan? Dengan bantuan Ling Hua, aku bisa tau latar belakang keluarga mereka. Tapi tidak semuanya.
Kemudian, anak-anak yang lain tidak kalah hebat, seperti Risse ataupun Grace. Memang mereka masuk dengan orang dalam, tapi mereka punya kemampuan. Kemudian Naya, Nero, Zyloen, Gono, Leora...
Kemudian, sama untuk Johan. Aku tidak tau apa jobnya, statusnya juga tinggi. Apalagi, status Lucknya. Sial, dia berhasil membuatku iri. Tulisan dari job miliknya disamarkan. Tidak seperti Eli yang hanya kata bagian belakang saja. Dia berada di tantangan ke-empat. Sepertinya dia kesulitan.
Kemudian, Alex, Norga, dan Cindy. Mereka berada di tantangan ke-tiga. Mereka sedang kesulitan sepertinya.
'Welp, kalau aku disini terus, aku sepertinya akan kebosanan. Lagipula, aku sudah menganalisis keahlian dan kekurangan mereka. Jadi, sekarang aku bisa bersenang-senang.'
Aku beranjak berdiri dan berjalan pada Pak Arton yang sedang melihat para murid dengan ekspresi datar. Pak Arton kemudian melihatku dengan tatapan yang malas.
"Pak Arton, apa aku boleh bergabung?"
Pak Arton sedikit menaikkan alisnya. Pak Arton pasti bingung, kenapa aku ingin ikut. Padahal, aku sudah diberi kesempatan untuk melewati jam pelajaran ini. Alasanku simpel, aku ingin bersenang-senang.
"Kau yakin?"
"Yap!"
Pak Arton sepertinya tidak terlalu tertarik dan kemudian melirik kearah anak-anak yang lain lagi. Dia kemudian berkata, "jika kau mau, terserah. Aku tidak peduli juga."
Buset, orang ini ... tidak punya rasa kasihan huh? Kalau begitu, akan ku tunjukan.
Akan kuperlihatkan bagaimana caraku bertarung.