The Slayers

The Slayers
Chapter 128 (Season 3)



Alan mengalami hal yang sangat sulit, yaitu melawan dirinya sendiri. Dia tidak tersudut, tapi dia juga tidak unggul. Sudah sekitar satu jam dan mereka masih seimbang. Hanya satu hal yang membuat Alan lega. Skill seperti [Crazy will], [First Aid], beberapa sub skill dari Houman Martial Arts dan Aura Martial Arts serta senjata yang ada di Abyssal Glove tidak bisa dipakai demi keseimbangan.


Tetap saja, mereka adalah orang yang sama. Mereka saling memprediksi serangan satu sama lain dengan tepat. Stamina mereka pun tidak ada habisnya.


"Menyerahlah!"


"Tidak akan!"


Mereka saling meneriaki satu sama lain. Tidak ada yang mau menyerah. Dua-duanya saling melukai satu sama lain. Hingga akhirnya, Doppelganger Alan memakai gerakan yang tidak terduga.


Doppelganger Alan menahan ujung lancip Halberd milik Alan dengan kedua tangannya. Kemudian, dari gerakan tangannya yang lembut seperti udara, Alan sadar kalau Doppelganger nya sedang berniat untuk mengendalikan tombaknya supaya menciptakan celah. Maka dari itu, Alan menarik kembali tombaknya sambil melompat kebelakang. Doppelganger Alan pun seketika tersenyum dan seketika berteriak dengan keras.


"Bodoh!"


"Hah?"


Alan tidak mengerti kenapa dirinya yang lain berkata seperti itu. Tiba-tiba, dia merasa kalau Halberdnya seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata.


"[Territory]!?" Alan kesal dalam hatinya, dia tidak menduga dirinya yang lain akan melakukan hal itu. Dengan terpaksa, dia melepaskan genggamannya dari Halberd itu dan mendarat kebelakang. Sedangkan Halberd berwarna perak tersebut sekarang dipegang oleh Doppelganger Alan. Belum sempat untuk menarik pedangnya, Alan dikejutkan oleh Doppelganger Alan yang tiba-tiba muncul didepannya sambil menggunakan [Elemental Palm strike].


Dengan refleks yang cepat, Alan berhasil berguling kearah kiri. Dia berhasil selamat dari serangan itu. Tidak selesai sampai disitu, Doppelganger Alan muncul secara tiba-tiba dibelakangnya. Alan tidak akan sempat untuk menghindar, jadi dia hanya punya pilihan untuk bertahan. Tapi sayangnya, Doppelganger Alan meluncurkan pukulan yang membuat kedua tangan yang menutupi dadanya remuk, bahkan tulang rusuknya juga ikut retak.


Alan terhempas kebelakang dan keluar dari arena. Namun, Alan ditarik kembali oleh Doppelganger nya sendiri yang kemudian ia dibanting dengan amat keras, menghancurkan lantai arena menjadi berkeping.


"Uhuk! ....Hoek!" Alan memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Tubuhnya bergetar dengan amat hebat. Kedua tangannya bahkan hampir tidak bisa digunakan karena tulangnya remuk.


"[Absolute punch] ya?"


"Benar sekali!"


"Huft.... Sialan...."


Alan dengan susah payah mencoba untuk berdiri. Dengan segenap kemampuannya, dia bisa berdiri, walaupun keseimbangannya agak tidak stabil.


"Menakjubkan, kau masih bisa berdiri dengan badan yang kritis. Memang hebat sekali diriku yang asli!"


"Heh, memang ...."


Alan tidak tau cara apalagi yang bisa ia gunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dia sekarang kehilangan kedua tangannya dan Doppelganger nya punya berbagai skill. Dia berpikir 'apakah aku akan kalah?'


Dia berharap kalau dia akan mendapat keajaiban seperti protagonis dalam anime. Yang punya plot armor super tebal ataupun bantuan dari siapapun itu. Tapi dia tidak mendapat bantuan dalam bentuk apapun.


Namun, menyerah bukan gayanya. Dia adalah orang yang akan mengerahkan segalanya, selama dia masih punya kesempatan. Dia tidak akan berhenti ditantangan ini karena dia sudah bertekad untuk mengulik rahasia menara. Dia akan bertarung dengan instingnya, dan akan selalu seperti itu.


"Hmm?" Doppelganger Alan terkejut karena Alan masih punya tekad yang kuat. Bahkan dia sedang melakukan ancang-ancang untuk melompat.


"Kau mencoba untuk bertarung? Hanya dengan kakimu?"


"Heh, lihat saja, kemampuan dari yang asli!"


Dengan kecepatan, presisi, dan kekuatan yang tinggi, Alan tidak memberikan kesempatan pada Doppelganger nya untuk menyerang. Ini membuat Doppelganger Alan terpaksa mengaktifkan [Bloodlust claw]. Alan menebak hal itu akan terjadi dan menepis kedua tangan Doppelganger nya. Alan kemudian mendorong dirinya yang lain dengan kedua kakinya. Doppelganger nya pun terhempas jauh. Alan tidak berhenti sampai disitu.


Dia segera menyusul ketempat Doppelganger nya terhempas dan melompat seperti hewan buas. Doppelganger nya pun terkejut, dan bersiap untuk serangan dari dirinya. Namun, serangan yang dilakukan oleh Alan tidak pernah diduga olehnya.


"Aaaaarghhhhhhhhhh!"


Alan menggigit leher Doppelganger nya dengan buas dan menariknya hingga kulit beserta dagingnya robek. Daging merah dengan darah yang bercucuran terlihat jelas, bahkan masih terlihat meski sudah ditutupi oleh Doppelganger Alan.


Alan lagi-lagi belum berhenti. Dengan kuat, dia menendang wajah Doppelganger nya yang secara tidak sengaja mengenai mata kanannya. Doppelganger Alan langsung terjatuh ketanah karena kesakitan yang dialami. Alan yang melihat itu merasa tidak puas. Dia pun berniat untuk melakukan sesuatu yang buruk, sangat buruk.


"Hei hei hei! Kau boleh menginjak yang lain, jangan yang itu!" Protes Doppelganger Alan dengan ngeri.


"Maaf bro, tapi aku tidak akan puas jika aku menginjak yang lain."


"Tidak! Jang- AAAAAAKHHHHHHHH....."


Mungkin bagian ini tidak harus dijelaskan. Tapi yang pasti, itu adalah hal yang sangat buruk. Bahkan Alan sendiri merasa ngeri melakukan itu. Bagaimanapun, Alan sudah menginjak-injak Doppelganger nya berulang kali hingga tidak bernyawa.


Dia kemudian dipindahkan ketempat yang lumayan indah. Dia berada dipadang rumput yang membentang luas dengan sedikit pohon yang tumbuh disekitar. Dia penasaran, musuh apalagi yang akan menunggunya.


Tetapi, entah kenapa dia merasakan sesuatu yang tidak enak. Dia merasa kalau musuh yang datang kali ini adalah musuh yang tidak ingin dia hadapi seperti waktu itu. Alan hanya bisa berdoa supaya musuh yang dia hadapi tidak lebih buruk dari Succubus. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara yang menggodanya.


"Hei tampan, kau menunggu kami?" Suara itu bukan suara perempuan, tetapi suara laki-laki.


"Oh astaga, jangan bilang-"


Doanya tidak terkabul, malahan, dia bertemu dengan mahluk yang lebih buruk daripada Succubus.


Dihadapannya, ada tiga sosok, 2 laki-laki dan satu perempuan. Laki-laki yang nampaknya merupakan pemimpinnya menatap Alan dengan penuh nafsu.


Kali ini, dua Incubus dan satu Succubus. Apa yang bisa lebih buruk daripada ini? Jika Succubus adalah iblis wanita yang penuh nafsu, Incubus adalah lawan jenisnya. Yang tidak lain adalah Iblis pria dengan nafsu tak terbendung.


"Dari semua monster-monster bermuka jelek, kenapa harus kalian!?"


"Aduh! Apakah kau sadar kalau ucapanmu melukai hati kami yang lembut ini? Kami disini untuk memberimu sebuah kenikmatan yang tidak akan bisa kau rasakan didunia manusia, jadi kau harusnya senang dengan kedatangan kami!" Ucap Incubus yang berada ditengah dengan senyum yang cemerlang.


Alan tidak bisa berkata apa-apa. Ekspresinya menjadi gelap secara cepat. Namun, dia segera tersenyum. Dia kemudian menyiapkan kuda-kuda, sambil meletakkan tangannya digagang pedang.


"Hei, kau yang ditengah."


"Hmmm?"


"Kau bilang ingin memuaskan hasrat duniawi ku kan?"


"Benar sekali!"


"Kalau begitu," Alan semakin memantapkan kuda-kudanya dan menggenggam gagang pedangnya. Dengan ekspresi nya yang tersenyum ramah, disertai dengan urat disekujur tubuhnya, dia berkata dengan sangat tenang. "Mari kita 'beradu pedang' dan melihat kau bisa memuaskan diriku atau tidak."