The Slayers

The Slayers
Chapter 110 (Season 3)



"Hoeeekk, uhuk... Cuih, naga sialan." Setelah muntah darah, Alan mengutuk naga putih didepannya yang sudah tak bernyawa. Mayatnya terbaring dengan leher yang sudah tergorok, sayap yang robek, dan kuku tajam yang copot dan tertancap di tubuhnya sendiri.


Alan mengambil beberapa botol high health potion dan meminumnya hingga kondisi tubuhnya pulih.


Sesudah itu, dia membuang vial yang kosong dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.


Pertarungan sengit antar Alan dan naga putih benar-benar dahsyat. Alan terluka sangat parah dan harus mengeluarkan hampir semua kemampuannya.


Tapi dia mendapat reward yang bagus, yaitu sebuah sisik naga yang mampu memunculkan angin ****** beliung.


Pertarungan di lantai 41-45 berfokus pada pertarungan dilangit, itu membuat Alan kerepotan, tapi untungnya dia bisa melayang diudara akibat seruling yang dia dapat dari mengalahkan bos lantai 40.


Lantai 31-40 merupakan lantai yang musuhnya merupakan arwah jahat, mereka tak bisa dikalahkan dengan serangan fisik.


Boss utama merupakan arwah jahat yang memakai seruling. Alan benar-benar kerepotan melawannya, efeknya benar-benar luar biasa.


Seruling itu disebut sebagai [Flute of control]. Seruling itu dapat mengontrol alam, emosi, dan pergerakan lawan. Tapi, jika pemakainya salah memainkan nada sedikit saja, efeknya akan berbalik pada pemakainya.


Sebagai orang yang tidak bisa bermain alat musik, Alan sangat kesusahan dan berulang kali terkena efek dari seruling itu, tapi dia akhirnya bisa memainkannya.


Alan berpikir, ada lima belas lantai lagi yang harus dia selesaikan, kira-kira, apa yang akan dia dapatkan? Memikirkan itu, dia langsung bersemangat. Tapi, jika lawannya sekarang adalah naga, bagaimana dengan lantai 51-60? Itulah yang mengganggu pikirannya. Dia berteori jika dia akan melawan para raksasa, itu akan menjadi keren.


Dia mengakhiri penyerangannya dan kembali kedunia asal.


***


"Hahh... hahh..."


"Tch, kuda-kuda ini punya masalah apa sih!?" Norga protes dengan keras, mereka sedang dihadang oleh kuda-kuda iblis yang lebih tinggi levelnya.


Banyak sekali kuda dan serigala yang bertebaran, membuat mereka sangat kesusahan. Terutama kecepatan mereka yang membuat Alex dan Norga kewalahan.


"Hey, Norga, bagaimana jika kau melakukan gerakan akrobatik lagi?"


"Hah!? Tidak! Kau sudah gila kak!?"


"Kau sudah naik level, mungkin kali ini bisa! Kita harus mengepung mereka dari dua arah."


"...awas jika tulangku patah lagi."


Norga dengan berat hati menyiapkan ancang-ancang untuk melompat. Alex sudah mempersiapkan punggungnya sebagai pijakan.


Bersamaan dengan para kuda yang melaju, Norga berlari kencang dan melompat kepunggung Alex. Dia menginjak punggung Alex dan melompat lagi, kali ini lebih jauh. Dia mencoba berputar diudara dan mendarat.


Dia tidak berharap bisa mendarat dengan mulus, tapi dia melakukannya.


Dia mendarat dengan mulus, kedua kakinya menginjak tanah dengan sempurna, rasa itu membuat dirinya tak percaya dan membeku. Tapi Norga segera sadar jika dia harus menyerang dari belakang.


Alex sempat takjub dengan Norga, tapi disadarkan oleh para kuda yang mendorong Alex.


Untungnya, sebelum Alex kehilangan keseimbangan, Norga meloncat kearah kumpulan kuda bertanduk dan berputar seperti tornado sambil mengayunkan palu gandanya. Serangan membabi-buta itu membuat kerumunan kuda terpecah.


Berkat itu, Alex bisa bertahan, dia ikut menyerang dengan membabi buta. Pada akhirnya, mereka menang.


"Fiuh, selesai juga.... Kita belum bertemu boss monster, kira-kira ada dimana?" Kata Norga sambil duduk ditanah, bernafas dengan berat.


"Mungkinkah serigala raksasa tadi boss monster nya?"


"Mungkin, bisa jadi."


Untuk saat ini, mereka hanya bisa bertemu dengan monster biasa, tapi itu tidak membuat mereka kecewa, mereka sendiri senang karena bisa menaikkan level mereka, bahkan sampai level 100!


"Oh ya, ngomong-ngomong, kapan kita masuk sekolah?" Tanya Alex, dia sudah beberapa hari tidak masuk sekolah.


"Mana kutahu, yang pasti aku tidak mau masuk sekolah."


"Hah!? Kenapa?"


"Kenapa? Ya karena membosankan."


"...kau akan dihabisi oleh kakak sepupumu nanti."


"Benar juga ya..."


Norga kemudian kembali berdiri, dia membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya.


"Kita tanya saja kak Alan nanti."


Alex mengangguk, dia kemudian menatap langit, dan kemudian pergi berjalan diikuti dengan Norga.


Mereka berjalan entah kemana, karena memang mereka hanya ada dihutan belantara, tanpa peta, tanpa papan tanda penunjuk, dan hanya pohon beserta rumput.


Tapi akhirnya, mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa. Serigala raksasa yang mereka temui sedang bertarung dengan kuda bertanduk. Tapi kuda bertanduk itu tidak seperti yang mereka temui sebelumnya, lebih ganas, tanduknya lebih tajam, ukurannya jauh lebih besar, dan setiap hentakan kakinya membuat tanah retak.


Selain itu, mereka melihat seekor anak serigala yang ketakutan, bersembunyi agak jauh dari area pertarungan.


"Kuda itu, boss monster!"


"Akhirnya!"


Mereka berdua bersemangat karena telah bertemu dengan boss monster, tanpa berpikir panjang, mereka maju untuk melawan boss monster.


Serigala dan boss kuda menyadari kehadiran mereka, tapi kuda itu tidak terlalu memikirkannya dan masih fokus untuk menyerang serigala. Sedangkan serigala raksasa itu bingung harus bagaimana. Disatu sisi ada Kuda yang berbahaya, dan satunya lagi ada dua manusia yang bisa mengancam anaknya.


Serigala itu salah sangka, kedua bocah itu bukan musuh, tapi teman. Alex dan Norga maju dengan sangat cepat dan melompati serigala raksasa untuk langsung menyerang kuda itu.


Tentu, kuda itu menghindar dengan gesit dan menyerang balik. Norga berhasil menghindar dan Alex berhasil bertahan, tapi serangan itu sangat kuat hingga tangan Alex kebas. Tubuhnya juga terdorong agak jauh.


Saat itu, sang serigala mengambil kesempatan itu untuk menyerang si kuda. Kuda itu terkena cakaran dan berteriak sambil menjauh.


"Bagus!"


Serigala itu menatap Alex dan Norga, untuk saat ini dia menganggap mereka berdua sebagai sekutu.


Kuda itu menghentak-hentakkan kakinya, membuat tanah bergetar dan retak. Kuda itu kemudian berhenti, bersiap sambil mencondongkan tubuhnya, berniat untuk menerjang Alex, Norga, dan serigala itu.


Alex mengangkat perisainya dan bersiap untuk melindungi Norga ataupun serigala itu. Tapi, segera, kuda itu menghilang dari pandangan Alex. Alex merasakan tubuhnya terdorong sebelum dapat bereaksi, dia terpental jauh hingga menabrak pohon-pohon hingga patah.


Alex segera tak sadarkan diri, dara mengalir keluar dari mulutnya, pegangannya pada ganjur dan perisainya langsung merenggang dan jatuh ketanah.


Norga sendiri telat bereaksi dan melihat kearah Alex, semangat juangnya langsung turun ke titik paling rendah. Dia tak dapat melihat gerakan kuda tadi, benar-benar cepat.


Meski begitu, dia mencoba untuk tetap menyerang kuda itu dengan palunya.


Palunya dia hantamkan kearah tubuh kuda tersebut, tak berasa, rasanya seperti memukul besi yang sangat keras.


"...sial-"


Akhirnya, Norga juga kena sundul....