
"Kau menjadi Beast Rider dengan paksa saat kau menungganginya?"
"Benar."
"Hooo.... Kau tau artinya itu?"
"...tidak tau."
"Itu artinya, Direwolf itu memilihmu sebagai 'partner'. Kalian sekarang terikat satu sama lain."
Sekarang, Alan, Alex, dan Norga berdiskusi. Lebih tepatnya, hanya Alan dan Alex. Norga hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Beberapa skill mu pasti memerlukan Lyfa. Dan kau akan mendapatkan efek buff jika menunggangi Lyfa."
"Berarti, aku harus menungganginya setiap saat?"
"Iya, jika kau ingin keuntungan lebih."
Muka Alex langsung menjadi muram. Memang memiliki efek yang bagus, tapi apakah dia harus menunggangi Lyfa terus menerus?
Dia sendiri merasa aneh saat menunggangi Lyfa. Itu karena dia baru pertama kali menunggangi seekor hewan. Saat diportal, entah apa yang membuatnya bisa menyeimbangkan diri secara tiba-tiba.
Tapi, yang pasti Alex tidak punya pengalaman mengendarai hewan, apalagi binatang buas seperti Lyfa.
"Kau jangan khawatir, kau pasti punya pasif skill untuk mengendarai hewan buas."
Alex terkejut, bagai-
"Gak usah heran, memang begitu cara kerjanya kan? Kau ubah job, kau dapat skill eksklusif."
Kalau dipikir-pikir, memang masuk akal juga perkataan Alan.
Saat Alex cek, skill pasifnya sangat banyak seperti [Riding mastery], [Lance mastery], [Beast bond], [Switch mode], [Animal language], [Shared instinc], dan [Mystic direwolf body].
Alex melihat skill [Mystic direwolf body] dan tertarik untuk mengeceknya, tapi setelah melihat deskripsi skill nya, dia jadi kecewa dan jijik.
"Nah sekarang..."
Alan sekarang menatap Norga yang sejak tadi hanya bengong. Norga sejak tadi hanya menatap kelayar hologram dengan tatapan kosong.
Melihat itu, Alan menepuk pundak dan menyadarkan Norga dari lamunannya.
"Jadi, kau dapat Job berseker?"
"...ya, aku mendapatkannya..."
Tidak sesuai harapan, Norga tidak terlalu bersemangat dan malah lebih seperti kebingungan.
"Job apa saja yang kau dapatkan?"
"Ehm, ada warrior, berseker, barbarian, Hammer man..."
Job yang disebutkan oleh Norga semuanya kelihatan masuk akal, apa yang membuatnya bingung? Begitu pikiran Alan. Pertanyaan itu segera terjawab dengan job terakhir yang disebutkan.
"...dan Blacksmith..."
"Tunggu, apa??" Alan langsung terkejut dengan job terakhir yang ada. Norga pun tidak berbohong saat ini, dia benar-benar mendapatkan pilihan job Blacksmith.
"Hah? Blacksmith?" Alex juga ikut terkejut dengan hal itu.
"Jadi kau kebingungan karena kau mendapatkan pilihan job Blacksmith?"
Norga mengangguk, membuat Alan menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu sih, abaikan saja. Job impianmu sudah ada didepan mata toh? Tinggal pilih saja."
"Tapi..."
"Tapi apa? Kau ingin jadi Blacksmith juga?"
"Iya..."
Segera, ruangan mulai dipenuhi oleh keheningan. Jawaban tidak terduga Norga membuat mata Alan melotot, matanya terlihat hampir mau keluar.
"Kau mau jadi Blacksmith!? Tapi sejak awal kau hanya menyebutkan ingin jadi berseker?"
Norga menggaruk-garuk kepalanya sebentar dan dengan senyum polos, dia berkata "I-itu karena aku kira aku tak akan bisa mendapatkan job Blacksmith, tapi sekarang malah muncul didepan mata."
Alan menepuk jidatnya dan mengusap-usap mukanya. Dia sudah tak bisa berkata-kata.
"Kalau begitu, kenapa kau ingin menjadi Blacksmith?"
'Hmmm, alasan yang sederhana.'
"Jadi, kau ingin jadi Blacksmith atau Berseker?"
"Sekarang, aku ingin jadi Blacksmith. Tapi, aku juga kurang yakin kalau aku bisa menjadi Blacksmith yang baik."
"Heh, coba kau lihat kakakmu ini."
Norga melihat Alan, memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"Apa job kakakmu ini?"
"Alchemist."
"Job macam apa Alchemist itu?"
"Errr, job pembantu?"
Sebenarnya, jawaban dari Norga merupakan sebuah fakta. Alan pun sebenarnya tak menyangkal hal tersebut. Tapi, tanpa sadar tangannya mengepal dan ingin meninju muka Norga segera.
Beruntung bagi Norga, Alan bisa mengendalikan emosinya dengan sangat baik.
"Huft, kau tidak salah. Tapi, sebutan yang lebih tepat adalah job produksi. Kami, para orang yang memilih job produksi membuat sesuatu sesuai keahlian kami dan membantu orang-orang."
"Sekarang, tentukan pilihanmu, pilih Berseker atau Blacksmith, itu semua terserah padamu. Aku hanya melatih dirimu sebisaku dan itupun tergantung dengan Job yang kau pilih."
Setelah itu, Norga melihat layar hologram didepannya dengan seksama, dia seperti melakukan cap cip cup kepada setiap pilihan. Pada akhirnya, dia menggaruk-garuk rambutnya karena bingung.
Alan hanya bisa menghela nafas dan bertanya "Apa lagi yang kau ragukan?"
"Mmmm... Jika aku memilih Blacksmith, apakah aku masih bisa bertarung kak?"
'Oh, ternyata masalah itu.'
Itu adalah pertanyaan yang sangat sulit bagi Alan. Dia belum bisa menjawabnya karena belum pernah melihat seorang Blacksmith bertarung.
Untuk orang dengan job produksi, rasanya seperti keajaiban jika punya keterampilan bertarung. Mengesampingkan job fabricator ataupun Alchemist yang bisa bertarung meski tidak secara langsung, job produksi lain tidak bisa bertarung.
Akan mengejutkan jika ada Blacksmith yang bisa bertarung dengan monster. Jika begitu, mungkin Alan bisa menjadikan Norga sebagai yang pertama, tapi apa bisa bekerja seperti yang dia inginkan?
"Hmmm.... Sepertinya sih bisa, tapi itu masih dugaanku." Jawab Alan dengan ragu-ragu.
"Baiklah kalau begitu!"
Mendengar jawaban dari Alan, dia langsung menekan tulisan entah yang mana.
Alan pun terkejut dan bertanya "J-jadi, kau pilih yang mana?"
Alan berharap kalau dia tidak memilih Blacksmith dengan harapan bisa bertarung.
Tapi, takdir suka bertentangan dengan kemauannya.
"Aku memilih Blacksmith!"
"A-alasannya?"
"Seperti tadi, aku ingin membuat senjata yang super keren dan kuat!"
"Oh, baguslah..."
Alan merasa lega atas jawaban dari Norga yang mana jawabannya bisa diterima.
"Dan... Dengan bimbingan kak Alan, aku bisa menjadi Blacksmith sekaligus petarung kan?"
Tapi ternyata tidak, Alan salah kalau merasa lega sekarang.
"Hei, aku bilang itu masih dugaan, bukan beneran!"
"Tapi, melihat kak Alan yang bisa bertarung, bukankah itu tidak mustahil bagi kak Alan?"
"A-"
Alan menghentikan omongannya dan berpikir sekali lagi. Mereka menjadi Special dengan cara yang tidak biasa, harusnya mereka tidak terlalu terikat aturan, kan? Begitu pikiran Alan. Lagipula akan keren jika dia melatih seorang Blacksmith yang bisa bertarung dimasa depan. Memikirkan itu membuat dirinya lumayan bersemangat.
"Haah~, mau bagaimana lagi... Besok kita akan langsung latihan!"
""Baik!""