
"Bagaimana bisa ...."
Ini tidak pernah kuduga sama sekali. Kenapa tiga bersaudari pengendali takdir dari mitologi nordik ada di sini? Apostle mereka ada di Indonesia, kenapa begitu? Apakah ini sebuah takdir untuk bertemu dengan mereka?
Banyak pertanyaan yang timbul dalam kepalaku. Tentunya itu tidak akan terjawab semua. Kehadiran mereka seperti keajaiban yang tidak akan pernah terjadi.
Nornir, 3 bersaudari yang menentukan takdir manusia dan bahkan dewa. Urd yang merepresentasikan takdir, Verdandi yang merepresentasikan masa sekarang, dan Skuld yang merepresentasikan masa depan.
Saat kepalaku sedang dipenuhi dengan banyak pikiran, muncul layar hologram yang membuatku tenang secara terpaksa.
[Tenanglah, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya sekedar menyapamu.]
Menyapaku? Untuk apa? Kuyakin ada alasan lain.
[Kami akan menitipkan avatar kami padamu, rawat mereka dengan baik.]
Tanpa basa-basi, serius? Hanya itu yang mereka mau?
Suasana kemudian kembali seperti semula. Seperti tidak terjadi apa-apa, anak-anak itu kembali menatapku dengan tatapan imut mereka.
"Kau kenapa tadi kak?" Norga tiba-tiba bertanya padaku. Aku yang belum bisa mencerna apapun sedikit kaget.
"Kakak tadi kelihatan sangat berbeda." Alex juga menambahkan.
"T-tidak apa-apa, aku tadi hanya ... Halusinasi, efek kecapean." Dengan ngelantur, aku berharap mereka percaya.
""Oohhh."" Mereka mengangguk secara bersamaan.
Huft, untungnya mereka percaya. Cindy juga tidak bertanya-tanya tentang apapun, untungnya.
Setelah itu, Cindy mengucapkan selamat tinggal karena dia harus pulang. Sebagai cowok yang baik hati, Alex menawarkan diri untuk mengantar Cindy. Awalnya Cindy menolak karena takut merepotkan Alex, tapi Alex tulus dengan perkataannya dan akhirnya Alex mengantar Cindy pulang dengan Lyfa.
Sekarang, hanya ada aku dan Norga yang sedang bermain-main sedikit dengan si tiga kembar Klaria. Sementara itu, aku sedang berpikir.
'Aku harus menambah asuhan lagi? Aku sudah mengangkat Alex dan Norga sebagai adik, dan sekarang aku harus mengurus tiga anak perempuan kembar. Kalau laki-laki, aku masih bisa, tapi kalau perempuan, aku angkat tangan. Lagipula, anak-anak butuh lebih banyak perhatian.'
"Nissa, Ella, Riria, kesini sebentar."
Aku memanggil tiga bersaudari yang sedang bermain dengan Norga. Mereka langsung berjalan kearahku.
"Pertama-tama, kalian saudari kandung?"
Ketiganya mengangguk. Memang mereka kembar sih, terbukti dari wajah mereka yang serupa. Tapi anehnya, kenapa warna rambut Riria paling unik sendiri? Warna matanya pun paling unik, yaitu biru berlian.
"Berapa umur kalian?"
Sesuai dengan perkiraanku, mereka masih sangat kecil. Benar-benar, mereka tega sekali melakukan hal kejam pada anak umur enam tahun.
"Dimana orang tua kalian?"
Pertanyaan ini sepertinya agak sensitif, tapi aku tanyakan saja. Perkiraanku, orang tua mereka sudah meninggal.
"Ayah dan ibu sudah beristirahat." Riria menjawab dengan cepat. Nissa dan Ella hanya menunduk sedih. Ella bahkan sudah mengeluarkan air mata.
"Baiklah, maaf ...."
"Kalau begitu, pertanyaan terakhir, siapa yang paling tua, dan siapa yang paling muda?"
"Aku paling pertama!" Nissa langsung mengangkat tangannya.
"Aku kedua." Ella kemudian mengangkat tangannya setelah Nissa.
"Aku yang paling muda." Riria mengangkat tangan setelahnya.
Meski Riria yang paling muda, tapi Riria yang paling tenang dan pendiam. Kalau Nissa itu lebih energik dan ceria, sedangkan Ella itu pemalu dan cengeng.
"Baiklah kalau begitu, mari kita bersihkan diri kalian terlebih dahulu."
Tak perlu pergi ketoilet dan memandikan mereka, aku tinggal menggunakan vial berisi air dan itu bisa menghilangkan bekas luka serta kotoran di tubuh, praktis bukan?
Mereka langsung takjub dengan itu. Mereka menyuruhku untuk menunjukkannya lagi. Kemudian, aku langsung menunjukkan beberapa trik.
Mereka akhirnya bersenang-senang dan mengantuk. Jadinya, mereka tertidur di sofa. Aku langsung menggendong mereka bertiga ke kamarku. Terima kasih pada sub skill [Rubber body.]
"Baiklah, Norga, kali ini, tidurlah di sofa."
"Bagaimana denganmu, Kak?"
"Aku akan tidur di sofa lantai bawah."
"Baiklah kak!"
Aku kemudian pergi, menuruni tangga dan langsung berbaring di sofa empuk. Selagi berbaring, aku memikirkan bagaimana cara mengasuh ketiga gadis kembar. Pusing rasanya memikirkan itu semua. Mereka butuh seseorang yang punya sifat keibuan, mampu mengurus ketiga anak itu, punya waktu luang, dan tentunya bisa melindungi tiga kembar mengingat mereka adalah Apostle dari Nornir.
"Siapa ya ...."
Hmmm, rasanya aku tau siapa yang bisa menjadi pengasuh mereka.
"HeheheheheHAHAHAHAHAHA!!" secara tidak sengaja, aku tertawa kencang.