The Slayers

The Slayers
Chapter 167 (Season 4)



***Disaat yang bersamaan dengan latihan Alan dan kawan-kawan.


"Sedikit lagi ... Sedikit lagi ...."


"[Hati-hati Johan! Fokus dan konsentrasi, jangan biarkan halangan apapun mengganggu mu!]"


Konsentrasi Johan berada dititik yang paling tinggi saat ini. Dalam pikirannya hanya ada satu kalimat, yaitu 'aku tidak boleh gagal!'


Kali ini, dia menuliskan Rune pada pedangnya. Rune kali merupakan Rune penyegel. Sepertinya yang terakhir kali, Johan berencana untuk pergi ke dimensi lain untuk mencari 6 pedang yang tersisa.


Persiapan Rune ini sudah mendekati akhir. Dengan sentuhan terakhir, Johan menyelesaikan Rune pada pedangnya. Johan merasa sangat lega dan menghembuskan nafas sembari menyeka keringat pada dahinya.


Menuliskan Rune pada pedangnya sangat menghabiskan tenaganya. Tanpa bantuan Seraphim, Johan akan menghabiskan waktu sebanyak setengah tahun atau mungkin lebih.


Setelah selesai menulis Rune, Johan terpikir untuk jalan-jalan. Menuliskan Rune sangat menguras tenaganya, oleh karena itu, dia butuh jalan-jalan. Lagipula hari itu adalah hari libur, jadi ini adalah waktu yang tepat.


Tak lupa, dia akan mengajak Grace dan Risse yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Johan sendiri adalah orang yang lebih suka jalan-jalan dengan orang lain. Menurutnya itu lebih menyenangkan. Apalagi kalau itu bersama Grace dan Risse.


Johan beranjak dari kursi dan menyarungkan pedangnya. Ia menyembunyikan pedangnya tepat dibawah kasur. Johan kemudian berganti baju. Saat ini, dia mengenakan kaos berwarna putih dengan corak hijau, celana jeans berwarna biru tua, sepatu kets berwarna hitam, dan tas selempangnya yang diisi dengan dompet, hp, belati, dan charger beserta powerbank. Tak lupa, dia membawa topi berwarna putih. Ia keluar dari kamarnya. Sambil berjalan, Johan menghubungi Grace dan Risse.


Tak perlu waktu lama bagi Grace dan Risse untuk muncul. Risse tampil dengan imut, seperti biasa. Sedangkan Grace, juga seperti biasanya, berpenampilan ala-ala cewek tomboi, meski begitu, tetap menawan tanpa perlu make-up.


"Sudah siap?" tanya Johan pada keduanya.


""sudah!"" serentak keduanya.


"Ayolah kalau begitu."


Ketiganya kemudian berjalan secara beriringan sambil berbincang.


"Kita hari ini mau kemana, Kak?"


"Erm, jujur, aku belum menentukannya. Kalian punya usul?"


Grace dan Risse saling memandang. Mereka tak punya kemampuan telepati. Namun, mereka mempunyai pikiran yang sama.


"Kak, akhir-akhir ini ada satu makanan yang sangat ngetrend. Apa ya namanya? Kentang goreng neraka? Entah apa namanya, tapi aku dan Risse ingin mencobanya!" ucap Grace dengan sangat antusias. Risse pun juga kelihatan bersemangat dengan yang namanya kentang goreng neraka.


Masalahnya terletak pada Johan sendiri. Mendengar kentang goreng neraka membuatnya merinding. Dari namanya saja, sudah menyiratkan kalau makanan itu adalah makanan pedas. Johan tidak suka akan hal itu. Johan adalah orang yang tidak kuat dalam hal makan makanan pedas. Sensasi terbakar dalam mulut baginya tidak enak dan menyiksa. Tapi, karena ini permintaan kedua adiknya, dia tidak bisa menolak.


Johan akhirnya setuju, tapi dia tidak akan makan kentang goreng neraka itu, atau dia akan beneran merasakan neraka.


"Baiklah, ayo!" seru Grace.


Sebelum itu, Johan memanggil transportasi yang disediakan Akademi terlebih dahulu. Transportasi itu bisa dipanggil melalui aplikasi yang dibuat oleh akademi. Siswa dapat membayarnya dengan poin atas jasa tersebut.


Sebelum sempat mengkonfirmasi permintaan, Johan melihat tiga orang yang sedang berdiri digerbang utama Akademi. Yang mengejutkan adalah, ternyata itu adalah teman sekelasnya.


Seorang laki-laki dengan tinggi yang melebihi 190 centimeter lebih, ditemani oleh seekor serigala dipundaknya. Disampingnya ada seorang perempuan yang cantik dan menawan, dengan ekspresi yang polos dan fitur muka yang imut, membuat orang yang melihatnya akan bersedia untuk melindunginya. Terakhir, adalah muka yang suram, dengan rambut jabrik abu-abu yang dikuncir kuda.


Mereka adalah Alex, Cindy, dan Norga yang juga menunggu transportasi. Kedua kelompok itu akhirnya saling berhadapan.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


"Menunggu." Alex menjawab dengan sangat singkat.


"Menunggu?"


"Ya, menunggu seseorang dan transportasi."


"Kutebak, orang itu adalah Alan."


Alex hanya bisa terkekeh. Siapa lagi kalau bukan Alan? Mereka bertiga selalu berkumpul didekat satu orang, selalu mengikuti satu orang, dan selalu berbincang pada satu orang, yaitu Alan.


Itu membuat mereka bertiga sulit untuk didekati, padahal mereka bertiga termasuk terkenal oleh seangkatannya. Alex dikenal dengan keahliannya dalam bertarung, apalagi jika digabungkan dengan serigalanya. Cindy dikenal dengan sosoknya yang lemah lembut dan baik hati, tak lupa kecantikannya yang menawan. Hanya saja, dia susah untuk didekati karena adanya sosok Alex yang selalu bersamanya. Mereka disalahpahami sebagai pasangan kekasih.


Sedangkan Norga, dia tidak terlalu terkenal. Namun, meski wajahnya suram, tapi dia bisa bergaul dengan cepat.


"Ngomong-ngomong, kalian ingin pergi kemana?" tanya Johan.


"Kami ingin mencoba kentang goreng neraka."


"Oh sama dengan kami!"


"Oh baguslah, mau pergi bersama kami?"


Mendengar tawaran itu, Johan tidak mungkin menolak. Namun, dia harus mendengar persetujuan dari kedua adiknya. Johan menoleh kebelakang, melihat Risse yang sudah menganggukkan kepala. Sedangkan Grace, dia terlihat agak enggan, tapi dia mengangguk.


"Kalau begitu, terima kasih ya!"


"Sama-sama."


Johan merasa bisa melakukan pendekatan pada mereka bertiga. Johan merasa mereka adalah orang yang menarik.


"Ngomong-ngomong, dimana Alan?"


Semuanya sudah ada, hanya tinggal Alan saja. Namun, Johan tidak sadar akan keberadaan Alan yang tiba-tiba muncul disebelahnya.


"Aku disini semua, maaf terlambat!"


Johan merasa kaget dan mundur kebelakang. Dia sama sekali tak merasakan hawa keberadaan Alan. Dia seperti hantu yang tiba-tiba muncul. Hantu pun masih bisa dideteksi oleh Johan.


"Oh, ada kalian bertiga. Kalian mau pergi kemana?"


"Kak, mereka ingin ikut bersama kita. Tujuan nya juga makan kentang goreng neraka."


"Oh, baiklah kalau begitu."


Alex, Cindy, dan Norga menjadi sangat ceria sejak kemunculan Alan. Namun, Johan merasakan yang sebaliknya. Alan dirasa sangat mencurigakan.