The Slayers

The Slayers
Chapter 100 (Season 3)



**Kembali ke hari-hari sebelumnya. Dimana Alan membawa Alex dan Norga ke kantor Slayers untuk didaftarkan.


"Kau tidak masuk, kak?" Tanya Alex.


"Tidak, kalian berdua saja.yang masuk. Jika aku masuk, dan ketahuan belum terdaftar, maka itu akan gawat."


"Tidak perlu takut, karyawan disitu akan memandu kalian berdua."


Meski gugup, Alex dan Norga masuk kedalam kantor Slayers. Mereka berdiri di pintu otomatis, dan tentu saja, saat mereka berdiri didepannya, itu terbuka sendiri.


Tentu saja, pemandangan yang disajikan membuat mereka sangat terpukau. Sangat keren dan luas, mereka juga dapat melihat para Slayers berlalu lalang dengan perlengkapan mereka dan berbagai Job.


Dan sebentar lagi, mereka akan jadi salah satu dari orang-orang ini. Ini membuat hati mereka berdebar-debar.


Mereka berdua berjalan kearah resepsionis, untungnya mereka tidak mengantri.


"Selamat datang di kantor Slayers. Ada yang bisa saya bantu?" Yang berbicara adalah seorang wanita cantik berusaha 20an, wanita itu bicara dengan suara yang menyenangkan untuk didengar.


"K-kami disini untuk mendaftar menjadi Slayers."


"Oh, jadi kalian Special baru, ya? Tunggu sebentar ya."


Wanita itu seperti mengetik sesuatu dan dia kembali bertanya, "Siapa nama kalian berdua?"


"Aku Alex Dwisatya."


"Aku Norga Garrison."


"Umur kalian berapa?"


"Aku 17."


"Aku 15."


Alex dan Norga ditanyai banyak pertanyaan. Beberapa lama kemudian, dua kertas muncul dengan ajaib dan melayang. Wanita itu mengambil dan mengecek isinya sebelum memberikannya pada Alex dan Norga.


"Kalian pergilah kearah kiri. Dan kalian menunggu disana untuk dipanggil. Nomor tunggu kalian tercantum disana."


"Baik, terima kasih."


Mereka berdua pergi kearah kiri dan melihat banyak orang menunggu. Mereka duduk di kursi yang kosong dan menunggu nomor tunggu mereka. Mereka menunggu sampai 45 menit lamanya.


"Nomor 403!"


"Oh, aku dipanggil, aku duluan Norga."


Alex yang masuk terlebih dahulu. Tidak ada yang spesial dalam pendaftaran. Hanya menempelkan tangan dan sebuah kartu berisi nama, job, dan statistik akan terbentuk. Jika sudah masuk guild, maka seorang Slayers dapat memperbarui kartunya dan akan tercantum nama dan posisinya dalam Guild.


Alex keluar dari ruangan dan gantian Norga yang masuk. Tak lama kemudian, Norga keluar dengan kartunya.


"Akhirnya! Kita jadi Slayers resmi!" Kata Norga bersemangat sambil memegang kartunya tinggi-tinggi.


"Itu artinya, aku selamat dari taruhan jadi babu. Semua karena kak Alan."


"Aku juga selamat dari taruhan, jadi aku tak perlu menembak Mbak-"


Norga langsung berhenti berbicara, karena secara tiba-tiba orang yang mau disebut olehnya berada didepannya.


Alex dan Norga bertatapan dengan Cindy Miria.


"...mbak Cindy?" Norga secara tidak sengaja menyebutkan nama Cindy. Sedangkan Alex, dia membeku dan wajahnya seperti orang bodoh.


Cindy langsung bingung, tapi kebingungannya segera hilang karena Cindy dengan cepat mengenal mereka berdua.


"Ah, kalian dua orang yang sering ke warung kan? Oh, kalian sudah menjadi Special?"


"Ah itu benar, mbak. Mbak ada apa disini?"


"Aku sedang tidak kerja, aku mau menaikkan level ku."


Cindy kemudian melihat Alex yang berdiri seperti patung dan wajahnya seperti orang bodoh.


"Permisi, kamu kenapa?" Kata Cindy sambil melambaikan tangannya didepan muka Alex.


Alex langsung tersadar, "Ah tidak apa-apa! Aku baik-baik saja!"


"Ah oke, ngomong-ngomong, waktu itu, kenapa kau ketakutan melihatku?"


"Ah eh errr, i-i-itu-"


Alex bingung untuk menjawab apa, dia selama ini hanya melihat Cindy dari jauh. Dia tidak pernah berpikir kalau dia akan bertemu langsung dan berada dalam jarak sedekat ini. Dan lagi, terakhir kali saat Alex melihat Cindy, ada kejadian yang memalukan.


"Hei, kalian sudah belum? Kalau sudah cepat keluar."


Alan secara mengejutkan berdiri tepat dibelakang Cindy. Dia melihat Alex yang kesulitan dan memutuskan untuk menolongnya.


Tentu saja, Alex merasa sangat tertolong.


"Oh halo Cindy, kau tumben ada disini?"


"Ah kak Alan juga ada disini?"


"Yep, aku disini untuk mengantar mereka berdua. Maaf jika mengganggu, tapi aku harus segera mengantar mereka berdua pulang."


Alan, Alex dan Norga melambai pada Cindy dan pergi dari kantor Slayers.


"Huft, aku selamat, makasih kak Alan."


"Bukan apa-apa, sebenernya aku ingin tahu kau menjawab apa. Tapi tidak usah, kita segera kembali kerumah dan latihan."


""Baik, kak.""


Mereka berbincang-bincang selama perjalanan pulang.


"Bagaimana SIS kalian?"


"Keren!" Jawab Norga. Alex juga mengiyakan.


"Bagus, kalian akan dikenal oleh banyak orang mulai sekarang. Tetangga, teman sekolah, dan masyarakat akan mengenali kalian."


Alex dan Norga mengangguk, memikirkan masa depan mereka yang dipenuhi dengan hal-hal menegangkan akan sangat luar biasa bagi mereka.


Alan bisa melihat pikiran mereka berdua, dia tersenyum sebelum berkata "Kehidupan Slayers tidak seperti yang kau bayangkan, kalian bisa mati kapan saja dan bisa bertemu dengan orang-orang berbahaya. Contohnya seperti Necron, Dark reign, ataupun Automata."


Necron, Dark reign, dan Automata adalah merupakan 3 guild berisi orang-orang tak bermoral, psikopat, dan selalu seenaknya. Mereka masing-masing mempunyai tujuan masing-masing. Necro adalah yang paling terkenal, dikatakan bahwa Guildmaster mereka memiliki Job yang sangat-sangat kuat. Bukan berarti Dark reign dan Automata bisa dianggap remeh, tapi mereka tidak banyak beraksi daripada Necron dan Automata. Ada satu lagi, Epitaph, Guild yang baru-baru ini diketahui meresahkan warga-warga. Penculikan anak dan remaja dikaitkan dengan guild Epitaph. Tapi belum tau itu benar atau tidak.


"Omong-omong," Norga bertanya tentang sesuatu yang membuatnya penasaran. "Kak Alan beneran bukan dari Necron kan?"


Norga merendahkan volume suaranya saat menyebut kata Necron. Kata Necron sendiri dianggap tabu dan tidak boleh dibicarakan.


"Tentu bukan, aku memang gila. Tapi aku tidak akan memasuki Guild Necron. Guild sejenis Mahabharata saja ku tolak, apalagi yang seperti Necron, tidak mungkin."


"Hah? Kak Alan, menolak Guild Mahabharata!?" Alex yang mendengar itu langsung syok dan berpikir kalau itu hanya candaan belaka.


"Yep, kemarin saat aku menyuruh kalian pergi ketempat aman, aku pergi ketempat Guild Chaos. Disana aku bertemu wakil guildmaster Mahabharata, dan dia menawariku untuk masuk kedalam Guild Mahabharata, tentu saja kutolak."


""Kenapa!?"" Mereka secara serentak bertanya.


"Kenapa? Sudah jelas, aku ingin membentuk Guild ku sendiri dimana aku bisa melakukan apapun tanpa Guildmaster menyuruh ini, itu, kesana, kesini dan sebagainya. Itu sangat-sangat merepotkan dan aku sendiri suka kebebasan."


Mereka menganggap itu alasan yang aneh, tapi masuk akal juga. Jadi mereka hanya diam sampai Alex bertanya.


"Omong-omong, umur kakak berapa?"


Alan langsung berhenti jalan dan menoleh pada Alex. "Kau baru tanya itu sekarang?"


"Aku baru penasaran sekarang, hehehe."


"Aku satu tahun lebih tua darimu, Alex, aku 18 tahun."


Mereka berdua langsung terkejut.


"Kenapa? Kalian mengira aku umur berapa?"


"A-aku kira kakak berumur 20 tahun keatas." Ucap Alex.


"Aku terlihat setua itu?"


Tanpa ragu, Norga mengiyakan dengan cepat.


"Apalagi dengan pakaian seperti itu, kak Alan seperti orang dengan usia... 22 tahun mungkin?" Tambah Alex. "Dan kak Alex tahu umur ku darimana? Perasaan aku tak pernah menyebut umurku?"


"Aku tahu umur kalian karena... itu rahasia." Alan termenung sejenak. "Yasudah lah, lagipula aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang padaku. Mereka anggap aku menakutkan, aneh, gila, tua atau apapun itu aku juga tidak peduli."


Alex dan Norga terdiam. Mereka terdiam sampai kerumah Alan.


Mereka semua masuk dan Alan melepaskan jaketnya sebelum berkata "Nah, sekarang pelatihan kalian akan dimulai."


"Pertama-tama, aku ingin kalian meninju lenganku. Alex, kau maju terlebih dahulu."


Alex maju terlebih dahulu, bingung mengapa Alan menyuruhnya meninju lengannya.


Alex mengepalkan tangannya dan meninju lengan Alan.


"AAAAAAAAARRRRGGHHHH!"


Alex merasakan sakit yang sungguh-sungguh luar biasa. Saat tangannya meninju lengan Alan, tangan beserta jari-jarinya langsung patah dan bentuknya menjadi tidak normal.


Saat itu juga, layar hologram muncul didepan Alex yang masih kesakitan.


Alan segera membungkuk dan memegang tangan Alex yang patah. "Apa kau melihatnya? Apakah kau melihat layar hologram didepanmu?" Tanyanya.


Alex mengangguk.


"Apa tulisannya."


"VIT ku naik 15." Seketika itu juga, Alex dan Norga terkejut, tapi Alex masih dengan rasa sakitnya. Alan yang mendengar itupun tersenyum lebar.


"Itu bekerja!"


Alan menggunakan first aid pada tangan Alex dan berkata pada mereka berdua. "Mulai sekarang, pelatihan kalian akan menyakitkan, jadi persiapkan diri kalian."


Alex dan Norga meneguk ludah mereka. Perasaan mereka tidak enak.