The Slayers

The Slayers
Chapter 137 (Season 3)



Tak kusangka ternyata bangunan kecil yang tersembunyi mempunyai ruang bawah tanah yang lumayan luas. Tapi ini punya Necron, jadi bukannya tidak mungkin.


Setelah menghabisi para keroco, aku melihat ada orang yang berbicara dengan panik kepada seseorang dan segera mengepalkan tanganku dan memanjangkan tanganku sebelum menariknya kembali dengan kecepatan diluar nalar. Kepala orang itu meledak seketika.


Aku kemudian melihat keruangan yang dipenuhi oleh orang-orang berseragam hitam dengan lambang Necron dan ada Alex, Norga, beserta Cindy. Mantap! Aku tidak usah mencari mereka kemana-mana lagi!


"Akhirnya ketemu juga ya."


"Siapa kau? Beraninya kau mengacau di markas kami?" Orang bertopeng merah bertanya padaku. Dia pemimpinnya kah? Atau perempuan rambut merah pemimpinnya?


"Justru kau yang berani sekali menculik mereka."


"Kau... Cari mati." Orang bertopeng merah sepertinya kesal denganku. Para bawahannya kemudian langsung bergegas kearahku. Kalau dilihat, level mereka ini sangat rendah, serius. Jika mereka ingin melawanku, setidaknya levelnya lebih tinggi.


Aku tidak butuh banyak gerakan. Malahan, aku hanya menggunakan kaki kiriku saja untuk menendang muka mereka. Sangat membosankan.


Dengan hanya kaki kiri, aku bisa menewaskan mereka. Membuat pria bertopeng dan wanita berambut merah terkejut.


"Hanya segini kah kekuatan Necron? Mengecewakan sekali, ekspetasiku pada organisasi kriminal terbesar di Indonesia itu tinggi loh!" Aku semakin memprovokasi mereka. Seru sekali melihat wajah si perempuan rambut merah memanas. Sayangnya aku tidak bisa melihat ekspresi pria bertopeng, tapi aku tahu dia sedang kesal sekarang.


"Daripada menunjukkan wajah tak sedap pandang itu, mending kalian langsung melawanku saja!"


Provokasiku mencapai puncaknya ketika sang wanita berambut merah akhirnya menunjukkan sihirnya. Si perempuan berambut merah merupakan Pyromancer, atau bisa disebut sebagai pengendali api. Si pria bertopeng merah juga mengeluarkan kedua belatinya sambil menyilangkan tangannya, dia mau terlihat keren?


Si pria bertopeng menghilang dan si wanita segera menyerangku dengan api. Sayangnya, mereka mungkin seorang amatir. Serangan dari si pria bertopeng itu pasti ada dibelakang. Aku langsung berbalik dan benar saja, aku mencengkram wajah orang itu dan menggunakan tubuhnya sebagai perisai.


Whoosh!


Suara api yang membara membakar lorong ruangan. Hingga wanita itu berhenti dan yakin kalau musuhnya terbakar habis, dia tidak peduli dengan rekannya. Wajah Alex dan Norga tidak terpancarkan rasa kekhawatiran sedangkan Cindy ketakutan.


Asap hitam memenuhi ruangan itu, perlahan-lahan menghilang. Dari situ, dua siluet nampak secara perlahan-lahan seiring dengan asap hitam.


"Eh?"


Yang nampak adalah tubuh gosong tak berwujud, dan yang satu lagi adalah, aku tentunya.


Aku tidak merasakan panas atau apapun itu. Terima kasih pada [Heat Resistance].


"Ba-bagaimana-"


Tak membiarkannya banyak bicara, aku menendang lututnya hingga patah. Dia tidak akan bisa berjalan lagi.


"Aaaaaahhhhhhh!!!"


Tak peduli dengan teriakannya, aku langsung menuju Alex, Norga, dan Cindy. Aku langsung memberikan cairan [Metal Breaker] dan menuangkan cairan itu pada borgol ditangan mereka. Mereka semua akhirnya terbebas dari borgolnya.


"Terima kasih, Kak Alan!" Ucap mereka serentak.


"Baguslah jika kalian masih aman, aku sempat khawatir tadi," ucapku dengan lega. "Ayo kembali."


"Ah, Kak Alan," Cindy mendadak memanggilku. "Tadi kita bertemu dengan tiga anak perempuan kembar, kurasa mereka ada didekat sini."


"Kau mau aku menyelamatkan mereka?"


Cindy mengangguk.


"Baiklah."


Aku menoleh kearah perempuan berambut merah yang berjuang merangkak. Melihat itu, aku langsung menuju kedepan perempuan itu.


"Perjuangan yang mengharukan, nona. Sayangnya perjuanganmu harus terhenti disini." Kataku dengan senyum lembut.


"A-ampuni aku! Aku akan melakukan apapun!"


Wanita ini sudah pasrah ya? Ini akan menjadi hal mudah kalau begitu.


"kalau mau hidup, arahkan kami pada tiga gadis kembar."


"A-akan ku arahkan!"


'Ez banget.'


Aku menyeret perempuan itu dengan menarik seragamnya. Alex, Norga, dan Cindy mengikuti.


"Jadi, kalian kenapa dikit sekali?"


"Kami pasukan dadakan."


"Maksud?"


"Pasukan kami masih dalam perkembangan."


"Pasukan kalian untuk apa?"


"Untuk menangkap ketiga anak kembar yang kau sebutkan."


Alan bingung sejenak, kenapa mereka menculik anak kecil? Apakah mereka sekumpulan pedofil? Tapi mereka memang kriminal sih, pastinya ada yang pedofil.


"Kenapa kalian mengincar ketiga anak itu? Apa yang spesial dari mereka?"


"Mereka itu bukan anak kembar biasa! Mereka itu bisa memprediksi masa depan!"


Memprediksi masa depan? Yang benar? Terdengar seperti kebohongan belaka.


"Kau yakin?"


"Ehm, aku tidak pernah melihatnya secara langsung sih ...."


"Kalau begitu kau tau darimana?"


"Atasan ku bilang begitu."


"Siapa atasan mu?"


"Tidak tau."


Apa? Tidak tau? Apakah wanita ini bodoh? Atau bosnya tidak menemuinya secara langsung?


"Bagaimana bisa kau tidak tau?"


"Aku bertemu secara tidak langsung. Aku tidak bisa melihatnya." Ujar perempuan itu.


Aku segera mendekati jeruji itu dan mencoba untuk mematahkannya. Susah untuk dipatahkan, tapi aku bisa mematahkannya. Tiga anak perempuan itu kembar seperti kata Cindy. Mereka sepertinya takut padaku. Ditubuh mereka ada luka lebam seperti habis dipukul.


Pertama, ada anak perempuan dengan berani menatapku. Dia berambut coklat pajang yang dikuncir kuda dengan pupil berwarna kuning. Kemudian ada perempuan berambut hitam sebahu, matanya berwarna hitam, dengan hiasan pita merah dirambutnya. Dia menatapku dengan ketakutan. Satunya adalah anak dengan tatapan yang tenang, rambut putih yang berantakan dan terurai. Matanya berwarna biru seperti permata indah. Ada yang aneh dari ketiga anak ini, aku akan mengeceknya nanti.


"Hei kalian bertiga, aku disini tidak bermaksud untuk menyakiti kalian. Yakinlah, aku bukan orang jahat seperti mereka. Jadi, percayalah dan ikuti aku."


Sepertinya kata-kataku tidak berpengaruh apa-apa dengan mereka. Yang berambut ponytail masih menunjukkan permusuhan dan berusaha melindungi anak berambut hitam dan putih. Tapi ....


Aku terkejut dengan si rambut putih yang tiba-tiba melewati si rambut coklat dan berjalan melewatiku tanpa rasa waspada.


"Riria! Itu Berbahaya!" Jadi, si putih namanya Riria?


Riria yang masih dalam poker face, menoleh kearah perempuan rambut coklat dan hitam. "Dia menyuruhku untuk mengikutinya."


Kata-katanya agak aneh dan terasa janggal. Tapi pikiran anak-anak memang tidak bisa diprediksi.


"Kau yakin?"


"Dia menyuruhku, jadi aku harus mengikutinya."


Berkat ajakan dari Riria, dua sisanya mau mengikuti kami. Nah sekarang....


"Nah, terima kasih sudah memanduku. Jadi .... "


"Jadi, kau akan membebaskanku kan?"


"....apa kata-kata terakhir mu?"


"Eh, bukannya kau-"


"Aku tidak berjanji untuk membebaskan mu loh ya. Lagipula jika kau bebas, aku akan kerepotan."


"T-tapi-"


"Alex, halangi pandangan mereka, pemandangan ini tidak baik untuk dilihat anak kecil."


Alex mengangguk dan dengan besarnya, dia menutupi pandangan ketiga anak kecil itu. Sedangkan aku, aku menggunakan [Territory] untuk mengangkat kepalanya menggunakan tangan kananku. Dia kemudian melayang sambil memohon ampun. Tapi aku tidak peduli dengan kriminal sepertinya, aku yakin dia tidak akan berubah.


Tangan kiriku juga menggunakan [Territory] dan mencengkram wajahnya. Kemudian, aku menarik wanita itu kedua arah berlawanan. Wanita itu berteriak kesakitan dan segera setelah itu, badan wanita itu terbelah dua.


"Baiklah, ayo sekarang kita pulang."


Aku berbicara dengan nada yang ramah. Aku yakin mereka sedang ketakutan sekarang.


***


Sesampainya dirumah, aku langsung membuka pagar dan menutupnya lagi. Lyfa sudah menjaga rumah dengan baik. Jadi aku dan yang lainnya mengelus Lyfa sebentar. Anak-anak itu berlindung dibelakang Cindy karena ketakutan.


Kami masuk kerumah setelahnya dan semuanya membersihkan diri kecuali yang perempuan.


Setelah itu, barulah aku berbicara dengan ketiga anak kembar ini.


"Pertama-tama, boleh aku tanya siapa nama kalian?"


Pertama-tama, anak berambut coklat yang menjawab terlebih dahulu, "n-namaku Nissa Klaria. Ehm, t-terima kasih karena telah menyelamatkan ku dan adik-adikku dari orang jahat tadi."


"Sama-sama!" Ketiga saudari ini imut-imut, jantungku hampir tidak kuat!


Kemudian yang berambut hitam sebahu,"namaku.... Ella Klaria.... Terima kasih...."


Sekarang tipe yang pemalu, suaranya kecil sekali. Untung aku bisa mendengar suaranya yang imut.


"Sama-sama!"


Aku berusaha sebisa mungkin untuk ramah pada mereka bertiga. Yang terakhir, adalah si rambut putih.


"Namaku adalah Riria Klaria, terima kasih atas pertolonganmu." Yang ini lebih tenang dan tidak gagap.


"Baiklah, salam kenal kalian bertiga. Sekarang giliran kami."


Kami kemudian memperkenalkan diri kami masing-masing. Perkenalan dimulai dari aku.


"Namaku Alan Lexius, salam kenal ya! Aku seorang Alchemist atau pembuat ramuan."


"Namaku Alex Dwisatya! Aku adalah Beast rider dan serigala besar diluar adalah peliharaanku." Mereka langsung menunjukkan ketakjuban saat mendengar kalau serigala besar diluar adalah peliharaannya.


"Namaku Norga Garrison, aku adalah seorang Blacksmith atau yang biasanya membuat berbagai senjata dan peralatan keren." Norga memperkenalkan dirinya dengan biasa. Tapi sepertinya si kembar tiga takjub.


"Namaku Cindy Miria, salam kenal ya, adik-adik manis!" Cindy memperkenalkan dirinya dengan senyum yang cerah. Alex yang melihat itu langsung ingin jatuh, tapi Norga menahannya.


"Salam kenal semuanya." Mereka bertiga menundukkan kepalanya.


'Benar-benar imut!'


Riria mengangkat kepalanya dan berkata kepadaku, "oh iya, Dia menyuruhku untuk menyampaikan sebuah pesan."


'Dia? Dia siapa sih?'


"Maksudmu?" Tanyaku dengan serius.


"Dia berkata, titip salam dengan lima iblis dan si monyet."


Waktu seakan berhenti untukku. Jantungku langsung berdebar kencang dan aku tak bisa mengucapkan satu kata apapun.


'Bagaimana .... '


Alex, Norga, dan Cindy bingung dengan apa yang dimaksud oleh Riria.


"Kau, siapa kau?" Tanyaku dengan nada yang dalam dan dingin. Membuat Alex, Norga, dan Cindy terkejut bukan main.


Kemudian, ada yang aneh dengan mereka bertiga. Mereka seperti dirasuki oleh sesuatu.


Kemudian, ada layar hologram yang muncul secara tiba-tiba dan membuat mataku seperti mau keluar saking terkejutnya.


[Nissa Klaria:Apostle of Urd]


[Ella Klaria:Apostle of Verdandi]


[Riria Klaria:Apostle of Skuld]