
"Ah sial, kenapa aku terima taruhannya sih?" Alex yang menerima taruhan itu menyesal sekarang.
Norga yang berjalan disampingnya menoleh dengan terkejut dan bertanya.
"Kak Alex juga taruhan dengan orang lain?"
"Ya begi- eh, kau juga?"
"Iya."
Saat ini, mereka pulang dari sekolah dengan bersepeda. Mereka tidak langsung pulang kerumah masing-masing melainkan mereka janjian untuk makan soto bersama.
"Apa isi taruhanmu, kak?" Tanya Norga terlebih dahulu.
"Taruhanku tentang siapa yang akan menjadi Special nanti. Dan jika aku kalah maka aku akan jadi pesuruh, begitu juga sebaliknya."
"Apa!? Gila! Siapa yang ngasih taruhan gak bener kayak gitu!?"
"Itu Narta."
"Oh," jawab Norga datar, tidak mengherankan lagi jika itu Narta, karena dia memang terkenal sebagai pembuat onar.
"Sebenarnya taruhan kita sama, kak. Tapi jika aku kalah, maka aku akan menembak Mbak Cindy, dan sebaliknya."
"Cindy? Anak Pak Budi penjual soto?"
"Iya, Mbak Cindy yang itu."
"Semoga kau menang, Norga."
"Heh, kau takut aku diterima?"
"Tentu saja dong, Akulah yang akan menjadi Pacar dan pendamping Cindy, Norga. Ingat itu!"
"Mimpi kau, kak," ejek Norga
Sejak pertama kali dibuka, Alex dan Norga menjadi salah satu pelanggan pertama Pak Budi. Dan disitulah, Alex jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat sosok Cindy, dia menetapkan Cindy sebagai tujuan hidupnya.
Tapi saat Cindy yang menunjukan kekuatannya sebagai Special di warung soto Pak Budi. Semua orang disana terpukau, termasuk Alex dan Norga. Tapi disaat itu juga, keinginannya menjadi Special dan mendaftar kerja menjadi Slayers semakin besar.
Demi setara dengan orang yang dicintai, dia akan melakukan segalanya.
Tak terasa, mereka mengobrol sebentar sambil bersepeda, dan mereka sudah sampai ke warung Soto Pak Budi.
Mereka memarkirkan sepeda mereka dan langsung mengantri.
"Kali ini kau yang mengantri, Norga."
"Yoi."
Norga langsung bergabung dalam barisan yang lumayan panjang. Sementara Alex langsung duduk dan memandang Cindy, secara diam-diam tentunya.
'Ah cantik banget calon istriku!'
Alex terus memuji Cindy dalam hati. Kata-kata manis, pujian, dan puisi terus ia lontarkan, dalam hati tentunya.
Berbeda dengan Alex yang sibuk halu. Norga kesal dengan antrian yang panjang. Untung saja, tinggal satu orang lagi.
Keberuntungan entah bagaimana datang pada Norga, orang yang berada didepan Norga pergi entah apa alasannya, dan Norga bisa langsung memesan.
"Kau ingin pesan apa?"
"Errr, sebentar ya."
Norga mengecek uang yang dititipkan Alex padanya, uang yang diberikan Alex 14 ribu dan begitu pula uang Norga. Mereka membawa uang sendiri-sendiri dan bergantian untuk mengantri dikasir setiap datang.
"Eh?"
Muka Norga memucat, uangnya dan uang Alex tidak ada. Itu menghilang secara tiba-tiba.
"Hei!"
Tiba-tiba, orang dibelakang Norga berteriak, tapi bukan kepadanya. Dia berteriak kepada orang yang secara tiba-tiba pergi dari antrian, dia hendak keluar dari warung. Tapi terhenti dan menoleh kebelakang.
"Hei pak, kau telah melakukan sesuatu yang memalukan, kau tau apa itu?"
Orang itu bingung dan menoleh sana-sini sebelum bertanya balik.
"Kau bicara padaku?"
"Ya, aku bicara padamu."
"Aku tidak melakukan apapun."
"Heh, benar-benar," Orang itu tertawa sedikit, dan lanjut berbicara.
"Kau mencuri dari seorang remaja, dan yang lebih memalukan lagi, kau malah kecolongan."
"H-hah!?"
Muka orang itu menjadi pucat, dia langsung mengecek sakunya. Dia menyadari bahwa tidak ada apa-apa di saku baju dan celananya, dan langsung berteriak.
"Kau! Dasar pencuri."
"Pencuri apanya, kan bapak yang mencuri duluan."
"Kau, dasar bajing*n!"
"Woah, santai dulu, dek. Ini uangmu."
Orang yang mengantri dibelakang Norga menyerahkan uang dengan dua lembar sepuluh ribu dan empat lembar dua ribu.
"Ah, ini benar-benar uangku."
Bapak yang mencurinya menjadi panik dan bergetar hebat. Orang-orang didalam warung pun berniat menangkap bapak pencuri.
Tapi pencuri itu dengan cepat kabur. Orang-orang pun langsung mengejar, entah akan tertangkap atau tidak.
"Terima kasih, kak."
"Ya, bukan masalah besar."
Norga kagum dengan orang didepannya ini. Dia tinggi, kulitnya pucat layaknya vampir, memakai jaket hitam, dengan rambut hitam. Matanya berwarna merah dengan senyum yang meski terlihat ramah, tapi masih ada sedikit kegilaan disenyumnya.
"Silahkan lanjut memesan. Aku lapar nih."
"Oh iya!"
Norga baru sadar dan melihat Alex, dia takut kalau Alex akan kesal karena terlalu lama.
Tapi ternyata tidak, Alex masih asik memandang Cindy.
'Sepertinya dia tidak butuh soto untuk makanannya, melihat wajah Mbak Cindy pun sepertinya sudah membuat dia kenyang,' Ejek Norga dalam hati.
Kemudian Norga kembali memesan makanan.
Setelah memesan makanan, dia langsung kemeja yang ditempati Alex. Alex pun masih menatap Cindy dengan tatapan aneh.
"Sampai kapan kau akan menatapnya, kak?"
"Sampai aku puas."
"Memangnya kau bisa puas?"
"Tidak."
Norga menepuk dahinya, dia sudah tidak mengerti lagi dengan Alex. Tingkat bucinnya sudah sangat tinggi.
Sementara Alex dan Norga sibuk dengan urusan masing-masing. Orang yang menolong Norga berjalan melewati meja mereka, dan dia tidak sengaja menjatuhkan koin dari sakunya.
Alex yang menyadari langsung membantu orang itu.
"Eh bang, koin mu jatuh."
"Ah ya, terima kasih ya."
Senyumnya sangat cerah dan juga ramah, tapi senyumannya cepat berubah dengan wajah serius. Dia kemudian membisikan kata-kata.
"Hei, kulihat kau selalu menatap wajah cewek itu ya? Jangan terlalu lama menatapnya, karena..."
Wajahnya berubah lagi, dari wajah serius menjadi senyum aneh dan psikopat.
"Kalau kau terlalu lama menatapnya, 'dia' akan balas menatap, ingat itu."
Alex langsung merinding dan ketakutan. Orang itupun langsung pergi.
"Kak Alex, orang itu bicara apa?"
Norga bertanya pada Alex yang masih merinding, Alex pun langsung menjawab.
"Hei, apa benar dia orang yang menolong mu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Dia terlihat menyeramkan."
"Ya, kakak benar sih, meski senyumnya ramah, tapi dia agak menyeramkan."
"Bukan agak, tapi sangat menyeramkan!"
"Lagipula, kakak itu bilang apa?"
Alex diam sebentar dan berkata.
"Dia bilang jangan menatapnya lama-lama, nanti 'dia' akan balas tatap."
"Hmmm, bukannya itu bagus? Mungkin dia akan senyum kepadamu."
"Oh benar juga ya."
Dan Alex pun langsung menatap Cindy, langsung melupakan segalanya, bahkan Norga dan Nasihat orang tadi sudah tidak dihiraukan.
Alex mengamati semuanya, mata, hidung, telinga, rambut, dan mat-
"Hah?"
Dilehernya ada mata berwarna kuning, menatap Alex dengan seksama. Perlahan, Tangan, pipi, dan lengan muncul mata yang juga memperhatikannya.
Saat itulah Alex menyadari apa yang dimaksud oleh orang itu, dia telah ditatap balik oleh 'dia' yang ada didalam Cindy.