The Slayers

The Slayers
Chapter 145 (Season 4 START)



Pada malam hari yang sepi dan menghanyutkan. Bintang-bintang memenuhi angkasa luas. Enaknya memandang hal tersebut, kalau saja tidak ada monster yang mengganggu.


Bagaimanapun, pemandangan indah seperti itu hanya bisa ditemukan dibeberapa tempat, contohnya dalam portal. Seperti Alex, yang saat ini sedang menusuk daging Basilisk. Darah hitam keunguan yang mengalir dari daging yang tertembus, sampai tangan Alex terkena darah itu.


Tidak merasa jijik, dia mengayunkan ganjurnya dan tubuh Basilisk langsung terlempar kearah samping. Dia kemudian bersiul pelan. Tapi siulan melengking itu berhasil memanggil mahluk buas yang berukuran besar.


Diatasnya, ada seorang gadis yang menunggangi hewan buas tersebut. Alex mengelus hewan buas tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lyfa, Direwolf peliharaan Alex. Gadis yang berada dipunggung Cindy adalah Cindy, 'teman' Alex.


"Kau sudah selesai, Alex?" tanya Cindy sambil melompat turun dari punggung Lyfa.


"Sudah, sekarang hanya tersisa mencari bos, tapi aku tidak tahu dimana."


"Aku juga, aku tak bisa memancingnya kesini. Bos kali ini sepertinya sangat licik dan pintar."


"Kalau begitu, ayo pergi mencari."


Alex menaiki Lyfa beserta dengan Cindy. Mereka kemudian menuju kearah yang tidak menentu. Sambil menjelajahi hutan yang disertai dengan cahaya bintang, Alex mengangkat tangannya sambil memegang satu botol ramuan yang berisi cairan kental berwarna hijau tua.


Fungsinya adalah untuk memancing para monster datang. Baunya sangat menyengat, tapi bagi monster, itu seperti bau dari masakan chef kelas dunia.


Saat bau itu menyebar, para monster tak punya kuasa untuk menahan bau yang mereka anggap lezat itu. Mereka mengikuti naluri alami mereka dan bergegas menuju kearah Alex dan Cindy.


"Mereka sudah datang!" Cindy berteriak ketika melihat kebelakang. Gerombolan Basilisk yang mulutnya dipenuhi oleh air liur.


Tapi, salah satu Basilisk dari gerombolan itu ada yang ukurannya dua kali dari Basilisk yang lain.


Itulah yang mereka cari, Alpha Basilisk. Bos monster dari portal ini.


Lyfa kemudian berhenti melaju dan berbalik menuju para gerombolan Basilisk. Alex kemudian menyimpan ramuan itu dan memunculkan ganjur dari ruang kosong.


"Lyfa, lebih kencang!"


Sesuai dengan perintah Alex, Lyfa melaju lebih kencang tanpa keraguan. Sambil melaju, Lyfa juga mengaum dengan kencang. Basilisk-Basilisk itu ketakutan dan menurunkan kecepatan mereka. Hanya Alpha Basilisk yang masih cepat, malahan, kecepatannya bertambah dan dia merasa tertantang.


"GROAAAAAA!!!!"


Alpha Basilisk juga mengaum dan membuka mulutnya dengan lebar, tak ingin kalah mendominasi dari Lyfa. Sayangnya, itu adalah kesalahan besar dari Basilisk. Alex sudah bersiap-siap dengan hal itu.


Alex dalam posisi untuk melempar ganjurnya, sedangkan Cindy menyiapkan sihir buff pada ganjur Alex. Dengan seluruh tenaga yang dia pusatkan pada lengan kanannya, dia melempar ganjur tersebut hingga ganjurnya melesat seperti misil. Alpha Basilisk berencana untuk menangkap serangan itu menggunakan mulutnya. Sayangnya, serangan itu terlalu cepat hingga serangan itu menembus tubuhnya.


[Selamat, portal telah dibersihkan! Hadiah akan dikirimkan pada anda!]


Itulah pesan yang dilihat oleh Alex dan Cindy setelahnya.


***


Dibumi, tepatnya di suatu ruang bawah tanah milik seorang Blacksmith. Seorang pemuda dengan rambut jabrik yang diikat kuda sedang menempa sebuah bilah berwarna perak. Setelah selesai menempa bilah tajam itu, dia menyatukannya dengan sebuah tongkat hitam.


"Sudah jadi!"


[Deepsea Fish Spear


Rank:B


Tombak buatan Norga Garrison.


Terbuat dari tulang deepsea fish yang kuat dan keras. Kekuatan pengguna akan semakin kuat tergantung dengan kedalaman air. Dapat dipanggil kembali saat dilempar.]


Norga beranjak keluar dari workshopnya yang berada dibawah tanah. Begitu keluar melihat langit yang masih gelap karena sang surya belum menunjukan dirinya, yang pertama dia cari adalah kakak angkatnya, Alan. Tak perlu jauh-jauh mencari, Alan yang sedang duduk bersila dibawah pohon sambil bermeditasi. Melihat itu membuat Norga enggan untuk memanggilnya. Tapi, Alan yang merasakan kehadiran Norga langsung membuka mata dan beranjak berdiri.


"Kau sudah selesai, Norga?"


"Iya Kak, ini."


Norga menyodorkan tombak itu dan Alan memegang bagian gagangnya yang berwarna hitam. Alan meneliti setiap bagian dari tombak itu. Tangan kanan menelusuri ujung bilah yang lancip, sedangkan tangan kiri menelusuri ujung yang tumpul.


Setelah itu, Alan memutar tombaknya dan menusuk udara kosong. Alan menunjukkan keahlian tombak yang menakjubkan. Membuat Norga terkesima dan menjatuhkan rahangnya. Bahkan dia bisa menggunakan kakinya untuk menggerakan tombak. Terakhir, dia menendang tombak itu keatas dan menendang ujung tombak yang tumpul sehingga tombak itu melesat seperti misil.


Namun, tombak itu segera kembali lagi ketangannya. Ekspresi puas dan senang kemudian muncul diwajah Alan.


"Bagus, tapi sayangnya ini akan sangat berguna di daerah perairan."


Portal dengan daerah perairan bisa dibilang langka, karena itu, senjata yang dibuat oleh Norga mungkin akan kurang laku. Tapi setidaknya, ada orang yang akan membelinya.


"Aku berharap 'orang itu' akan melihat senjata ini saat lelang di Jakarta."


"Norga, aku akan membawa senjata ini ke Ling Hua sebentar."


"Baik, Kak!"


Alan kemudian menghilang dari tempatnya dan sekarang meninggalkan Norga sendirian. Norga kemudian merenggangkan tubuhnya dengan rasa lega, terdengar bunyi tulang renyah. Bersamaan dengan itu, Norga melotot kelangit karena terkejut dengan penampakan seekor serigala yang secara tiba-tiba muncul diatasnya. Dia segera menghindar dengan berguling kesamping.


"Woi! Kau mau bikin aku jadi cacat kah!?"


"Hehehe ... Ya maaf, tadi kamu gak kelihatan."


Rupanya itu adalah Alex dan Cindy yang mengendarai Lyfa.


"Lain kali kamu harus hati-hati, Alex!" tegur Cindy pada Alex. Hal itu membuat Alex tertunduk dan meminta maaf.


"Ngomong-ngomong ... Mana kak Alan?"


"Lagi pergi ke Mbak Ling Hua."


"Ahhh..."


"Eh, kak Alan!"


Norga yang kaget sebab kedatangan tiba-tiba Alan membuat Alex dan Cindy melihat kebelakang.


"Yo~"


Alan yang baru kembali tidak punya niat untuk mengagetkan Alex dan Cindy. Tetapi, ketika melihat Alan dibelakang, mereka mendadak berteriak.


"Hei hei, ini masih subuh jangan teriak-teriak, nanti tetangga bakal kesini, lagi!"


Alex dan Cindy langsung menutup mulut mereka. Faktanya, rumah Alan selalu didatangi oleh warga-warga yang lain. Banyak alasannya, tapi yang paling umum karena suara ledakan dari rumah Alan. Mereka kira rumah Alan adalah tempat perakitan bom.


Nyatanya, itu adalah ledakan akibat percobaan Alan. Memang tidak ada suara, tapi saat meledak, ada gempa yang membuat warga resah. Ditambah, asap hitam yang keluar dari rumah Alan membuat banyak warga protes dan berulang kali kerumah Alan. Alan tentu saja tidak bisa melawan dan hanya bisa menjelaskan serta meminta maaf.


"Hmm, bau kalian sangat unik!"


Alan segera mengeluarkan empat vial, masing-masing berisi air, api, angin, dan yang terakhir tentu saja ... Cairan berwarna putih. Jika diperhatikan dengan teliti, ada serpihan bunga yang sudah dihancurkan.


"Mari mulai ...."


Pertama, Alan membuka tutup vial berisi air dan air dalam vial keluar secara ajaib dan Alan mengayunkan tangannya. Seketika air itu menyebar dan mengenai mereka bertiga.


Dengan kecepatan tangan yang tinggi, Alan membuka tutup vial api dan angin. Bola api terbentuk dan dengan angin kencang yang hangat, badan mereka segera kering.


"Saatnya sentuhan terakhir."


Alan membuka tutup vial terakhir yang berisi cairan putih dengan bunga yang sudah hancur. Saat dibuka, aroma yang menyengat keluar dari vial;bukan bau yang buruk, malahan sangat harum.


Beberapa tetesan kecil mulai keluar dan bersatu membentuk sebuah butiran berwarna putih seukuran kelereng. Alan menyentil butiran tersebut dan butiran itu hancur dan tersemprot kearah mereka bertiga.


"Nah, sekarang lebih baik."


"Terima kasih, Kak!" ucap mereka serentak.


Alan hanya tersenyum dan kemudian mengambil handphone dari sakunya. Alan melihat jamnya dan menunjukkan pukul 04:40 WIB pas.


"Ayo teman-teman, waktunya ganti."


***


Semuanya langsung berganti pakaian Akademi. Pakaian Akademi Slayer Indonesia cukup bagus, dengan kemeja putih, rompi merah, dan jas putih. Dilengkapi dengan dasi merah juga. Kemudian celananya adalah celana panjang berwarna abu-abu dengan dua kantong. Kami juga dibebaskan untuk memakai aksesoris atau apapun itu. Jadi, aku memakai jaket panjang dan berkerudung yang oversize berwarna hitam. Jaket ini bukan jaket biasa.


[Guilty


Rank:B


"Sial, aku terlihat keren!" gumamku saat melihat kearah cermin.


Aku kemudian keluar dari labolatorium pribadiku. Yang lain belum selesai berganti pakaian, jadi aku duduk disofa dan menunggu sambil membaca Grimoire. Aku juga ditemani oleh seorang anak serigala kecil.


Ya, anak serigala. Itu adalah Lyfa, tapi dipasangi kalung sehingga ukurannya bisa diubah menjadi seukuran anak serigala. Dia menjadi imut sekarang.


Setelah beberapa menit, Alex dan Norga menuruni tangga. Mereka berdua sudah terlihat dengan pakaian akademi yang sangat cocok untuk mereka. Alex tidak memakai aksesoris apapun, berbeda dengan Norga yang memakai jaket biasa berwarna abu-abu kehitaman. Itu bukan seperti jaketku, itu jaket biasa.


Selanjutnya, Cindy keluar dari toilet mengenakan seragam akademi dan rok selutut berwarna abu-abu. Rambut hitam panjangnya diikat kuda. Dia terlihat sangat cantik, aku tidak berbohong. Aku melirik Alex dan sepertinya dia mau jatuh pingsan.


"Nah karena semuanya disini, aku akan memanggil Tuan Rega."


Tuan Rega berkata dia akan menyuruh anak buahnya menjemput kami. Kami tinggal telepon dan katanya akan sampai untuk beberapa menit.


Aku kemudian menelepon Tuan Rega dan berkata aku sudah selesai berkemas. Kami sudah menyiapkan apa yang kami ingin bawa. Benar saja, setelah beberapa menit, ada mobil berukuran besar yang tiba didepan rumah kami.


"Ayo teman-teman, bawa barang-barang kalian ke mobil!"


Kami membawa semua yang ada dan meletakkannya dibagasi. Serius, mobil ini seperti monster truck, tapi versi lebih keren dan untuk 17 orang. Kami kemudian membuka pintu mobil dengan menggesernya. Kami dikejutkan dengan isi mobil yang mewah, dipenuhi banyak kursi, dan luas.


Norga dengan cepat langsung memilih kursi berada didepan, barisan pertama. Alex memilih barisan kedua, Cindy pun sama. Lyfa kecil ikut naik dan meloncat kearah paha Cindy. Cindy cukup kaget, tapi langsung mengelusnya karena terlalu imut.


Sedangkan aku, aku tanpa ragu memilih barisan paling belakang, barisan keempat. Barisan paling gelap karena jendela ditutup dengan gorden. Barisan depan gordennya dibuka.


'Nyamannya...'


Mantap sekali kursinya, empuk dan menghanyutkan. Yang lainnya pun setuju. Pengemudi kemudian memasuki mobil dan berkata, "silahkan beristirahat dan nyamankan diri kalian, perjalanan kita berkisar satu jam. Saya akan membangunkan kalian jika sudah sampai."


Setelah itu, kami berangkat, tepat pada jam 05:00 WIB.


***


Dalam perjalanan yang panjang, mereka semua tertidur kecuali si pengemudi dan Alan. Alan tidak tertidur karena dua alasan, pertama karena dia tidak mengantuk, kedua karena dia sedang fokus membaca Grimoire miliknya. Saat ini dia berada di chapter 3 dan tak tau chapter berapa lagi yang akan menunggunya. Namun, meski sangat panjang, topik yang dibahas sangat mendalam dan membuat Alan terus tertarik untuk membacanya. Pada chapter satu, itu berisi tentang pembuatan ramuan umum. Chapter 2 berisi tentang berbagai monster-monster dan berbagai mahluk mencengangkan. Chapter ketiga berisi tentang ramuan tingkat lanjut yang mematikan, salah satunya adalah racun. Dengan keuntungan ini, Alan memilih job [Poison Alchemist].


Mereka sudah berada di jembatan dua arah yang panjang. Tapi, sudah terlihat penampakan Akademi Slayers Indonesia yang megah seperti istana.


Norga tidur dengan sangat nyaman, bahkan dengan kepalanya yang bergetar karena kepalanya bersandar pada kaca mobil. Bahkan liurnya mengalir pada ujung bibirnya. Kemudian ada pasangan Alex dan Cindy yang tidurnya seperti sepasang kekasih, walaupun status mereka hanya teman. Lebih tepatnya, Alex tetap menjaga postur tegaknya saat tertidur, tetapi Cindy yang terlelap bersandar pada bahu Alex.


Hal itu indah menurut Alan. Alex dan Cindy pagi-pagi sekali sudah melakukan pembersihan dan Norga juga sudah menyelesaikan pembuatan senjatanya. Semuanya sudah bekerja keras dengan baik. Sayangnya, mereka harus bangun sekarang.


BUK!


Alan yang membuka dan menutup Grimoire nya kembali, menghasilkan suara benturan yang amat keras. Mengagetkan seisi orang dimobil. Bahkan pengemudinya juga kaget, beruntung si pengemudi tidak membanting setir.


"A-ada apa!?" Norga mendadak berdiri dan melihat sekeliling.


"Tidak ada apa-apa, cuma ... Lihatlah keluar."


Sesuai dengan perkataan Alan, Norga membuka jendela mobil dengan menggesernya dan mengeluarkan kepalanya.


"Woahhhh!" teriak Norga, kagum.


Alex dan Cindy juga penasaran dan ikut membuka kaca mobil dan melihat keluar. Mereka semua terkesima dengan saat melihat bangunan akademi yang bak istana dimasa depan.


Beberapa menit kemudian, mobil itu menurunkan mereka digerbang utama. Mereka yang melihat akademi dari jarak yang lebih dekat tambah kagum.


"Baik Pak, sudah semua, terima kasih sudah mengantar kami, Pak."


"Ya, selamat bersenang-senang anak-anak!"


Setelah selesai menurunkan barang kami semua, bapak pengemudi segera mengucapkan selamat tinggal. Meski mobil itu berukuran besar, tapi kecepatannya tidak seperti ukurannya. Memang jangan pernah menilai buku dari sampulnya saja.


"Baiklah, mari masuk."


Dengan itu, mereka semua berjalan kearah pintu gerbang. Saat Alan mencoba untuk mendorong gerbang akademi, gerbang itu sama sekali tidak terbuka. Alan tidak ingin menggunakan kekuatannya, dia tidak ingin merusak properti akademi (itupun jika dia bisa). Bahkan dia baru saja berdiri didepan gerbang Akademi untuk pertama kalinya.


Memikirkan cara lain, Alan melihat kesekitar dan perhatiannya tertuju pada kamera cctv yang terpasang diujung atas bagian kiri gerbang. Cctv itu sedang mengarah ke mereka.


Seperti sedang beradu mata, Alan memperhatikan cctv itu dengan intens. Tak lama, pintu gerbang dibuka.


Mereka tak punya pikiran apapun selain kebingungan.


"Eh buset, random banget nih Akademi." Ucap Norga. Sepertinya dia sudah mendapatkan kesan pertamanya pada akademi ini.


Mereka kemudian menyusuri halaman akademi yang super luas. Terlihat ada anak-anak lainnya disana. Bersikap bodo amat, mereka berjalan dengan sedikit cepat menuju kearah pintu utama.


Pintu utama yang terbuka lebar memperlihatkan puluhan, atau mungkin ratusan murid sedang melakukan berbagai aktivitas baik individu maupun bersama.


Mereka punya perasaan yang berbeda-beda.


Alan punya senyum khas miliknya dan mengobservasi sekitar;Alex yang grogi tapi berusaha menguatkan diri;Norga yang terganggu karena tidak suka keramaian dan Cindy yang gugup.


Mereka bertujuan untuk pergi keruang kepala sekolah.Masalahnya mereka tidak diberitahu. Karena itu, Alan bertanya pada anak sekitar.


Salah satu murid gadis yang lewat dengan temannya, pundaknya ditepuk oleh Alan. Sedikit terganggu, gadis itu menoleh dengan wajah yang agak judes. Namun semua itu berubah menjadi muka dengan pipi merah.


"Permisi cewek, aku dan teman-teman ku ini murid baru, jadi kami tidak tau dimana ruangan kepala sekolah. Bisa kau beritahu kepada kami?"


"A-a-a-a-"


Perempuan itu tidak bisa tidak terpesona dengan ketampanan Alan. Teman yang disebelahnya pun juga terpesona. Alan pun mendadak bingung dengan sikap mereka berdua.


"Halo?"


"Ah ...."


Setelah sadar, wanita itu berkata ingin mengantar Alan, temannya juga. Namun, Alan menolak dengan alasan merepotkan. Para gadis akhirnya memberitahukan tempatnya pada Alan dan kawan-kawan.


"Terima kasih ya, cewek-cewek. Kami pergi dulu, semoga hari kalian menyenangkan!"


Setelah tahu dimana tempatnya, Alan dan kawan-kawan bergegas menuju ruangan kepala sekolah yang rutenya lumayan rumit. Dengan ingatan Alan yang baik, mereka berhasil sampai didepan pintu ruang kepala sekolah.


Mereka mengetok pintu sebelum masuk dan ketika membuka pintu, Rega Purnomo menyambut mereka.


"Halo anak-anak, bagaimana dengan akademi ini?" sapa Rega


"Menakjubkan, lebih menakjubkan daripada saat aku melihatnya divideo." Alan menjawab tanpa ragu


"Baguslah kalau begitu."


"Ruang kelas kalian berada di lantai satu. Saat istirahat, seorang siswa akan memandu kalian. Dan kalian taruhlah barang-barang kalian dikamar asrama kalian yang sudah disediakan. Bawahanku akan mengantar kalian ke asrama. Jika sudah, pergilah ke kelas kalian."


Setelah itu, mereka mengucapkan salam sebelum keluar dari ruangan kepala sekolah. Mereka diarahkan ke asrama masing-masing.


"Hmmm, seperti yang diharapkan dari Akademi bergengsi."


Alan menatap kamar asrama miliknya, dan banyak fasilitas yang disediakan, bahkan komputer dan peralatan elektronik yang lain. Dia segera mengemas barang-barangnya dan menaruhnya sesuai dengan keinginan.


Setelah itu, dia keluar dan melihat Alex dan Norga yang juga sudah selesai. Mereka berjalan keluar dan melihat Cindy yang sedang melihat bunga-bunga indah ditaman asrama.


"Hei, Cindy! Mari kita ke Kelas."


Cindy yang bengong sambil melihat bunga-bunga langsung sadar dan bergabung dengan mereka.


"Hei, Alex, kendalikan Lyfa, ya. Jangan biarkan dia rewel!" perintah Alan pada Alex.


"Baik! Dengar itu Lyfa, nanti jangan rewel!"


Lyfa yang berada di tangan Alex mengangguk. Lagi-lagi, mereka harus menjelajah disekitar sekolah dan menemukan ruangan kelas 10-D. Mereka akhirnya menemukan ruangan kelas beserta dengan orang didepan kelas. Pria paruh baya itu terlihat seperti sedang menunggu.


"Permisi, Pak, ini kelas 10-D kan?" tanya Alan pada orang itu.


"Kalian tidak rabun kan? Sudah terpampang sangat jelas kalau ini adalah 10-D."


'Buset, gak ramah, bintang satu.'


"Kalian anak-anak baru kan? Jangan menyusahkan aku dan sebaiknya kalian memenuhi ekspektasi ku. Aku akan masuk, dan kalian harus masuk jika aku sudah panggil, mengerti?"


Alan dan yang lainnya hanya bisa tersenyum dan mengangguk melihat pria paru bayah yang kemudian memasuki ruang kelas itu.