The Slayers

The Slayers
Chapter 164 (Season 4)



Hari kedua sekolah, lumayan melelahkan. Tapi menyenangkan, setidaknya beda dengan sekolahku yang dulu. Pelajaran nya juga menyenangkan, bisa bertemu dengan teman baru. Yang paling penting, Slayer Team Battle, aspek yang paling membuat dadaku berdebar-debar!


Bagi Alex, Norga, dan Cindy, hari ini sangat melelahkan bagi mereka. Tanpa berkumpul dikamar ku, Alex dan Norga langsung bergegas ke kamar mereka dan beristirahat. Aku tidak akan mengganggu mereka. Lagipula, aku juga akan melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan secara pribadi.


Aku mulai duduk bersila dibawah lantai dengan posisi punggung yang tegap. Aku menarik nafas yang panjang dan kemudian membuangnya secara perlahan-lahan. Setelah menenangkan diri, aku memejamkan mataku dan masuk kedalam pikiran kosong.


Setelah pikiranku kosong melompong, seperti penjara yang sunyi tanpa ada satupun mahluk hidup, aku merasa kesadaran ku ditarik secara paksa oleh sesuatu yang sangat jahat.


Saat pertama kali membuka mata, pemandangan yang pertama kali menyambut ku adalah pemandangan yang megah dan agung;tempat ini seperti aula pengadilan dengan lima pilar berukuran 3,5 meter yang terdapat tahta milik empat iblis agung. Azi Dahaka sebagai pengecualian karena dia adalah naga.


"Sudah berapa lama kau menjalin kontrak dengan kami dan kau baru menghubungi kami sekarang? Ada perlu apa kau, manusia?"


Memang, ini merupakan pertama kalinya aku menghubungi mereka. Padahal, ini sudah satu bulan lamanya. Tapi, kejadian waktu itu membuatku bertanya-tanya.


"Aku kesini untuk bertanya pada Jaldabaoth."


Serentak, semua perhatian menuju pada Jaldabaoth yang duduk di pilar dengan tahta emas miliknya yang bercorak merah.


Jaldabaoth tidak langsung menjawab. Mempertahankan aura misteri dan agung yang tiada habisnya. Diantara iblis-iblis yang lain, dialah yang paling ditakuti. Aku pun sebenarnya enggan menghadapinya karena dia tidak bisa ditebak.


"...apa kau bertanya tentang kejadian yang kemarin?"


"Benar, kenapa waktu itu kau tiba-tiba muncul?"


Lagi-lagi, Jaldabaoth hening sejenak sebelum menjawabnya, "kau melihatnya, 'kan?"


"Jika yang kau maksud adalah siluet malaikat, iya aku melihatnya. Memangnya kenapa?"


"Itu adalah salah satu dari tujuanku."


"Hah? Maksudmu?"


"...kau akan tau nantinya."


Menyebalkan, dia tidak terus terang dan menyembunyikan niatnya. Tapi, yang pasti adalah, mereka bermusuhan. Entah tujuannya apa, tapi sepertinya Johan akan ikut terseret dalam hal ini juga.


"Kau masih sama seperti dulu, Jaldabaoth. Dingin dan misterius, menyebalkan sekali."


Satu suara lagi yang familier berbicara. Suara ini bukan milik para iblis, ini adalah suatu keberadaan lain. Suara itu terdengar dari belakang. Aku menoleh kearah suara itu dan tanah perlahan bergetar serta terbentuk sebuah pilar ke-enam.


Suatu tahta perlahan mulai terbentuk. Tahta yang terbuat dari batu yang kokoh dan terlihat sangat megah. Terdapat corak dalam tahta itu yang membuatku bernostalgia. Itu seperti ... Houman?


"Mengapa bisa ada penyusup!?" Suara berapi-api itu bertanya dengan bingung, aku pun juga bingung, Ifrit.


Para iblis langsung siaga, kecuali Jaldabaoth yang kasih duduk dengan postur layaknya seorang raja. Di pilar keenam, terbentuk gumpalan bayangan yang dalam sekejap terbentuk sebuah tubuh monyet dengan enam tangan, mempunyai bulu emas yang terang, dengan mata merah menyala seperti darah. Mahluk itu memiliki aura yang angkuh serta seperti penguasa. Tapi beda dengan Jaldabaoth yang misterius, mahluk ini secara terang-terangan menunjukan aura dominasi yang kuat.


Dengan tubuh seperti itu, jika tebakan ku benar, maka dia adalah, "Rhodes?"


"Benar sekali, bocah! Tebakan mu tepat sasaran!"


"Tapi, bagaimana?"


"Aku punya caraku sendiri."


Semua keheningan ini berhenti ketika Lilith berbicara dengan nada menggoda.


"Tak kusangka monyet ini ada ditempat ini. Bagaimana rasanya terkurung dipohon suci?"


Kalimat itu membuat mata Rhodes memicing, tetapi dalam sesaat, ekspresinya berubah jadi ceria.


"Tentu aku baik-baik saja, kalian sendiri, bagaimana rasanya keluar dari menara itu setelah sekian lama, hah?"


"Tentu saja, luar biasa!" balas Lilith.


Percakapan ini sangat santai, atau sebenarnya tidak? Aku tidak mengerti jalan pikir mereka.


"Tak kusangka, aku bisa menemukan raja monyet ashura disini. Bukankah ini suatu kejutan?" Sekarang Baphomet yang berbicara. Mereka saling mengenal atau bagaimana mana sih?


"Pantas saja aku merasakan aura tidak enak, ternyata itu adalah kau, bajing*n!"


"Monyet ... tak kusangka ... kau muncul kembali."


Semua yang disini mengenali Rhodes? Ini sangat mengejutkan diriku yang tak tahu apa-apa. Tampaknya mereka sempat memiliki hubungan dimasa lalu.


Rhodes mendapat sambutan dari semua iblis, tapi hanya Jaldabaoth yang masih diam. Ini membuat Rhodes tersenyum lebar sambil menatap Jaldabaoth dengan tajam.


"Hei, sial*n, kau tak mau menyapaku?"


Jaldabaoth masih diam. Ini membuat Rhodes sedikit kesal. Dia akhirnya menggerutu. Baru saja menggerutu, Jaldabaoth membalas dengan acuh tak acuh.


"Aku tak peduli dengan apa yang kau lakukan dan apa tujuanmu disini. Tapi jangan coba-coba untuk mengganggu rencana kami."


"Mengganggu?" Rhodes terkekeh sebentar dan melanjutkan perkataannya, "aku disini bukan untuk menginterupsi atau apa. Aku disini karena punya suatu informasi menarik."


Para iblis langsung mengarahkan seluruh perhatiannya pada Rhodes. Mereka tentu penasaran tentang informasi yang akan diberikan oleh Rhodes.


"Apa itu, Rhodes? Sebaiknya berikan informasi yang berguna." Ucap Baphomet yang tidak sabar.


"Jika tidak berguna... Aku akan melahapmu... Hingga mati...."


Mendengar ancaman Baphomet dan Azi Dahaka, Rhodes tertawa pelan.


"Kalian tau kan, kalau posisi kalian terbatas disini? Kalian tidak melihat dunia luar dan terpenjara dipikiran bocah ini. Sedangkan aku, aku bisa terus mengawasi anak ini dan melihat apa yang dia lihat."


"Jangan kau bertele-tele, sial*n!" Ifrit yang kesabarannya setipis tissue mulai emosi.


"Sabarlah Ifrit, kau ini tidak pernah bisa tenang, huh?"


Setelah emosi ifrit mereda, Rhodes mulai melanjutkan kalimatnya.


"Nah, bocah 'malaikat' satu itu membawa sesuatu yang sangat penting. Jika tidak salah lihat..."


Rhodes menjeda omongannya, menambahkan rasa penasaran yang intens dan rasa antusias dari kelima iblis agung ini. Bahkan Jaldabaoth pun sedikit bergerak, menunjukkan kalau dia tidak luput dari rasa penasaran.


"...bocah itu mempunyai Dimensional Codex."