
"Aaahhhh!!"
"Aku... gak kuat... lagi..."
"Jangan berhenti!"
Alex dan Norga benar-benar lari tanpa arah. Mereka terus dikejar oleh mahluk buas yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Norga memang tak ingin berhenti, tapi kakinya benar-benar sudah lemas. Hal itu membuatnya secara tidak sengaja tersandung batu dan jatuh.
"Norga! ...sial!"
Tidak mungkin hubungan pertemanan yang mereka bangun akan sia-sia. Alex langsung berhenti berlari dan hendak menolong teman satu-satunya.
Tapi, Alex harus beradu kecepatan dengan hewan buas. Hewan buas itu hendak menerkam Norga dengan gigi-giginya yang super tajam layaknya pisau tajam yang ditempa dan diasah dengan sangat baik.
Tak ingin sahabat satu-satunya dimakan dengan ganas, Alex langsung melesat kearah Norga dan menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya. Alex merasa dia kurang cepat, maka dia melompat dan menusuk pedangnya.
*Ditempat lain.
"Jangan ditusuk!"
Alan berteriak panik karena Alex mengambil langkah yang salah. Dia hanya bisa berharap kalau mahluk buas itu tidak melakukan apa yang akan dipikirannya.
Tapi, harapannya tidak sesuai. Alex tanpa ragu menusukkan pedangnya kearah mahluk buas itu. Mahluk buas itu juga melompat, tapi bukannya menggigit Norga, dia malah menggigit pedang yang ingin menusuknya. Pedang itu akhirnya terjebak diantara gigi mahluk buas yang tajam. Benar-benar terkunci dengan kuat.
"Sialan!"
Alex sangat terkejut dan Alan sangatlah kesal karena monster itu melakukan apa yang dia pikirkan.
Alan hanya bisa berharap kalau Alex melepaskan pedangnya dari genggaman atau dia akan mampus.
Tapi sayangnya, Alex tidak melepaskan genggamannya dan akhirnya, mahluk itu melemparkan Alex ke udara.
Melihat pemandangan itu, Alan langsung menepuk dahinya. Alan menyesali membawa mereka disini sebelum melatih mereka dengan benar-benar matang. Tapi Alan segera melihat hal yang membuatnya terkejut sekaligus senang.
Norga mengosongkan pelurunya yang merupakan peluru karet dan dengan cepat mengisi ulang pistol dengan magazine berisi peluru asli.
Norga selesai dengan mengisi peluru dan menodongkan pistolnya kearah dagu mahluk buas, menggenggam erat pistol itu dengan kedua tangan, dan menarik pelatuknya.
Mahluk itu menyadarinya, tapi sudah terlambat, Peluru itu sudah menembus dagunya dan kepalanya.
"Luar biasa! Aku tak mengharapkan ini sama sekali."
Mahluk itu langsung mati karena untung saja peluru itu merupakan peluru khusus yang bisa menembus kulit keras. Dan satu hal lagi, kulit dari mahluk buas itu tidak sekeras baja, hanya giginya yang sekeras baja.
***
"Hah... hah... hah..."
Saat-saat itu benar-benar menegangkan bagi Norga. Dia melakukannya secara reflek. Untung saja dia mengisi pelurunya lebih cepat dan sempat menembaki mahluk itu.
Dia bangun dan duduk dengan jantung yang masih berdebar kencang. Dia baru pertama kali merasakan hal seperti itu. Jantungnya layaknya bom yang akan segera meledak. Dan tidak hanya itu, dia melihat hal yang seharusnya tidak bisa ia lihat, membuat jantungnya benar-benar akan segera meledak.
[Selamat, kau orang kedua yang berhasil membunuh monster meski kau hanya manusia biasa. Itu merupakan pencapaian luar biasa untuk orang sepertimu.]
[Karena itu kau akan diberi hadiah,hadiah akan didapatkan jika kau sudah membunuh 5 monster dari dunia lain.]
[Monster yang sudah dibunuh:1/5]
"A-apa... Mustahil!"
***
"Huaaaah!"
Alex sempat pingsan beberapa detik karena terjatuh. Untungnya ia jatuh di semak-semak, tapi tetap saja ia masih merasakan sakitnya.
Dia mencoba untuk bangun, tapi kakinya terlalu sakit.
"Ugh... Sialan, aku terjebak disini, dilempar oleh harimau, dan sekarang tubuhku sakit semua. Apa yang akan datang nanti?"
Pertanyaannya langsung terjawab dengan cepat. Pengelihatannya tiba-tiba menjadi gelap. Dia kira dia buta secara tiba-tiba, tapi ternyata ada kulit pisang yang besar yang menutupi wajahnya.
"Pisang? Jangan bilang..."
Alex melihat kearah pohon, tetapi tidak ada apapun. Dan dia tertimpa kulit pisang lagi. Dia sadar kalau mahluk yang membuang kulit pisang bukan di pohon, tapi dilangit.
Di langit, ada monyet kecil dengan sayap elang tersenyum kearahnya.