The Slayers

The Slayers
Chapter 94 (Season 3)



***kembali ke hari dimana Alan, Alex dan Norga selesai berurusan dengan keluarga mereka. Saat mereka pulang, mereka memutuskan untuk tidur dan membahas status Alex dan Norga besoknya.


kemudian, paginya.


Di pagi yang cerah, Alan sedang menciptakan ramuan-ramuan untuk Ling Hua dan untuk dirinya sendiri. Resep-resep baru ada pada Grimoire:tale of Alchemist, jadi Alan tinggal mengumpulkan bahan-bahan yang ada.


Alan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan dan menimbulkan kegaduhan. Karena dia sedang bereksperimen, takutnya ramuan yang dia buat akan meledak secara tak sengaja. Tapi sepertinya itu mustahil untuk tidak meledak saat pertama kali coba.


*BOOOOM!!!


Suara ledakan muncul dari ruang eksperimen Alan. Tentu itu akan membuat tetangga yang masih tidur pulas malah mendengarkan Asmr yang membuat jantung hampir copot.


Yang paling kaget adalah Alex dan Norga. Mereka masih tertidur pulas dan tiba-tiba mereka dikagetkan oleh ledakan. Mereka langsung melompat dari kasur.


"Hah!? Ada musuh menyerang!?" Alex melompat dari kasur dan langsung dalam kondisi waspada.


"Aduh!" Beda dengan Alex yang langsung siaga, Norga melompat dan jatuh kelantai. Dia bangun dan berdiri beberapa saat kemudian.


Alex mendekati jendela yang ditutupi tirai. Dia membuka tirai sedikit dan mengintip keluar, tidak ada musuh yang terlihat, apakah mereka menyerang dengan sembunyi-sembunyi? Begitu pikiran Alex, tapi dia segera melihat seorang bapak tua, botak dan gendut keluar dari rumahnya dan segera menuju pintu rumah Alan.


"Hmm, ada siapa, kak?" Norga ikut melihat.


"Mana kutahu?"


Selanjutnya, tak hanya bapak botak gendut saja, ada ibu-ibu, satu keluarga, bahkan kakek-kakek. Bapak botak gendut mengetok pintu rumah Alan.


Alex mulai berubah pikiran, musuh tidak menyerang dari luar, tapi dari dalam. Bisa jadi, ada orang yang punya dendam dengan Alan dan mereka menyewa seorang assassin ahli untuk membunuh Alan. Bisa jadi Alan sekarang sedang bertarung dengan assassin jahat!


"Norga, sekarang mungkin kak Alan sedang dalam bahaya!"


"Hah? Kok bisa?"


"Kegaduhan tadi bisa jadi karena kak Alan yang menggunakan skillnya untuk bertarung melawan seorang pembunuh."


"Lalu kita harus bagaimana? Membantu kak Alan?"


"Mungkin, tapi kita bisa jadi beban untuk kak Alan. Jadi biarkan para ahli bertarung saja. kita diam disini dan menunggu pertarungan selesai."


Norga mengangguk dan tak bicara lagi, tapi beberapa detik setelahnya, dia merasa kalau ucapan Alex cuma ucapan ngawur.


"Hei kak, kalau kak Alan sedang bertarung dengan pembunuh, kenapa tidak ada suaranya?"


"...aku tidak tahu."


"Mungkin kita harus mengeceknya dibawah."


Segera setelah ucapan Norga, Alex menunjuk Norga yang artinya, dia yang mengecek ke bawah.


"Aku? kenapa bukan kak Alex saja?"


"... bagaimana kalau kita suit?"


"Suit? kak Alex yakin? Kau sudah kalah berapa kali denganku."


"Jangan sombong, siapa tau kali ini aku yang menang."


"Hehe, siap-siap untuk turun, oke?"


Kesombongan akan berakhir dengan buruk. Ini terjadi pada Norga yang kalah. Norga menggunakan kertas dan Alex menggunakan gunting.


Norga keluar dari kamar dan berjalan dengan sangat pelan sampai tak menimbulkan suara apapun. Dia dari tangga mengintip, tidak ada apapun diruang tamu, semua rapi dan bersih. Tidak ada jejak pertarungan. Dia melihat kearah sekeliling sampai dia melihat pintu utama terbuka, dia juga melihat Alan yang berdiri di pagar, menenangkan warga yang marah. Untungnya, warga segera pergi meski mereka masih dalam kondisi marah.


Alan masuk kembali kerumah, dan dia melihat Norga yang sedang mengintip di tangga.


"Kau sudah bangun? Mana Alex?"


"Kak Alex lagi dikamar, mana musuhnya?"


"Musuh apa?"


"Ah lupakan saja, kak."


"Kalau begitu kalian berdua turun dan mandi, aku akan memasak."


"Oke kak."


Masakannya sangat biasa, tapi dapat mengenyangkan mereka.


"Oh ya, tadi kalian terbangun karena ledakan ya? Maaf ya, itu pasti mengagetkan kalian."


"Tidak apa-apa, kak. Itu ledakan dari mana?"


"Itu karena aku sedang bereksperimen di ruang pribadiku."


Keduanya mengangguk.


"Selesaikan makanan kalian, aku akan mengajar kalian sebentar lagi."


Mereka segera menghabiskan makanan mereka.


Sedangkan Alan, dia membaca Grimoire:tale of Alchemist, dia duduk di sofa ruang tamu.


Alex dan Norga keruang tamu dan melihat buku yang benar-benar tebal sedang dibaca Alan.


"Buku apa itu kak?" Tanya Norga penasaran.


"Ini? Ini adalah sumber pengetahuan ku." Dia segera menutup bukunya. "Kalian duduklah, aku akan memberi pelajaran dasar."


Mereka berdua dengan gugup duduk diseberang Alan. Mereka tidak terlalu siap dengan pelajaran pertama, tapi mereka akan berusaha.


"Jadi, aku akan bertanya dulu pada kalian..."


Alex dan Norga menarik nafas, apakah pertanyaannya akan sulit?


"...pertama, kalian pernah bermain game mmorpg kan?"


Keduanya mengangguk.


"Kalian membuat karakter kalian sebagai cewek atau cowok?"


"Cowok, tentu saja." Jawab Norga tanpa ragu.


"Kadang bisa cewek, kadang bisa cowok." Kata Alex.


Alan mengangguk, kemudian bertanya lagi "Kalian biasanya memilih job apa?"


"Aku paladin." kata Alex. Sedangkan Norga berkata "Aku biasanya memilih berseker."


"Apa alasan kalian memilih job tersebut?"


"Aku memilih paladin karena paladin itu serbaguna, bisa menggunakan buff, menggunakan skill healing, bagus dalam bertahan, dan serangannya juga lumayan, terutama saat melawan evil." Alan mengangguk sambil tersenyum, itu alasan yang masuk akal.


Sementara itu "Aku memilih berseker karena mereka keren dan serangan mereka sangat kuat, mereka juga berani dan tangguh." Alan mengangguk sekali lagi.


Kemudian, Alan bertanya lagi pada mereka berdua "Kalian saat bisa memilih job, apakah paladin dan berseker adalah job yang kalian impikan?"


Jawaban Alex adalah "ya", sedangkan Norga "Kalau itu sih, aku akan memilih berseker, atau mungkin barbarian. Pokoknya aku akan memilih sesuatu yang keren dan selalu berada di garis depan!"


Alan mengangguk, dia kemudian berkata "Kalau begitu, Alex, kau harus menjadi orang baik dan berada digaris depan, kau juga tak boleh membunuh siapapun, oke?"


Alex bingung dan ingin bertanya, tapi Alan segera berkata pada Norga "Dan untuk Norga, kau harus berada digaris depan, dan kau harus menjadi impulsif."


"Eh, kenapa?"


Itu adalah pertanyaan yang ditunggu oleh Alan, dia segera menjelaskan.


"Ehem, jadi, kemunculan job berpengaruh dengan sifat kalian, contohnya paladin, paladin itu suci, pemberani, dan setia. Kemudian berseker itu impulsif, berani, dan bermental baja. Jika kalian memenuhi hal tersebut, kemungkinan job tersebut akan muncul dihadapan kalian."


Keduanya akhirnya mengerti, itulah mengapa mereka harus bertindak sesuai dengan job mereka.


Norga punya satu pertanyaan "Kalau begitu, apa sifat-sifat dari Alchemist?"


Alan berpikir sejenak dan berkata "Ini hanya asumsi ku, tapi kemungkinan adalah rasa penasaran, kepintaran, ketabahan, pantang menyerah, dan selalu berinovasi. Mungkin itu faktornya."


Pertanyaan Norga terjawab sudah, dia akhirnya memutuskan untuk tak bertanya lagi.


"Oh ya, habis ini, kalian akan kubawa kekantor Slayers di dekat sini. Aku sudah bilang pada Nolisia bahwa aku akan mendaftarkan kalian menjadi Slayers resmi."


Mereka mengangguk dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor Slayers di kota ini.