
Orang-orang berkumpul membentuk kerumunan yang sangat bising. Mereka menyuarakan kepanikan mereka.
Seorang pria paruh baya dengan jaket berwarna abu-abu memukul-mukul udara yang terlihat kosong. Namun, sebenarnya dia sedang memukul dinding tak terlihat. Begitu pria itu memukul, suara benturan yang lumayan keras terdengar. Merah pula tangan si Pria.
"Keras banget, kampr*t!" keluh si Pria sambil meringis.
"Tangan kosong tidak akan mempan, Pak. Harus pakai senjata ini, Pak." Orang di sebelahnya yang merupakan seorang bawahan memberi saran.
"Emangnya kau punya?"
"Hanya ada ini, Pak."
Bawahannya menyerahkan benda berwarna hitam yang panjangnya sekitar 24cm. Pria itu mengambilnya dan sedikit menggoyangkannya dengan keras. Benda itu kemudian memanjang.
"Memangnya ini kuat?"
"Ini khusus, Pak. Baton stick ini dibuat oleh Craftsman yang ahli."
Pria itu mengangguk. Tanpa aba-aba, dia langsung memukul penghalang yang tak terlihat. Suara dentuman yang nyaring terdengar ditelinga orang-orang. Sayangnya, penghalang tersebut baik-baik saja. Nasib baik juga karena baton itu tidak patah. Mereka harus menanggung biaya nya jika baton itu terbagi menjadi dua.
"Tch! Gak guna!"
"Kalau begitu coba ini, Pak."
"Kau yakin?" Pria itu enggan menerima senjata ditangan bawahannya. Itu adalah pistol yang sudah dimodifikasi.
"Didalamnya sudah ada peluru khusus, Pak."
Mendengar itu, sang Pria langsung menembaki penghalang tak kasat mata itu. Namun, peluru itu terhenti mengenai penghalang tak kasat mata dan jatuh ke tanah, mengeluarkan suara detingan renyah.
"Ini juga tidak bisa. Mau pakai apa lagi? Bazoka?"
Disaat si Pria memutuskan untuk pergi, seorang wanita mendekatinya. Pria itu yang awalnya menunduk, langsung menghadap lurus ke depan dengan mata yang membelalak.
Tubuhnya ramping dan elok, mampu menggoda siapapun yang melihatnya. Menggunakan pakaian serba hitam yang membuat kesan dewasanya terlihat dengan jelas. Rambutnya hitam lurus dsn panjang, dengan poni yang menutupi mata kanannya. Dibelakangnya, tiga gadis cilik bersembunyi dan mengintip. Wanita itu adalah Ling Hua.
"Hei, apa yang terjadi?" Wanita itu bertanya. Suara lembut wanita itu membuat sang Pria terpikat dan malah melamun.
"Eh, Nona, disini berbahaya! Sebaiknya anda-" Bawahan dari si Pria memperingati Ling Hua. Namun, mulutnya tidak mau terbuka lagi ketika ditatap tajam oleh Ling Hua. Bersamaan dengan bawahannya, Si Pria juga tersadar dari lamunan.
"S-sekarang ini, taman menjadi tempat yang tidak aman! Nona, an-" Si Pria yang barusan melamun langsung dengan tegas menjelaskan. Tapi ....
"Mengapa tidak aman? Kenapa harus pakai pistol segala?"
"Eh, itu, karena ada penghalang tak kasat mata ...." Si Pria tidak mengerti kenapa dia reflek menjawab kata-kata dari Ling Hua.
"Penghalang?" Ling Hua menaikkan satu alisnya dan bergerak selangkah. Satu matanya memperhatikan udara kosong.
"Hei," Ling Hua menoleh kearah Si Pria. "Tolong jaga ketiga putriku."
"Ibu mau kemana?" Nissa sontak bertanya pada Ling Hua. Ling Hua hanya menoleh sedikit, "tunggu sebentar ya, Ibu ingin melakukan sesuatu."
Ling Hua sedikit melangkah. Jarinya mengetuk penghalang tak kasat mata di depannya.
Cincin yang terpasang dijari telunjuk bersinar dengan warna hijau terang. Cincin itu perlahan terlepas dengan sendirinya. Kemudian melayang di depan wajah Ling Hua.
Perlahan cincin itu berubah. Bentuknya menjadi lonjong dan berwarna abu-abu pekat seperti besi. Ling Hua menggenggam benda didepannya dan menghentakkan benda itu. Rupanya, itu adalah sebuah kipas. Teksturnya terlihat kasar dan tidak cocok untuk disebut sebuah kipas.
Ling Hua mengayunkan kipasnya secara horizontal, selayaknya mengayunkan pedang.
Krak! Krak!
Si Pria membelalakan matanya. Sekali-kali mengucek mata karena tidak percaya.
"Ru-runtuh!"
Di udara yang seharusnya kosong, muncul retakan yang perlahan runtuh.
Ling Hua langsung mengintip didalamnya dan terkejut. Ada tiga orang disana. Dua orang terbaring lemah di tanah dan satu lagi berdiri dengan santainya. Yang mengejutkannya adalah, salah satu yang tepar di tanah adalah orang yang dia kenal. Orang itu kemudian mendongak keatas dengan ekspresi terkejut.
"L-Ling Hua!?"
"Ah, pantas saja."
Ling Hua akhirnya tau kenapa Alan tidak menjawab telepon dan menerima pesannya. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia terperangkap.
"Siapa kau!? Kenapa kau bisa menembus dimensi yang kubuat??" Si Master Labirin bertanya dengan ekspresi terkejut. Dalam dirinya, dia merasa takut.
"Kau bisa menembus dimensi ini, berarti kau high ranker, 'kan?"
"Kau sendiri, si Master Labirin dari Necron, 'kan?"
Master Labirin sedikit terkejut. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau julukan dari petinggi Necron lumayan dikenali, apalagi oleh High Ranker.
"Jadi, kau beneran High Ranker?"
"Terserah kau ingin menyebutku dengan apa, tapi yang penting adalah lepaskan orang-orang dari perangkap dimensimu."
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Tidak mau? Ohhh, baiklah ...."
Master Labirin tidak sadar jika dia sudah membuat satu kesalahan besar. Dibelakang Ling Hua, muncul satu portal besar dengan bentuk selayaknya cermin.
"Aku memilih dia."
Ling Hua menunjuk Alan yang sedang tepar. Alan tidak mengerti apa-apa dan hanya bisa menunjukan ekspresi bodoh.
Tak lama, dari portal tersebut, muncul tangan yang perlahan keluar. Lama kelamaan, setengah wujud sudah nampak. Hal itu membuat Alan terkejut. Sosok itu sangat identik dengan dia.
Sosok itu jatuh ketanah dan beranjak bangun. Sosok itu tersenyum dengan sangat lebar.
"Maju, orang gila!"