
Suara itu sangat lembut, lembut sekali sampai rasanya dia bisa membunuhku hanya dengan kata-katanya. Aku sampai-sampai tidak ingin menoleh kebelakang. Alex, Norga, Cindy, bahkan Lyfa membeku ditempat.
'Sialan!'
Aku tidak punya pilihan selain menyerang entah siapa itu. Dengan [Bloodlust Claw], aku langsung menghadap belakang secepat kilat dan langsung mencakar entah siapa itu.
Tapi, tanganku tiba-tiba berhenti. Bukan aku yang mau, tapi seperti ada yang menghadang tanganku. Pergelangan tanganku seperti dicengkram oleh sesuatu, tapi tidak ada apa-apa dipergelangan tanganku.
Saat berhenti, aku melihat satu sosok tinggi, itu adalah wanita yang menggunakan gaun gaya gotik, memakai kerudung pengantin dan penutup mata berwarna hitam. Siapa lagi kali ini?
"Kau cepat juga, ya?" wanita itu berbicara lagi kepadaku.
Tak menanggapi kata-katanya, aku langsung menyerang dengan tangan satu lagi. Sama saja, tanganku seperti dicengkram cengkram dengan keras oleh sesuatu yang tidak terlihat. Menggunakan [Eyes of Sage], ternyata benar perkiraanku, ada sesosok raksasa tengkorak yang mencengkram kedua pergelangan tanganku. Sayang sekali, itu belum cukup untuk menahan ku.
Kesepuluh jari-jariku memanjang dan mencoba untuk menusuk wajahnya. Lagi-lagi seranganku terhenti, bukan karena ada yang menahan, tapi itu karena ada pelindung tak kasat mata disekitarnya.
"Kau, sangat liar sekali."
'Tch!'
"Kalian semua, LARI!"
Mereka yang dari tadi membeku langsung berlari dengan cepat. Mereka tak perlu disuruh, langsung menuju kearah bangunan tua.
"Kasian, kau ditinggal."
"Tidak usah sok kasian, nenek lampir!"
Aku menarik paksa tanganku hingga terputus dan melompat kebelakang. Nenek lampir itu terkejut dan langsung tersenyum.
"Kau berani sekali, mau masuk ke Necron gak?"
Necron, orang-orang yang bergabung disana adalah psikopat, orang gila, atau yang suka melanggar peraturan. Orang-orang disana lebih gila dari aku. Sejak awal aku tidak pernah punya keinginan untuk masuk kedalam Necron, jadi tanpa ragu, aku menolak.
"Aku menolak, nenek lampir sialan! Aku tidak mau masuk kedalam organisasi sesat."
"Sayang sekali, padahal kamu berpotensi banget, loh!" Nenek lampir itu jadi cemberut, tapi segera tersenyum.
"Kalau begitu, akan kubunuh kau!"
Mendengar itu, aku tersenyum. Tanganku langsung beregenerasi dengan sendirinya menjadi utuh kembali. Ini akan menjadi tantangan yang seru, mungkin? Dia terlihat sangat berbeda dengan orang-orang waktu itu, kali ini terlihat sangat kuat.
Memang benar, dia sangat kuat, dan ini akan menjadi bencana untukku. Kutarik kata-kata ku tadi, ini tidak akan menjadi seru, ini akan jadi pembantaian.
[Rinnia Azulue.
Level:568
Job: Necromancer]
"Aku akan selesaikan dengan cepat, jadi jangan dendam padaku ya, bocah!"
"Aku tidak akan mati dengan mudah, loh."
Aku tidak akan membiarkan nenek lampir satu ini mengejar mereka, oleh karena itu...
"Nest!"
***
POV Alex.
Aku berharap kak Alan bisa bertahan dengan wanita jahat itu. Tapi tadi kak Alan sepertinya kesulitan.
"Kita harus kemana ini?" Begitu masuk, Norga langsung kebingungan.
"Mana kutahu? Kau kira aku gps?"
"Sial, kita tidak bisa ngapa-ngapain!"
"Tapi, sepertinya itu tidak benar."
Cindy sepertinya berkata lain, dia menoleh kearah Lyfa yang sedang menciumi seisi ruangan. Dia akhirnya menemukan sesuatu ditanah dan menggalinya. Beberapa detik kemudian, Lyfa mencakar sesuatu seperti pintu dan pintu itu jebol. Pintu itu mengarahkan mereka
"Wahh, kau pintar sekali Lyfa!"
Aku segera mengelus buku Lyfa, yang lainnya juga langsung mengelus bulunya. Lyfa tak bereaksi apa-apa, tapi aku yakin dari dalam dirinya, dia merasa senang. Itu karena aku terkoneksi dengannya.
Kami segera turun kesana, menyusuri tangga yang membawa kami agak dalam. Akhirnya, kami tiba di lorong yang panjang. Tidak beruntungnya kami, kami disambut oleh para pasukan Necron.
"Penyusup!
"Sialan, aku lagi main kartu!"
"Panggil yang lain!"
Sial! Mereka langsung berdatangan! Bagaimana ini? Aku tidak biasa melawan Special!
'Tenang, lakukan saja seperti kata kak Alan.'
"Semuanya, bersiap!"
Semuanya langsung bersiap untuk melawan. Kami tidak terlalu diuntungkan, apalagi aku dan Lyfa yang tidak cocok bertarung di tempat sempit. Aku hanya bisa menusuk disini. Jadi, Norga disini akan sangat enak untuk bertarung.
"Norga kau maju dulu!"
Norga tidak protes seperti biasa, dia langsung maju dan menghantamkan kedua palu kembarnya pada kaki musuh.
Semuanya langsung patah kaki dan lumpuh. Aku menambahkan dengan memukulkan perisaiku pada masing-masing muka mereka. Mereka langsung pingsan seketika.
Kami disini untuk mencari satu anak berpakaian mewah. Kami disini tidak untuk membunuh. Kami juga tidak pernah disuruh untuk membunuh. Kalau iya, aku tidak siap. Aku tidak tau Norga akan siap atau tidak.
Akhirnya, setelah mencari-cari diantara banyaknya ruangan, kami menemukan satu anak berpakaian mewah. Entah anak siapa ini dan kenapa dia diculik, tapi kami selamatkan saja. Aku dan Norga langsung melepaskan ikatan talinya dan membuka karung pada kepalanya.
"Ahhhh! Jangan sakiti aku!" Anak itu mendadak berteriak, anak laki-laki.
"Kami bukan penculik, dan kami disini untuk menyelamatkanmu, jadi jangan rewel!" Norga menegur anak itu.
Anak itu langsung ketakutan dan mengangguk. Matanya ingin mengeluarkan air mata, pasti anak ini adalah anak manja.
"Bisa jalan?" tanya Norga.
"B-bisa."
"Bisa lari?"
"L-lariku lambat ...."
Sudah kuduga dia akan menjawab begitu, karena itu aku menyuruh Lyfa untuk membawanya dipunggungnya.
Kami segera berlari untuk keluar, tapi, ada hambatan sebelum itu.
"Anjir, mereka pantang menyerah!"
Para Necron yang tadi dilumpuhkan pada menuju kesini meski mereka kesusahan. Jumlahnya juga sangat banyak.
Mereka kemudian mulai bergerak seperti hewan buas dan mencoba untuk membunuh kami.
Kami mencoba untuk melumpuhkan mereka, tapi mereka sangat banyak. Kami mendapat pelukan yang tidak diinginkan dari mereka.
"Kyaa!!"
"Sial!"
Aku mencoba untuk menolong Cindy tapi orang-orang ini mengganggu dan menusuk-nusuk anggota tubuhku. Mereka seperti zombie, dan kami sudah tidak bisa melakukan apapun.
'Bagaimana ini? Apakah sudah saatnya?'
Aku tidak menyangka akan secepat ini, tapi ini terlalu cepat. Aku membulatkan tekad ku untuk ini, karena kak Alan sudah memperingatkan kami kalau saat ini akan datang.
"Norga!"
Aku berteriak sangat kencang, seperti meraung. Aku mengeluarkan ganjur dari inventori dan menusuk orang-orang yang menghalangiku.
"Ini sudah waktunya, jangan menahan diri!"
Norga mengerti maksud dari ucapan ku. Dia akhirnya menargetkan kepala mereka. Sekali pukul, pecah pala mereka. Kami tidak punya pilihan lain selain menahan perasaan jijik kami.
'[Mystic Direwolf Body.]'
Akhirnya, setelah beberapa bulan menjadi beast rider, aku menggunakan skill ini. Lyfa berubah menjadi debu dan berkumpul disekitar ku.
Aku merasakannya, perubahan pada tubuhku. Otot-otot ku mengembang, tulangku menjadi lebih keras. Tubuh-tubuhku menjadi dipenuhi dengan bulu. Aku akhirnya menjadi werewolf!
"Graaaa!!!!"
Tanpa basa-basi, para Necron ini ku cakar hingga tubuh mereka terpisah-pisah. Aku segera menyelamatkan Cindy dan menyerang orang-orang yang berani menyentuhnya.
Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Cindy bahkan rambutnya satu helai pun sekarang!
Akhirnya, hanya ada kita berempat. Mereka semua sudah mati. Tubuhku terasa merinding dan aku ingin muntah segera.
Lyfa berpisah dariku dan akhirnya aku berlutut dan nafasku menjadi berat. Aku telah membunuh seseorang!
"Tidak apa-apa, Kak. Mereka itu orang jahat, mereka pantas mendapatkannya."
"Iya, jangan merasa bersalah Alex. Kamu sudah melindungi ku tadi, aku sangat berterima kasih."
... senangnya punya teman seperti mereka, mereka membuatku nyaman dan menjadi tenang kembali. Norga juga sangat kuat, meski tangannya bergetar, tapi dia masih bisa menyemangati ku. Aku yang lebih tua tidak boleh kalah.
"Terima kasih, teman-teman."
Mungkin kita terlarut pada atmosfer yang damai ini, hingga aku baru teringat satu hal.
"Eh, apa kalian ada melihat anak yang tadi?"
"Aku tidak hilang!"
Suara yang tinggi dan angkuh terdengar secara tiba-tiba. Saat melihat kearah sumber suara, anak yang usianya sekitar sebelas sampai dua belas tahun terlihat. Rambutnya berwarna coklat dan berantakan. Wajahnya punya senyum yang sombong, aku yakin Norga kesal dengan orang itu.
Dia memakai jas berwarna emas dengan dasi kupu-kupu merah yang terlihat kekanak-kanakan. Dia terlihat tambah kekanak-kanakan dengan celananya yang seharusnya celana panjang, tapi dia gulung hingga lebih dari lutut. Yang lebih lucu lagi? Dia memakai sepatu emas dengan kaos kaki putih, sangat nyentrik.
"Halo, kau siapa?" tanya Cindy dengan lembut, seperti biasanya. Orang itu tidak langsung menjawab, dia menatap kami seperti sedang menilai. Orang ini punya muka yang halal untuk di gampar, aku serius.
"Namaku adalah Reza!" jawabnya dengan penuh tekanan dalam nadanya.
"Nama panjang?" Norga langsung bertanya dengan tidak puas.
"Kau tidak berhak bertanya namaku!"
"Apa? Songong sekali kau!?" Norga langsung marah dan tidak terima.
Aku setuju, dia baru kami selamatkan dan begini perlakuannya terhadap kami?
"Kau baru kami selamatkan, dan kau bersikap seperti ini, kau sangat sombong, huh?" Aku mulai angkat suara, tidak tahan dengan tingkah sombongnya.
"Tch, tanpa kalian selamatkan pun, ayahku akan mengirim orang untuk mencariku!"
"Sombong amat! Memangnya ayahmu siapa sih?"
"Ayahku ini adalah orang yang sangat berpengaruh di negara ini! Dia bisa mengirim ratusan orang yang lebih tinggi dari kalian, jauh lebih tinggi! Contohnya seperti kakak cantik satu ini!"
'...what the heck?'
Anak ini, sungguh, dia minta digampar ya? Anak ini semena-mena sekali.
"Kalian berdua orang udik yang memakai barang-barang tidak berkualitas dan kasar! Lihat kakak cantik kiriman ayahku! Anggun dan cantik sekali, bahkan dia memakai pakaian Slayer, bukan seperti kalian berdua yang pakaian tidak mencerminkan seorang Slayer sama sekali!"
Buset dah, anak ini bener-bener pengen digampar habis-habisan kah? Anak ini sudah diselamatkan, tapi sikapnya kek setan. Malah tadi kek orang ketakutan lagi. Sekarang malah menilai orang dari bajunya.
Memang dibanding dengan Cindy yang memakai perlengkapan yang dibelikan oleh kak Alan kemarin-kemarin. Aku dan Norga hanya memakai pakaian kami yang biasa. Kami untuk sementara tidak perlu armor waktu itu karena kurasa kami bisa menyelesaikan portal tadi tanpa armor kami.
"Maaf ya, tapi, aku bukan kiriman ayahmu." Cindy langsung menjawab.
"Lah bukan?"
"Bukan, aku ini teman mereka."
Aku berharap dia malu, tapi, anak satu ini malah memegang tangan Cindy sambil berlutut, ini seperti melihat pangeran ingin melamar putri.
"Kalau begitu, ikutlah denganku, aku akan menjadikanmu pengawal pribadiku, dan kau akan jadi kaya! Bahkan kau bisa terlihat seperti putri dibandingkan dengan orang-orang ini!"
...aku akan membunuhnya sekarang. Dia ingin merebut Cindy dariku? Sayang sekali, jika dia adalah pangeran dan Cindy adalah putri, maka aku adalah kesatria kematian yang akan mengeksekusi bocah satu ini dan menggantikan tempatnya.
"Maaf, itu tawaran yang bagus. Tapi aku tidak akan mengikuti orang yang tidak sopan pada teman-temanku."
Cindy langsung menolaknya, dia juga membela kami. Dia memang wanita yang sempurna! Aku akan melindungi Cindy dengan cara apapun!
Bocah itu terkejut, dan sebelum dia mengeluarkan satu kata pun, aku menggendong tubuhnya dipundak ku.
"Hei, lepaskan aku!"
Aku tidak memperdulikan omongannya, dan langsung naik ke punggung Lyfa beserta dengan Cindy. Kami berlima kembali keatas dan pasti kak Alan sudah menunggu kami.
Harapanku sih begitu, tapi ternyata, kak Alan tidak ada saat kami sudah sampai diatas.
"Kak Alan mana dah?"
"Aku tidak tau, tapi ayo kita bawa anak ini ketempat asalnya."
"Ayo!"
Kami berlima akhirnya pergi dari bangunan tua itu.
"Hei, dimana rumahmu?" aku bertanya pada Reza yang sedang meronta-ronta dipunggung ku, sangat menyebalkan sekali.
"Rumahku ada di perumahan EXE, Mansion G."
'Buset, anak ini beneran anak pejabat?'
Aku langsung pergi kearah rumah anak ini. Aku akan mengembalikan bocah akhlakless ini ke habitatnya dengan segera.
Tapi aku bertanya-tanya, dimana kak Alan sekarang?
Duar!
Tiba-tiba, ada orang yang jatuh sambil menggelinding didepanku. Kami langsung berhenti tepat didepan tubuh ini.
"Eh, kenapa berhenti?"
"Diam dulu kau, bocah!" Norga dengan emosi menyuruh anak kecil itu diam. Norga mendekati tubuh itu dan tiba-tiba tubuh itu membuat gerakan aneh. Ada suara seperti tulang yang retak, suaranya sangat renyah.
Bersamaan dengan suara tulang yang renyah, tubuh itu bangun secara perlahan, dan kami mengenal sosok itu.
"Kak Alan!" kami berteriak secara serentak.
Tapi, kenapa Kak Alan sekarang sedang terluka parah. Tubuhnya terlihat hancur, tapi perlahan beregenerasi.
"Kalian! Cepat pergi dari sini!"
Apa? Kak Alan kelihatan sangat serius, apakah ada lawan berlevel tinggi? Tiba-tiba, ada suara teriakan dan gempa.
Kami secara reflek melihat kearah belakang dan ada satu raksasa menyeramkan seperti zombie. Bau busuknya bahkan bisa tercium disini walau jaraknya jauh.
"Anj*ng! Cepet banget!"
Kak Alan langsung memanjangkan tangannya dan melilit kami. Kami secara mendadak berpindah.
Kami tiba di sebuah kompleks perumahan yang tak jauh dari sini. Kak Alan yang memindahkan kami langsung tepar dan wajahnya terlihat kesakitan.
"Kak Alan, kau terlihat sangat parah!"
Kak Akan tak menjawab dan mengambil High mana potion dari inventorinya dan meminumnya.
"Uhuk uhuk!"
Akibat tergesa-gesa, Kak Alan tersedak. Tapi untungnya Kak Alan segera membaik, tidak lemas seperti tadi.
"Huft, aku kira aku hampir mati!"
"Kau baik-baik saja, Kak?" tanya Norga.
"Ya, aku baik-baik saja."
Alan melirik sekitar dan melihat semuanya baik-baik saja, dan perhatiannya tertuju pada Reza.
"Hei nak, siapa namamu?" Alan bertanya pada Reza.
"Namaku Reza!"
"Nama panjang?"
"Kau tidak pantas mengetahui nama panjang ku!"
Jawabannya sama seperti saat kami bertanya. Kak Alan pasti akan mengamuk. Tapi ternyata tidak seperti dugaanku.
"Baiklah kalau tak kau jawab. Semuanya, ayo pergi."
"Ah, mau kemana kak?" tanya Norga yang bingung.
"Pulanglah, kemana lagi?"
"Lah, Kak Alan mau bawa anak ini?"
"Siapa bilang aku mau bawa anak ini?"
"Eh?"
Ekspresiku dan Cindy tak jauh beda dengan Norga yang kebingungan.
"Kak Alan tak membawa anak ini kerumah?"
"Nggaklah, anak songong itu paling bisa pulang sendiri."
"Hei hei, kau tidak mau mengantarku pulang? Beraninya kau!"
"Hei, bocah, kau saja tak menghormati ku dan mengatakan nama panjangmu, untuk apa aku mengantarmu pulang?"
"Tch, kalau begitu aku akan pulang sendiri! Ketika aku pulang, aku akan melaporkan perbuatan kalian pada ayahku!"
"Apa aku terlihat peduli? Tidak!"
Dan kami pun pergi meninggalkan anak itu. Yah lagi pula, aku juga gak sudi untuk mengantar anak itu pulang sih. Hari ini sangat melelahkan, dan anak kecil itu malah mempersulit kami. Biarkan saja dia menangis, aku tidak akan peduli.
"Hei! Tunggu!"
Itu, suara Reza? Kami semua berbalik dan melihat Reza berlari pada kami dengan ekspresi ketakutan.
"Tunggu!"
Dia akhirnya tiba didepan kami dan ngos-ngosan. Dia menarik nafas dalam sebelum berkata, "namaku Reza Purnomo, anak dari Rega Purnomo dan Susie Purnomo."
Purnomo? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Tapi aku tidak ingat siapa.
"Ah, jadi kau ... Jackpot."
Kak Alan sepertinya tau siapa orang tua anak ini dan dari mana dia berasal. Kak Alan, senyumnya benar-benar menyeramkan...