The Slayers

The Slayers
Chapter 84 (Season 3)



Portal yang dimasuki adalah dunia dengan banyak batuan merah, tanahnya pun merah.


Johan tidak pernah mengharapkan ini, tapi secara mengejutkan, mereka sangat serasi. Mereka bekerja sama dengan baik meski baru pertama kali satu tim. Semua orang juga kompak dan saling melindungi satu sama lain terutama Via dan El. Via selalu mengawasi setiap anggota tim dan melindungi anggota dari serangan mendadak;dia memberi banyak buff perlindungan pada team.


El juga merupakan anggota dengan peran paling berpengaruh karena kerusakan yang dia sebabkan sangat mengerikan padahal itu hanya basic spell seperti fire ball atau ice thorns.


Grace juga sangat membantu dari jarak jauh. Tembakannya akurat dan fatal. Rise pun tak kalah dari kakaknya, karena dia adalah fabricator, Rise membawa banyak logam bekas dan menyusunnya menjadi sebuah meriam entah bagaimana caranya.


Meriam tersebut dialiri mana oleh Rise dan meriam itu menembak sesuai dengan keinginan Rise.


Sedangkan Johan dan Niji tidak terlalu berbuat banyak, mereka hanya membasmi monster sisa dan Niji paling banyak dilindungi.


"Sudah kubilang, kau saja Via yang jadi pemimpin."


"Tidak, kau bagus kok jadi pemimpin."


Bukannya senang, tatapan Johan makin tajam.


"Kau menyindir ku ya? Aku hanya menghabisi monster sisa dan bahkan aku tidak sempat memberikan arahan sama sekali dan kalian sudah inisiatif menyerang dan membentuk formasi. Aku merasa tidak berguna."


Johan berbicara terus dengan suara lemas, hatinya beneran sakit karena merasa posisi nya sebagai pemimpin hanya pajangan.


"M-maaf Johan! Aku terlalu terburu-buru."


"Sudahlah, aku sendiri juga kurang tegas."


Via dan anggota lain terus meminta maaf tidak termasuk El. Tapi Johan secara tiba-tiba mengangkat tangannya sebagai syarat untuk diam.


Mata Johan terpejam sebentar dan terbuka, memperlihatkan pupil mata berwarna emas yang bersinar. Ekspresi dan auranya yang sedih berubah menjadi serius dan memancarkan aura pemimpin.


"Ada yang mendekat, semuanya bersiap!"


Suara Johan secara mengejutkan menjadi tegas dan berat. Tak seperti biasanya, lembut dan ramah.


"Rise, buat jebakan yang mematikan, dan buatlah turret peluncur granat. Via dan grace bersiap-siap untuk support. El, persiapkan mantra yang dapat memperlambat pergerakan lawan, gunakan sihir penghancur jika kuperintah. Dan terakhir, Niji, kau punya peran yang sangat penting, tapi untuk sekarang bersembunyilah tanpa ketahuan."


Tak perlu lama dan tanpa bertanya, semua orang mulai melakukan apa yang diperintahkan. Via langsung melantunkan mantra buff, Grace bersiap diatas batuan tinggi. Rise menyiapkan jebakan berduri dan 2 buah turret yang menembakkan granat terbatas. Untuk El, dia merapal mantra secara bisik-bisik dan membuat area yang dipijaknya terdapat simbol sihir yang sangat rumit berwarna biru muda, tak hanya itu, banyak lingkaran-lingkaran sihir berwarna biru muda yang mengambang, dia menggunakan sihir es tingkat menengah.


Johan sudah dalam posisi bersiap. Pedangnya dialiri oleh elemen cahaya, Membuat pedang yang putih bersinar menjadi tambah bersinar.


Terakhir, Niji melakukan apa yang diperintahkan . Bersembunyi dibalik batuan besar. Meski agak enggan untuk melakukannya, tapi Johan itu pemimpin. Dia juga merasa tidak berguna dan ingin protes, tapi Johan berkata kalau perannya itu 'penting' maka Niji nurut saja.


Johan merasakannya, musuh sebentar lagi akan datang dengan jumlah banyak. Yang akan datang adalah Red troll.


Tak hanya Johan, Grace sebagai penembak jarak jauh juga merasakannya. Ratusan red troll datang dengan senjata primitif mereka.


Tak hanya jumlah mereka yang banyak, tinggi mereka juga sekitar 315 centimeter, membuat rasa bertarung ingin hilang. Tapi berkat buff dari Via, rasa bertarung terus mengalir.


"Mereka mendekat, bersiap untuk bertarung!"


Semua sudah dalam posisi bertarungnya masing-masing. Para red troll susah mendekati jebakan.


Para pasukan red troll dengan ganas berteriak kearah mereka tanpa menyadari jebakan yang ada. Karena itu, mereka memijakkan kaki dijebakan dan mengaktifkan, membuat duri-duri tajam dari besi yang dan menusuk red troll yang menginjaknya hingga kehilangan nyawa.


Grace agak ngeri dengan pemandangan yang dia lihat, tapi sebagai penembak jarak jauh, dia langsung menembaki para red troll dikepala. Tentu tidak mudah, para troll punya kulit yang keras, apalagi red troll yang kulitnya seperti baja. Untungnya, peluru Grace adalah peluru khusus anti-baja.


Johan dan lainnya masih mengamati dengan tenang. El masih menunggu perintah untuk mengeluarkan skillnya.


Para red troll terus maju sampai semua jebakan yang ada habis dan mendekati mereka.


"El! Sekarang!"


Mendengar aba-aba dari Johan, El langsung mengeluarkan sihir es yang membuat tanah menjadi beku seketika. Para red troll lumpuh karena kaki mereka dibekukan. Tentu hanya masalah waktu sampai mereka menghancurkan es yang menahan mereka.


Johan dan Via langsung melesat maju dan menyerang red troll. Para red troll juga ditembaki granat oleh turret karena para red troll sudah masuk radius penembakan turret.


Via membutuhkan beberapa tebasan untuk membunuh para red troll. Tapi Johan dengan mengejutkan membunuh para red troll dengan menebas leher mereka dengan sekali serang. Ketajaman pedangnya sudah ditingkatkan 2 kali lipat oleh sebuah skill buff dari Via.


Johan melesat dengan cepat. Tubuhnya dilapisi oleh aura putih bercahaya sehingga pergerakannya seperti komet cahaya yang menghabisi lawan-lawannya.


Para red troll terbantai dengan cepat. Tapi, red troll paling kuat belum menunjukan dirinya. Entah dimana pemimpin red troll berada.


Tiba-tiba, diatas Via menjadi gelap seketika. Dia menghadap keatas dan terkejut karena dia melihat kaki raksasa yang hendak mengijaknya.


Kaki tersebut menginjak tanah. Membuat red troll yang terbaring mati langsung penyok dan tanah yang dipijaki langsung hancur.


Tidak ada tubuh Via disana. Via ada di langit, dia digendong layaknya tuan putri oleh Johan. Via langsung terkejut dan tersipu malu, mukanya memerah semerah tomat. Johan tetap pada ekspresi serius nya, menatap red troll raksasa atau pemimpin red troll. Pemimpin red troll datang dengan trisulanya raksasanya.


"Akhirnya, kau datang."


"Grrrr..."


Geraman ganas keluar dari mulut red troll, matanya menyala merah seperti lampu merah lampu lalu lintas.


Johan turun ke tanah dan menurunkan Via dengan hati-hati.


Baru saja diturunkan dan ingin berterima kasih pada Johan, pemimpin red troll langsung melempar trisulanya dan hampir mengenai mereka.


Untung saja, Johan dan Via sadar dan langsung bertahan.


Pedang panjang milik Johan bersinar terang dan dilapisi oleh aura putih juga pedang Via yang bersinar beradu dengan trisula raksasa milik pemimpin red troll.


Johan dan Via menahan mati-matian. Trisula itu sangat berat dan tangan mereka mati rasa.


"Hiyaaaaah!!"


Johan berteriak kencang dan dan bersama dengan Via, dia berhasil membuat trisula itu terlempar.


Pemimpin red troll tak hanya bengong saja, pemimpin red troll langsung melompat dan menangkap trisula miliknya, kemudian dia mendarat ketanah yang menyebabkan tanah terguncang hebat.


Pemimpin red troll tersenyum mengejek, membuat Johan memperkuat pedangnya lagi dan menatap tajam.


Pertarungan sengit akan terjadi di antara mereka.