
"Haah... Haah... datang lagi!?"
Selama dua jam tiga puluh menit, Johan terus menerus didatangi oleh para naga yang ganas. Mereka main keroyokan, membuat Johan susah payah.
Untungnya, Johan masih bisa menang melawan para naga yang main sirkel. Meski begitu, sekarang penuh luka disekujur tubuhnya.
Untungnya, Johan mempunyai banyak persediaan health potion. Saat dia selesai meneguk Health potion, dia kembali berdiri dan bersiap untuk melawan.
Dia hanya perlu melawan para naga tiga puluh menit lagi. Itu tidak terlalu lama bagi Johan, setidaknya sampai ada hawa tidak enak muncul.
Johan membuka matanya lebar-lebar saat dia melihat satu naga yang muncul. Hanya satu saja, tapi ukurannya sendiri dua kali lebih besar dari naga-naga yang dia lawan tadi. Warnanya hitam, matanya merah menyala, tanduknya besar dan giginya tajam. Nasib baik Johan punya banyak potion.
"Jadi kau adalah elf yang berani mencuri pedang Gram?" Kata naga itu dengan suara yang menggelegar meski jarak antara Johan dan naga itu agak jauh.
Johan tak menjawab dan hanya menggertakkan giginya. Johan mengalirkan mana pada pedangnya hingga muncul sinar pada pedangnya.
"Hooo... berani sekali k-"
*Slash!
Tanpa menunggu naga hitam menyelesaikan kata-katanya, Johan menggunakan [Star acceleration] dan menebas leher naga hitam.
Tapi, tidak ada bekas sama sekali. Naga itu sama sekali tidak terpengaruh. Naga itu malah menyeringai.
"Berani sekali kau memotong omonganku, elf rendahan."
"...sial." Melihat serangannya yang ditambahkan [Star acceleration] tidak mempan, dia jadi panik.
Tapi, Johan sendiri percaya diri dengan kecepatannya. Johan berpikir kalau dia akan menahan hingga Volund menyelesaikan pedang Gram.
Johan mulai menyerang dari berbagai arah dan menebas beberapa bagian tubuh meski itu tidak berguna. Bahkan sayap milik naga hitam sangat keras.
Naga hitam itu mulai kesal. Dia melihat Johan sebagai nyamuk menyebalkan dan naga hitam meraung keras.
Suaranya sangat keras, para penduduk kota yang jauh pun bisa mendengarnya dan ketakutan. Apalagi Johan yang dekat dengannya, telinganya sendiri langsung mengeluarkan darah.
"Arrrgh!"
Pendengaran Alan langsung rusak, pandangannya menjadi tidak jelas dan kepalanya pusing. Perlahan-lahan, matanya menutup dan dia hampir kehilangan kesadaran.
[Sadarlah, Johan. Kau tidak boleh pingsan!]
Suara Seraphim terdengar dikepala Johan. Membuat ia sadar dan seketika telinga Johan bisa mendengar dengan baik, mata Johan bisa melihat dengan jelas, dan kesadarannya kembali seketika.
Tapi Johan tidak membuang kesempatan itu dan langsung menghindari serangan naga hitam yang akan datang.
"Cih, hampir saja aku memakanmu." Naga hitam kecewa karena tak berhasil memakan Johan. Naga hitam sendiri merasakan bau yang enak dari Johan.
Naga itu bersiap untuk berteriak lagi, tapi Johan tak membiarkan hal itu terjadi. Johan mengambil salah satu belati yang diberikan Volund dan melemparnya kearah leher naga hitam dengan sekuat tenaga.
Lemparan 'beruntung' Johan mengenai leher naga itu dan secara ajaib naga itu kesakitan.
"GROAAAAA!!!"
Johan senang karena itu berhasil. Belati buatan Volund memang efektif untuk melawan para naga.
Tapi tetap saja naga hitam hanya terluka sebagian kecil.
Johan butuh sesuatu yang lebih kuat lagi, untuk melawan naga hitam.
Ditengah pemikiran Johan, suara pintu mekanis terdengar. Saat itu juga, sang naga hitam merasakan hawa buruk, mencekam dan mengancam.
Suara mekanis tersebut terdengar dari Workshop Volund yang terbuka sedikit demi sedikit. Volund keluar tak lama kemudian sambil membawa pedang besar yang bercahaya. Pedang itu berwarna biru muda seperti permata mewah dan gagangnya berwarna emas dengan hiasan naga yang melilit gagang pedang.
Volund terlihat tidak baik-baik saja, dadanya berlubang dan darah mengalir deras. Tapi Volund dengan sekuat tenaga melempar pedang ditangannya.
Johan dengan cekatan pergi mengambil pedang, dia menambah kecepatannya dengan [Star acceleration].
Saat Johan mengambil pedang itu, dia merasakan energi yang besar memasuki dirinya dan mengalir disekujur tubuhnya.
Johan tanpa membuang-buang waktu untuk takjub pada pedang langsung melesat kearah naga hitam yang ketakutan. Dia meneriakkan jurusnya dengan keras, entah apa efeknya.
"[Guardian of the east, Seiryu:Azure rain]!"
Pedang ditangan Johan dilapisi oleh cahaya berwarna biru. Perlahan, wujud seekor naga biru terbentuk.
Johan menusukkan pedangnya keudara kosong, tapi naga biru itu segera bergerak maju dengan butiran-butiran air disekelilingnya.
Naga hitam ingin kabur, tapi naga hitam segera dihantam oleh naga biru beserta butiran air. Dengan kejam, tubuh sang naga hitam perlahan berlubang dan hancur hingga menyisakan tulangnya saja.
Johan akhirnya bisa bernafas lega karena lawannya sudah mati. Dia akhirnya bisa melihat dan mengamati pedang yang ada di tangannya.
Tidak lain dan tidak bukan adalah pedang Gram, the Dragon slayer.
[Pedang Gram!!! Sekarang hanya tersisa Demon murderer, Devil killer, Beast banisher, Giant torturer, Archangel punisher, dan Eldritch judicator.]
"...banyak sekali."
Johan segera turun dan melihat keadaan Volund. Volund sedang terbaring tak berdaya dengan dadanya yang berlubang. Kenyataan kalau Volund masih bisa mempertahankan kesadarannya meski kondisinya memprihatinkan adalah hal yang ajaib.
"Tuan Volund!"
Volund mulai batuk dan muntah darah. Dia melihat Johan dengan tatapan yang berarti.
"Tuan Johan, ...a-"
"Jangan bicara lagi tuan Volund! Kau sedang sekarat!"
"Tidak apa-apa, memang begini seharusnya hidupku berakhir."
"Apa maksudmu, tuan Volund?"
"Senjata yang kuciptakan ini *uhuk*, merupakan senjata yang bisa mempersatukan, tapi juga memecah belah *uhuk*."
Volund terbatuk-batuk, tetapi dia masih melanjutkan pembicaraannya.
"Dulu, Sigurd menggunakannya untuk melawan para naga, memotivasi para ras dan menyatukan mereka. *Uhuk* tapi setelah dia meninggal dan Gram menjadi pedang tanpa pemilik, mereka semua mulai memperebutkannya. Para manusia melindungi warisan dari leluhurnya, tapi karena tekanan *Uhuk* *uhuk* yang datang dari berbagai ras, mereka gagal."
"Pada akhirnya, aku harus menghancurkan *uhuk* pedang Gram. Aku menyimpan satu pecahan didalam tubuhku sendiri *uhuk* sedangkan bagian satunya berhasil dicuri oleh ras naga."
"Pada akhirnya, aku hanya bisa mempercayaimu untuk memegang pedang itu Johan. Meski kau elf, tapi kau punya jiwa seperti manusia, pemberani, baik hati, dan kuat. *Uhuk* *uhuk* kau sangat mengingatkanku padanya."
Volund tersenyum, hidupnya sudah tidak lama lagi dan akhirnya dia bisa bebas dari penderitaannya selama ini. Dia yakin kalau elf didepannya bisa menjaga pedang itu dengan baik.
Tapi, mata Volund segera melebar, dia merasa berhalusinasi mengingat waktunya tak banyak lagi, tapi yang dia lihat saat ini adalah kenyataan.
Telinga Johan yang runcing khas elf sekarang berubah menjadi telinga tumpul yang biasa. Ras yang sudah 3 abad tak pernah ia lihat, seorang manusia.
"Tenang tuan Volund, aku akan menjaga pedang ini dengan segenap jiwaku, aku berjanji."
Volund tersenyum, dia bisa tenang dan menghembuskan nafas terakhirnya. Matanya belum tertutup dan masih terbuka, tapi sudah bisa dipastikan kalau Volund sudah meninggalkan dunia ini karena nafasnya sudah tidak ada dan seluruh tubuhnya dingin.
Johan perlahan mengusap wajah Volund, membuat mata yang terbuka itu menjadi tertutup dan dengan hati-hati meletakkan tubuh tak bernyawa Volund.
[Ayo kita pergi, Johan. Tugas kita disini sudah selesai. Tidak perlu khawatir tentang jasadnya karena alam sendiri yang akan menguburnya.]
Johan hanya terdiam dan mengangguk. Dia mengambil belati miliknya yang dia gunakan untuk berpindah kedunia ini dan mengucapkan mantra, membuat belati itu bersinar dan memancarkan aura suci.
Johan menancapkan belatinya ketanah dan lingkaran sihir muncul disekelilingnya sebelum membuat tubuhnya menjadi butiran cahaya dan menghilang sepenuhnya.
Bersamaan dengan saat Johan menghilang, tumbuhan-tumbuhan mulai mengelilingi dan melilit tubuh Volund. Mayat Volund diambil oleh bumi itu sendiri.
***Ditempat lain.
"AAAARRRRRGHHHH!!!"
"Kak Alan!"
"Kak Alan tidak apa-apa!?"
"[First aid]."
Alan menggunakan [First aid] pada mukanya yang kepanasan dan terbakar. Mukanya sembuh, tapi matanya masih tidak bisa melihat dengan jelas.
Ling Hua agak terkejut dengan kehadiran dua orang yang lain. Tapi dia mengesampingkan hal itu dulu dan memeriksa kondisi Alan.
"Kau tak apa-apa? Maafkan aku, aku sangat terkejut sehingga aku tak sengaja menyirammu dengan kopi panas."
"Tak apa-apa, itu salah- ah bisa bicarakan itu nanti, aku butuh obat mata."
"Obat mata? Sebentar, aku akan ambilkan."
"Hey, bukan obat mata biasa. Ambilkan dikantong jaketku, ada cairan berwarna biru keputihan."
Ling Hua segera mendekat kearah Alan dan melihat-lihat dikantong jaketnya. Ada banyak sekali ramuan disana dan warnanya bermacam-macam.
Ling Hua juga meraba celana Alan untuk mencari ramuan yang dimaksud Alan.
"Hmm? Kenapa nafasmu tidak beraturan? Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa, lanjut cari saja." Ujar Alan.
'Uwoooogh, wangy beut!' begitu pikirannya. Memang, pikirannya berbeda dengan ekspresinya yang datar.
Ling Hua akhirnya menemukan ramuan yang dimaksud Alan. Sebuah botol berisi cairan biru bening. Warnanya sangat indah dan enak untuk dilihat.
"Berikan itu padaku."
Alan mengambil dan membuka tutupnya. Bukannya diminum, ia berniat menuangkannya dimata.
"Eh, bukan diminum?"
"Bukan, ini seperti inst*."
"Ah, kalau begitu biarkan aku yang menuangkannya."
"Tidak biarkan aku yang menuangkannya sendiri."
"Tidak, aku akan membantumu sebagai permintaan maaf."
"..." Alan tak menjawab dan membiarkan Ling Hua yang menuangkan cairan itu kematangannya.
Sedangkan itu, Alex dan Norga hanya bisa melihat Alan dan Ling Hua yang sangat dekat. Mereka seperti nyamuk dan hanya bisa iri karena kelakuan mereka yang mesra.
"Duduklah, kau terlalu tinggi."
"Ah, benar juga." Sesuai perkataan Ling Hua, Alan duduk disofa empuk sedangkan Ling Hua berdiri didepan Alan.
Ling Hua mencondongkan tubuhnya kedepan dan membuka mata Alan lebar-lebar. Terlihat kalau matanya benar-benar merah. Membuat Ling Hua tambah merasa bersalah.
Ling Hua menuangkan setetes cairan bening itu dengan sangat hati-hati. Kemudian satu tetes air bening jatuh dan mengenai mata kanan Alan.
Perlahan, mata kanan Alan pulih dan bisa melihat dengan jelas.
Kemudian Ling Hua lanjut meneteskan air bening dimata kiri Alan dan matanya bisa melihat dengan jelas lagi.
"Nah, terima kasih Ling Hua."
"Tidak apa-apa, aku minta maaf-"
Sebelum Ling Hua bisa melanjutkan kata-katanya, Alan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ling Hua, "Tidak, aku yang mengangetkanmu, lagipula itu reaksi yang wajar."
Meski begitu, Ling Hua masih merasa bersalah. Tapi dia segera teralihkan dengan Alex dan Norga.
"Siapa kalian berdua?"
"Ah eh-" Alex yang ingin menjawab langsung bingung sedangkan Norga mematung.
Untung saja, Alan dengan segera memperkenalkan Alex dan Norga.
"Perkenalkan, yang tinggi ini Alex dan orang yang rambutnya jabrik sambil diikat ini Norga. Mereka berdua adalah juniorku."
"Kemudian, kalian berdua, perkenalkan Guildmaster Chaos sekaligus teman bermain gameku, Xue Ling Hua."
Alex dan Norga dengan buru-buru menunduk dan mengucap salam.
"Aku Alex Dwisatya, 17 tahun.
"Aku Norga Garrison, 15 tahun."
Ling Hua mengamati mereka dengan seksama, "Jadi kalian junior Alan? Senang bertemu kalian."
"Omong-omong, kau kesini hanya untuk memperkenalkan mereka berdua?" Ling Hua lanjut bertanya pada Alan.
"Tentu tidak, aku disini untuk membeli senjata bagi mereka berdua."
Ling Hua mengangguk dan memanggil bawahannya.
Beberapa menit kemudian, Xiao mei yang merupakan asisten Ling Hua datang sambil membawa tablet. Xiao mei yang melihat Alan juga mengucapkan salam, "Selamat siang, Alan. Dan..."
"Mereka juniorku, yang tinggi Alex, yang jabrik Norga."
"Halo!" Alex dengan ramah mengucapkan salam sedangkan Norga hanya melambai dengan senyum.
"Kalian ingin senjata macam apa?" Tanya Ling Ling pada Alex dan Norga.
"Eh, aku ingin-"
"Palu!" Belum sempat Alex bicara, Norga langsung memotong dengan semangat.
"Kalau begitu, aku pedang, tombak, atau ganjur mungkin?"
Ling Hua mengangguk dan memberikan tabletnya untuk mereka berdua. Begitu mereka melihat isinya, mereka berdua sangat terpukau dengan bentuk dan deskripsi. Tak lupa, harga yang ada membuat mata mereka melotot hingga hampir keluar.
"Nah, pilihlah yang kalian suka, aku bisa membayarnya untuk kalian."
Alex agak ragu dengan ucapan Alan, berbeda dengan norga yang dengan semangat memencit salah satu gambar palu.
Sedangkan Alex dengan perhitungan yang besar memilih ganjur.
Alex kemudian memberikan tabletnya kearah Ling Hua.
"Berapa harganya?"
"Satu miliar dua ratus juta rupiah."
Mendengar hal itu, Alex dan Norga merasa ingin memilih yang lebih murah. Tapi Alan dengan santainya mengambil handphonenya dan mentransfer uang miliknya.
"Sudah ku transfer."
Ling Hua mengangguk dan menyerahkan tabletnya kembali pada Xiao mei. Xiao mei segera pergi dengan terburu-buru.
Sekarang, Alex dan Norga tak tau apa yang harus dilakukan. Malah ruangan mereka sangat sepi.
Tapi, beberapa menit kemudian ruangan itu dimasuki oleh beberapa pekerja yang membawa dua koper besar. Koper itu diletakkan masing-masing didepan mereka.
"Silahkan." Ucap Ling Hua pada mereka berdua sambil menunjuk kedua koper raksasa didepan mereka.
Yang pertama membuka, tentu saja Norga. Dia tanpa ragu membuka peti dan didalamnya ada dua palu kembar berwarna abu-abu kehitaman dengan lambang tengkorak.
"Keren banget!" Teriak Norga sambil mengambil palunya. Tapi tanpa diduga, dia berusaha sangat keras untuk mengangkatnya. Tetapi Norga masih senang dan puas.
Kemudian Alex yang membuka petinya dan ada ganjur yang panjang, berwarna putih dan memiliki desain yang sedikit futuristik. Alex terpukau dan mengelus ganjur barunya pelan-pelan.
"Nah, nanti kalian akan berlatih menggunakan senjata itu." Kata Alan yaang kemudian menghadap kearah Ling Hua dan menepuk kepalanya. "Kami pergi dulu."
Alan dengan cepat memegang pundak mereka berdua yang masih mengagumi senjata mereka dan segera menghilang dari sana. Meninggalkan Ling Hua yang mukanya semerah tomat.