
Pandangan Norga sudah menggelap, perutnya rasanya sangat sakit, untung saja tanduknya tidak mengenai perutnya, jika kena maka sudah dipastikan dia akan mati.
Dia berusaha berdiri dengan kedua kakinya yang lemas, dia menggunakan palu gandanya untuk membantunya berdiri
Meski begitu, dia tetap tak bisa berdiri meski sudah ada bantuan dari palu gandanya. Dia hanya bisa melihat kedepan dengan pengelihatan yang buram, menyaksikan pertarungan sang serigala dengan si kuda yang sengit.
Norga menoleh kearah lain, lebih tepatnya kearah Alex yang bernasib sama sepertinya, tak bisa berdiri, hanya bisa menyaksikan pertarungan tersebut.
Terlebih lagi, tangan kiri Alex yang memegang perisai kebas. Perisai ditangannya jatuh dan menghasilkan suara nyaring khas logam.
Tiba-tiba, ada hal mengejutkan yang terjadi. Anak serigala itu keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Alex, tatapan sedihnya pada Alex sungguh menyentuh.
Kuda itu melihat si anak serigala yang dari awal merupakan incarannya. Akhirnya, dengan tergesa-gesa, kuda itu menuju kearah Alex dan anak serigala.
Tentu, sang ibu langsung secepatnya menghadang sang kuda. Si kuda merasa marah karena dihalangi terus menerus oleh si serigala.
Hal itu membuat mereka berdua lebih berjuang lagi untuk bangun. Dengan persenjataan mereka, mereka berhasil untuk berdiri dengan sangat susah payah.
Mereka dengan cepat bergabung dalam pertarungan, meski tubuh mereka sekarang sedang tidak dalam kondisi prima.
Hal ini sangat tidak menguntungkan bagi si kuda. Sang kuda merasa sangat kesulitan untuk melawan mereka bertiga.
Incarannya hanya satu, yaitu anak serigala, dia ingin memakannya. Tapi, dengan situasi seperti ini, si kuda mempersiapkan sesuatu yang buruk.
Si kuda terdiam tanpa perlawanan, sedikit menunduk, seperti sedang berkonsentrasi pada satu hal.
Alex dan Norga keheranan dengan sikap si kuda yang tiba-tiba tak melawan balik. Tetapi, Alex sadar kalau si kuda sedang bersiap untuk melakukan serangan yang sangat cepat.
Alex memang menyadari hal itu, tetapi, dia terlambat menyadari kalau targetnya bukan salah satu dari mereka bertiga. Tetapi...
*Whoosh!
Dengan cela diantara mereka yang agak lebar, si kuda memanfaatkan hal itu, berlari dengan sangat cepat, meninggalkan retakan pada tanah yang dia pijak.
Alex menoleh kearah sang kuda berhenti.
Itu sudah terlambat, sudah tak bisa diselamatkan.
Kuda itu perlahan mengangkat kakinya, terlihat ada darah dan daging pada kakinya. Dan tempat itu adalah... Tempat si anak serigala terakhir berada.
"Ahh...."
Alex dan Norga ingin mengeluarkan suara, tapi tiba-tiba tersendat di tenggorokan.
Si serigala yang sekaligus merupakan ibunya mengeluarkan air matanya dan menggeram sejadi-jadinya, sangat buas, amarahnya benar-benar diluar batas.
Alex juga tak kalah marah. Meski hanya sebentar, tapi entah kenapa dia seperti punya ikatan dengan si anak serigala.
Norga juga ikut marah, tetapi dibandingkan dengan mereka berdua, dia tidak terlalu.
Norga menyiapkan posisi bertarungnya, sambil melihat Alex. Dia terkejut melihatnya karena dia tak pernah melihatnya semarah ini sebelumnya.
Kemudian, si serigala dan Alex langsung menerjang, membuat Norga kaget yang kemudian juga ikut bergerak maju.
Si serigala menyerang dengan penuh amarah, bahkan si kuda yang kulitnya sangat keras menjadi terluka karena cakar si serigala yang menajam.
Alex juga tak kalah ganas. Dia menyerang dengan tajam dan agresif. Karena kemarahannya ini, dia melupakan rasa sakitnya, rasa kebas ditangannya, dan rasa pesimisnya.
Norga hanya ikut menyerang, meski serangannya tak berefek. Dia juga hampir terkena tendangan si kuda.
si kuda menjadi tambah kerepotan. Setiap serangan yang dilancarkan oleh si serigala menyakitinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menyerang Alex.
Alex yang diselimuti oleh amarah hanya menyerang hingga tidak menyiapkan perisainya sama sekali. Dia hampir terkena serangan tanduk dari si kuda.
Tapi, si serigala menariknya dan melemparnya hingga dia mendarat dan duduk dipunggung si serigala.
"Eh, apa? Kenapa?" Alex bingung seketika. Tetapi dia bersyukur karena sudah diselamatkan.
Sekarang, Alex menunggangi si serigala. Dengan itu, ada dua serangan beruntun yang mengenai si kuda, beserta dengan Norga yang menyerang bagian kaki.
Semakin lama, pertarungan ini semakin sengit. Situasi si kuda tak baik-baik saja, penuh luka tusukan dan cakaran.
Si kuda menggunakan seluruh kemampuannya untuk bertahan, bahkan dia sampai melakukan gerakan super cepat, tapi gagal.
Sampai, saat dimana riwayat kuda itu akan tamat. Si kuda dan si serigala berhadap-hadapan dan saling menerjang.
*******!
Dengan serangan dahsyat dari serigala ditambah dengan ganjur milik Alex, bos monster yang merupakan seekor kuda bertanduk tersebut kalah.
Momen itulah, saat dimana Alex tidak menyadari kalau ada layar status yang muncul diakibatkan momen itu terlalu epik.
[Job dipilih secara otomatis!]
[Job Beast Rider telah dipilih secara otomatis!]