The Slayers

The Slayers
Chapter 97 (Season 3)



Johan benar-benar bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Dia hanya memakai nama dari pedangnya, Helios. Tapi sekarang malah dikira penyelamat.


"Ehm, sepertinya kau salah paham."


"Salah paham apa? Dengan perlengkapan mu yang sangat bagus, dan bajumu putih bercorak emas, dan pedang mu juga kelihatan mewah!"


'... kebetulan macam apa ini?' Johan semakin merasa bingung, tapi dia berpikir untuk memakai nama Helios dulu meski dia tidak suka berbohong.


"Ha-hahahaha, keluargaku terkenal juga rupanya."


"Tentu saja, keluarga kalian sangat misterius dan kuat! Keluarga kalian dikenal karena keahlian pedang yang sangat hebat!"


"Tapi... kenapa kalian baru muncul sekarang?"


"Errr, karena kurasa sudah saatnya membantu, dunia sedang terdesak oleh naga yang semakin hari semakin kuat kan?"


"Ya! Itu benar! Syukurlah akhirnya keluarga Helios bersedia membantu kami!"


Johan segera merasa bersalah, entah sampai kapan kebohongannya akan terus berlanjut. Tapi dia tak ingin disini lama-lama.


"Kalau begitu, boleh aku pergi-"


"Ah, jangan! Anda tidak lapar? Bagaimana jika kau mencicipi hidangan di mansion ini?"


"Ah, tidak-" Johan ingin menolaknya, tapi Grid segera memotong.


"Tidak usah sungkan, tuan Johannes. Suatu kehormatan bisa menjamu tamu sehebat anda!"


"Eh, tapi-" Johan benar-benar ingin menolak, tapi perutnya tak mendukung sama sekali. Perutnya segera mengeluarkan bunyi yang khas dan lucu.


"Ah... mungkin sedikit saja?" Johan sekarang malu setengah mati karena bisa-bisanya perutnya berbunyi disaat seperti ini. Memang dia hanya memakan satu roti saja yang tidak mengenyangkan perut. Grid pun tertawa dan memandu Johan kearah ruang makan.


Mereka menuju ruang makan yang tidak jauh dari ruang mereka berada. Saat masuk, ada meja panjang dengan berbagai kursi. Dia duduk di ujung meja, Grid pun duduk diseberang meja.


"Pelayan!" Grid berteriak dengan kuat, beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita datang.


"Ada apa, tuan?"


"Masak makanan untuk tamu kita dan untuk ku, jangan lupa, tambahkan bumbu spesial keluarga Kronoes!"


"Baik tuan." Pelayan itu membungkuk dengan senyum sopan dan pergi.


"Sebenarnya kau tak perlu repot-repot, tuan Grid. Aku jadi tidak enak." Johan mencari untuk keluar dari sini secepatnya.


"Tidak usah sungkan, perutmu sendiri belum terisi kan?"


Johan bicara apa-apa lagi, dia merasa penolakannya tidak akan berguna didepan orang ini.


Setelah tiga puluh menit lamanya, para pelayan datang dengan banyak makanan. Johan langsung ternganga dan dari mulutnya mengeluarkan air liur. Dia segera mengelap air liurnya, akan memalukan untuk dilihat.


Para pelayan menaruh makanan-makanan yang baunya benar-benar menggoda. Mulai dari ayam, sosis, steak, dan makanan lainnya.


"Silahkan, ambillah sesukamu."


Johan langsung mengambil ayam dan memakannya dengan sangat lahap, Grid tertawa terbahak-bahak melihat Johan sampai dia terbatuk-batuk.


"Ah, maaf." Grid berdiri dari kursinya dan mengambil botol kaca berisi pil berwarna biru. Dia mengambil satu dan meminumnya.


Grid segera duduk kembali.


"Kau tidak apa-apa, tuan Grid?"


"Aku tidak apa-apa, hanya penyakit lama." Grid kemudian mengambil salah satu makanannya.


"Apakah enak, tuan Johannes?"


"Ini sangat enak tuan Grid!"


"Pantas saja ini enak!"


Johan memakannya dengan lahap makanan yang ada, tapi Seraphim segera muncul dibelakang Johan dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Tubuh Johan langsung dialirkan energi malaikat. Johan pun terkejut dan bingung.


'Ada apa Seraphim?'


[Orang itu mencoba untuk membunuhmu!]


'Apa? Kenapa?'


[Aku tidak tahu, tapi dalam makanan itu terdapat racun mematikan.]


'Tapi dia juga ikut makan... eh, jangan-jangan pilnya...'


[Ya, kemungkinan pil yang dia minum adalah pil penangkal racun. Dan aku sudah mengalirkan energi malaikat untuk menangkal racun. Jadi kau bisa bebas untuk makan.]


'Terima kasih banyak Seraphim!'


[Itulah tugasku sebagai patron mu, Johan.]


Johan bahagia karena dia sekarang bisa menikmati makanan itu tanpa ragu. Grid pun bingung dan terkejut karena Johan tapi mengingat dia berasal dari keluarga Helios, dia berpikir mungkin racunnya akan berefek sedikit lebih lama.


Setelah beberapa saat, Johan sudah selesai makan dan perutnya sudah terisi penuh. Dia berdiri dari kursinya dan berkata "Terima kasih atas makanannya, bumbu rahasia keluargamu benar-benar luar biasa!"


"Hahahaha, terima kasih atas pujiannya, tuan Johan. Ngomong-ngomong, anda punya urusan kemana?"


"Aku sedang melakukan pencarian."


"Pencarian macam apa? Mungkin aku bisa membantumu."


"Errr, kau tahu tentang pedang Gram?"


"Oh tentu aku tahu! Pedang milik Sigurd, pahlawan yang mengalahkan dan membunuh Fafnir, salah satu leluhur naga. Dia lah yang pertama kali melawan naga dan menginspirasi orang-orang untuk bergerak melawan naga. Pedangnya dikabarkan sudah patah akibat pertempuran tiada henti saat melawan para naga. Itu cerita yang diceritakan turun temurun dari beberapa generasi."


"Mengapa kau bertanya tentang pedang Gram?"


"Aku berencana untuk mencari pedang Gram."


Grid membulatkan matanya dan segera tertawa terbahak-bahak seakan-akan sedang mendengar lelucon paling lucu didunia.


"Errr, aku tahu kata-kata ku ini seperti lelucon, tapi aku percaya jika pedang Gram masih ada."


"Tidak mungkin, orang-orang sudah mencari dari tahun ke tahun, dekade dan bahkan abad, tapi mereka tidak pernah menemukannya. Jadi pencarian mu hanya sia-sia saja, tuan Johan."


"Tidak, me-"


"Daripada mencari yang mustahil, kenapa kau tidak menikmati hidup anda?"


Johan langsung terdiam, tidak mengerti maksud dari Grid.


"Maksud anda?"


"Maksudku adalah, kau seharusnya tidak melakukan pencarian sia-sia dan tidak bermanfaat. Seharusnya kau menikmati hidupmu sebagai bangsawan sepertiku, makan apapun, melakukan apapun, bahkan kau bisa menikmati wanita yang ada dirumah bord*l sekitaran sini."


Johan seketika terdiam dan tak mampu berkata-kata. Kehidupan seperti itu bukannya terlalu enak dibandingkan dengan orang-orang diluar? pikirnya.


"Bagaimana dengan perang? Bukankah masih ada perang dengan naga?"


Grid segera tertawa kembali, dia dengan senyum menyebalkan nya berkata "Perang? Itu bukan hal yang pantas dilakukan oleh para bangsawan seperti kita. Biarkan para budak dan orang-orang dungu itu berperang, mereka sangat lucu untuk ditonton, HAHAHAHAHA!"


Grid tertawa seenaknya tanpa menunjukkan rasa bersalah. Saat itulah kepala Johan terpikirkan satu hal, yaitu memenggal kepala bangsawan tak berguna didepannya.