The Slayers

The Slayers
Chapter 174 (Season 4)



"Semuanya, serang langit-langitnya!"


Teriakan Alan bergema ditelinga orang-orang. Walaupun, orang-orang itu tidak punya kemampuan untuk melakukan hal seperti menyerang langit-langit itu. Yang bisa hanyalah empat orang saja, yaitu Alan, Grace, Lena, dan satu pria yang memakai crossbow.


Secara serentak, mereka menyerang kearah langit-langit yang secara perlahan mengeluarkan tumpahan darah.


"Apakah cara ini akan berhasil, Kak?" Grace yang hanya mengikuti kata-kata Alan bertanya.


"Mungkin saja. Ini patut untuk dicoba."


Tumpahan darah kemudian berubah menjadi hujan darah. Meski begitu, efeknya belum terlihat sama sekali.


Ditempat lain, yang sangat jauh dari mereka, seorang pria berkerudung tersenyum lebar. Tangannya kemudian bergerak, mengeluarkan aliran cahaya yang membentuk sebuah simbol rumit diudara. Disertai dengan lantunan mantra dengan bahasa yang rumit, pria itu mengakhiri kegiatannya dengan meneriakan satu kata, "[Rebuild!]"


***


Bang! Bang! Bang!


Hujan darah tak berhenti. Mereka tak berhenti menyerang langit-langit, meski tak menghasilkan apapun.


"Kapan ini akan selesai, Kak?"


"Aku tidak tau!"


"Tapi, aku sebentar lagi akan kehabisan peluru."


Amunisi yang terbatas membuat dua orang lain berhenti. Hanya tersisa dua orang saja yang masih menyerang.


Tiba-tiba, tanah labirin bergejolak dengan kuat.


"Berhasilkah?" Alan tersenyum, karena akhirnya yang dia lakukan membuahkan hasil. Namun, hasil yang datang bukankah hasil yang dia harapkan.


Tanah, dinding, bahkan langit-langit mulai retak dan hancur. Orang-orang mulai ketakutan dan berlarian. Mereka tidak sadar, jika mereka sedang berlarian diatas udara.


"Kita melayang?" Alex menyadari tubuhnya mulai melayang sendiri. Lyfa yang masih dalam mode mini pun melayang dengan mudah. Beruntung, Alex dengan cepat menggapai Lyfa.


"Alex!" Cindy juga ikut melayang dan hampir tak mampu digapai oleh Alex. Beruntung, Alex mampu menggapai tangan Cindy dengan cepat dan mendekapnya.


Sedangkan Norga, dia melayang tak karuan, seperti terseret oleh tornado. Dia berteriak kencang memanggil Alex dan Alan. Sayang, Alex terlalu jauh.


"Sial!" Alan berencana untuk menggunakan [Spirit Walker] demi bisa menolong Norga. Begitu ingin mengaktifkan [Spirit Walker], tubuhnya ditarik paksa secara misterius.


Pandangan Alan ditutupi oleh tembok labirin yang bergerak secara acak diudara. Seperti badai, tembok dan tanah labirin bergerak tak karuan.


Alan terlempar dan berguling ditanah. Saat dia bangkit, semuanya sudah seperti semula. Yang berbeda adalah, sekarang dia sendirian.


Semua orang ditempatkan pada posisi yang berbeda. Ada juga yang berada ditempat yang sama. Alex, Lyfa, dan Cindy berhasil bersama dan juga ditempatkan dengan Terry dan Lena.


Norga, yang tidak beruntung, tidak bersama siapa-siapa. Risse Randell berada ditempat yang berbeda dengan kakaknya. Dia bersama seorang healer wanita, pria dengan tombak dan beberapa warga sipil. Grace sendiri berada disatu tempat bersama Derus.


Johan, yang kebingungan, berada ditengah perempatan, sendirian.


***


"Kampret, jika aku bertemu dengan si master labirin, aku bersumpah aku akan meremukkan tubuhnya, mencabik-cabiknya, dan apapun itu!"


Alan berlarian sambil mencaci maki, mengeluarkan segala macam umpatan yang ada. Tak lupa, dia menggunakan [Eyes of Sage] untuk melihat dan mencari keberadaan teman-temannya.


'[Wah, kali ini benar-benar kacau, ya?]' Kata Rhodes dalam pikiran Alan.


'Jika kau tidak membantu diamlah, monyet sial*n!'


'[Kau ingin dibantu?]'


'Apakah itu hal yang perlu ditanyakan!?'


'[Benar juga. Tapi, aku sendiri tak bisa melakukan apapun untuk membantumu.]'


'Apa!?' Kesabaran Alan memuncak. Pembuluh nadinya sudah timbul diseluruh tubuh.


'[Tapi, aku bisa membantu untuk bertanya pada si kam-]'


'Tidak perlu, aku sudah tau apa yang akan dia katakan.'


'[HAHAHAHAHA-]' Rhodes tertawa terbahak-bahak, mengakibatkan pikiran Alan menjadi berisik. Namun, Alan berusaha untuk tidak menggubrisnya.


Alan masih berusaha untuk mencari keberadaan dari teman-temannya. Menggunakan [Eyes of sage] dalam durasi waktu yang lama membuat matanya terasa lelah dan berat.


Tapi, dia sekilas melihat siluet seorang pemuda yang familiar. Alan segera menaikan kecepatan setelah melihat pemuda itu.


Pemuda yang familiar itu sudah semakin dekat. Alan pun langsung memanggil namanya.


"Johan!"