
Alan sudah tiba dirumahnya. Tepatnya dirumahnya yang lama. Alex dan Norga memutuskan untuk menetap dirumah Alan, karena kangen dan lebih dekat jaraknya. Johan, si kembar, dan Cindy memutuskan untuk kembali ke Akademi.
"Aku pulang!" Ucap Alan yang baru saja membuka pintu. Yang menyambutnya hanya Alex saja. Alex saat ini sedang bermain hp nya.
"Kakak lama sekali, ini sudah larut."
"Yaaaa.... Aku makan-makan disana."
"Kakak makan lagi?"
"Tentu saja."
Alex menggelengkan kepalanya. Alex masih bertanya-tanya, bagaimana bisa tubuh Alan bisa dalam bentuk yang bagus. Apa dengan menjadi Special, bentuk tubuh bisa dijaga dengan mudah? Pikirnya.
"Dimana Norga? Dah tidur?"
"Yoi."
"Kalau gitu kau tidurlah juga."
"Bagaimana denganmu, Kak?"
Alan melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Alan melangkah ke dapur dan membuka pintu dengan tulisan 'warning'.
"Kau tidurlah dulu, aku masih ada urusan."
"Urusan? Kakak mau meracik ramuan di jam segini?" Alex mengernyit. Setiap kali Alan meracik ramuan, hasilnya tidak akan baik. Setiap kali Alan meracik ramuan, pasti akan ada ledakan, kemudian para tetangga akan datang untuk protes.
"Tenang saja, Alex, aku akan hati-hati supaya tidak terjadi ledakan."
"Ehhh... Bukannya mau ramuannya berhasil atau tidak, bakal meledak ya?"
"Kalau itu, tidak semua ramuan meledak saat proses. Beberapa ramuan khusus tidak akan menghasilkan efek ledakan. Yang kali ini ku racik, adalah ramuan yang sangat berbeda dengan yang lain. Saat proses berhasil, tidak akan ada ledakan."
"Baguslah kalau begitu," Alex akhirnya lega dan berpikir kalau dirinya dan Norga bisa tidur tenang malam ini. Tapi, tiba-tiba terlintas dipikirannya satu pertanyaan.
"Kalau gagal, bagaimana Kak?"
Pertanyaan itu membuat Alan berhenti menutup pintu. Kemudian dia tersenyum santai.
"Kalau gagal, kita bakal mati."
"Oh, mati.... Tunggu..."
Sebelum Alex sadar, Alan langsung segera membanting pintu. Dari dalam, terdengar suara mekanik ramai ditelinga.
Alex saat ini tidak bisa berbicara, apalagi berteriak. Yang ada, nafasnya tidak karuan saat ini. Kata-kata Alan 'kita bakal mati' terus terngiang di kepalanya.
Akhirnya, Alex hanya bisa berjalan layaknya zombie. Tanpa nyawa, tanpa tenaga, dan tanpa harapan.
Alex telah sampai dikamar. Suara pintu sedikit membangunkan Norga. Alex melemparkan dirinya ke kasur, dan membangunkan Norga sepenuhnya.
"Eugh.... Kau kenapa Kak? Lemes amat dah."
"Kau tau, Norga? Mungkin hari ini kita bakal mati."
Norga yang masih mengumpulkan nyawa, langsung membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.
"Tidak," Alex menggeleng sambil menenggelamkan wajahnya di kasur.
"Ada apa terus?"
"Kak Alan bakal meracik ramuan."
"Terus kenapa? Bukannya udah sering?" Norga bingung dengan reaksi Alex yang tidak biasa.
"Kali ini, kalau gagal, kita bakal mati..."
Norga langsung tertawa terbahak-bahak.
"Begitu toh, kukira kenapa. Lagipula, Kak Alan tidak mungkin gagal kan?"
"Kau yakin?"
"Errr.." Norga mengingat-ingat masa-masa dimana terjadi banyak ledakan beruntun. Alan pun selalu keluar dengan debu diseluruh badan. Tak hanya itu, baunya pun tidak sedap.
"Alamak..." Norga baru merasakan yang dirasakan oleh Alex. Dia pun langsung terbaring di kasur dengan tatapan kosong.
"Bagaimana ini? Apakah kita bakal masuk surga?"
"Entahlah, aku hanya bisa berharap kalau aku dapat melihat wajah Cindy untuk terakhir kalinya."
'Cindy terus anjrit...'
"Hahhhh, sudahlah... Percaya saja pada Kak Alan."
"... Yakin kau, Norga?"
"...lima puluh persen?"
Alex tidak menjawab. Dalam hatinya, dia memilih untuk percaya pada Alan. Karena kepercayaannya pada Alan, dia bisa pada tahap ini. Alan lah yang membuatnya jadi Special, dekat dengan Cindy, dan bisa masuk ke Academy elit di Indonesia.
Karena Alex dan Norga percaya, impian mereka bisa diraih...
***
"Alex, Alex, Alex! Bangun!"
Alex dikagetkan dengan suara di telinganya. Ia pun terbangun dengan air liur yang masih masih mengalir dari tepi mulutnya.
"Nah, akhirnya bangun juga. Sekarang mandilah."
"Eh, gajadi mati?"
"Hahahaha, gajadi kok. Sekarang ayo mandi, telat nanti."
Alex langsung beranjak bangun dan mengambil handuk, kemudian langsung pergi ke kamar mandi. Alan geleng-geleng liat kelakuan adik angkatnya itu.
"Gajadi mati..." Alan bergumam pelan, sambil memegang satu botol ramuan berisi cairan hitam. Alan menatap cairan itu dengan serius. Cairan itu, menatap balik Alan. Seketika, 'mereka' menggila. 'Mereka' mencoba untuk mendobrak kaca botol, tapi Alan segera memasukannya ke Inventori.
"Yang mati bukanlah kita, tapi mereka berlima." Alan kemudian meninggalkan ruangan dengan tawa kecil yang menyeramkan.