The Slayers

The Slayers
Chapter 118 (Season 3)



Ketika jaring laba-laba yang kuat mulai runtuh, Alan mulai menyuruh semua orang untuk mendekat padanya. Alex, yang menggendong Lyfa, dan Norga langsung mendekat. Arnima ragu-ragu untuk mendekat karena masih ada rasa takut yang melekat pada dirinya.


Alan menghela nafasnya, jangkauannya terlalu jauh. Tapi, Alan punya caranya. Alan memanjangkan kedua tangannya sendiri. Segera, tangan kanannya mencapai pundak Arnima dan tangan satunya melilit Alex dan Norga.


Dalam satu kedipan mata, mereka semua sudah berpindah. Alex, Lyfa, Norga, dan Arnima melihat sekitar. Mereka berada dijalan dengan luas yang sedang. Jalanan itu sangat sepi, tidak ada orang lewat.


"Tunggu, ini bukannya-" Norga dan Alex merasa familiar dengan jalanan itu. Sebelum Norga bisa berkata, Alan memotongnya.


"Kita sekarang berada didekat rumah ku."


""Eh, kak Alan!""


"Kenapa kalian terkejut banget sih? Lagipula, mari kita pulang. Terutama kamu, Arnima, Ayahmu akan mengkhawatirkan mu."


Arnima hanya mengangguk dan berbalik untuk pergi. Tetapi, Alan memanggilnya lagi.


'Kenapa lagi sih?' Arnima kesal dengan Alan yang tiba-tiba memanggilnya lagi. Padahal, dia ingin cepat-cepat pergi.


"Aku hanya ingin berbicara dengan Cindy, sebentar saja."


'Eh, dia kok-' Arnima kaget dengan Alan yang tau pikirannya, tetapi Alan dengan cepat memotong.


"Jangan berpikir terlalu banyak, cepat berikan kendali pada Cindy."


Arnima masih penasaran dengan cara Alan mengetahui isi pikirannya, tetapi, tidak ingin berlama-lama disini, Arnima dengan cepat memberikan kendali pada Cindy.


Tidak terlihat banyak perubahan, yang paling mencolok hanya warna pupil matanya yang kembali menjadi hitam.


Cindy yang baru membuka matanya, kebingungan melihat Alan, Alex yang menggendong Lyfa, dan Norga, Cindy langsung kebingungan.


"E-eh, dimana aku?"


"Jadi begini, tadi, dia mengambil alih tubuhmu dan-"


"Dia melakukannya lagi?"


'Lagi?' Memang Arnima sudah memberitahu tentang hubungan mereka berdua, dan kata lagi menyiratkan kalau Arnima sendiri suka mengambil kendali sesuka hati.


"Ya, begitulah. Intinya, tadi kita sedikit ada perselisihan dan akhirnya kita berdamai dengan kesepakatan bahwa kita akan membentuk sebuah kelompok, tetapi, kita juga butuh persetujuan mu."


Cindy tentu bingung, pada akhirnya Alan harus menjelaskan ulang dengan sangat rinci hingga Cindy mengerti;Alex dan Norga menambahkan ceritanya dengan cara yang heboh.


"Jadi begitu ya..."


"Yap, jadi apa keputusanmu?"


Cindy berpikir dengan keras, tetapi itu tidak lama.


"Kalian yakin? Aku kebanyakan menghambat orang-orang yang satu tim dengan ku."


"Jangan khawatir, Cindy! Aku akan berusaha sebaik mungkin!" Alex tentu tidak keberatan dan langsung memberikan semangat pada Cindy. Kelakuan Alex membuat Norga geleng-geleng.


"Tenang saja kak Cindy, kita akan berkembang bersama-sama!"


Mendengar perkataan Alex dan Norga membuat Cindy lumayan terharu, sehingga akhirnya Cindy menerima tawaran untuk membentuk kelompok dengan Alex dan Norga.


Setelah itu, tentu saja Cindy pulang. Dia tidak mau ayahnya khawatir.


"Baiklah, ayo semuanya, kalian pasti lelah kan?"


Semuanya kemudian kembali ke rumah Alan, mandi, makan, dan sedikit pengajaran dari Alan. Kemudian mereka tidur, untuk berhadapan dengan hari esok.


***


Pada pagi harinya, mereka memulai aktivitas seperti biasa. Hanya saja...


"Kalian berdua, silahkan pergi keluar hari ini, yang penting jangan dirumah."


""Kenapa!!??""


Tentu saja Alex dan Norga bertanya-tanya. Tak biasanya Alan bersikap seperti itu, mereka seperti sedang diusir karena melakukan kesalahan besar.


"Aku akan mencoba untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa dengan resiko tinggi. Kalau kalian ada dirumah, takutnya kalian akana ikut terluka, jadi kalian keluarlah dulu hari ini. Kalian bisa kembali, kira-kira jam 17:00."


Alex dan Norga tentu tercengang. Tapi apa daya mereka, Alex dan Norga hanya bisa menuruti kata-kata Alan.


"Sebelum itu kak, aku ingin meminta sesuatu dulu." Minta Alex.


"Errr, tunggu sebentar."


Alex kemudian berbalik kebelakang sambil melihat handphone secara sembunyi-sembunyi. Alex terlihat seperti sedang mengetik. Norga ingin melihat, tapi Alex tidak membiarkannya melihat handphone nya.


Tak perlu melihat, Alan sudah tau apa yang dilakukan oleh Alex. Tentu saja karena dengan [Eyes of sage] Alan bisa melihat handphone Alex yang sedang chat dengan Cindy. Alan hanya bisa tertawa keras dalam hati.


Setelah beberapa menit, Alex akhirnya selesai melihat hp nya dengan perasaan senang.


"Kak, boleh kakak pesankan satu portal untuk kami?"


Alan tersenyum lebar, dan memberikan kartu kreditnya. Alex tau apa dari senyuman dan kartu kredit itu.


'Pesanlah sendiri, gunakanlah kartu kreditku untuk memesannya.'


"Terima kasih kak! Ayo Norga, Lyfa, kita akan menaikan level hari ini!"


"Hei hei hei, tunggu sebentar kak! Jangan tinggalkan aku!"


Dengan begitu, hanya tersisa Alan. Meski kesepian, Alan merasa lega. Sebenarnya dia tadi berbohong, dia tidak akan melakukan eksperimen berbahaya yang membahayakan siapapun. Dia hanya akan tidur dengan tenang, setidaknya, hanya tubuhnya saja yang tenang.


"Baiklah, aku harus bersiap-siap."


***


POV Alex.


Hari ini aku sangat bersemangat, karena ini akan menjadi kali pertama aku melakukan pembersihan dengan Cindy!


Aku, Lyfa, dan tentu saja Norga sedang menunggu di cafe Cemara. Kami disini untuk berkumpul dan sekalian menikmati makanan ringan. Tak lama, suara bel yang lumayan nyaring dan renyah ditelinga terdengar, tentu saja normal untuk reflek melihat kearah pintu cafe.


Tanpa diduga, orang yang masuk membuat hatiku menjadi sebuah peledak yang bisa meledak kapan saja.


Yang datang adalah seorang perempuan, dengan penampilan yang stylish. Senyumnya manis bagai gula, cerah bagai matahari, memikat seperti aroma bunga. Perempuan itu memandang sekeliling, seperti sedang mencari seseorang. Akhirnya, dia menoleh ke arah kami, dan berjalan kesini.


"Halo Alex! Halo Norga!" Dengan ceria, Cindy menyapa aku dan Norga.


"Halo kak!" Norga merespon terlebih dahulu. Kalau aku? Sekarang aku terlalu terpesona untuk menjawab, tapi tentu aku akan menjawab sapaannya bagaimanapun caranya!


"H-h-h-halo, b-b-bagaimana kabarmu?" Meski gagap, aku berhasil menyapanya.


"Aku baik! Bagaimana dengan kalian?"


"Kami juga baik! Ya kan, kak?"


"Ya!"


"Baguslah, kalau begitu, kapan kita akan memulai pembersihan?" Cindy sangat bersemangat hari ini. Tapi, aku tidak akan kalah!


"Kita akan mulai sekarang!" Jawabku, terbawa semangat.


"Sekarang? Oke!" Norga juga tidak kalah semangat.


Begitulah awalnya, awal dari tim kami yang akan dikenal. Dan aku penasaran, rumah kak Alan tidak kebakaran kan?


***


POV Alan.


Setelah selesai menyiapkan mental yang aman. Tentu saja aku harus mengunci pintu, jendela, menutup gorden, dan aku akan mengisolasi rumah ini. Karena saat-saat ini adalah saat yang penting bagiku.


Setelah selesai mengisolasi rumah ini. Aku menuju ke sofa kesayanganku. Aku memantapkan hati sebentar dan bermeditasi sekitar 10 menit.


"Huft!" Aku menghembuskan nafas, dan akhirnya, semuanya sudah mantap.


Dengan cincin emas ditanganku, aku memasang cincin itu di jari tengah tangan kananku. Setelah itu, aku tertidur lelap.


Hanya sekejap, aku membuka mataku lagi. Tentu, aku bukan lagi dirumah tercinta yang terisolasi, suram, dan gelap. Sekarang aku ada di langit-langit gelap, sekitarku hanya ada awan, badai, dan angin ****** beliung. Tetapi, sebenarnya ada lagi yang lebih merepotkan.


"Mereka datang."


Auman badai disertai dengan auman mahluk keji yang angkuh, para naga! Mereka datang dengan tujuan untuk memangsa. Tetapi, yang akan mereka mangsa juga adalah seorang pemangsa.


Tapi, akan kutunjukan, bahwa akulah pemangsa disini!