
Waktu itu, kukira tempat itu adalah saat-saat dimana aku merasakan neraka. Tapi, ternyata aku salah, salah besar. Tempat itu hanya sebuah permulaan untuk mengasah jiwa dan raga, sebelum masuk ketempat ini. Tempat ini adalah, cobaan keduaku.
***
POV AUTHOR
***
Alan, yang kebingungan, hanya berdiam diri ditempat setelah bangun entah dimana. Tempat ini memiliki tanah yang kasar dan tandus, tidak ada tumbuhan atau mahluk hidup apapun. Ada retakan layaknya akar ditanah, dan jika dilihat dengan teliti, ada cahaya merah seperti sungai yang mengalir.
Alan berpikir keras, tempat macam apa ini? Alan merasa seperti dalam game. Dan untuk mencari tahu tentang area sekitar, Alan memutuskan untuk bergerak.
Namun, baru satu langkah, muncul layar hologram. Hologram itu berisi pesan, tapi setelah itu, Alan mendengarkan suara yang membuatnya terkejut
[Selamat datang, wahai penantang maut. Kegigihanmu yang besar dan kecakapanmu dalam menyelesaikan lantai satu hingga lima pu-] Suara bijaksana yang tajam dan berwibawa berbicara pada Alan, layar hologram itu berwarna oranye yang agak mewah dengan simbol tengkorak kambing. Tetapi suara itu dipotong oleh suara lain.
[Tidak usah banyak bacot! Hei bocah biad*b, coba kau taklukkan menara ini dan hiburlah kami! Hahahahaha!!!] Kali ini suara yang kasar dan berapi-api berbicara. Disertai dengan tawa jahat dan pemilihan kata yang tidak ramah, membuat Alan lumayan tersinggung dan mengernyit. Layar pesan itu berwarna merah dengan hiasan kepala iblis bertanduk dengan api yang keluar dari mata dan mulutnya.
[Sebaiknya kau hentikan kebiasaanmu itu, bukankah kita harus memperlakukan si tampan ini dengan ramah?] Setelah suara kasar, sekarang suara yang lembut. Kedengarannya seperti suara wanita yang didalamnya ada sifat keibuan yang kuat. Layar pesan ini berwarna ungu dengan logo kepala wanita(?) bertanduk. Sanjungan dari pengirim pesan ini tidak membuat hati Alan luluh, malah dia makin mengernyit.
'Siapa orang-orang ini? Percakapan ini random banget,' pikirnya.
[Sebaiknya kalian berhenti.... Anak ini kebingungan..... Langsung intinya saja.] Lagi-lagi ada yang berbicara, tetapi kali ini ada tiga suara. Suaranya ada yang cempreng, berat dan biasa saja. Tetapi kesamaannya adalah ada kelicikan tersembunyi dalam ketiga suara itu. Layar pesan itu berubah-ubah warna, pertama warna merah yang bersuara cempreng, kemudian suara berat yang berwarna biru, dan suara biasa saja yang berwarna hijau. Pesan ini memiliki logo tiga kepala naga.
"Siapa sebenarnya kalian!? Berbicaralah yang benar!!!" Karena emosi, Alan akhirnya berbicara pada keempat suara itu dengan nada marah.
[Jangan memerintah kami bocah!!!]
[Bersabarlah, yang satu ini harus kuurus dulu.]
[Jangan hiraukan mereka, mereka semuanya itu bodoh. Kau boleh bertanya apapun padaku tampan~]
[Kalian... Tidak bisakah kalian serius...? Kalian sangat memalukan....]
Alan benar-benar kebingungan dan kesal. Dia dibawa ketempat yang gak jelas seperti ini dan akhirnya malah mendengarkan pertengkaran dari suara yang entah pemiliknya siapa dan apa tujuan mereka.
Mereka terus bertengkar dan bertengkar hingga ada satu layar pesan tanpa suara yang muncul. Kali ini pesan itu berwarna emas mewah dengan logo orang berkerudung;dari matanya mengalir darah seperti sedang menangis. Pesannya sederhana, hanya ada dua kata, tetapi, Alan yang membaca jadi merinding.
[Bertahan hidup.]
'Bertahan hidup? Dari apa?' Pikir Alan kebingungan. Tidak ada lagi pesan yang terkirim setelah itu. Alan bertanya lagi, namun tidak ada yang menjawab. Untung saja pertanyaan alan segera terjawab.
Krak!!
Suara retakan yang muncul secara tiba-tiba, sangat renyah. Alan mencari sumber suara, menoleh sana-sini hingga akhirnya dia melihat tangan yang muncul dari dalam tanah, mencoba keluar dan memijakkan kaki dipermukaan.
Perlahan-lahan, wujud monster itu terlihat Jelas. Badan kerdil kurus berwarna abu-abu dengan corak api merah dan memiliki sayap serta tanduk.
"Imp?"
Imp, setan neraka level rendah. Alan kebingungan, kenapa ada imp dan kenapa hanya satu? Mungkin Alan terkesan meremehkan, tapi imp memang lemah. Seperti goblin, tapi memiliki sayap. Iblis ini tak lebih dari keroco yang menyebalkan.
Sayang sekali, Alan harus menyesal karena meremehkan. Suara renyah dari retakan tanah muncul lagi, tak hanya satu atau dua, tapi lebih dari itu.
Alan menoleh ke sekeliling dan melihat imp dengan jumlah banyak keluar dari tanah.
"Banyak juga, tetapi mereka harusnya bukan masalah besar.... Eh?" Awalnya Alan percaya diri, tetapi dia baru sadar, semua perlengkapannya hilang.
[Nama:Alan Lexius
Umur:18
Level:295
Job:-
Title:-
Statistik:
MP:300
ATK:150
AGI:150
VIT:150
INT:150
DEX:150
LUCK:150
Point:0
Active Skill:Locked
Passive skill:Locked
Equipment:
Inventory:
-Dagger]
"A-apa yang terjadi, dimana stats dan item-item ku!?"
Bingung, heran, kesal, dan panik, semuanya bercampur menjadi satu. Alan benar-benar tidak sadar kalau hanya tersisa baju dan celana polosannya. Selain itu semuanya hilang.
Kepanikan Alan kemudian disertai dengan layar pesan berwarna emas yang muncul secara tiba-tiba.
[Selamat bersenang-senang]
"Bersenang-senang ya? Itu yang kalian mau?"
Alan berhenti panik, dia menjadi tenang kembali. Tidak, bukan tenang, dia tersenyum lebar selebar-lebarnya. Mulutnya terlihat seperti mau sobek karena senyuman itu.
"Akan kutunjukan keseruan sebenarnya!!!"
Alan mengeluarkan satu belati dengan kualitas menengah. Bermodalkan satu belati itu, Alan, tanpa keraguan dan rasa takut apapun, dia perlahan berlari kearah kerumunan Imp yang berterbangan dengan rendah sambil membuka mulut mereka yang menjijikan dan air liur yang menetes-netes.
Dia berlari kencang kearah kerumunan, dan saat sudah sekitar 30 meter, Alan melesat dan menusukkan belatinya pada kepala Imp paling depan. Dan setelah itu, Alan dengan cepat mencabut belatinya dan melompat ke tengah-tengah kerumunan dengan tawa yang menyeramkan....