The Slayers

The Slayers
Chapter 136 (Season 3)



"Hei, bisa kau lepaskan kami dari sini? Aku pikir kita tidak ada hubungannya dengan semua ini?"


"Siapa bilang kalian tidak ada hubungannya dengan semua ini? Lebih baik kau diam atau kau dan teman-teman mu tidak akan selamat."


"Ah... Oke..."


Alex gagal bernegosiasi pada penjaga yang ada didepan mereka. Penjaga itu terlalu kaku dan tidak bisa diajak bicara.


Merupakan sebuah kesialan mereka karena tertangkap. Apalagi, jika dilihat dari lambang pada seragam orang-orang yang menjaga mereka, maka mereka sangat sial karena mereka tertangkap oleh Necron, organisasi Slayer terburuk di Indonesia. Mereka dibawa ke tempat yang entah dimana lokasinya. Wajah mereka ditutup oleh karung saat mereka dibawa ke tempat yang tidak diketahui. Ruang mereka saat ini seperti ruang penyimpanan yang sempit.


'Bagaimana ini? Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena lengan kami diborgol. Norga juga sudah pasrah dan Cindy sangat ketakutan.' Alex berpikir dalam hati, mereka tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan mereka hanya bisa menunggu ajal menjemput.


'Kak Alan, tolong cepat kesini!!!' Teriak Alex dalam hatinya. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka adalah Alan seorang. Alex yakin kalau Alan bisa melawan para Necron.


Tak lama, suara langkah kaki terdengar. Bukan hanya satu tapi dua. Alex mendongak untuk melihat wajah orang yang datang. Norga dan Cindy yang berada dibelakang juga menoleh untuk melihat siapa yang datang.


Ada dua orang dengan seragam berlambang Necron. Satu adalah perempuan berambut merah yang tersenyum, bukan senyum manis, tapi itu adalah senyum dengan maksud jahat dibaliknya. Satunya lagi adalah orang bertopeng yang mereka temui sebelum mereka dibawah kesini.


"Wah wah, aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi, penyihir." Ucap wanita berambut merah itu.


Mendengar kata penyihir, Alex dan Norga langsung melihat kearah Cindy. Tanpa diduga, itu bukan lagi Cindy, tapi Arnima yang sudah mengambil alih.


"Jangan bangga karena kau sudah menangkapku. Kau tidak tau siapa yang kau tangkap."


"Apaan memangnya kau siapa, hah?"


Wanita berambut merah berjalan mendekati Arnima. Suara sepatu hak tingginya bergema dengan nyaring. Wanita itu berdiri tepat didepan Arnima. Arnima mendongak dan menatap mata wanita itu dengan berani dan tajam. Wanita itu hanya tersenyum dan mencengkeram pipi Arnima dengan keras. Arnima meringis, tetapi dia tetap menatap wanita itu dengan tajam.


"Kau itu tawanan disini, penyihir. Kami sudah menangkapmu dan tidak akan melepaskanmu!"


"Kau sangat yakin sekali? Apakah kau tau kalau menculikku ada resikonya?" Ancam Arnima.


"Tapi itu tidak akan bekerja padaku."


"Heh, itu bukan gertakan!"


Norga ikut-ikutan membalas dengan nada yang sangat percaya diri.


"Seseorang akan kesini dan membantai kalian, hahahahaha!!!" Dia pun tertawa dengan keras. Tak lama, dia kemudian ditinju oleh salah satu penjaga hingga terjatuh.


"Aku tidak tau kepercayaan diri kalian datang dari mana, tapi, kalian akan segera dibunuh. Jadi akan kubiarkan kalian bersenang-senang terlebih dahulu." Orang bertopeng merah mulai berbicara dengan nada yang dingin, tanpa ada perasaan didalamnya. Alex menjadi merinding karena itu.


"Ingatlah kalian bocah-bocah tak kenal takut, kalian akan segera menjadi santapan ku!" Kata wanita berambut merah sambil menjilati lidahnya, seperti bertemu dengan mangsa baru.


Tiba-tiba, ada satu orang yang merupakan bawahan dari dua orang itu. Bawahan itu melapor dengan tergesa-gesa.


"Tuan! Nona! Ada pengacau yang datang dan mengacau dimarkas kita!"


Kedua orang itu terkejut bukan main. Keterkejutan itu merupakan sebuah kesenangan bagi Alex, Norga dan Arnima. Orang yang diharapkan sudah datang.


"Siapa yang menyusup?" Tanya orang bertopeng.


"Tidak tau, identitasnya tidak di-"


Boom!


Belum sempat berbicara, orang itu langsung tewas dengan kepala yang hancur sebab serangan yang cepat disampingnya.


Perlahan, muncul pemuda tinggi dengan kulit pucat dan rambut hitam serta mata berwarna merah darah yang tajam.


Pemuda itu tidak terlihat menunjukan ekspresi permusuhan dari raut wajahnya. Pemuda itu menghadap kearah mereka dengan wajah polos dan berkata, "oh, akhirnya ketemu!"